Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Tukang Ojek


__ADS_3

Hendra sedang berada di kamarnya, dia khawatir dengan Permata yang belum mengabarinya tentang kondisi Aditya. Dia terus melihat layar handphonenya sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Permata.


Tak berapa lama, panggilan telepon Hendra pun dijawab oleh Permata.


...----------------...


...[Via Telepon]...


Hendra: Sayang, kamu masih di Rumah Sakit?


Hendra: Bagaimana keadaan Aditya?


^^^Permata: Maaf Sayang...^^^


Hendra: Maaf?


^^^Permata: Sebenarnya...^^^


^^^Permata: Aditya baik-baik saja^^^


Hendra: Syukurlah


Hendra: Dokter bilang apa?


Hendra: Tidak ada penyakit yang serius, kan?


Hendra: Terus untuk apa kamu minta maaf?


^^^Permata: Aku tidak pergi ke Rumah Sakit^^^


^^^Permata: Aditya...^^^


Hendra: Kamu tidak pergi ke Rumah Sakit?


Hendra: Kenapa?


^^^Permata: Karena... Aditya tidak sakit perut^^^


^^^Permata: Aditya... dia...^^^


^^^Permata: Dia sudah menipu kita...^^^


Hendra: Menipu kita?


^^^Permata: Iya^^^


^^^Permata: Aditya...^^^


^^^Permata: Cuma pura-pura sakit perut^^^


Hendra: Astaga...


Hendra: Jadi dia tidak sakit perut?


^^^Permata: Tidak, perutnya tidak sakit^^^


^^^Permata: Maaf sudah membuat kamu dan Kania khawatir^^^


^^^Permata: Aku benar-benar malu dengan tingkah Aditya^^^


Hendra: Kamu pasti langsung marah dengan Aditya tanpa mendengar alasannya


^^^Permata: Bukannya alasan Aditya sudah jelas^^^


Hendra: Apa maksudmu?


^^^Permata: Kamu benar Hendra^^^


^^^Permata: Aditya... tidak menyukaimu...^^^


^^^Permata: Dia berpikir aku sudah mengkhianati Papinya karena mempunyai hubungan denganmu^^^


Hendra: Jadi kamu sudah memberitahu Aditya tentang hubungan kita


^^^Permata: Bukan begitu, ternyata selama ini Aditya sudah tahu hubungan kita tapi dia diam saja^^^


Hendra: Hm.. pantas saja sikapnya berubah kepadaku


^^^Permata: Tadi aku ingin memberitahu Aditya kalau Papinya sendiri yang meminta kita untuk bersama tapi...^^^


^^^Permata: Aditya sudah terlanjur marah dan tidak mau mendengarkan ku...^^^


^^^Permata: Sekarang aku tidak tahu dia dimana^^^


Hendra: Aditya pergi?


^^^Permata: Iya, tadi salah satu pelayan ku melihat Aditya keluar dan motornya juga tidak ada di garasi^^^


^^^Permata: Aditya pergi kemana ya...^^^


^^^Permata: Aku khawatir...^^^

__ADS_1


^^^Permata: Jangan sampai terjadi sesuatu dengannya di jalan karena aku tidak akan bisa bertahan kalau sampai Aditya juga...^^^


Hendra: Ssstt!


Hendra: Jangan bilang seperti itu


Hendra: Tidak akan terjadi sesuatu dengan Aditya


(Hendra mendengar suara knalpot motor dari luar, dia pun sedikit menyibak gorden jendela kamarnya sambil masih menempelkan handphonenya di telinga. Di luar rumahnya Hendra melihat motor sport hitam melaju dan berhenti di depan pagar)


^^^Permata: Tapi aku tidak bisa tenang kalau Aditya belum kembali^^^


(Hendra tersenyum saat melihat pria yang berada di atas motor sport itu)


Hendra: Sayang, kamu sudah bisa tenang sekarang


(Hendra pun menceritakan apa yang dia lihat di luar rumahnya kepada Permata)


...****************...


"Sudah sampai Kak, betah banget peluk aku," ucap Aditya usil.


