Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Ketakutan itu Muncul Lagi


__ADS_3

Saat ini Aditya dan Daniel sudah berdiri di depan pintu ruang UKS sekolah mereka.


"Lu jangan lupa sama nama obatnya, bisa kacau rencana gue." Aditya kembali mengingatkan Daniel karena dia gak mau rencananya sampai gagal.


Tapi meskipun gagal, Aditya sudah menyiapkan rencana cadangan bahkan kalau rencana cadangannya juga gagal, dia masih punya rencana-rencana lainnya yang sudah dia siapkan.


"Iya iya tenang aja, udah gue hafalin berulang kali tuh nama obat diotak gue."


"Good, kita mulai rencananya."


...BRAAK!...


Daniel membuka pintu ruang UKS cukup kencang sampai membentur dinding membuat dokter yang bertugas di ruang UKS itu terkejut.


"Astaga!" pekik dokter Mia.


Dengan panik Daniel masuk ke dalam ruang UKS sambil memapah Aditya yang mengerang kesakitan meremas bagian perut.


Dokter Mia pun beranjak dari kursinya dan segera mendekati Daniel.


"Teman kamu kenapa?!" tanya dokter Mia yang ikut panik begitu melihat Aditya yang terus mengerang kesakitan.


"Dokter! Maag teman Saya kambuh! Saya--"


Belum selesai Daniel menyelesaikan dialognya, dokter Mia sudah lebih dulu bergegas ke lemari kaca yang berisi obat-obatan dan mengambil salah satu botol obat.


"Kalau maag Saya punya obatnya, cukup kasi teman kamu--"


Sekarang giliran Daniel yang tidak memberi kesempatan dokter Mia untuk menyelesaikan kalimatnya.


"Maag teman Saya sudah akut Dokter! Minum obat kaya gitu udah gak ampuh, dia harus disuntik cairan ranitidin di rumah sakit!"


"Ya ampun! Separah itu?!" pekik dokter Mia.


"Aarrghhh!" Aditya sengaja semakin mengerang kesakitan agar dokter Mia tambah panik.


"Dokter! Teman Saya udah kesakitan banget! Saya perlu surat ijin dari dokter buat bawa teman Saya ke rumah sakit! Tolong Dokter!"


"I-Iya iya! Saya buatkan surat ijinnya sekarang!"


Saat dokter Mia tengah tergesa-gesa membuat surat ijin di mejanya tampak senyuman tipis dari bibir kedua pemuda itu.


Berkat surat ijin dari dokter Mia, Aditya jadi punya alasan untuk kabur dari sekolah tanpa mempengaruhi nilainya.


...****************...


Setelah dipersilahkan masuk, saat ini Galih tengah duduk di ruang tamu bersama Kania.


"Kamu tahu darimana alamat rumah ini?" tanya Kania.


"Dari Om Hendra."


Beberapa saat Kania terdiam dan hanya memain-mainkan jemarinya. Bertahun-tahun tidak bertemu dengan Galih membuat Kania sedikit merasa canggung.


"Yaya, aku--"


Saat Galih akan memegang tangan Kania tiba-tiba Permata datang.


"Eh, ada tamu, temennya Kania ya?" tanya Permata basa basi.


Galih pun berdiri lalu mencium punggung tangan Permata.


"Saya Galih, Tante. Anaknya Pak Hermawan."


"Astaga! Kenapa Tante bisa lupa?! Maaf ya Nak Galih."


Permata tersenyum lalu duduk di samping Kania.

__ADS_1


"Nak Galih ada keperluan apa datang kesini?"


"Saya ingin bertemu Yaya."


"Yaya? Siapa Yaya?" tanya Permata heran.


"Maksud Saya Kania, Tante."


"Ooh, ada perlu apa sama Kania?"


Sebelumnya saat Permata berada di dapur, seorang pelayan memberitahu Permata bahwa ada tamu yang datang dan tengah berbincang dengan Kania di ruang tamu. Entah kenapa Permata merasa ada sesuatu dengan tamu itu apalagi saat tahu kalau tamu itu berjenis kelamin laki-laki. Sontak saja Permata bergegas meninggalkan dapur dan pergi menuju ruang tamu.


Dan benar saja, Permata melihat Galih yang akan memegang tangan Kania. Dia pun segera mempercepat langkahnya menghampiri Kania dan Galih di ruang tamu.


Pantas saja semalam Aditya terlihat tidak suka dengannya ternyata pria ini memang ada maksud ingin mendekati Kania. Tenang saja Nak, tidak akan Mami biarkan pria ini berbuat macam-macam dengan calon menantu Mami.


Dibalik senyum dan ramah tamah Permata ternyata ada misi tersembunyi yaitu menjaga Kania dari Galih.


"Saya hanya ingin berbincang dengan Kania karena sudah lama tidak bertemu." Wajah Galih saat menjawab sangat tenang.


"Kamu teman satu kampusnya Kania?"


Permata seperti tidak mengijinkan Kania untuk bicara.


"Saya memang bukan teman satu kampusnya Kania tapi kami sudah akrab sejak kecil, benar begitu kan Yaya?"


"Iya Mi, Galih teman dekat Kania waktu SD."


"Ooh teman dekat waktu SD, kebetulan sekali ya kamu bisa bertemu lagi dengan temanmu."


Entah Galih merasa atau tidak tapi Permata memang agak menekan saat mengucapkan kata teman. Permata berharap Galih sadar dengan posisinya saat ini.


