Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Gak Punya Pilihan


__ADS_3

Kania masih tak percaya ada cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin bermata biru yang sangat cantik.


Meskipun Aditya langsung memasang cincin itu tanpa menunggu jawabannya tapi dia tetap senang.


Di jalan, Aditya yang tengah mengemudi melirik ke samping dan melihat Kania yang sedang senyum-senyum sambil memandangi cincin darinya.


"Kamu suka?" tanya Aditya.


"Hah? Apa?" Kania yang tidak fokus malah bertanya balik.


"Cincinnya, apa kamu suka?"


"Aku suka! Cincinnya cantik sekali, pasti harganya mahal, ini... Berlian asli?" Kania memusatkan matanya melihat batu berwarna biru di tengah-tengah cincin.


Aditya tidak menjawab.


"Ini beneran berlian?" Kania kembali bertanya tapi matanya masih melihat jeli batu biru itu.


Merasa pertanyaannya tidak dijawab Aditya, Kania pun menoleh melihat pria kecilnya.


"Kenapa diam aja? Ini berlian asli?" Kania menunjuk cincin di jari manisnya.


"Menurut kamu?" Aditya malah bertanya balik kepada Kania.


"Loh koq nanya aku? Kan kamu yang beli cincinnya, jangan-jangan kamu kena tipu! Berapa kamu beli cincin ini?"


"Satu," jawab Aditya singkat, padat dan jelas.


"Bukan itu! Maksud aku berapa harga cincinnya?!" tanya Kania geregetan.


"Aku lupa."


Alasan teraman yang sering digunakan untuk menghindari pertanyaan yang tidak ingin dijawab.


"Gimana kamu bisa lupa? Coba kamu ingat lagi," desak Kania.


"Sudahlah Baby jangan bahas harganya lagi, yang penting kamu suka."


"Tapi--"


"Nanti sampai rumah aku akan langsung bicara dengan Om Hendra mengenai pernikahan kita."


Aditya segera memotong dan mengalihkan pembicaraan agar Kania tidak membahas lagi tentang harga cincin darinya.


Kania terdiam saat mendengar Aditya menyebut nama ayahnya.


"Aku tidak mau menikah."


...Ciiittt!...


Aditya langsung menginjak rem dan untungnya di belakang tidak ada mobil sehingga tidak terjadi tabrakan akibat tindakannya yang mendadak itu. Lalu dia pun menepikan mobilnya ke bahu jalan.


"1x24 jam kamu harus melakukan apa yang aku katakan dan kamu tidak boleh menolak menikah denganku!"


"Hari ini aku memang tidak bisa menolak tapi bagaimana kalau besok?"

__ADS_1


"Ada apa?! Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?!" Aditya meremas pundak Kania, wajahnya tampak tegang.


"Kamu ingat saat pertama kali kita jadian dan membuat kesepakatan di cafe waktu itu?"


Aditya terdiam lalu mengangguk.


"Sekarang aku ingin membuat kesepakatan lagi denganmu."


"Kalau kesepakatannya adalah merahasiakan pernikahan kita, aku gak mau!" ketus Aditya.


"Bukan itu tapi kamu harus berhenti memanggil Ayah 'Om Hendra'."


"Baiklah, hanya itu?"


Kania tampak heran, dia pikir Aditya akan menolak karena dia merasa Aditya masih belum menerima ayahnya.


"Berarti kamu harus memanggilnya Ayah, kamu tidak keberatan?"


"Tidak."


"Sudah selesai? Hanya itu saja?" lanjutnya.


"Iya tapi... Aku pikir kamu akan keberatan atau menolak."


"Sejak Ayah menikah dengan Tante Permata, aku merasa kamu belum menerima Ayah dan menjaga jarak dengan Ayah. Meskipun Ayah tidak pernah bilang tapi aku tahu Ayah sedih setiap kamu memanggilnya 'Om'."


"Seandainya aku dan Om Hendra berdiri di tengah jalan dan ada truk melaju kearah kami berdua, siapa yang kamu selamatkan?" tanya Aditya.


Kania tersentak, membayangkannya saja sudah membuat jantungnya berdebar tak karuan dan wajahnya memucat.


"A-Aku-Aku," ucap Kania terbata-bata.


