Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Demam


__ADS_3

Kania naik ke lantai atas sambil membawa kardus yang berisi barang-barangnya.


"Ini kardus terakhir, berarti sekarang tinggal beres-beres kamar."


Saat Kania berjalan menuju kamarnya, dia tidak sengaja melihat pintu kamar Aditya.


Tadi Ayah bilang Aditya nangis, apa sekarang dia masih nangis?


Kaki Kania yang tadinya akan melangkah ke kamarnya malah beralih ke kamar Aditya.


Beberapa saat Kania berdiri di depan kamar itu lalu dia menempelkan telinganya ke pintu.


"Kamarnya sepi banget, apa dia ketiduran karena capek nangis?" gumam Kania.


"Tapi... Selama pacaran aku belum pernah melihatnya menangis...."


Kania pun menjauhkan telinganya dari pintu lalu memutar badannya tapi saat dia akan melangkahkan kakinya entah kenapa tiba-tiba feeling nya tidak enak.


Akhirnya Kania kembali menghadap kamar Aditya dan mengetuk pintu kamar itu.


...Tok Tok Tok...


Tidak ada respon dari dalam kamar.


"Kenapa gue jadi khawatir gini sih? Mungkin aja dia lagi main game atau tidur makanya dia gak jawab."


"Coba deh gue ketuk lagi, entar kalau gue main masuk aja kaya tadi dia nyindir gue gak sopan, males banget," gerutu Kania.


...Tok Tok Tok...


Kania kembali tidak mendapat respon dari dalam kamar Aditya.


"Udah lah, paling dia lagi main game atau tidur, mending gak usah ganggu dia dulu, entar yang ada berantem lagi."


Mulut Kania emang bisa berucap seperti itu tapi kakinya masih tidak mau beranjak dari tempatnya.


"Ck, bodo amat lah, mau disindir gak sopan lagi juga gak apa-apa deh daripada gak tenang kaya gini."


Kania buru-buru meletakkan kardus yang dia bawa ke dalam kamarnya lalu bergegas kembali ke kamar Aditya dan dengan hati-hati membuka pintu kamar itu.


"Aditya, aku udah ketuk pintu loh jadi jangan--"


"Astaga! Aditya!"


Kania tersentak kaget saat melihat Aditya sudah terbaring di lantai. Dia pun segera lari menghampiri Aditya lalu meletakkan kepala pria itu di atas pangkuannya.


"Aditya, sadar lah! Kamu kenapa?! Aditya!" Kania terus memanggil Aditya sambil menepuk-nepuk pipi pria itu. Dia berharap upayanya saat ini bisa membuat Aditya membuka matanya.


Tapi saat tangan Kania menyentuh pipi Aditya, pipi Aditya terasa panas lalu Kania pun menempelkan punggung tangannya ke dahi Aditya.


"Astaga, kenapa dia tiba-tiba demam?! Tadi dia sehat-sehat saja, sama sekali engga kelihatan sakit."


"Gue harus kasi tahu Ayah dan Mami sekarang!"


Tapi saat Kania akan beranjak bangun, mata Aditya perlahan terbuka.


"Kak Kania...," gumam Aditya lirih.


Kania langsung kembali ke posisinya saat mendengar namanya dipanggil.


"Iya ini aku! Aditya, tetap buka mata kamu jangan ditutup! Aku akan panggil Mami dan Ayah sekarang!"


Saat Kania akan beranjak bangun, dirinya kembali ditahan oleh Aditya.


"Jangan... pergi...." Meskipun suara Aditya begitu lirih tapi Kania masih bisa mendengarnya.


"Sebentar aja, aku juga mau ambil obat dan handuk kompresan buat kamu."


"Ja.. ngan.. per.. gi...." Mata Aditya terlihat akan menutup kembali.


"Ya ampun, tangannya dingin banget! Aditya buka mata kamu! Aditya!" Kania kembali menepuk-nepuk pipi Aditya.

__ADS_1


"Tenang Kania jangan panik! Pikir! Pikir! Apa yang harus gue lakuin sekarang."


Saat Kania sedang berpikir, matanya tidak sengaja melihat kearah tempat tidur.


"Ya ampun, kenapa gue baru kepikiran?!" Kania menepuk jidatnya.


"Gue harus bawa Aditya ke tempat tidur!"


Kania sekuat tenaganya mengangkat badan Aditya dan dengan tertatih-tatih membawa Aditya ke tempat tidur.


Aditya sudah terlihat sangat lemas saat Kania membaringkan pria itu di tempat tidur. Dia pun menutup badan Aditya dengan selimut karena Aditya menggigil kedinginan.


"Tunggu ya, aku akan segera kembali."


Aditya kembali menahan Kania saat Kania akan beranjak pergi.


"Jangan... per.. gi...," gumam Aditya dengan napas tersengal-sengal.


"Kalau aku engga pergi, gimana aku bisa ambil obat dan handuk kompresan?!" Kania mulai geregetan dengan tingkah Aditya yang terus menahannya pergi.


Tapi saat melihat Aditya yang terbaring lemas, Kania merasa tidak tega dan akhirnya duduk di pinggir tempat tidur.


"Baiklah, aku tidak akan pergi."


Bibir pucat Aditya pun melengkung ke atas.


"O iya aku telepon Ayah aja!" celetuk Kania tiba-tiba.


Kania pun segera menghubungi Hendra dan memberitahu keadaan Aditya. Hendra sedikit terkejut saat mendengarnya lalu Kania meminta Hendra membawakan obat penurun demam dan handuk kompresan ke kamar Aditya.