Awalnya Kania memeluk Aditya karena takut tapi semakin lama Kania merasa nyaman. Bagaimana tidak? Badan Aditya yang atletis membuat cewek manapun pasti betah memeluknya, bahkan meskipun berkeringat badan Aditya masih wangi.


Mata Kania yang terpejam langsung terbuka, wajahnya memerah. Dia pun segera melepas tangannya yang melingkar di perut Aditya.


"Ka-Kamu gila ya?! Tadi bahaya tahu!"


Kania tampak sewot padahal sebenarnya dia sedang menyembunyikan perasaan malunya karena merasa "tertangkap basah" oleh Aditya.


"Yang penting selamat sampai rumah, kan?" Aditya mengedipkan matanya.


"Iya tapi tetap aja bahaya! Kamu pikir kamu ada di sirkuit balap?! Gimana kalau tadi ada mobil atau motor yang tiba-tiba berhenti?! Kita bisa celaka! Bukannya sampai di rumahku malah di Rumah Sakit!"


Aditya malah senyum-senyum sendiri mendengar ocehan Kania.


Wajahnya makin manis aja kalau lagi marah.


"Kamu denger gak?! Malah senyum-senyum gak jelas!" ucap Kania kembali sewot.


"Iya aku denger Kak," jawab Aditya lembut diiringi senyum tipis dari bibirnya.


Sialan, jantung gue deg-degan mulu tiap liat dia senyum! Mukanya emang cakep tapi kalau senyum...


Kania melirik Aditya dan malah terus memandangi wajah rupawan Aditya yang seperti artis Korea.


Kebetulan, Kania adalah salah satu fans k-drama, sebutan untuk drama Korea. Dia bahkan sering begadang demi menonton drama Korea itu sampai habis.


"Si-Siapa yang naksir?! Pede banget sih!"


Kania langsung salah tingkah dan memalingkan wajahnya yang semakin memerah.


Aditya cuma bisa terkekeh melihat tingkah Kania.


Gemes banget kalau dia lagi malu-malu kaya gini.


"Kak Kania masih mau ikut aku? Aku sih seneng boncengin Kak Kania, jadi tukang ojek pribadi juga engga masalah."


"Keliling dunia sekalipun aku antar asalkan bisa terus bersama Kak Kania."


Aditya mulai mengeluarkan jurus gombalannya.


"Engga, makasi! Aku masih mau hidup, diboncengi kamu sama aja memperpendek umurku," jawab Kania ketus.


"Terus kenapa Kak Kania masih duduk di motorku?"


"Te-Terserah aku!" elak Kania.


Kania langsung turun dari motor Aditya dan lupa kalau jok belakang motor Aditya lebih tinggi dari motor biasa sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan.


Matanya pun terpejam, dia sudah pasrah dan siap merasa sakit saat dirinya terjatuh.


...BRUK!...


Loh? Koq engga sakit?


Perlahan Kania membuka matanya dan melihat wajah Aditya berada tepat di depannya.


"Huuh... untung aja masih sempet ketangkep," ucap Aditya lega.


"Kak, engga apa-apa, kan?"


Saat Aditya mengalihkan pandangannya ke wajah Kania, dia sudah disambut oleh mata indah Kania yang sedang menatapnya.


Engga mungkin... apa dia suka sama gue? Gue sih seneng kalau dia suka sama gue tapi... emangnya dia mau pacaran sama cowok yang lebih muda dari dia...


"Kak, Kak Kania," panggil Aditya.


Kania pun tersadar dan langsung memalingkan wajahnya yang memerah.


"Kak Kania engga apa-apa?"

__ADS_1


"I-Iya, aku engga apa-apa, ma-makasi ya," jawab Kania gugup.


"Dasar ceroboh! Untung masih bisa ketangkep, coba kalau engga? Kamu pasti jatuh tadi!" ucap Aditya sewot.


"Koq kamu malah ngomel-ngomel sih?!" protes Kania.


"Iya maaf, aku emang ceroboh, lain kali aku engga mau lagi naik motor kamu," lanjut Kania dan langsung beranjak dari tempatnya.


