
Tadinya Aditya menolak meninggalkan Kania berdua saja dengan Galih, terlebih emosi pria itu sedang tidak stabil tapi saat melihat mata Kania yang berkaca-kaca akhirnya dengan terpaksa Aditya beranjak dari duduknya.
Meskipun begitu Aditya tidak benar-benar pergi meninggalkan Kania, dia tetap mengawasi dari jarak yang tidak terlalu jauh agar kalau terjadi sesuatu dengan Kania, dia bisa segera bertindak.
Saat ini Galih sudah tidak histeris lagi tapi pria itu masih menunduk sambil menutup telinganya.
Perlahan Kania pun menggeser duduknya agar bisa lebih dekat dengan Galih dan tiba-tiba dia merasa hawa dingin yang mencengkam dari belakang.
Tanpa menoleh pun Kania tahu darimana hawa dingin itu berasal kalau bukan dari pria kecilnya yang saat ini tengah menatapnya tajam sambil bersedekap dada.
"Ehem!"
Seolah mengerti maksud deheman Aditya, Kania pun menggeser duduknya agar dia tidak terlalu dekat dengan Galih.
Kania menghela napas panjang sebelum kembali membuka mulutnya. Dia pun dengan sabar menjelaskan kepada Galih dan memberikan pria itu pengertian jika perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan.
"Tapi aku tetap menyayangimu Galih, kamu adalah teman pertamaku dan aku juga sudah menganggapmu sebagai Kakak."
Meskipun Galih menutup kedua telinganya tapi dia masih bisa mendengar ucapan Kania.
"Aku yakin pasti ada seseorang yang akan mencintaimu lebih dari apapun, contohnya Jasmine, mungkin?"
Galih sedikit terkejut saat mendengar nama Jasmine dan tiba-tiba dia langsung mencengkram kedua lengan Kania.
Bukan Kania saja yang terkejut tapi Aditya yang sedari tadi mengawasi calon istrinya itu pun bergegas mendekat.
"Lepaskan dia!" hardik Aditya.
"Jasmine?! Kamu tahu tentang Jasmine?!"
__ADS_1
Galih tak acuh dengan Aditya yang tengah menatapnya tajam bak singa yang siap menerkam dan mencabik-cabik mangsanya.
"I-Iya, tadi pagi... Jasmine datang," jawab Kania gugup.
"Apa?! Dia datang kesini?!" pekik Galih.
Kania sedikit meringis saat Galih semakin mencengkram lengannya.
Emosi Aditya pun meledak seketika saat melihat calon istrinya kesakitan.
"Brengsek!!" umpat Aditya.
...BUGH!...
Galih pun hampir terjatuh dari sofa saat Aditya memberinya bogeman keras dipipinya dan membuat sudut bibirnya berdarah.
Mata Kania membulat sempurna. Dia terkejut dengan aksi brutal dari pria kecilnya.
Galih mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya dan tersenyum kecut lalu kembali melihat Kania yang ternyata sudah berada di dalam dekapan Aditya.
"Aku tidak tahu apa saja yang sudah dikatakan Jasmine sama kamu tapi satu hal yang harus kamu tahu kalau aku tidak mencintainya."
"Gadis yang aku cintai cuma kamu, Kania Pertiwi," lanjut Galih.
Aditya kembali menggeram, bukan karena ungkapan cinta Galih tapi karena pria itu menyebut nama lengkap calon istrinya.
"APA ANDA TULI?! HARUS BERAPA KALI CALON ISTRI SAYA KATAKAN KALAU DIA TIDAK MENCINTAI ANDA!" bentak Aditya.
Hendra yang baru keluar dari kamarnya mendengar suara kencang Aditya dan langsung bergegas turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Sesampainya di ruang tengah, Hendra merasakan hawa panas di ruangan itu. Matanya melihat Aditya yang tengah memeluk Kania dengan ekspresi yang tak bersahabat.
Sekarang Hendra tahu darimana hawa panas ini berasal.
"Ehem, ada apa ini?" tanya Hendra sambil berjalan menuju ketiga orang itu.
Saat sudah berada di dekat mereka, Hendra memperhatikan sudut bibir Galih yang memar dan tanpa bertanya pun Hendra langsung mengetahui siapa pelakunya.
Hendra menghela napas, dia memang tidak tahu apa yang sebelumnya terjadi tapi dia yakin kalau penyebab keributan ini pasti karena putri kesayangannya.
"Ingat ini Tuan Galih, jangan mengganggu calon istri Saya lagi atau Saya tidak akan segan menghancurkan Anda!"
Setelah memberi peringatan kepada Galih, Aditya pun mengajak Kania pergi dari tempat itu.
Hendra langsung menahan Galih saat pria itu akan mengejar kedua anaknya.
"Yayaa! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Aku sangat mencintaimu! Yayaaaa!" teriak Galih.
Air mata Galih menetes melihat Kania yang semakin menjauh darinya. Dan meskipun sudah bertahun-tahun, rasa sakit dihatinya masih sama seperti 10 tahun yang lalu.
"Kenapa... Kenapa dia masih tidak bisa menerima perasaanku? Kenapa?" lirih Galih sambil meremas dada kirinya.
"Nak Galih lebih baik menginap saja disini malam ini, ayo Om antar ke kamar."
Tidak ada penolakkan dari Galih saat Hendra mengantarkan pria itu ke kamar tamu.
Setelah berada di dalam kamar, Hendra dengan sabar memberikan pengertian kepada Galih sama seperti yang dilakukan Kania. Dia juga meminta Galih untuk memikirkan lagi perasaannya, apa benar Galih mencintai Kania atau hanya terobsesi dengan gadis itu.
Melihat Galih yang hanya diam dan menunduk, Hendra pun memutuskan untuk pergi. Dia tahu saat ini Galih butuh waktu dan berharap pria itu tidak menyakiti dirinya sendiri.
__ADS_1
...****************...