Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Ayah


__ADS_3

HAPPY NEW YEAR!! 🎊🎉🎉🎆🎆


Semoga tahun 2022 membawa keberkahan untuk kita semua! 🤗


Aku gak pernah bosan untuk bilang MAKASI buat kalian yang selalu support cerita ini!!


THANKS AND LOVE YOU GUYS! ❤️❤️❤️


...🎈🎈🎈🎈🎈...


Saat sedang sarapan, tiba-tiba Aditya menyampaikan niatnya untuk menikahi Kania.


Sontak saja hal itu membuat Kania dan Permata tersedak. Sementara Hendra tersenyum saat melihat keseriusan dari mimik wajah anak tiri sekaligus calon menantunya.


Saat Permata dan Kania sedang menenggak air untuk meredakan tersedak mereka, Aditya kembali memberitahu Hendra kalau dia ingin menikahi Kania tepat saat ulang tahunnya nanti.


Mendengar hal itu Permata dan Kania pun kembali tersedak.


...Uhuk! Uhuk!...


Lalu dengan kompak kaum hawa berbeda usia itu pun memekikkan satu kata.


"APA?!"


Mereka tahu kalau ulang tahun Aditya hanya tinggal 3 hari lagi dan yang berulang tahun malah ingin mengadakan pernikahan ditanggal yang sama. Anak semata wayangnya Pak Damar benar-benar luar biasa, bukan?


Permata tentu saja tidak setuju karena menurutnya hal itu terlalu mendadak kecuali kalau Aditya hanya ingin menikah secara agama dengan Kania alias nikah siri.


Hendra tampak berpikir sejenak lalu melimpahkan keputusan kepada Kania karena bagaimana pun juga nanti yang menjalani rumah tangga adalah putrinya dan Hendra sebagai ayah akan selalu mendukung apapun keputusan putrinya.


Kania segera memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan puppy eyes Aditya tapi anak laki-laki yang akan genap 18 tahun itu tidak mau menyerah.


Aditya pun mengikuti kemana wajah Kania berpaling sehingga membuat Kania jadi menengok kiri kanan kiri kanan.


Kalau begini leherku bisa patah!!

__ADS_1


Kania menghela napas. Dia menyerah.


Sedangkan Aditya tersenyum penuh kemenangan.


"Bagaimana Baby?" tanya Aditya sambil menangkup wajah Kania dan tidak ketinggalan dengan serangan puppy eyes nya.


Senyum Aditya pun terbit saat melihat kekasihnya itu mengangguk tapi seketika senyum itu meredup saat Kania mengatakan sesuatu yang membuat Aditya langsung menegakkan punggungnya.


"Tapi aku mau dengar kamu panggil ayah 'Ayah' sekarang atau aku gak mau menikah!"


Aditya menelan salivanya. Dia pikir Kania sudah lupa dan tidak akan menuntut hal itu lagi tapi sekarang kekasihnya dengan tegas memintanya di depan Hendra.


Dilema. Aditya harus memilih antara gengsi dan gadis pujaan hatinya.


Permata tersenyum mendengar permintaan Kania dan malah membantu anak tiri sekaligus calon menantunya dengan memanas-manasi Aditya.


Wanita yang berusia 40 tahunan itu mengatakan untuk tidak menerima pria yang tidak menghormati orang tuanya. Apalagi Kania anak perempuan, tentu saja dia perlu restu dari ayahnya sebagai wali nikah.


Permata juga menakut-nakuti Aditya yang selama ini bersikap dingin kepada Hendra. Dia ingin memberi sedikit pelajaran kepada anaknya itu. Dia mengatakan kalau tanpa restu dari Hendra, Kania tidak bisa menikah karena wali sah dari Kania adalah Hendra saat menikah nanti.


Aditya kembali menelan salivanya. Dia baru menyadari kalau sikap acuhnya kepada Hendra ternyata bisa berdampak buruk untuk masa depannya.


"Iya, aku mau dengar se-ka-rang!"


Aditya mengusap wajahnya kasar lalu menghela napas.


Permata yang melihat Hendra hendak membuka mulutnya segera memegang tangan suaminya itu lalu menggelengkan kepalanya pelan.


Aditya yang tidak mau rugi juga menuntut sesuatu kepada Kania.


"Baiklah tapi tiga hari lagi kita menikah, apapun yang terjadi tidak boleh mundur!"


"Ok! Sekarang lakukan yang tadi aku minta, cepat katakan!" desak Kania.


Memanggil Hendra ayah dalam hati saja sudah membuat Aditya merinding apalagi kalau kata itu terucap darinya?

__ADS_1


Kedua tangan Aditya sudah terkepal kencang dan sedikit gemetar.


Permata lagi-lagi menahan Hendra untuk membuka mulut. Wanita itu tidak akan membiarkan Hendra mengalah lagi karena kalau Hendra seperti itu terus kapan Aditya akan menerimanya.


Aditya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, entah kenapa bibirnya terasa kaku dan kering.


Ucap satu kata aja masa lu gak bisa sih Dit?! Mau gimana juga nanti lu tetap bakal panggil dia dengan sebutan itu.


Aditya membenarkan kata batinnya sendiri. Dia juga kembali memikirkan perkataan maminya tentang status Hendra sebagai wali nikah Kania. Tanpa Hendra, tentu saja pernikahan tidak akan terjadi karena dia tahu kalau syarat utama menikah untuk pengantin wanita adalah adanya wali nikah. Berbeda dengan pengantin pria yang bisa menikah meskipun tanpa wali.


Sebenarnya setelah mendapat laporan dari Pak Dion selaku asisten pribadinya Hendra dan melihat kinerja ayah tirinya di perusahaan, Aditya akhirnya menerima Hendra sebagai pendamping hidup maminya tapi untuk menggantikan papinya, dia tidak bisa.


Aditya yang tengah memantapkan hatinya sedikit tersentak saat Hendra mengusap kepalanya.


"Tidak ada yang bisa menggantikan orang tua dihati anak mereka."


Hati Aditya terasa hangat mendengarnya dan tanpa sadar satu kata itu terucap begitu saja dari mulutnya.


"Ayah."


Seketika ruangan itu mendadak hening.


"A-Apa Aditya?" tanya Permata dengan suara bergetar.


"Ayah."


Aditya sekarang mengerti memanggil Hendra dengan sebutan ayah bukan berarti posisi Pak Damar sebagai papinya terganti.


Lagipula setelah menikah dengan Kania, dia tetap harus memanggil Hendra dengan sebutan itu.


Permata terharu mendengarnya begitu juga Kania. Hendra bahkan sempat mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya.


"Terima kasih."


Hendra hanya bisa mengucapkan dua kata itu dan tersenyum.

__ADS_1


Meskipun kesannya biasa tapi Permata dan Kania dapat melihat kebahagian dari wajah Hendra.


...****************...


__ADS_2