
Aditya masih terus meminta penjelasan Kania tapi wanita itu tidak menanggapi dan semakin mempercepat langkahnya menuju kamar.
Saat Kania akan menutup pintu kamar, Aditya dengan cepat menahannya.
"Aditya, lepaskan pintu kamarku."
"Engga! Jawab dulu kenapa kamu gak mau menikah denganku?!"
"Udah aku bilang, aku bukannya gak mau tapi gak setuju!"
"Apa bedanya?! Tetap aja kamu gak mau menikah denganku!"
"Beda! Kalau aku gak mau berarti aku gak akan menikah denganmu tapi aku bilang aku gak setuju!"
"Kalau gitu jelaskan kenapa kamu gak setuju?!"
Sesaat Kania terdiam begitu juga Aditya. Adegan tarik menarik pintu pun berakhir. Keduanya hanya berdiri di depan pintu kamar sampai sebuah tendangan menghantam kaki Aditya.
...Duk!...
Sontak Aditya langsung mengangkat kakinya dan meringis kesakitan.
"Aah!"
"Maaf!"
Kania segera menutup pintu kamarnya begitu tangan Aditya sudah tidak menahan pintu kamarnya lagi.
...Brak!...
"Kania Pertiwi! Tega banget kamu nendang aku! Buka pintunya!"
...****************...
Di dalam kamar, Permata yang sedang memoles wajahnya di depan meja rias mendengar keributan di luar.
"Mas, denger gak?" tanya Permata kepada Hendra yang baru keluar dari walk in closet.
"Denger apa Sayang?"
"Itu suara Aditya, kan?"
Kening Hendra mengerut lalu menajamkan pendengarannya.
Tak butuh waktu lama, sekarang Hendra pun bisa mendengar suara ribut dari luar kamar.
"Iya, suara Aditya tapi kenapa dia teriak-teriak?"
Hendra pun keluar dari kamar diikuti Permata.
...****************...
"Buka atau aku dobrak pintunya!"
"Dobrak saja kalau kamu mau hubungan kita berakhir!" ancam Kania dari dalam kamar.
"Ck! Masa hubungan kami berakhir cuma gara-gara aku dobrak pintu kamarnya!" gerutu Aditya.
Tak lama Permata dan Hendra datang mendekati Aditya.
"Kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Permata.
Aditya menoleh dan melihat maminya memakai gaun pesta. Dia baru ingat kalau dia dan Kania akan ikut maminya ke acara rekan bisnis ayah tiri yang juga calon ayah mertuanya.
"Gak apa-apa Mi, Aditya siap-siap dulu ya."
"Eh, tung--"
Permata langsung mengatupkan bibirnya saat melihat Aditya sudah masuk ke dalam kamar.
"Besok saja kita bicara sama mereka."
"Tapi--"
"Ayo kembali ke kamar, kamu belum selesai dandan, kan?"
__ADS_1
Hendra memeluk pinggang Permata lalu mengajak istrinya itu kembali ke kamar mereka.
...****************...
Aditya sudah mengganti bajunya dengan setelan tuxedo hitam yang pas melekat dibadannya.
Sebelum keluar dari walk in closet, Aditya kembali memeriksa penampilannya di depan cermin.
Jas tuxedo, kemeja putih, dasi kupu-kupu, jam tangan dan juga sepatu oxford hitam yang hanya dipakai Aditya saat menghadiri acara-acara formal.
Aditya juga sengaja mengubah gaya rambutnya sehingga membuat penampilannya terlihat lebih dewasa.
"Sempurna."
Merasa puas dengan penampilannya, Aditya pun keluar dari walk in closet.
...****************...
Tidak hanya Aditya tapi Kania juga melakukan hal yang sama. Dia mengecek kembali penampilannya di depan meja rias.
Kania memakai gaun biru hadiah dari Permata lalu membiarkan rambutnya yang ikal tergerai. Wajahnya pun dipoles sedikit menor dari biasanya karena mengingat acara yang akan dia datangi adalah acara rekan bisnis ayahnya. Tentu saja dia tidak mau membuat ayahnya nanti malu di acara tersebut.
Setelah puas, Kania pun beranjak dan berjalan menuju pintu kamarnya.
...****************...
...Cklek...
Disaat bersamaan Aditya dan Kania keluar dari dalam kamar.
Keduanya mematung melihat penampilan masing-masing.
Aditya! Dia... Dia... Dia ganteng bangeeett! Astaga, dia jadi keliatan lebih dewasa! Oh tidak, jantungku bertahanlah!
Bukan cuma Kania tapi Aditya pun juga terpesona melihat penampilan wanita di depannya.
Cantik...
Aditya tersenyum lalu berjalan mendekati Kania. Dia memang sengaja membuat penampilannya lebih dewasa untuk menunjukkan kepada Kania kalau dia bukan anak kecil lagi meskipun usianya lebih muda dari Kania.
Apalagi saat Aditya mendekatkan wajahnya sampai membuat wajah mereka hanya berjarak kurang dari dua senti. Badan Kania semakin kaku. Napasnya seakan tercekat.
