
Biasanya setelah dua hari pihak sekolah akan memajang beberapa lembar kertas di papan mading sekolah. Lembaran kertas itu berisi peringkat yang didapatkan setiap murid berdasarkan nilai ujian mereka.
Tapi hari itu terjadi kehebohan saat murid-murid yang sedang berkumpul di depan mading melihat perubahan nama yang menduduki peringkat pertama di sekolah mereka.
"Eh yang bener nih?! Tahun ini bukan Alisa peringkat pertamanya!" pekik salah satu murid perempuan.
Dan yang lebih membuat heboh lagi, nilai si peringkat pertama itu SEMPURNA untuk semua mata pelajaran.
"Wah gila! Nilainya 100 semua!"
"Jangan-jangan dia beli soal! Atau nyogok biar dapet kunci jawaban dari guru!"
"Iya mungkin aja, soalnya gak masuk akal kalau nilainya 100 semua!"
Disaat murid-murid itu tengah meributkan nilai sempurnanya, si peringkat pertama yang baru datang hanya tersenyum sinis tapi berbeda dengan sahabatnya yang tampak geram mendengar berbagai tuduhan miring dari murid-murid itu untuk si peringkat pertama.
"Jangan asal nuduh kalau gak punya bukti!" hardik Daniel.
Suasana seketika senyap, perhatian murid-murid pun beralih ke Daniel.
Beberapa murid yang tadi ikut nyinyir malu saat melihat bahan nyinyiran mereka ternyata ada disana sedangkan yang lain menatap sinis kearah si peringkat pertama.
"Dit, kenapa lu diem aja?! Kasi tahu mereka kalau lu gak melakukan yang seperti mereka bilang tadi!" ucap Daniel menggebu-gebu.
"Biarin aja mereka mau ngomong apa, gue gak peduli, sekarang ada yang lebih penting daripada ngurusin nyinyiran orang."
Aditya dengan santai mengarahkan kamera belakangnya ke selembar kertas di papan mading dan mengambil foto namanya yang berada di peringkat pertama.
"Nice! Tinggal kirim ke Baby~" Aditya pun pergi begitu saja dari tempat itu, dia benar-benar tidak peduli dengan nyinyiran murid-murid kepadanya.
Kalau Aditya bisa cuek tapi tidak dengan Daniel, dia masih tidak terima dengan nyinyiran murid-murid kepada sahabatnya itu.
Mutiara yang baru datang merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Daniel.
Untuk pertama kalinya, seorang Daniel bersikap dingin. Dia menatap tajam setiap murid yang tadi menggunjing sahabatnya.
"Kalau sampai gue denger ada yang nuduh Aditya lagi, dia bakal langsung out dari sekolah ini dan namanya akan di-blacklist, itu berarti gak bakal ada sekolah di dalam atau di luar negeri yang mau menerimanya," ancam Daniel.
"Alah belagu! Emangnya lu siapa?!" balas salah seorang murid ketus.
"Lu tanya gue siapa? Hahaha." Tawa Daniel sukses membuat merinding sebagian murid termasuk Mutiara.
Itu Daniel?! Gak mungkin! Dia berbeda dari Daniel yang gue kenal atau jangan-jangan dia kembarannya Daniel!
"Lu gak perlu tahu, silahkan aja kalau lu mau buktiin ancaman gue tapi jangan salahin gue kalau lu gak bisa sekolah lagi."
"Bacot lu! Paling lu cuma ngomong doang! Lu pikir gue takut! Temen lu itu emang curang! Mana mungkin dia bisa dapet nilai 100 di semua mata pelajaran!" ucap murid itu sewot.
"Iya bener! Alisa aja yang pintar gak pernah kaya gitu! Pasti ada dua atau tiga nilainya yang gak dapet 100!" timpal murid lain.
Mutiara tidak terima Daniel disudutkan seperti itu.
__ADS_1
"Ngomongnya biasa aja dong, gak usah sewot kaya gitu juga kali," cibir Mutiara.
"Terserah mulut gue mau ngomong kaya gimana! Emangnya lu siapa ngatur-ngatur gue?!" Murid itu mendorong bahu Mutiara dengan kasar sampai membuat Mutiara hampir terjatuh.
Daniel pun dengan sigap menangkap Mutiara. Rahangnya mengeras, dia semakin geram kepada murid itu.
"Lu gak apa-apa?" tanya Daniel.
"I-Iya, makasi...," jawab Mutiara canggung.
Pipi Mutiara sedikit merona. Mengingat adegan saat Daniel menolongnya tadi membuat jantungnya berdetak kencang.
Kenapa aku jadi deg-degan seperti ini?!
Mutiara memegang dada kirinya dan merasakan debaran jantungnya yang tak karuan.
"Siapa namanya dan teman disebelahnya." Daniel bertanya kepada murid lain sambil menunjuk murid yang dia maksud.
"N-Namanya Fera d-dan yang satunya Angga," jawab murid itu gelagapan.
"Lu ngapain nanya-nanya nama gue?!" ucap Angga sewot.
