
"Baby?"
Permata meminta bagian make up untuk berhenti meriasnya lalu dia pun memutar kursinya ke belakang menghadap Aditya dan Kania yang tampak tegang.
"Aditya," panggil Permata.
"I-Iya Mi."
"Kenapa kamu panggil Kania seperti itu?"
"Ma-Maksud Mami?" Aditya bersikap seolah tidak tahu apa-apa.
"Mami tadi jelas mendengar kamu memanggil Kania dengan Baby."
"Bukan Mi, Mami salah paham, aku tadi lagi teleponan sama pacar aku terus aku panggil dia Baby bukannya Kak Kania."
Aditya berusaha menelan ludahnya, dia sudah berusaha sebaik mungkin mengelak dari Permata tapi sayangnya dia tidak tahu kalau ternyata Permata melihat dia saat memeluk Kania dari pantulan kaca meja rias.
Permata pun beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Aditya.
"Nak, mata Mami masih bisa melihat dengan jelas kalau kamu tadi memeluk Kania bukan sedang telepon."
...Deg!...
Jantung Aditya pun semakin berdetak kencang begitu juga Kania. Wajah mereka tampak sangat tegang.
Hendra yang sudah punya feeling dan merasa aneh dengan kedekatan Aditya dan Kania tidak begitu terkejut seperti Permata.
"Kania," panggil Hendra.
"I-Iya Yah."
Mampus! Sekarang giliran gue! Gimana nih?!
Kania berusaha tampak tenang padahal tangannya sudah sangat dingin.
"Ayah mau Kakak jawab jujur, apa Kakak menyukai Aditya?" tanya Hendra to the point.
Badan Kania seketika membeku, dia tidak menduga kalau Hendra akan bertanya seperti itu kepadanya.
"Te-Tentu saja Kakak menyukai Aditya, dia-dia adik yang baik," jawab Kania sedikit terbata-bata.
Kania pun berusaha untuk tersenyum tapi senyumannya jelas terlihat kaku dan dipaksakan.
Hendra berjalan mendekati Kania lalu mengusap kepala putrinya itu.
"Nak, Ayah minta kamu jujur, Ayah tahu sebenarnya perasaanmu kepada Aditya lebih dari itu."
"Ma-Maksud Ayah?"
"Kamu mencintai Aditya, bukan cuma kamu tapi Aditya juga sama, kalian berdua saling mencintai."
...Deg!...
Di dalam hati, Aditya dan Kania bertanya-tanya bagaimana mungkin Hendra bisa tahu perasaan mereka padahal selama ini mereka berpikir mereka telah berhasil menyembunyikan perasaan mereka di depan kedua orang tua mereka.
Tapi ternyata Hendra menyadari perasaan mereka berdua.
Permata yang memang tidak pernah curiga dengan kedekatan Aditya dan Kania tentu saja terkejut mendengar ucapan Hendra.
"Mas, apa maksudmu? Mereka... Mereka saling mencintai?"
"Kamu lihat sendiri, kan? Mereka berdua diam saja berarti benar kalau sebenarnya mereka saling mencintai."
"E-Engga Yah, ka-kami tidak--"
"Benar Om," ucap Aditya tegas.
Kania langsung saja menoleh dan melihat Aditya. Dia tidak menduga kalau Aditya akan membenarkan ucapan Hendra karena dia berpikir kalau Aditya akan terus mengelak.
Aditya memegang tangan Kania sambil melihat wanita itu dengan tatapan lembut lalu tersenyum seolah berkata "semua akan baik-baik saja".
Perasaan cemas dan khawatir yang Kania rasakan perlahan hilang. Dia akhirnya sadar mungkin memang sudah saatnya mereka mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tua mereka.
"Mami, Om Hendra maaf... Kami tidak bermaksud terus menyembunyikan hal ini dari kalian." Aditya tidak terlihat tegang lagi seperti sebelumnya, dia sudah siap untuk mengakui perasaannya di depan orang tua mereka.
"Jadi kalian...." Permata masih tidak percaya kalau ternyata kedekatan Aditya dan Kania selama ini karena mereka saling mencintai dan bukan kedekatan kakak-adik yang seperti dia pikirkan.
"Iya Mi, kami saling mencintai dan sudah satu bulan pacaran."