Astagaaaaaa! Kalau begini aku bisa mati muda! Aku gak kuat lagi melihatnya!
Kania langsung memalingkan wajahnya. Senyum Aditya pun semakin merekah melihat kekasihnya salah tingkah.
...Cup!...
Mata Kania membulat sempurna saat bibir Aditya menempel di pipinya.
...****************...
Hendra dan Permata baru saja keluar dari kamar mereka.
"Mas, anak-anak sudah siap belum ya?" tanya Permata sambil mengecek isi clucth nya.
Hendra tersenyum lalu menjawab pertanyaan istrinya yang masih belum menyadari sweet scene di depannya.
"Lebih dari siap Sayang, lihat lah."
Permata pun mengalihkan pandangannya kearah yang dimaksud Hendra dan melihat Aditya sedang mencium pipi Kania.
"Mas jadi ingin menikahkan mereka secepat mungkin."
Pernyataan Hendra membuat Permata sedikit terkejut.
"Gak bisa Mas, kita kan udah sepakat kalau mereka baru bisa menikah setelah Aditya lulus kuliah," protes Permata.
"Tapi sepertinya lebih baik disegerakan daripada kita dapet cucu padahal hubungan mereka belum sah."
"Astaga! Gak mungkin mereka sampai sejauh itu Mas!"
"Gak mungkin gimana? Di depan kita aja mereka tidak sungkan menunjukkan kemesraan mereka apalagi di belakang kita?"
Permata terdiam dan berpikir sejenak.
__ADS_1
"Tapi Mas... Aditya masih sekolah, usianya juga masih muda, bagaimana bisa dia jadi kepala keluarga?"
"Mas yakin Aditya bisa menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab karena dia putra Damar Satya Nugraha."
"Mas...." Mata Permata mulai berkaca-kaca saat mendengar nama almarhum suaminya.
"Jangan menangis Sayang, nanti riasan make up kamu luntur, kita bisa terlambat kalau harus nunggu kamu make up lagi."
Seketika keharuan yang dirasakan Permata hilang terganti dengan rasa jengkel kepada suaminya.
"Aah!" Hendra meringis kesakitan saat Permata mencubit pinggangnya.
Aditya dan Kania pun tersentak mendengar suara Hendra.
"A-Ayah, Mami...."
Kania yakin orang tuanya pasti melihat pipinya dicium Aditya dan dia malu sekali.
Hendra dan Permata berjalan menghampiri anak-anak mereka.
"Putri Mami cantik sekaliii~" puji Permata saat sudah berdiri di hadapan Kania.
"Makasi Mi, Mami juga cantik."
"Ehem." Aditya yang merasa penampilannya berbeda juga ingin mendengar komentar dari maminya.
Permata lalu mengalihkan matanya ke Aditya dan melihat putranya itu dari bawah ke atas.
"Maaf, Anda siapa? Apa Saya mengenal Anda, Tuan?"
Permata pura-pura tidak mengenal Aditya, dia sengaja menyindir putranya yang berpenampilan seperti pria dewasa.
"Mamiiiii," rengek Aditya.
"Hahaha, penampilannya aja yang dewasa ternyata masih anak Mami."
Wajah tampan Aditya semakin ditekuk saat melihat Kania juga ikut menertawakannya.
"Aditya, kamu gagah sekali seperti Almarhum Tuan Damar."
"Tentu saja, aku kan anaknya."
Kania berhenti tertawa saat mendengar ucapan Aditya. Dia merasa ucapan Aditya terkesan dingin kepada Hendra, ayahnya.
Ternyata sampai sekarang Aditya masih belum menerima Ayah.
Bukan cuma Kania tapi Hendra juga merasa Aditya masih menjaga jarak dengannya.
"Apalagi yang kita tunggu, ayo kita berangkat ke tempat acara sekarang," ucap Hendra sambil memeluk pinggang Permata lalu berjalan lebih dulu menuju tangga.
Dari belakang Aditya melihat apa yang dilakukan Hendra dan dia ingin melakukan hal yang sama.
Tapi sayang, Kania sudah lebih dulu beranjak dari tempatnya sebelum tangan Aditya berhasil melingkar dipinggangnya.
"Ck!" Aditya berdecak kesal.
Kania menoleh kearah Aditya yang masih berdiri.
"Ayo cepat, Ayah sama Mami pasti nungguin kita di bawah."
Aditya dengan cool berjalan mendekati Kania dan langsung memeluk pinggang kekasihnya itu.
Astaga! Apa yang dia lakukan?!
Baru saja jantung Kania beristirahat sekarang jantungnya harus bekerja keras lagi.
"A-Aditya, jangan seperti ini," ucap Kania sambil mencoba melepas tangan Aditya dipinggangnya tapi Aditya malah semakin erat memeluk pinggangnya.
"Kamu benar Baby, Mami dan Om Hendra pasti sudah menunggu kita dibawah, ayo kita turun."
Akhirnya Kania pasrah pinggangnya dipeluk Aditya dan turun ke lantai bawah.
Tangan Aditya kaya tentakel gurita, kalau udah nempel susah banget dilepasin.
...****************...
__ADS_1