Daniel tidak peduli, dia mengambil handphone nya lalu menghubungi seseorang.
"Blacklist murid atas nama Fera dan Angga sekarang juga!" titah Daniel saat orang itu menjawab teleponnya.
"Gue gak takut sama ancaman lu! Lu bukan anak kepala sekolah jadi jangan sok belagu pake mau blacklist nama gue!" cibir Angga.
"O ya? Kita liat aja entar," balas Daniel dingin.
Tak lama setelah Daniel pergi, terdengar pemberitahuan dari speaker sekolah bahwa murid atas nama Fera dan Angga untuk segera datang ke kantor kepala sekolah.
Sementara itu murid yang sekelas dengan Alisa langsung pergi mencari keberadaan Alisa setelah melihat pengumuman peringkat di papan mading.
Tapi saat dia pergi ke kelas, dia tidak melihat Alisa lalu dia pun bergegas menuju kantin karena yakin Alisa pasti berada disana.
Dugaannya benar, Alisa memang ada di kantin bersama dengan kedua temannya yang lain yaitu Salma dan Nazwa.
"Gue yakin pasti lu lagi yang dapet peringkat pertama Sa," ucap Salma.
"Bener Ma, pasti Alisa lagi yang dapet peringkat pertama," timpal Nazwa.
"Iyalah, makanya gue traktir kalian disini tapi si Dita kemana sih? Ke toilet lama banget."
Temannya Alisa yang bernama Dita itu tiba-tiba datang dan langsung saja meminum sampai habis es teh manis milik Salma.
"Eh buset, es teh gue tuh!" celetuk Salma.
"Kenapa lu Ta? Panik banget kayanya," ucap Nazwa.
"Harusnya bukan gue yang panik tapi Alisa," jawab Dita melihat kearah Alisa.
__ADS_1
"Gue? Emangnya ada apa?" Alisa tampak heran.
Dita memberitahu Alisa kalau temannya itu tidak menduduki peringkat pertama melainkan peringkat dua.
Bukan cuma Alisa tapi Salma dan Nazwa juga ikut kaget mendengar hal itu.
"Yang bener lu Ta?! Lu salah liat kali!" ucap Salma.
"Iya Ta, mungkin lu salah liat!" timpal Nazwa.
"Liat aja sendiri kalau kalian gak percaya!" balas Dita sedikit sewot.
Alisa dan ketiga temannya pun pergi meninggalkan kantin dan bergegas menuju mading sekolah.
Mata Alisa membulat sempurna, mulutnya ternganga saat melihat pengumuman peringkat di papan mading.
Salma dan Nazwa juga tak percaya kalau ada murid yang lebih pintar dari teman mereka.
Alisa makin shock dan gemetar saat melihat nilai si peringkat pertama.
"Ni-Nilainya d-di-se-semua m-ma-mata pe-pelajaran se-SERATUS!!"
"Gak mungkin! Dia kan yang tahun lalu di peringkat lima! Kenapa tiba-tiba bisa jadi peringkat pertama?! Udah gitu nilainya 100 semua!" Alisa yang tadinya terbata-bata jadi histeris.
Melihat deretan nilai sempurna yang didapatkan si peringkat pertama membuat Alisa merasa terhina, harga dirinya terinjak-injak.
"Engga mungkin! Pasti ada kesalahan! Gue gak terima!" geram Alisa.
Alisa pun beranjak dari tempat itu dan pergi menuju kelas si peringkat pertama diikuti ketiga temannya.
...****************...
Di kelas, Aditya tampak sedang menempelkan handphone nya ke telinga. Dia menelepon Kania karena tidak sabar menunggu balasan chat dari kekasihnya itu.
"Sudah lihat foto yang aku kirim, kan?" tanya Aditya antusias.
"...." Kania menjawab iya dan menggoda Aditya dengan bilang kalau foto itu mungkin hasil editan Aditya.
"Itu bukan foto editan! Nilai aku beneran 100 semua! Masa kamu gak bisa bedain editan atau bukan?!" Aditya sewot.
"...." Kania pun tertawa geli dan bilang kalau dia cuma becanda.
"Gak lucu!"
"...." Kania meminta maaf dan berjanji akan memberikan hadiah spesial yang sudah dia siapkan saat Aditya pulang nanti.
Wajah Aditya yang tadinya cemberut berubah sumringah.
"Tapi masa hadiah buat aku cuma satu, aku kan dapat nilai sempurnanya di semua mata pelajaran harusnya hadiah buat aku gak cuma satu."
"...." Kania diam sejenak, dia merasa ucapan Aditya ada benarnya jadi dia pun menyetujui permintaan Aditya.
__ADS_1
Aditya tersenyum licik, sebenarnya dia sudah merencanakan semua ini sejak pertama kali dia membuat kesepakatan dengan Kania. Dia akan meminta hadiah lain setelah hasil ujiannya keluar dan tentu saja dia sudah menyiapkan list apa saja yang akan dia minta sebagai hadiah kepada Kania.
...****************...