
Tak lama setelah semua makanan habis, Aditya mendapat panggilan telepon dari maminya yang meminta mereka untuk datang ke kelas Aditya.
Dan selama perjalanan menuju kelas, Kania kembali risih dengan sorot mata beberapa siswi yang mengarah kepadanya. Bukan hanya memperhatikannya saja tapi siswi-siswi itu juga berbisik-bisik, entah apa yang mereka katakan tapi Kania yakin dirinya lah yang menjadi topik pembicaraan mereka.
"Ada apa Baby?" tanya Aditya saat menyadari kegelisahan Kania.
"Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" bisik Kania.
"Tidak ada, you always perfect Baby." Aditya balik berbisik dan mencium pipi Kania.
Kemesraan dua sejoli itu tidak hanya membuat siswi-siswi yang memperhatikan mereka iri tapi mantan-mantan Aditya juga tak kalah iri dengan Kania karena selama pacaran dengan pemuda itu, kontak fisik yang mereka dapatkan hanya sebatas pegangan tangan.
"Kamu ini! Kenapa cium-cium?! Jadi makin diliatin, kan?!" cicit Kania sewot. Dia menundukkan wajahnya yang memerah dan bersembunyi di balik lengan Aditya.
Melihat kelakuan kekasihnya tentu saja membuat Aditya sangat gemas. Bagaimana tidak? Kekasihnya itu tampak seperti gadis kecil yang tengah malu diperhatikan banyak orang.
Ya Tuhan gemas banget sih! Jadi pengen gigit pipinya.
Aditya cuma bisa menggigit bibir bawahnya menahan gemas. Tidak mungkin dia benar-benar menggigit pipi Kania saat ini, nanti yang ada kekasihnya itu malah ngambek.
"Kalian darimana?" tanya Permata saat melihat kedatangan kedua anaknya.
"Dari kantin Mi, sarapan," jawab Aditya.
"Mami baru sampai?" tanya balik Kania.
"Iya, tadi jalanannya agak macet, yuk kita masuk."
"Mami aja sama Aditya, Kania tunggu disini."
"Kalau gitu aku juga gak mau masuk. Ingat Baby! 1x24 jam kamu--"
"Iya iya aku juga masuk!" sahut Kania cepat.
Akhirnya Kania pun ikut masuk ke dalam kelas bersama Aditya dan Permata sedangkan Daniel tidak mengikuti mereka lagi karena tadi dia langsung pulang dengan orang tuanya yang lebih dulu sudah mengambil rapot.
Untungnya di dalam kelas hanya ada satu orang tua yang tampak sudah selesai mengambil rapot anak mereka jadi Permata tidak perlu menunggu giliran.
Permata dan Aditya duduk di depan wali kelas sedangkan Kania duduk di kursi lain yang ada di belakang mereka.
Dan seperti biasa, wali kelas akan terus memuji-muji siswa yang berprestasi apalagi Aditya tahun ini memegang predikat sebagai peringkat pertama untuk seluruh angkatan kelas 2.
Permata yang memang tahu anaknya pintar tidak terkejut sama sekali, dari kecil Aditya sudah sering memenangkan kompetisi akademik jadi wajar saja kalau anaknya mendapat peringkat pertama.
Dan hanya tersenyum melihat kehebohan wali kelas putranya itu.
Setelah sesi ambil rapot, mereka bertiga pun keluar dari kelas itu.
"Karena aku dapat peringkat pertama, berarti aku bisa minta hadiah sama Mami." Aditya menengadahkan tangannya ke Permata sambil menaik-turunkan alisnya.
"Buat apa Mami kasi kamu hadiah? Kamu kan emang pinter jadi wajar kalau dapat peringkat pertama."
"Bilang aja Mami gak mau kasi aku hadiah," sahut Aditya ketus.
"Emang," balas Permata cuek.
"Lagipula kamu kan udah dapat hadiah dari Kania," lanjutnya.
"Beda lah Mi! Ini kan hadiah dari pacar, hadiah dari Mami belum." Aditya tetap kekeh minta hadiah dari maminya.