Aditya kembali meremas pundak Kania.


"Cepat Baby atau aku dan Om Hendra akan ditabrak truk! Siapa yang kamu selamatkan?!" sentak Aditya.


Kania memejamkan matanya, bayangan Aditya dan ayahnya yang akan ditabrak truk tampak jelas seolah dia benar-benar mengalaminya.


"Jawab Baby, cepat!" desak Aditya lagi.


Aditya pun terpaku saat Kania membuka matanya dan melihat kedua mata itu sudah berkaca-kaca apalagi saat kekasihnya itu tersenyum.


"Aku akan berdiri di depan kalian berdua untuk menghala--"


Aditya langsung menarik Kania ke dalam dekapannya.


"Bodoh! Jawaban apa itu?! Tidak! Kamu tidak boleh terluka!" Aditya semakin mengeratkan pelukannya.


Beberapa saat mereka pun saling berpelukan. Takut. Itulah yang mereka rasakan saat ini. Mereka sama-sama takut kehilangan.


Aditya pikir Kania tidak akan menjawab karena dia tahu bagi Kania, dia dan Om Hendra sama-sama penting tapi ternyata dia salah.


Jawaban Kania tadi malah membuatnya jantungan. Kalau kata peribahasa "Senjata makan Tuan".


Setelah lebih tenang, Aditya melepas pelukannya dan menatap Kania dalam.

__ADS_1


"Aku tidak akan bisa bertahan kalau sampai terjadi sesuatu denganmu."


Kania bisa melihat kesedihan dari manik hazelnut Aditya.


"Aku sangat mencintaimu. Aku mohon jangan tinggalkan aku."


Kania tersenyum tipis lalu mengusap lembut pipi Aditya.


"Aku juga mencintaimu dan akan selalu ada disisimu makanya aku memilih ikut berdiri denganmu dan Ayah ke tengah jalan."


"Kalian berdua sama pentingnya di dalam hidupku," lanjutnya.


"Engga bisa! Aku harus lebih penting!" protes Aditya.


Kania menghela napas panjang, pria kecilnya itu memang selalu tidak mau kalah.


"Kalau aku? Apa aku lebih penting dari papi kamu?"


"Tentu saja!" sahut Aditya.


Kania terpaku mendengarnya. Dia melihat mata Aditya tapi tidak ada keraguan dari manik hazelnut pria kecilnya itu.


Dia serius.


Kania kehabisan kata-kata. Kalau soal keras kepala, Aditya dua kali lipat darinya jadi dia tidak punya pilihan selain mengalah.


"Baby, aku lebih penting, kan? Kan?" Aditya menangkup wajah Kania lalu menekan-nekan pipi kekasihnya itu seolah sedang bermain squishy.


Huuuhh... Kenapa jadi begini? Aku kan cuma mau Aditya berhenti memanggil Ayah 'Om' lagi tapi malah dia minta lebih dipentingin dari Ayah.


"Iya tapi lepasin dulu pipi aku."


Senyum Aditya merekah. "Kamu udah bilang iya dan gak boleh menarik ucapanmu lagi."


"Hah? Maksudnya?"


"Tadi kamu bilang iya, berarti kamu harus lebih mementingkan aku daripada Om Hendra."


"Eh, bukan begitu, tadi aku--"


"Tenang aja Baby, aku gak akan bilang sama Om Hendra kalau aku lebih penting buat kamu."


"Sekarang kita harus cepat pulang jadi aku bisa membicarakan tentang pernikahan kita," lanjut Aditya sambil menginjak gas dan melajukan mobilnya dari bahu jalan.


Kania mengusap wajahnya kasar, dia selalu dibuat tak berkutik saat berhadapan dengan pria kecilnya itu.


Kenapa tadi dia suruh aku pilih kalau pilihannya cuma dia! Terus kenapa jadi ngebahas siapa yang lebih penting? Kan awalnya aku mau buat kesepakatan sama dia.


...****************...


Padahal nanti kalau mereka menikah, Aditya harus panggil Hendra, Ayah mertua. Ayah juga, kan? 😁


Update malam soalnya ngumpulin mood dulu hehe.


Makasi like dan komennya, AKU PADAMU GUYS! ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2