Kania membuka pintu pagar rumahnya yang hanya setinggi dada orang dewasa.


"Gak ada ucapan makasi nih? Padahal aku sudah menolongnya tadi," sindir Aditya.


Kania yang sudah berada di balik pagar menatap tajam Aditya.


"Makasi," ucap Kania lirih.


"Hah? Apa?? Aku engga dengar." Aditya sengaja mendekatkan telinganya sambil tersenyum jahil.


Kania memutar bola matanya keatas menanggapi tingkah usil Aditya.


"Makasi." Kania kembali mengucapkan makasi kepada Aditya.


"Tunggu, ada apa dengan telinga ku hari ini?" Aditya pura-pura mengorek telinganya dengan jari lalu kembali mendekatkan telinganya.


"Coba katakan sekali lagi, aku tidak dengar tadi."


Kania tahu kalau Aditya sedang menggodanya dan terpikir untuk membalas Aditya.


"MAKASI ADITYA!" teriak Kania tepat di telinga Aditya sehingga membuat Aditya terperanjat.


Kania segera beranjak dari tempatnya dan berjalan mundur sambil cekikikan.


"Awas ya!" teriak Aditya dari luar pagar.


"Emang enak? Lagian sih usil," balas Kania sambil menjulurkan lidahnya.


Kania segera lari menuju pintu depan rumahnya saat melihat Aditya akan membuka pintu pagar.


"Pulang sana! Makasi sudah mengantarku!" teriak Kania dari depan pintu lalu dia pun masuk ke dalam rumahnya.


"Ck! Lihat saja nanti, sekarang kamu bisa kabur tapi lain kali tidak akan aku biarkan."


Saat Aditya menaiki motornya dia sadar kalau helmnya masih dipakai Kania.


"Engga apa-apa, gue jadi punya alasan buat bertemu dengannya lagi."


Aditya pun menyalakan mesin motornya dan melaju pergi meninggalkan tempat itu.


...****************...


Kania berpapasan dengan Hendra yang keluar dari dalam kamar.


"Ayah," panggil Kania sambil berjalan menghampiri Hendra.


"Kak, kenapa masih pakai helm? Helm siapa itu?" tanya Hendra.


Hendra sebenarnya tahu pemilik helm itu bahkan dia juga melihat interaksi antara Kania dan Aditya di luar rumahnya tapi Hendra memilih untuk pura-pura tidak mengetahui semua itu.


Kania baru sadar kalau dia masih memakai helm. Dia pun bergegas melepas helm dari kepalanya tapi saat dia ingin mengembalikan helm itu, Kania sudah tidak melihat Aditya di depan pagar rumahnya.


"Sudah pergi...," gumam Kania yang terdengar oleh Hendra.


"Siapa yang pergi?"


Kania sedikit terkejut karena tiba-tiba Hendra sudah berdiri di sampingnya.


"I-Itu... tukang ojek Yah! Iya, tukang ojeknya sudah pergi, ini helm tukang ojeknya," jawab Kania gelagapan.


Harusnya aku bilang saja kalau yang mengantarku tadi Aditya tapi kenapa aku malah bilang tukang ojek?


"Kalau helm itu punya tukang ojek, kenapa tukang ojeknya engga minta helmnya lagi?"


"Mu-Mungkin abang tukang ojeknya juga lupa, nanti kalau ketemu lagi helmnya Kakak kembalikan."


"Ketemu lagi? Emangnya kamu kenal sama tukang ojeknya?"


"Ayah, Kakak capek banget abis bantuin Ratna jualan, Kakak ke kamar ya mau istirahat."


Kania pun memutuskan untuk kabur dan masuk ke dalam kamarnya.


"Sejak kapan Aditya jadi tukang ojek? ada-ada saja." Hendra tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


...****************...


Author: Halloooo~


Maaf ya baru bisa update lagi soalnya kemarin ada acara sama keluarga 😥


Makasi like dan dukungannya ❤️❤️❤️❤️❤️


Like kalian selalu jadi mood buster buat aku! 💪🏻😆

__ADS_1


Sampai bertemu lagi di bab selanjutnya~


__ADS_2