Begitulah anak semata wayang, kalau udah maunya ya maunya. Apalagi dari kecil Aditya selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dari papinya.
Permata yang sudah khatam dengan sifat putranya itu memilih untuk mengalah karena putranya itu pasti akan terus menerornya sebelum mendapatkan hadiah.
Permata mengeluarkan dompetnya dan mengambil lima lembar uang pecahan 100ribu lalu meletakannya di telapak tangan Aditya.
"Udah ya, jangan minta-minta hadiah lagi sama Mami."
"Kurang Mi~ masa cuma segini~" rengek Aditya.
"Nih anak bener-bener ya! Terima syukur, engga yaudah! Sini uangnya!"
Aditya dengan cepat mengelak saat maminya akan mengambil kembali uang yang ada di tangannya.
"Eits! Masa mau diambil lagi sih Mi! Harusnya tambahin!" gerutu Aditya.
"Terserah."
Permata tidak mau meladeni lagi putranya itu dan beralih ke Kania.
"Sayang, kamu ikut Mami belanja bulanan ya."
"Engga bisa!" sahut Aditya cepat.
__ADS_1
"Mami belanja bulanan aja sendiri, aku mau kencan sama pacarku."
Aditya menggandeng tangan Kania dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Permata.
"Dasar anak kurang akhlak!"
...****************...
Aditya mengajak Kania ke tempat motornya diparkirkan.
"Aku tuh heran, kenapa kamu sama Mami gak bisa akur?"
Aditya mengambil helm berwarna biru lalu memakainya ke kepala Kania.
"Kenapa ya? Aku juga gak tahu, aku sama Mami dari dulu emang kaya gitu, udah gak usah dipikirin," ucap Aditya sambil memakai helm.
Lalu pemuda itu menaiki motor sport nya.
"Ayo naik."
"Kita mau kemana?" Kania memegang pundak Aditya lalu naik dan duduk di bagian belakang motor.
"Pergi kencan."
"Iya tapi mau kemana?"
"Kejutan Baby~" Aditya mencubit hidung Kania.
"Pegangan."
Setelah tangan Kania melingkar diperutnya, Aditya pun melajukan motornya pergi dari tempat itu.
...****************...
Sebelum ke tempat tujuan, Aditya membawa Kania ke sebuah butik.
Disana Aditya meminta Kania untuk mencoba beberapa gaun yang sudah dipilihkan karyawan butik.
"Kenapa aku harus memakai gaun? Apa kita akan pergi ke pesta?"
"Sudah sana coba gaunnya, aku mau lihat," usir Aditya.
"Dasar tukang maksa!"
"Bagaimana?" tanya Kania saat sudah keluar dari kamar ganti.
"Hmm." Aditya tampak berpikir lalu mengibaskan-ngibaskan tangannya.
"Tidak, ganti yang lain."
Kania pun kembali masuk ke kamar ganti dan memakai gaun kedua.
"Mba, apa ini tidak terlalu terbuka?" ucap Kania yang risih melihat pantulan dirinya sendiri pada cermin besar di depannya.
"Kakak kelihatan cantik," puji karyawan itu.
...(visual gaun seksi yang dipakai Kania)...
Kania yakin Aditya pasti tidak suka melihatnya memakai gaun ini dan benar saja, baru juga dia akan bertanya pendapat Aditya, pria kecilnya itu langsung memintanya kembali masuk ke kamar ganti.
Aditya meremas dada kirinya, tempat dimana jantungnya tengah berdetak kencang.
Astagaaaaa! Baru lihat dia pakai gaun seksi aja jantung gue udah kaya gini, gimana nanti pas malam pertama? Duh, jantung, lu harus kuat Bro! Jangan lemah kaya gini!
Selang beberapa menit, Kania keluar dari kamar ganti. Kali ini Kania memakai gaun sederhana berwarna navy.
...(visual gaun yang dipakai Kania)...
"Aku yang pilih sendiri gaun ini, bagaimana menurutmu?" tanya Kania antusias.
