
Supir tepat memberhentikan mobil di depan lobby utama Mall.
"Stop! Tunggu jangan dibuka dulu pintunya!"
Aditya tiba-tiba mencegah Kania membuka pintu mobil.
"Ada apa?" tanya Kania kebingungan.
Aditya tidak menjawab pertanyaan Kania tapi langsung bergegas keluar dari dalam mobil.
"Ada apa sih?" gumam Kania.
Kania sedikit terperanjat saat pintu mobil di sampingnya tiba-tiba terbuka.
"Silahkan Tuan Putri."
Ternyata Aditya yang membuka pintu mobil lalu Aditya mengulurkan tangannya kepada Kania persis seperti seorang pangeran.
Kania tersipu malu dengan perlakuan manis Aditya.
Lalu Kania meraih tangan Aditya dan dengan anggunnya keluar dari dalam mobil.
Kania juga tidak mau kalah dengan Aditya, dia pun bersikap seolah dirinya seorang putri.
Aditya mengangkat tangan Kania lalu mencium punggung tangan pujaan hatinya itu. Tentu saja hal itu membuat pipi Kania semakin merona. Apalagi Aditya sempat mengedipkan matanya saat mencium tangan Kania sehingga membuat detak jantung Kania tak terkendali.
"Ih malu tahu dilihatin orang." Kania yang masih malu menyembunyikan wajahnya yang merah dibalik lengan Aditya.
Aditya pun terkekeh melihat kelakuan pacarnya. Dia sengaja membuat Kania tersipu malu karena dia suka saat Kania salah tingkah di depannya, menurutnya Kania sangat menggemaskan.
"Kamu engga malu dilihatin orang-orang?"
"Engga, aku udah biasa."
Aditya merangkul pundak Kania lalu mengajak Kania berjalan masuk ke dalam Mall.
"Kamu harusnya engga perlu malu, mereka itu cuma iri sama kamu karena punya pacar cakep, romantis lagi," ucap Aditya sambil mencubit gemas pipi Kania.
"Ih narsis banget sih," cibir Kania.
"Aku cuma ngomong kenyataan lagipula apa salahnya narsis? Aku emang cakep koq," ucap Aditya santai.
Kania tersenyum jahil, dia pun tidak tahan untuk menggoda Aditya.
"Masa? Kamu sih kalah cakep kalau dibandingin sama aktor Korea favorit ku."
Aditya tersenyum menyeringai lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Kania.
"Tapi aktor Korea itu belum tentu bisa mencintaimu seperti aku," bisik Aditya dengan suara husky nya.
Belum selesai Kania dibuat merinding dan deg-degan oleh Aditya, pria itu kembali membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Gak ada yang bisa mengalahkan perasaan cinta ku sama kamu, aku sangat mencintaimu Kania Putri."
Lalu Aditya sedikit menjauhkan wajahnya dan melihat dengan jelas kedua pipi Kania yang sudah sangat merah. Kania pun cuma bisa tertunduk malu mendengar kata-kata yang begitu manis dari pria yang terpaut usia lima tahun darinya itu.
Kalau untuk urusan melelehkan hati wanita bisa dibilang kalau Aditya sudah expert atau ahlinya.
Bagaimana tidak? Sudah berapa banyak murid perempuan di sekolahnya yang terlena dengan kata-kata manis darinya sampai membuat mereka mau berpacaran dengan Aditya meskipun mereka tahu Aditya seorang playboy.
Tapi kalau biasanya Aditya mengatakan kata-kata manis itu hanya untuk "formalitas" kali ini dia mengatakannya tulus dari hati karena Kania adalah wanita yang "serius" dia cintai.
...****************...
Di dalam Mall yang sama ternyata juga ada Andre yang terlihat serius menatap layar handphone nya sampai dia lupa dengan keberadaan seorang wanita yang dia anggap "pacar" tapi cuma saat di depan Kania.
"Masih aja stalking medsosnya Kania," celetuk Agnes dan mendapat lirikan tajam dari Andre.
"Emangnya kenapa kalau gue masih stalking dia?" balas Andre sewot.
"Bukannya lu udah benci sama dia karena dia udah mainin perasaan lu, tapi gue lihat lu masih cinta sama dia."
Andre terdiam karena ucapan Agnes memang benar, meskipun hatinya terluka tapi kenangannya bersama Kania tidak bisa begitu saja dia lupakan. Sebelum akhirnya dia tahu kalau Kania sebenarnya tidak punya perasaan kepadanya, Andre merasa bahagia menjalani hubungannya dengan Kania.
Sampai Andre menyadari hubungan mereka tidak seperti pacaran pada umumnya karena sebagai pacar harusnya Kania cemburu dan marah saat Andre pergi atau bersama wanita lain tapi tidak.
Kania cuma bertanya apa yang Andre lakukan dan begitu saja menerima alasan Andre, entah karena Kania terlalu percaya dengan Andre atau tidak peduli.
