Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Gulat Ranjang (Area 18+)


__ADS_3

Tante Mia yang sedari tadi menyimak percakapan dua abege itu mengerti dan memberikan pengertian kepada Mutiara kalau perasaannya tidak bisa dipaksakan.


Mutiara pun akhirnya menyerah daripada dirinya dibenci oleh Aditya dan merusak hubungan mereka. Dia mengakui perbuatannya dan minta maaf.


Sebenarnya sebelum masuk ke kamar rawat itu, Aditya dan Kania sempat mendengar keluhan Mutiara kepada Tante Mia. Kania pun jadi teringat dirinya sendiri.


Semenjak orang tua Kania bercerai, dia jadi tidak bisa selalu melihat atau bersama ibunya lagi karena hak asuh Kania dilimpahkan ke ayahnya oleh ibunya. Entah karena alasan apa ibunya sampai tidak mau merawat Kania kecil saat itu sehingga ayahnya terpaksa menitipkan Kania ke neneknya karena dia harus bekerja.


Meskipun ibunya tetap berkomunikasi dengan Kania tapi komunikasi itu hanya lewat telepon, ibunya tidak pernah datang menemui Kania. Telepon dari ibunya pun bisa dihitung dengan jari selama satu bulan.


Jadi Kania lah yang paling mengerti kesepian yang dirasakan Mutiara. Ketidaksukaan Kania pun berubah menjadi rasa simpati kepada teman masa kecil kekasihnya itu.


Bahkan Kania melakukan sesuatu yang tidak pernah diduga oleh Aditya apalagi Mutiara. Wanita yang biasanya selalu jutek dengan teman masa kecil kekasihnya itu malah mengulurkan tangannya.


Senyum yang terukir dari bibir Kania pun terasa tulus bukan senyum menyindir atau meledek yang biasanya Kania tunjukan di depan Mutiara.


Tentu saja Mutiara tidak langsung merespon yang dilakukan Kania, dia hanya terus melihat uluran tangan itu sampai akhirnya Tante Mia meraih tangan Mutiara lalu menyatukan tangan putrinya itu dengan Kania.


Kania juga minta maaf, dia sadar sikapnya selama ini kekanak-kanakan padahal seharusnya dia bersikap lebih dewasa mengingat umurnya yang juga lebih tua daripada Mutiara.


Sekarang tidak ada lagi persaingan tapi awal persahabatan antara dua wanita yang berbeda usia itu.


...****************...


Keesokan harinya, Hendra yang baru menyelesaikan pekerjaannya di luar kota tidak sabar untuk segera pulang.


Selain karena ingin bertemu keluarganya yang sangat dia rindukan, hari ini dia juga harus menghadiri undangan dari salah satu partner bisnisnya.


Satpam yang sedang berjaga bergegas membuka pintu gerbang saat melihat mobil majikannya.


Setelah pintu gerbang terbuka, mobil majikannya itu pun melaju dan berhenti tepat di depan pintu masuk utama rumah.


Hendra bergegas keluar dari dalam mobil. Dia membuka pintu lalu berjalan memasuki rumah yang selama beberapa hari dia tinggalkan.


Saat itu tepat jam makan siang jadi Hendra pun berjalan menuju meja makan karena dia yakin Permata, istrinya itu pasti sedang menata makanan untuk makan siang.


Dan benar saja, saat Hendra baru menginjakan kakinya di ruangan itu dia melihat Permata sedang berdiri membelakanginya. Dia pun mengendap-endap lalu memeluk istrinya.


Sontak saja Permata terkejut saat ada seseorang memeluknya dari belakang.


"Mas Hendra?!" pekik Permata yang segera memutar badannya menghadap Hendra.


Hendra tersenyum lalu mencium kening Permata seperti yang biasanya dia lakukan setiap pulang ke rumah.


"Mas Hendra bukannya baru pulang nanti sore? Kalau tahu Mas pulang siang aku kan bisa masak makanan kesukaan Mas."


"Mas sengaja menyelesaikan pekerjaan Mas lebih cepat karena Mas udah kangen banget sama istri Mas yang cantik." Hendra membelai rambut halus Permata sehingga membuat pipi istrinya itu pun merona.


"Ih Mas bisa aja." Permata memukul pelan dada Hendra sambil tersenyum malu-malu.


Hendra pun terkekeh melihat tingkah menggemaskan Permata lalu dia teringat dengan kedua anaknya.


"O iya dimana Aditya dan Kania? Apa mereka sedang keluar?"


"Tidak, mereka ada di rumah nanti juga mereka datang. Lebih baik Mas mandi dulu biar seger baru makan, ayo Mas aku siapin air mandinya," ajak Permata.


"Kayanya ada yang udah gak tahan nih~ kangen ya gak dikelonin beberapa hari~" goda Hendra.

__ADS_1


"Ih Mas! Apaan sih?!" Permata yang salah tingkah kembali memukul dada suaminya. Wajah Permata pun sangat merah saking malunya.


"Hahaha gemes deh sama kamu~ Ayo kita ke kamar, Mas juga udah gak tahan." Hendra mengedipkan matanya lalu menarik Permata pergi dari tempat itu.


...****************...