__ADS_1
"A-Apa?? Kalian pa-pacaran?" Permata melongo mendengar pernyataan Aditya.
"Kenapa kalian merahasiakan hal ini?" tanya Hendra sambil melihat Aditya dan Kania bergantian.
Aditya dan Kania diam lalu saling lirik-lirikan.
"Aditya, jawab Om Hendra, kenapa diam?" tuntut Permata.
"Sebenarnya aku yang meminta Aditya untuk merahasiakan ini...." Akhirnya Kania buka suara, dia tidak mau Aditya yang nanti disalahkan.
"Kenapa Kak?" tanya Hendra.
"Aku khawatir kalau Ayah dan Tante Permata tahu hubungan kami, kalian tidak akan menikah jadi aku meminta Aditya untuk merahasiakan hubungan kami setidaknya sampai kalian menikah."
Hendra dan Permata saling melihat, Hendra tersenyum tipis lalu menganggukan kepalanya.
Permata pun mengalihkan pandangannya lagi ke Aditya dan Kania lalu tersenyum tipis. Dia meraih tangan Aditya dan Kania lalu menyatukan tangan keduanya.
Aditya dan Kania sedikit terkejut, mereka tidak menduga Permata akan melakukan hal itu kepada mereka.
"Mami memang terkejut tapi Mami tidak marah dengan kalian. Mami hanya merasa sedikit kecewa karena kalian merahasiakan hal ini dari Mami dan juga Om Hendra."
"Maaf Tante...."
"Maaf Mi...."
"Dengar, tidak ada masalah jika kalian saling mencintai karena kalian bukan saudara kandung."
"Dan kalau untuk jadi atau tidaknya pernikahan ini, Tante perlu bertanya dulu ke calon suami Tante."
Permata pun melihat ke Hendra begitu juga dengan Kania.
"Jadi bagaimana Mas? Apa kamu masih ingin pernikahan ini tetap dilanjutkan?" tanya Permata.
"Ayah, jangan batalkan pernikahan ini...," pinta Kania dengan wajah memelas.
Hendra pun tersenyum lalu mengelus kepala Kania.
"Kakak ingin Ayah tetap menikah dengan Tante Permata?"
"Iya, aku juga ingin Ayah bahagia seperti Mama... jadi aku mohon jangan batalkan pernikahan ini," ucap Kania dengan mata berbinar-binar.
"Tapi tanpa menikah Ayah juga sudah bahagia bersamamu."
Sekarang giliran Kania yang menyatukan tangan Hendra dan Permata.
"Apa Tante tahu? Akhirnya setelah bertahun-tahun Ayah bisa membuka hatinya dan itu karena Tante, jadi aku yakin kalau Ayah bersama Tante, Ayah pasti akan lebih bahagia."
Lalu Kania menyikut lengan Aditya dan memberi kode dengan ekspresi wajahnya agar Aditya juga membantunya membujuk kedua orang tua mereka.
"Iya Mi, jangan batalkan pernikahan ini karena kalau Mami tidak jadi menikah dengan Om Hendra kisah cintaku yang baru sebulan juga akan langsung tamat."
Kania pun mencubit pinggang Aditya sehingga membuat Aditya meringis kesakitan.
"Mamiii~ aku dicubiiit~," rengek Aditya manja.
Permata dan Hendra pun terkekeh melihat kelakukan anak mereka.
"Kenapa kamu ngomong kaya gitu di depan Tante dan Ayah?" tanya Kania sewot.
"Tapi bener, kan? Kalau Mami dan Om Hendra tidak jadi menikah apa Kak Kania masih mau pacaran denganku?"
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Tentu saja aku akan tetap jadi pacarmu."
"Dan Ayah juga akan tetap menikah dengan Tante Permata," sambung Hendra.
"Bener Yah?" tanya Kania dengan mata berbinar-binar.
"Iya Nak, Ayah sudah janji dengan almarhum akan menjaga istri dan anaknya setelah Beliau meninggal jadi Ayah akan tetap menikah dengan Tante Permata kecuali kalau Tante Permata menolak, Ayah tidak bisa memaksa."
"Bagaimana Tante? Tante setuju kan menikah dengan Ayah?"
