
"Ini Pak soto ayamnya, jadi 15ribu."
Kania menyodorkan kantung plastik yang berisi sebungkus soto ayam kepada pria yang terlihat seumuran dengan Ayahnya.
"Jangan panggil Pak, panggil Mas aja."
Pria itu sengaja mengelus tangan Kania saat mengambil kantung plastik dari tangan Kania.
Kania sedikit terkejut lalu segera menarik tangannya kembali.
Pria itu pun tersenyum genit kepada Kania.
"Ini uangnya," ucap pria itu sambil menyodorkan uang pecahan 100ribu kepada Kania.
Kania tampak ragu untuk mengambil uang dari pria itu, dia takut kalau pria itu akan memegang tangannya lagi tapi akhirnya dia memberanikan diri dan dengan hati-hati mengambil uang itu.
Tapi saat Kania akan mengambil uang dari pria itu, pria itu malah menjauhkan uang yang dipegangnya dan tersenyum menyeringai.
"Eits, kasi tahu dulu, nama kamu siapa?"
"Na-Nama Saya Kania," jawab Kania dengan perasaan takut.
"Kania, nama kamu cantik seperti orangnya," puji pria itu.
"Te-Terima kasih Pak." Kania masih merasa takut dan risih dengan pria di depannya.
"Loh koq panggil Pak lagi, Saya masih muda jadi panggil Mas aja."
Tangan Kania semakin gemetar sejak pria itu mengelus tangannya tadi.
"Ini uangnya buat kamu semua tapi boleh dong kasi nomor telepon."
Pria itu tersenyum genit dan kembali menyodorkan uang pecahan 100ribu kepada Kania.
"Ma-Maaf Saya tidak bisa memberikan nomor telepon Saya," tolak Kania dengan menahan perasaan takutnya kepada pria itu.
"Alah tapi uangnya mau kan? Engga usah sok jual mahal, Saya bisa kasi kamu uang lebih banyak dari ini tapi... kamu harus ikut dengan Saya, gimana?" ucap pria itu sambil tersenyum menyeringai.
Kania melirik mencari keberadaan Ratna, dia bermaksud meminta bantuan Ratna menghadapi pria genit di depannya.
"Udahlah gak usah pura-pura mikir, kamu tenang aja pokoknya nanti Saya kasi uang yang banyak buat kamu dan bonus kalau kamu bisa kasi 'servis' yang bagus nanti," ucap pria itu sambil mengedipkan mata.
Bulu kuduk Kania merinding mendengarnya, belum pernah dia bertemu dengan pria hidung belang yang terang-terangan merayunya seperti ini apalagi pria itu seumuran dengan Ayahnya.
Membayangkannya saja sudah membuat Kania takut sampai rasanya ingin menangis tapi Kania menahannya, dia tidak mau terlihat lemah di depan pria itu.
Aditya yang baru selesai menanyakan pesanan pembeli beranjak dari tempatnya dan akan memberitahu Kania agar menyiapkan pesanan itu tapi Aditya malah melihat Kania yang tampak ketakutan dan tertekan berhadapan dengan seorang pria.
"Br*ngs*k!" umpat Aditya kesal.
Pria itu mengangkat tangannya dan akan menyentuh lengan Kania.
"Bagaimana Kania? Apa kamu mau ikut dengan Saya? Tenang saja, Saya akan membawamu ke hotel bintang lima bukan hotel-hotel murahan, wanita cantik sepertimu tidak cocok pergi ke tempat seperti itu."
Kania ingin menghindar tapi entah kenapa badannya tidak bisa digerakkan seperti membeku.
Bagaimana ini?! Kenapa badanku tidak bisa bergerak?! Ratna, tolong aku!
Kania cuma bisa menjerit dalam hati berharap Ratna mendengarnya meskipun itu hal yang mustahil.
"AAAAA!!" teriak pria itu kesakitan.
Semua orang yang ada di sana pun langsung mengalihkan pandangan mereka ke pria itu termasuk Ratna yang sampai meninggalkan mangkuk-mangkuk kotor yang sedang dia cuci untuk mengetahui apa yang terjadi.
Ratna terkejut saat melihat Aditya melintir pergelangan tangan seorang pria.
__ADS_1
"Kurang ajar! Lepaskan tanganku!" teriak pria itu kesal.
"Diam! Berani banget lu mau menyentuh milik gue dengan tangan kotor lu ini! Gue bakal patahin tangan lu jadi lu gak bisa menyentuh cewek sembarangan lagi!" ucap Aditya dengan suara lantang.
"AAAAAA!! Ja-Jangan dipatahin tangan Saya!" ucap pria itu sambil meringis kesakitan akibat tangannya yang semakin dipelintir oleh Aditya.
"A-Aditya sudah, lepaskan dia!"
Kania yang panik mendengar rintihan kesakitan pria itu langsung menarik-narik lengan Aditya agar melepaskan tangan pria itu.
"Cih!"
Aditya pun terpaksa melepaskan tangan pria itu meskipun sebenarnya dia masih kesal dan ingin menghajar pria itu habis-habisan, untungnya dia masih bisa mengontrol emosinya.
"Dasar bocah kurang ajar, aaaaa... sakit banget, sialan," umpat pria itu sambil mengusap-usap pergelangan tangannya.
"Masih belum pergi? Udah bagus gue lepasin, pergi gak sekarang! Atau lu mau nginep di ruangan ICU." Aditya menatap tajam pria itu seperti singa yang akan menerkam mangsanya.
Pria itu jelas kalah kalau dia tetap nekat berkelahi dengan Aditya dan pasti dia akan menginap di ruangan ICU selama beberapa hari karena babak belur dihajar Aditya.