Hendra yang sedang berada di dalam kamarnya bergegas keluar dan berpapasan dengan Permata.


"Ada apa Mas? Kenapa kamu kelihatan panik?"


"Aditya demam! Dimana kamu simpan kotak obatnya?"


Demam? Tadi Aditya kelihatan sehat-sehat aja, kenapa bisa tiba-tiba demam?


"Ada di dapur."


"Aku ambil obatnya, kamu siapin handuk kompresan, ayo cepat!"


Saat Hendra di dapur, dia kebingungan mencari kotak obat lalu dia bertanya kepada pelayan lalu pelayan itu pun memberikan Hendra kotak obat. Hendra pun mengambil obat untuk penurun demam dan segelas air lalu segera pergi menuju tangga dan naik ke lantai atas.


Begitu sampai di lantai atas, Hendra pun bergegas ke kamar Aditya.


Hendra masuk ke dalam kamar Aditya dan berjalan menghampiri Kania yang sedang duduk di pinggir tempat tidur.


"Ini obatnya Kak," ucap Hendra sambil memberikan obat kepada Kania.


"Makasi Yah."


Kania merasa heran saat melihat obat penurun demam yang diberikan Hendra.


"Loh koq obatnya sirup? Kaya anak kecil aja, biasanya kan tablet."


"Yang penting obat penurun demam, cepat kasi Aditya obatnya."


"Iya Yah."


Kania membuka botol itu lalu menuangkan cairan yang ada di dalam ke tutup botol yang memang digunakan untuk meminum obat.


"Aditya, ayo minum obatnya."


Hendra membantu Aditya sedikit mengangkat badannya agar bisa meminum obat yang diberikan Kania.


Setelah meminum obatnya, Aditya diberikan segelas air lalu dengan perlahan Hendra merebahkan lagi badan Aditya ke tempat tidur.


Tak lama, Permata datang menghampiri mereka bersama pelayan yang membawa baskom kecil berisi air dan handuk kecil lalu meletakkannya di atas nakas.


"Bi, buatkan bubur untuk Aditya," titah Permata.

__ADS_1


"Baik Nyonya."


Pelayan itu pun pergi meninggalkan kamar Aditya.


Kania mulai mencelupkan handuk ke dalam air lalu memerasnya dan meletakkan handuk basah itu ke jidat Aditya.


"Kenapa Aditya bisa tiba-tiba demam? Tadi dia baik-baik saja," ucap Permata heran.


"Apa yang terjadi Kak?" tanya Hendra


"Kakak juga kaget, tadi saat Kakak masuk ke dalam kamar, Aditya udah terbaring di lantai terus pas Kakak pegang jidatnya panas banget."


"Kak Kania... Kak Kania...," racau Aditya.


"Iya aku disini."


Wajah Aditya yang tadinya gelisah jadi lebih tenang saat Kania mengatakan hal itu.


"Ayah, emang obat penurun demamnya gak ada yang tablet?" tanya Kania.


"Waktu Ayah bilang obatnya buat Aditya, Ayah dikasinya obat itu."


"Soalnya Aditya engga bisa minum obat berbentuk tablet jadi obatnya sirup."


Akhirnya Kania paham setelah mendengar penyataan Permata.


Oo jadi karena itu obatnya sirup, tapi dia kan sudah besar masa engga bisa minum obat tablet? Seperti bayi saja


"Padahal tadi pagi Aditya baik-baik saja, dia engga kelihatan sakit tapi kenapa tiba-tiba demam? Hmm... Jangan-jangan...," gumam Permata.


"Ada apa Sayang?" tanya Hendra ke Permata yang tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Aku baru ingat, waktu kecil Aditya juga pernah seperti ini, dulu dia pernah minta dibelikan mobil-mobilan tapi mobil-mobilan yang dia inginkan stock nya habis dan perlu beberapa hari untuk pre order, saat itu Aditya langsung demam tapi setelah dia mendapatkan mobil-mobilan itu demamnya hilang."


"Makanya aku dan Papinya selalu menuruti keinginan Aditya, selain karena kami tidak tega melihatnya nangis, Aditya pasti akan langsung demam kalau keinginannya tidak dituruti," lanjut Permata.


"Jadi maksud kamu sekarang Aditya demam karena dia menginginkan sesuatu."


"Mungkin saja tapi apa yang dia inginkan?"


"Kita tanya Aditya kalau dia sudah bangun nanti."


"Lebih baik sekarang kita biarkan Aditya istirahat," lanjut Hendra.


"Kania, biar Mami yang jagain Aditya, kamu masih harus beres-beres, kan?"


"Iya Mi."


Tapi saat Kania akan beranjak bangun Aditya kembali meracau, "Kak Kania... Kak Kania...."


Kania pun kembali duduk dan memegang tangan Aditya.


"Iya iya aku engga akan pergi."


Padahal Aditya sedang tidur tapi dia seperti tahu saat Kania akan pergi.


"Mi, biar Kania aja yang jaga Aditya."


"Huuh.. Mau gimana lagi? Aditya benar-benar gak mau ditinggalin kamu."


"Ayo Sayang, kita pergi," ajak Hendra.


"Iya Mas."


Hendra dan Permata pun pergi meninggalkan kamar itu.


Dengan telaten Kania mengompres jidat Aditya menggunakan handuk.


"Kamu sudah besar bukan anak kecil lagi masa cuma karena ingin sesuatu kamu sampai demam kaya gini." Kania mengoceh ke Aditya yang sedang tidur.


"Aditya, aku akan beri kamu kesempatan jadi cepatlah sembuh...."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2