
Sudah dua hari Galih sibuk dengan pekerjaannya. Meeting, kunjungan ke kantor cabang, memeriksa berkas, setiap hari jadwalnya selalu padat tapi tidak sedetik pun dia melupakan sosok Kania.
Bahkan rasa rindunya sudah teramat sangat kepada sang pujaan hati.
Beberapa kali Galih mencoba menghubungi Kania tapi tidak tersambung, chat juga tidak bisa. Sepertinya nomor Galih kembali diblokir padahal waktu itu dia melihat sendiri Kania sudah menghapus nomornya dari daftar blokir.
"Sial! Pasti ini ulah bocah tengik itu lagi!"
Saking geramnya, Galih sampai meremas handphone nya dan tak sengaja menekan salah satu tombol di bagian samping handphone nya.
Seketika amarahnya surut, matanya pun meredup saat melihat foto yang dia jadikan sebagai wallpaper layar kunci dan utama handphone nya. Foto saat dirinya bergandengan tangan dengan Kania kecil.
Dengan lembut Galih mengusap layar handphone nya.
"Yaya, aku merindukanmu... Sangat merindukanmu...."
Di tengah momen kerinduan itu, Galih mendengar suara ribut-ribut dari depan pintu ruangannya.
"Maaf Nona, Anda tidak bisa sembarangan masuk ke ruangan CEO," cegah Dion berdiri di depan pintu ruangan bos-nya.
"Berani sekali kamu melarangku masuk! Kamu tidak tahu siapa aku?! Aku adalah calon istri bos kamu! Minggir!" gertak seorang wanita yang tampak geram dengan pria di depannya.
"Tidak bisa Nona, setiap tamu yang ingin menemui Pak Presdir harus buat janji lebih dulu dan Saya hanya menjalankan perintah Pak Presdir."
Bagi Dion perintah dari bos-nya adalah hal mutlak. Meskipun yang berdiri di depannya saat ini ibu kandung bos-nya, dia tetap harus membuat janji lebih dulu sesuai dengan perintah bos-nya. Apalagi wanita yang mengaku-ngaku sebagai calon istri bos-nya, dia tentu tidak akan segan kepada wanita itu.
"Aku adukan sikapmu ini kepada Galih dan kamu pasti akan dipecat!" ancam wanita itu.
Dion tidak bergeming, wajahnya tampak biasa saja, tanpa ekspresi, datar. Dia sama sekali tidak takut dengan ancaman wanita berisik itu.
"Galih! Ini aku!" teriak wanita itu tak tahu malu.
"Nona, tolong jaga sikap Anda!" ucap Dion tegas.
Wanita itu tidak peduli, dia tetap berteriak memanggil-manggil pria yang berada di dalam ruangan CEO.
"Galih! Ini aku! Jasmine!"
Melihat wanita di depannya tidak bisa diajak berkomunikasi, akhirnya Dion menarik paksa wanita yang bernama Jasmine itu menjauh dari depan ruangan bos-nya.
"Kurang ajar! Lepaskan aku! Aku calon istri pemilik perusahaan ini! Berani sekali kamu berbuat kasar kepadaku!" oceh wanita itu sambil berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman Dion.
...Cklek...
Mata Jasmine berbinar begitu melihat pintu ruangan yang ingin dia masuki tadi terbuka.
__ADS_1
"Galih!" Jasmine memanggil Galih saat melihat pria itu muncul dari balik pintu.
Dion berhenti lalu membalikkan badannnya.
"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali di depan ruanganku?"
Galih terpaksa keluar dari ruangannya. Dia tidak ingin wanita yang dijodohkan ibunya itu semakin bertingkah tidak tahu malu di perusahaannya.
"Galih, lihat! Pria ini melarangku masuk dan berbuat kasar kepadaku... Dia bahkan menyeretku pergi dengan paksa...." Jasmine mengadu dengan mimik sedih.
Galih tidak peduli Jasmine berekspresi seperti apa, dia lebih memilih melihat Dion untuk meminta penjelasan dari sekretarisnya itu.
"Saya memang melarang Nona ini masuk karena Nona ini belum buat janji untuk bertemu Presdir tapi Nona ini malah membuat keributan jadi Saya memaksanya pergi agar tidak mengganggu Presdir." Dion menjelaskannya dengan tenang.
"Lepaskan dia, biar dia aku yang urus, kamu kembali saja ke ruanganmu," titah Galih.
"Baik Presdir."