Aditya adalah mantan atlet taekwondo, sejak SD dia sudah belajar taekwondo. Sudah banyak pertandingan yang dia menangkan tapi saat Papinya meninggal, dia kehilangan motivasi dan berhenti berlatih taekwondo.
"Cih, sialan! Belagu banget, awas lu ya," ancam pria itu sebelum pergi.
"Apa?! Sini kalau berani! Jangan kabur lu!"
Kania dengan cepat memegang lengan Aditya agar tidak mengejar pria itu.
"Sudah Aditya, jangan!"
Aditya mendengus kesal.
"Dasar tua bangka gak tahu malu! Udah bau tanah tapi masih aja godain cewek!" gerutu Aditya.
Ratna baru berani bertanya setelah Aditya tampak sedikit lebih tenang.
"Engga apa-apa Na, maaf ya jadi bikin keributan disini," ucap Kania tidak enak.
"Emang masalahnya apa sampai dia marah banget sama pria tadi?"
Bukan Ratna namanya kalau sudah puas hanya dengan jawaban "Engga apa-apa". Rasa ingin tahunya tidak bisa menerima jawaban seperti itu.
"Nanti aja gue jelasin, pembeli yang lain pasti udah nungguin soto ayam mereka."
"Yaudah deh, tapi entar lu harus kasi tahu gue ya masalahnya."
Ratna pun pergi dan berjalan menuju meja untuk mengambil mangkuk bekas pembeli yang makan di tempat itu.
Sedangkan Aditya masih tampak kesal.
Kalau aja tadi Kania engga nahan gue, udah gue hajar pria br*ngs*k tadi dan tangannya beneran gue patahin kalau perlu kakinya juga! Biar dia dirawat di rumah sakit berbulan-bulan!
Kania mengusap-usap lengan Aditya, berharap Aditya bisa lebih tenang dan tidak merasa kesal lagi.
"Makasi ya Aditya," ucap Kania lirih.
Aditya melihat kearah Kania dengan tatapan dingin dan menepis tangan Kania di lengannya.
"Kenapa kamu malah ngeladenin pria kaya gitu?!" tanya Aditya sewot.
"Aku engga--"
Aditya langsung beranjak dari tempatnya tanpa mendengar jawaban dari Kania.
Kania jadi merasa tidak enak dengan semua orang, kalau saja tadi dia bisa lebih tegas dan berani menolak ajakkan pria itu mungkin keributan ini tidak akan terjadi.
__ADS_1
Baru jam 5 sore, soto ayam sudah habis. Ratna membereskan peralatan dagangnya dibantu Kania dan juga Aditya lalu mereka membawa peralatan itu ke mobil yang terparkir tidak begitu jauh dari gerobak.
Ratna membuka bagasi mobil dan mereka pun memasukkan peralatan itu ke dalam bagasi.
"Ok beres!" Ratna menutup bagasi agak kencang agar pintu bagasi benar-benar terkunci.
"Makasi ya udah bantuin gue, sorry cuma bisa kasi segini." Ratna memberikan sejumlah uang kepada Kania dan Aditya.
"Gak usah Na, ngapain sih pake kasi uang segala."
Kania menolak uang pemberian Ratna begitu juga dengan Aditya yang malah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"O iya aku lupa! Aku kan belum bayar soto ayam!" Aditya langsung mengeluarkan uang dari saku celananya.
"Engga usah, soto ayamnya gratis, kan lu udah bantuin gue, nih ambil uangnya, makasi banget ya udah bantuin gue sama Kania tadi."
Ratna kembali menyodorkan uang kepada Aditya.
"Kalau gitu anggap aja kita impas, aku juga gak mau nerima uang itu."
"Eh tapi masa gue bayar lu cuma pake soto ayam? Lu kan udah capek-capek bantuin jualan tadi," ucap Ratna tidak enak.
"Karena lu juga soto ayam gue habis, jadi bayaran segini masih kurang menurut gue," lanjut Ratna.
"Engga, pokoknya aku engga mau nerima, aku ikhlas bantu kalian, lagipula kita udah impas jadi simpen aja uangnya." Aditya mendorong pelan tangan Ratna.
"Beneran nih? Makasi ya."
Ratna kembali memasukkan uang di kedua tangannya ke dalam tas.
"O iya Ni, tadi lu bilang mau kenalin gue sama dia," ucap Ratna sambil menyikut lengan Kania.
"Kenalan aja sendiri, pake acara dikenalin segala," ledek Kania.
"Gue kan harus jaga image di depan cowok cakep."
Ratna mengedip-ngedipkan matanya dan tersenyum manis kepada Aditya.
"Dasar tante-tante ganjen, dia masih SMA, lu mau sama berondong?"
Pernyataan Kania sontak membuat Ratna membuka lebar matanya.
"What?! Dia masih SMA?!!"
Kenapa dia kaget kaya gitu? Bukannya dia juga masih SMA? Paling dia lebih tua satu tahun dari gue.
Pikir Aditya saat melihat reaksi Ratna.
"Tapi dia gak kelihatan kaya anak SMA, gue pikir dia anak kuliahan kaya kita Ni."
Sekarang penyataan Ratna yang membuat Aditya terkejut.
"Tung-Tunggu dulu, apa??? Anak kuliahan?? Kalian bukannya juga masih SMA?"
...****************...
Author: Hai semuaaa~
Aditya harus tunggu jawaban dari Kania di bab selanjutnya 😆
Kalian jangan kasi tahu Aditya ya, biarin aja dia penasaran 😁
Makasi yang udah like, like kalian jadi semangat buat aku untuk melanjutkan cerita ini ❤️❤️❤️
Sampai bertemu lagi di bab selanjutnyaaa~
__ADS_1