Dan ternyata Galih malah tersenyum. Wajahnya masih tampak tenang seolah tidak terganggu dengan ucapan Permata.


"Bukan hanya kebetulan tapi kami seperti ditakdirkan untuk bertemu kembali."


Takdir? Pria ini benar-benar tidak tahu malu!


Sedangkan Kania berpikir mungkin ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan agar dia bisa melepas perasaan bersalahnya kepada Galih.


Tak lama, pelayan datang tergesa-gesa ke ruang tamu.


"Nyonya, maaf... Kue Nyonya...," pelayan itu tampak ragu melanjutkan ucapannya.


"Astaga! Tadi aku lupa titip kuenya sama Bibi!" pekik Permata.


"Kania, Mami tinggal ke dapur dulu ya."


"Iya Mi."


Permata segera beranjak dari sofa dan bergegas ke dapur diikuti pelayannya.


Sekarang di ruang tamu hanya ada Kania dan Galih.


"Galih, aku... Aku minta maaf...," ucap Kania lirih.


"Minta maaf?"


"Saat itu aku tidak bermaksud melukai hatimu aku hanya--"


"Aku mengerti, saat itu kamu hanya belum menyadari perasaanmu malah aku yang lebih dulu menyadarinya dan tidak sabar mengatakan perasaanku kepadamu."


"Bukan begitu Galih, aku--"


Tiba-tiba Galih menempelkan jari telunjuk dibibir Kania sehingga membuat gadis itu terdiam dan tertegun menatapnya.


"Aku tahu kamu juga menyukaiku...."

__ADS_1


"Siapa yang Anda maksud?"


Seketika Kania tersentak dan merinding begitu mendengar suara dingin itu dan segera beringsut menjauh dari Galih.


Meskipun wajah Aditya tampak tenang tapi kedua tangannya sudah mengepal kencang sejak dia mendengar ucapan Galih.


Kania menelan salivanya kasar saat merasakan aura gelap dari badan Aditya dan melihat betapa dinginnya ekspresi wajah kekasihnya itu.


Aditya menyeramkan... Semoga dia bisa mengendalikan dirinya.


Aditya duduk di samping Kania dan dengan sengaja mencium mesra pipi wanitanya itu di depan Galih.


Apa yang dilakukan Aditya bukannya membuat Kania senang tapi justru malah tambah merinding karena aura gelap kekasihnya itu masih sangat terasa.


Dari luar Galih memang tampak tenang melihat hal itu tapi dalamnya hanya dia dan Tuhan yang tahu.


"Bukannya sudah jelas siapa yang Saya maksud?" Galih tersenyum melihat kearah Kania.


"Ooh, maaf sepertinya Saya tidak peka, maksud Anda NYONYA ADITYA, benar kan?"


"Tapi... Saya harus bertanya dulu apa Nyonya Aditya benar menyukai Tuan Galih?"


Mata Aditya beralih menatap Kania yang sedang menundukkan wajahnya.


"Bagaimana Nyonya Aditya? Apa kamu menyukai Tuan Galih?" tanya Aditya.


Kania kembali menelan salivanya. Tatapan Aditya seperti pedang yang sedang dihunuskan kepadanya. Salah sedikit maka pedang itu akan menembus kepalanya.


"A-Aku hanya... Me-menyu--"


Kania segera menelan kata-katanya lagi saat tatapan Aditya semakin tajam kearahnya.


Padahal aku mau bilang kalau aku menyukai Galih hanya sebagai teman tidak lebih tapi sepertinya Aditya tidak ingin mendengar aku mengucapkan kata menyukai... Huuh...


"Katakan dengan jelas kepada Tuan Galih, apa kamu menyukainya?"


Kata-kata Aditya lebih terdengar seperti ancaman daripada pertanyaan.


"Maaf Galih, aku harus bicara dengan Aditya sebentar."


Kania pun langsung beranjak dari sofa dan menarik Aditya pergi dari ruangan itu.


Sebelum sampai di ruang tengah, Aditya dengan kasar melepas tangannya dari tangan Kania.


Sontak Kania pun berbalik dan melihat Aditya tersenyum sinis kepadanya.


"Apa aku sudah mengganggu acara reuni kalian?" sindir Aditya.


"Huuh... Aditya, kamu tahu aku hanya menganggap Galih sebagai teman tidak lebih."


"Kamu tidak bodoh sampai tidak menyadarinya! Dia menyukaimu! Dia ingin merebutmu!" Aditya meremas dengan kencang kedua lengan Kania sehingga membuatnya meringis kesakitan.


"A-Aditya tenanglah...," ucap Kania lirih.


"Tidak! Tidak akan aku biarkan dia merebutmu!"


Kania merasakan tangan Aditya yang mulai gemetar dan melihat ketakutan dari mata kekasihnya itu.


"Tenanglah, tidak ada yang akan merebutku, aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan selalu bersamamu."


Saat cengkraman tangan Aditya dilengannya melemah, Kania pun langsung memeluk pria kecilnya itu.


"Di dalam hatiku hanya ada satu nama, Putra Aditya Nugraha dan aku hanya akan mencintainya seumur hidupku...."


Aditya memang lebih tenang setelah mendengar ucapan Kania tapi didalam lubuk hatinya dia tetap takut, takut kehilangan orang yang dia cintai untuk kedua kalinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2