Dion menunduk hormat lalu beranjak pergi ke ruangannya. Dia tidak peduli dengan tatapan sinis Jasmine kepadanya.
"Masuk."
Jasmine dengan senang hati masuk ke dalam ruangan Galih dan tanpa dipersilahkan dia duduk di sofa empuk yang ada di ruangan itu.
Sedangkan Galih memilih duduk di kursi kebesarannya.
Sudut bibir Jasmine yang terangkat perlahan turun. Kali ini mimik sedihnya tidak dibuat-buat tapi dari dalam hatinya.
Sejak awal dia berkenalan dengan Galih, pria itu memang sudah menarik batas dan bersikap dingin kepadanya tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah terlanjur jatuh hati kepada pria itu. Padahal logikanya jelas memberitahu dirinya kalau pria itu tidak tertarik kepadanya tapi masa bodoh dengan logika, dia yakin kalau dia bisa menaklukkan pria itu.
Bukan tanpa alasan Jasmine bisa seyakin itu karena selama ini tidak ada pria yang dapat menolak pesona seorang Jasmine, model cantik dengan tubuh sempurna bak gitar Spanyol.
Jasmine beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri Galih. Suara hentakkan high heels nya memecah keheningan di dalam ruangan itu.
Dan dengan tidak tahu malunya, Jasmine duduk dipangkuan Galih dan melingkarkan tangannya di leher pria itu.
"Tentu saja ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan calon suamiku."
Dari ekspresi Galih yang datar dapat terlihat kalau pria itu tidak tertarik dengan wanita yang tengah duduk dipangkuannya.
Bukan karena dia tidak normal tapi hasratnya sebagai laki-laki hanya akan bereaksi kalau saja Kania yang berada dipangkuannya saat ini.
"Tapi bagiku itu tidak penting, minggir."
Dengan acuh Galih mendorong kaki Jasmine yang bertengger di pahanya hingga hampir membuat Jasmine terjatuh.
__ADS_1
"Keluar dari ruanganku sekarang sebelum aku minta security untuk mengusirmu."
"Kamu tidak bisa mengusirku! Aku calon istrimu Galih! Lihat! Kita bahkan sudah bertunangan!" Jasmine menunjukkan cincin dijari manisnya.
"Kita harus membicarakan pernikahan kita, aku ingin segera menjadi istrimu."
Galih tertawa kecil karena menganggap konyol pernyataan Jasmine yang ingin menjadi istrinya.
"Apa kamu bilang? Menjadi istriku?" Galih kembali tertawa.
"Iya Galih, aku ingin menjadi istrimu dan cuma aku yang pantas menjadi pendamping hidupmu."
"Hahahahaha" Tawa Galih semakin pecah.
Jasmine pun dibuat heran dengan kelakuan Galih.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Karena kata-katamu itu lucu, kamu mau menjadi istriku?" Galih beranjak dari kursinya, dia merapikan jasnya dan menatap dingin Jasmine.
"Mimpi." satu kata itu seperti belati yang menyayat hati Jasmine.
Mata Jasmine berkaca-kaca. Dadanya sesak. Meskipun Galih sudah sering bersikap dingin kepadanya tapi dia masih belum terbiasa.
Galih tampak acuh, bahkan Jasmine menangis darah pun dia tetap tidak peduli berbeda kalau Kania yang menangis, dia akan melakukan apapun untuk membuat wanita yang dicintainya itu tersenyum.
"Dan satu lagi, aku bukan tunanganmu, cincin itu diberikan Mami sebagai hadiah bukan cincin pertunangan."
"Bukan! Cincin ini bukan sekedar hadiah! Cincin ini adalah bukti keseriusan keluargamu yang menginginkan aku untuk menjadi istrimu!" sangkal Jasmine.
"Itu keluargaku tapi aku tidak jadi jangan berharap lebih bahkan menginginkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi."
Galih beranjak dari tempatnya dan berjalan melewati Jasmine.
"Kamu mau kemana Galih?! Kita belum selesai bicara!"
"Aku masih punya urusan yang lebih penting," sahut Galih tanpa menengok ke belakang.
Saat telah sampai di depan pintu, Galih menekan handle pintu dan keluar begitu saja dari ruangannya.
"Kalau kamu pikir aku akan menyerah setelah mendengar ucapanmu, kamu salah."
Jasmine menyeka air mata dipipinya. Menyerah? Jangan harap dia akan melakukan itu. Dia adalah tipe yang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Cuma aku yang layak menjadi istri Galih Pratama Wibisana."
__ADS_1
...****************...