Di dalam perpustakaan, Kania terlihat fokus menekan-nekan keyboard laptopnya sedangkan Aditya menggunakan pahanya sebagai bantal sambil membaca komik.


...Kruukkk Kruukk...


Pandangan Kania pun beralih dari layar laptop ke Aditya yang tengah menunjukkan deretan giginya.


Aditya pun mengangkat kepalanya dari paha Kania.


"Baby, sudah waktunya makan siang, ayo kita makan."


Aditya meraih tangan Kania lalu menariknya agar wanita pujaan hatinya itu beranjak dari sofa.


"Tunggu, aku save dulu!" Kania segera menekan tombol ctrl berbarengan dengan tombol S untuk menyimpan draft skripsinya.


"Bukannya save otomatis?"


"Make sure aja kalau bener-bener udah ke save soalnya aku gak mau kalau harus ngetik ulang lagi."


Setelah yakin kalau draft skripsinya sudah tersimpan, Kania pun beranjak dari sofa.


"Ayo Baby aku laper banget~" rengek Aditya.


"Iya Honey." Kania menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kekasihnya yang selalu tidak sabaran.


Mereka pun pergi meninggalkan perpustakaan dan berjalan menuju meja makan.


...****************...


"Mami mana? Koq gak ada?" Aditya celingak celinguk mencari keberadaan Permata di ruangan itu.


"Mungkin masih di dapur?"


Kania pun berjalan menuju dapur tapi tidak juga melihat keberadaan Permata, hanya ada pelayan yang sedang mencuci alat masak di wastafel.


"Bibi lihat Mami?" tanya Kania ke pelayan itu.


Pelayan itu pun menghentikan kegiatannya lalu menjawab pertanyaan Kania.


"Terakhir Bibi lihat Nyonya di meja makan Non."


Di meja makan? Tapi koq Mami gak ada?


"Oh ok Bi, makasi ya."


Kania pun beranjak pergi dan kembali ke meja makan.


"Mami ada di dapur?" tanya Aditya.


"Gak ada." Kania menggelengkan kepalanya.


"Mungkin Mami di kamar, kalau begitu aku panggil Mami makan siang dulu ya," ucap Kania lalu berjalan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Tunggu Baby aku ikut!" Aditya pun bergegas mengejar Kania.


...****************...


...Deg! Deg! Deg!...


Jantung Aditya dan Kania berdetak kencang saat mereka telah berdiri di depan pintu kamar orang tua mereka. Wajah mereka langsung merah. Keduanya pun menelan saliva mereka begitu mendengar suara rintihan yang samar-samar dari dalam kamar.


Mereka bukan lah bocah lima tahun yang tidak mengerti apa yang terjadi di dalam sampai menimbulkan suara seperti itu.


Setelah beberapa saat Kania baru sadar kalau di sampingnya ada anak abege yang masih belum genap 18 tahun. Dia pun segera menyeret anak abege itu pergi dan turun ke lantai bawah.


...****************...


"Baby," panggil Aditya saat mereka sudah berada di lantai bawah.


Wajah Kania masih merah, detak jantungnya juga masih tak karuan. Dia tidak menyangka akan mendengar suara yang rintihan seperti itu dari dalam kamar orang tua mereka. Rasanya malu sekali.


"Baby! Halooo~" Aditya mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Kania yang sedang termenung.


...Tak!...


Karena geregetan tak mendapat respon dari Kania akhirnya Aditya menyentil jidat kekasihnya itu.


"Aww!" pekik Kania kesakitan.


Kania langsung menatap tajam Aditya sambil mengusap-usap jidatnya.


"Sakit tau! Kasar banget sih!"


"Makanya jangan bengong atau... Kamu lagi bayangin yang terjadi di dalam kamar Mami tadi ya? Hayoo ngakuu~" goda Aditya.


Seketika pipi Kania kembali memerah. Dia pun jadi salah tingkah.


"E-Engga! Aku gak bayangin apa-apa!" ucap Kania gelagapan.


"Masa sih? Terus kenapa wajah kamu merah? Kamu sakit?" ledek Aditya.


"Wajahku gak merah dan aku gak sakit!" Kania pun langsung pergi meninggalkan Aditya saking malunya.


Aditya tertawa geli lalu menyusul Kania ke meja makan.


...****************...


Meskipun Aditya dan Kania sudah berada di meja makan tapi mereka hanya diam. Tidak ada yang berinisiatif lebih dulu untuk mengambil makanan.


"Baby, bukannya Om Hendra masih di luar kota? Terus Mami gulat sama siapa di dalam kamar?"


"Gulat?"


"Iya gulat di ranjang, masa kamu gak ngerti." Aditya mengedipkan matanya dan tersenyum nakal.


"A-Aku gak tahu!" Kania memalingkan wajahnya yang memerah.


Aditya tersenyum menyeringai. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Kania lalu membisikan sesuatu.


"Mau aku beritahu caranya? Tapi apa kamu kuat melawanku nanti?"

__ADS_1


Seketika badan Kania menegang, dia menggigit bibir bawahnya karena suara husky Aditya terdengar seksi sehingga membuat imajinasi Kania berkelana ke area 18+.


...****************...


__ADS_2