"Hmm.. Gimana ya? Tante engga mau menikah kalau tidak ada perasaan di dalam pernikahan ini jadi...." Permata bersikap seolah ragu menerima pernikahannya dengan Hendra.
"Engga Tante, cuma Tante yang bisa buka hati Ayah jadi udah pasti Ayah sangat mencintai Tante."
"Ayah, ayo bilang perasaan Ayah ke Tante Permata~" pinta Kania.
Hendra pun kembali terkekeh.
__ADS_1
"Kamu sengaja ya?" tanya Hendra sambil melihat Permata.
Permata pun cuma tersenyum manis kepada Hendra.
"Aditya, kamu ajarin Ayah gimana caranya," pinta Kania kepada Aditya.
"Koq aku?"
"Kamu kan pinter gombal jadi kamu ajarin Ayah cara mengungkapkan perasaannya ke Tante Permata."
"Pinter gombal? Tante baru tahu kalau anak Tante ternyata pinter gombal," ledek Permata.
Aditya cuma memutar bola matanya keatas.
"Ih ayo dong, ajarin Ayah!" rengek Kania tidak sabar.
"Iya iya."
"Om, pertama Om harus berlutut dengan satu kaki seperti ini."
Aditya pun memperagakan ucapannya lalu Hendra mengikuti Aditya.
"Terus Om pegang tangan Mami kaya gini."
Aditya meraih tangan Kania sebagai contoh dan diikuti Hendra yang meraih tangan Permata.
"Terus Om bilang perasaan Om ke Tante."
"Contohnya?" Hendra sengaja pura-pura tidak tahu.
"Seperti ini, ehem ehem."
Jantung Kania berdetak kencang saat melihat keseriusan di mata Aditya.
Terkadang dia bersikap lebih dewasa dari umurnya, aku jadi ragu apa benar usianya lebih muda 5 tahun dariku?
"Kania Pertiwi, nama yang ditakdirkan untukku, nama yang akan selalu aku ingat meskipun terlahir kembali, nama yang mengajarkanku tentang cinta."
Kata-kata manis dari Aditya membuat kedua pipi Kania merona.
"Dan nama yang akan bersanding dengan namaku di buku nikah nanti, tapi aku harus bertanya lebih dulu kepada sang pemilik nama."
"Bolehkah aku melakukannya?"
Beberapa saat Aditya dan Kania merasa hanya ada mereka berdua di ruangan itu sampai terdengar suara deheman yang membuat mereka akhirnya tersadar.
"Ehem."
"Kania jadi apa jawabanmu?" goda Permata.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun jadi ikut meminta jawaban dari Kania.
"Jawab! Jawab! Jawab!"
Ha-Harusnya kan Tante Permata, ke-kenapa jadi aku?!
Aditya jadi ingin menjahili Kania saat melihat kedua pipi wanita itu yang semakin merona.
"Jadi apa jawabanmu Baby? Aku janji hanya namamu yang ada di hatiku dan di buku nikah kita nanti."
"A-Aku...."
Lalu Kania pun menganggukan kepalanya malu-malu.
Semua orang pun bersorak dan bertepuk tangan padahal seharusnya yang jadi tokoh utama adalah Permata dan Hendra.
Aditya langsung berdiri dan memeluk Kania lalu memutar-mutar badan wanita itu. Wajah Aditya pun tampak sumringah.
"Kania Pertiwi aku mencintaimuuuu!"
...****************...
Maaf ya di bab 27 nama Kania jadi Kania Putri padahal namanya Kania Pertiwi tapi udah aku edit 😅
Mohon maaf kalau updatenya sehari satu atau dua bab engga kaya author yang lain yang bisa update berkali-kali.
Alasannya bukan karena aku malas tapi biasanya aku bikin cerita langsung gak pake draft jadi aku harus berkali-kali periksa jalan ceritanya biar engga keluar jalur terus aku juga biasa self editing supaya kalian enak bacanya tanpa terganggu typo atau kalimat yang gak jelas.
Bisa dibilang aku tipe prefeksionis makanya bikin satu bab aja bisa sampe 5 jam 😥
__ADS_1
Jadi sekali lagi maaf ya dan makasi banyak like dan dukungan kalian ❤️❤️❤️❤️❤️
Sampai ketemu lagi di bab selanjutnya 😉