Tapi hubungan yang seperti itu tentu saja terasa dingin, tidak ada pertengkaran kecil yang biasanya terjadi diantara pasangan, "semua baik-baik saja" bahkan saat Andre mencoba untuk memulai pertengkaran, Kania lebih sering mengalah dan itu membuat Andre semakin meragukan perasaan Kania dan hubungan mereka.
Lalu saat Andre sedang berjalan di lorong kampus, dia melihat Kania sedang berbicara dengan cowok yang Andre tahu kalau cowok itu teman dekatnya Kania yang bernama Leo.
Andre pun berjalan menghampiri Kania dan bermaksud mengagetkan pacarnya itu tapi ternyata malah dia yang kaget karena mendengar ucapan Kania.
"Leo, menurut lu gimana? Sampai sekarang gue belum punya perasaan sama Andre, waktu itu gue terima dia karena... karena gue gak enak dan kasihan sama dia."
Ucapan Kania itu sudah membuat hatinya sangat terluka. Sakit tak berdarah, begitulah yang dirasakan Andre.
Tanpa mendengar percakapan Kania dan Leo lagi, Andre langsung pergi. Padahal kalau saja Andre masih mendengar percakapan kedua orang itu, dia akan tahu alasan sebenarnya Kania tidak bisa menolaknya.
__ADS_1
"Huuh... Mau sampai kapan lu kaya gini? Mending lupain aja dia, ngapain lu sedih mikirin cewek yang gak peduli sama lu."
"Terus kenapa lu nyuruh gue pura-pura pacaran sama lu kalau ujung-ujungnya lu minta gue lupain dia."
Karena gue cinta sama lu Ndre, sebenarnya itu cuma alasan gue aja biar gue bisa pacaran sama lu, gue gak masalah meskipun cuma pacar pura-pura.
"Andre sebenarnya gue... gue cin--"
Belum sempat Agnes menyelesaikan kalimatnya, Andre lebih dulu melihat wanita yang sedari tadi dia stalking tampak mesra dirangkul cowok dan tentu saja hal itu membuat Andre cemburu.
Andre pun beranjak dari tempatnya dan berjalan menghampiri wanita itu.
...****************...
"Gombal banget sih." Kania memukul pelan dada Aditya.
"Aku engga gombal, aku sangat mencintai wanita yang bernama Kania Pertiwi."
"Tidak, namanya bukan Kania Pertiwi, namanya mau aku ganti," lanjut Aditya.
"Enak aja mau ganti, nama itu pemberian dari orang tua, kamu engga bisa seenaknya ganti nama orang," protes Kania sambil memanyunkan bibirnya.
"Bisa lah, malah nanti nama kamu bakal otomatis ganti dari Kania Pertiwi jadi Nyonya Aditya."
"Nyonya Aditya? Emangnya aku mau?" ledek Kania.
"Harus mau!" ucap Aditya tegas.
"Yeee~ maksa." Kania mencubit gemas pipi Aditya.
Saat kedua orang itu sedang menikmati quality time mereka tiba-tiba ada seorang pria yang mencegat langkah mereka.
Kania terkejut karena melihat Andre sudah berdiri di depannya.
"Andre...," gumam Kania.
"Jadi cowok ini pacar baru kamu," ucap Andre sinis.
"Baby, kamu kenal sama dia?" tanya Aditya sambil melihat Andre dengan tatapan dingin.
Tangan Aditya pun semakin erat merangkul pundak Kania.
Andre tersenyum pahit saat melihat ke-posesif-an Aditya.
"Dia--"
"Gue mantannya Kania."
"Oh mantan, kenalin gue pacarnya Kania." Aditya sengaja mempertegas kata "mantan" dan "pacar" agar Andre tahu diri dan ingat statusnya saat ini.
"Lu yakin kalau Kania juga punya perasaan sama lu? Bukan karena kasihan." Andre mempertegas kata "kasihan" sambil menatap tajam Kania.
Kania menundukkan kepalanya karena dia merasa bersalah kepada Andre.
Kasihan? Apa maksudnya?
Sebenarnya Aditya penasaran dengan ucapan Andre ditambah lagi tidak ada penolakan dari Kania.
"Gue gak peduli, kalau dia emang nerima gue cuma karena kasihan gue tinggal buat dia jatuh cinta sama gue daripada gue harus kehilangan dia."
"Lagipula gue bukan pecundang yang bakal nyerah gitu aja, gue gak bakal lepasin dia sampai gue berhasil dapetin hatinya."
Wajah Kania yang tertunduk langsung menoleh melihat pria di sampingnya. Hatinya begitu tersentuh dengan setiap kalimat yang keluar dari mulut pria itu.
Aditya... Kamu memang sudah berhasil membuatku jatuh cinta... Sekarang aku yakin aku menerimanya bukan karena "penyakit" ku tapi karena aku juga mencintainya.