Aditya sempat tertegun melihat penampilan Kania lalu sebuah senyuman pun terukir di bibirnya.
"Kamu suka?"
"Iya aku suka, gaunnya cantik."
Aditya beranjak mendekati Kania lalu mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu.
"Tapi menurutku, lebih cantik yang memakainya," bisik Aditya.
__ADS_1
Badan Kania langsung menengang, rona kemerahan pun muncul di kedua pipi gadis itu membuat Aditya tidak bisa untuk tidak menciumnya.
Alhasil Aditya kembali mendapat protes dari Kania yang malu dicium di depan orang lain meskipun cuma dicium di pipi.
Aditya lalu meminta karyawan butik itu untuk mengantarkannya ke toilet padahal itu hanya alasan dia saja, sebenarnya dia pergi untuk membayar gaun yang dipakai Kania karena kalau sampai kekasihnya tahu berapa harga gaun yang dipakai dan bagaimana cara Aditya membayarnya, kekasihnya itu pasti akan curiga.
Jelas curiga, mana ada pelajar SMA yang mampu membayar gaun seharga 200 juta? Menggunakan black card lagi?
Ya cuma Aditya, karena statusnya yang juga adalah CEO dari perusahaan start up Galaxy.
Dan saat ini Aditya masih ingin menyembunyikan hal itu dari Kania karena dia sudah menyiapkan rencana sendiri untuk memberitahu kekasihnya itu.
Setelah melakukan pembayaran, Aditya pun kembali menghampiri Kania.
"Mba, harga gaunnya berapa?" tanya Kania hati-hati.
Kania tahu harga gaun yang dia pakai pasti tidak murah. Apalagi butik yang dia datangi terlihat eksklusif.
Kenapa Aditya ajak gue beli gaun disini? Dan buat apa juga dia minta gue pakai gaun? Duh, uang tabungan gue cukup gak ya?
Aditya berusaha menahan tawanya melihat Kania yang mulai gelisah.
Sebelum menjawab karyawan butik itu lebih dulu melirik Aditya.
"Gaunnya sudah dibayar Kak."
"Sudah dibayar?!" pekik Kania.
Lalu mata Kania pun langsung beralih ke Aditya.
"Kamu yang bayar?" tanya Kania.
"Iya."
Kania menarik lengan Aditya sedikit menjauh dari karyawan butik.
"Kamu punya uang untuk membayar gaun ini?" bisik Kania.
Jangan kan gaun Baby, kalau kamu mau aku bisa beli butik ini untuk kamu.
Aditya tersenyum.
"Punya, tadi kan aku dapat hadiah 500ribu dari Mami."
"Kamu habisin semua buat bayar gaun ini?"
"Engga, masih ada 300ribu," jawab Aditya santai.
"Berarti harga gaun ini 200ribu?" tanya Kania memastikan karena jujur, dia tidak percaya kalau gaun yang dia pakai seharga 200ribu.
"Iya 200."
200 juta.
Gumam Aditya dalam hati.
"Yang bener?"
"Iya, kalau engga percaya tanya aja sama karyawan butiknya."
Kania kemudian kembali mendekati karyawan butik yang dengan sabar menunggu mereka.
"Mba, apa benar harga gaun ini 200ribu?"
"Iya Kak."
Entah kenapa Kania masih tidak percaya, dia yakin kalau harga gaun yang dia pakai lebih dari 200ribu tapi karena karyawan butik itu sendiri mengiyakan berarti dia tidak punya alasan lagi untuk tidak percaya.
"Baby, kita masih harus pergi ke tempat lain."
Kania menerima paper bag dari karyawan butik yang berisi baju yang tadi dia pakai sebelum memakai gaun.
"Kemana?" tanya Kania.
"Nanti juga kamu tahu, ayo!" Aditya menggandeng tangan Kania dan mengajak kekasihnya itu keluar dari butik.
"Tapi aku ganti baju dulu!"
"Tidak, pakai gaun itu saja."
"Apa??"
...****************...
__ADS_1