Mata Kania berbinar-binar melihat Aditya.
Sedangkan Andre merasa "tertampar" mendengar ucapan Aditya.
Aditya pun beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekati Andre sambil masih merangkul pundak Kania.
"Jangan ganggu Kania lagi karena dia milik gue sekarang," ucap Aditya dingin saat berdiri di samping Andre.
Sebelum pergi Aditya sempat memegang pundak Andre dan membisikan sesuatu kepada pria itu.
"Gue jamin lu bakal nyesel kalau berani nunjukin wajah lu di depan Kania lagi, ini bukan ancaman tapi peringatan."
Setelah Aditya dan Kania pergi, Agnes yang dari tadi cuma diam akhirnya membuka mulutnya.
"Pacar barunya Kania serem banget, lu engga apa-apa kan Ndre?"
"Sial!" umpat Andre kesal.
...****************...
Aditya melepas rangkulannya di pundak Kania.
"Kenapa kamu diam aja tadi? Kamu takut sama dia? Emangnya dia ngapain kamu sampai kamu takut ngomong sama dia?" tanya Aditya menuntut.
__ADS_1
"Aku bukannya takut, aku diam karena dia benar...."
"Apa? Jadi benar kamu nerima aku karena kasihan?"
"Bukan, bukan itu, aku nerima kamu karena aku juga cinta sama kamu tapi... Waktu aku nerima dia aku... aku cuma engga bisa nolak dia."
"Engga bisa nolak? Kenapa? Karena kamu kasihan sama dia?"
"Sebenarnya aku...."
Akhirnya Kania pun memberitahu Aditya tentang "penyakit" nya yang tidak bisa nolak saat ada yang menyatakan perasaan dan memintanya pacaran.
"Apa kamu masih berkomunikasi dengan cowok itu?"
Kania menggelengkan kepalanya.
"Dia seperti menghilang, aku sendiri engga tahu dimana dia sekarang."
Bagus! Gue berharap Kak Kania engga bertemu lagi dengan cowok itu selamanya!
"Kak, aku mau Kak Kania jujur, apa Kak Kania nerima aku karena perasaan bersalah Kak Kania sama cowok itu?"
"Sebenarnya... Saat pertama kali kita bertemu aku...." Kania terlihat malu-malu meneruskan kalimatnya.
"Aku apa?"
"Aku... sudah mulai tertarik denganmu, saat itu jantungku deg-degan dan untuk pertama kali aku merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta." Kania semakin tertunduk malu dan pipinya mulai merona.
"Pertama kali? Berarti cinta pertama Kak Kania... Aku? Serius?" tanya Aditya antusias.
Kania menganggukan kepalanya malu-malu.
Aditya langsung saja memeluk Kania. Dia pun berputar-putar sambil mendekap erat badan wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya itu.
"Aditya, udah berhenti, malu dilihatin orang."
"Aku gak peduli, aku seneng banget bisa jadi cinta pertama wanita yang aku cintai."
"Tapi aku pasti bukan cinta pertama kamu, kan?"
"Emang bukan."
Ekspresi wajah Kania pun berubah cemberut.
"Kenapa koq bete sih? Cemburu yaa?" goda Aditya.
"Cemburu? Engga," ucap Kania ketus.
"Masa sih? Berarti kamu engga bakal marah kan kalau sekarang aku telepon cinta pertama ku?" tanya Aditya sambil tersenyum jahil.
"Terserah! Telepon saja!" jawab Kania ketus.
Kania melipat kedua tangannya di dada lalu memalingkan wajahnya yang cemberut.
Aditya pun sengaja mengeluarkan handphone nya dan berpura-pura menghubungi seseorang.
Meskipun Kania bersikap seolah tidak peduli tapi dia tetap melirik apa yang Aditya lakukan.
Aditya menempelkan handphone nya ke telinga.
"Ha--"
Tiba-tiba Kania merebut handphone Aditya sehingga membuat Aditya sedikit terperanjat.
"Kembalikan handphone ku," pinta Aditya.
"Engga! Handphone kamu aku sita!" tolak Kania ketus.
"Udah jujur aja, kamu cemburu kan?"
"Engga, aku engga cemburu!"
"Ya udah kalau engga cemburu kembaliin handphone ku."
"Engga! Aku mau cek handphone kamu, awas aja kalau kamu sampai chatting an sama cewek lain."
"Dasar posesif," celetuk Aditya.
Kania menatap tajam Aditya lalu beranjak pergi sambil membawa handphone Aditya.
Aditya pun terkekeh dengan kelakuan pacarnya itu lalu bergegas mengejar Kania.
...****************...
Aku khilaaaafff 😆
Bab kali ini lebih panjang dari bab sebelumnya 😅
Makasi ya semua like dan dukungan kalian ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Sampai ketemu lagi di bab selanjutnya 😉