
Motor Aditya memasuki area parkir khusus kendaraan beroda dua yang disediakan pihak Mall.
Aditya melepas helm lalu beranjak dari motor sports hitamnya. Dia pun pergi dari area parkir dan berjalan menuju pintu kaca yang akan terbuka otomatis saat ada pengunjung Mall yang berdiri di depan pintu kaca itu.
Aditya langsung masuk ke area dalam Mall saat pintu kaca itu terbuka. Dia berjalan menuju eskalator dan naik ke lantai tiga.
Sesampainya di lantai tiga, Aditya melihat restaurant Jepang seperti yang dikatakan Permata. Dia pun berjalan menuju restaurant itu yang ternyata letaknya tidak begitu jauh dari eskalator sehingga Aditya dengan mudah menemukannya.
Di depan restaurant Aditya sudah disambut oleh pelayan.
"Selamat siang, makan disini atau take away?" tanya pelayan itu dengan sopan.
"Di dalam sudah ada Mami Saya," jawab Aditya.
"Silahkan." Pelayan itu mempersilahkan Aditya untuk masuk.
Aditya pun berjalan masuk ke dalam restaurant dan matanya mulai mencari keberadaan Permata.
"Aditya!"
Aditya mendengar suara Permata memanggilnya. Dia langsung memalingkan wajahnya kearah Permata dan melihat Permata melambai-lambaikan tangan kepadanya.
"Mami disini!"
Aditya berjalan menghampiri Permata dan saat dia sudah semakin dekat, dia melihat ada sosok wanita selain Permata di meja itu.
"Kania, ini dia anak Tante yang tadi kita bicarakan."
Kania... Jadi namanya Kania...
Aditya tertegun saat melihat Kania tersenyum kepadanya. Jantung Aditya langsung berdetak kencang. Biasanya Aditya yang selalu membuat para wanita terpesona tapi kali ini Aditya lah yang dibuat terpesona dengan sosok wanita di hadapannya.
"Aditya!" panggil Permata dengan suara agak kencang karena melihat Aditya yang malah bengong.
Aditya pun terperanjat dan langsung memalingkan wajahnya yang memerah.
"Kenapa kamu diam saja? Sini duduk." Permata menarik kursi di sebelahnya sedikit ke belakang agar Aditya bisa duduk.
"I-Iya."
Mau duduk saja Aditya dibuat gugup karena ditatap oleh mata indah kecoklatan milik Kania.
Cantik...
Satu kata itu terbesit dipikiran Aditya saat dia melihat wajah Kania yang duduk berhadapan dengannya.
"Aditya, tadi Mami sudah memesan kan ramen buat kamu soalnya kata Kania ramen disini enak."
"Untung ramennya masih hangat," lanjut Permata sambil memegang mangkuk ramen.
"O iya Aditya, dia Kania anak Om Hendra."
"Hai Aditya," sapa Kania dan kembali tersenyum manis kepada Aditya.
"H-Hai."
Baru kali ini Aditya dibuat tidak berkutik oleh seorang wanita.
Berhentilah tersenyum! Dia sengaja ya mau buat aku terlihat bodoh di depan Om Hendra dan Mami?! Engga bisa! Gue Putra Aditya Nugraha, harusnya gue yang buat dia kaya gini!
Aditya menghela napas dan berusaha menenangkan dirinya. Setelah merasa lebih tenang, dia pun kembali menjadi Aditya sang penakluk wanita, playboy dari SMA Bunga Bangsa.
__ADS_1
Ada apa dengannya? Kenapa dia tersenyum seperti itu?
Kali ini Kania yang dibuat tidak berkutik oleh Aditya saat Aditya tersenyum menyeringai kepadanya.
"Mami juga pesan tempura buat kamu, ayo makan Nak nanti keburu dingin."
"Aku engga mau makan," ucap Aditya ketus.
"Kenapa? Bukannya kamu suka udang?"
"Aku lagi gak pengen makan udang."
"Kalau gitu makan ramennya saja ya," bujuk Permata.
"Aku juga engga mau makan ramen."
Kesabaran Permata sudah hampir habis menghadapi Aditya.
Sifat emosional dan tidak sabaran Aditya memang diturunkan dari Permata, itu lah alasannya hubungan mereka tidak pernah akur.
"Terus kamu mau makan apa?!" tanya Permata sewot.
Permata merasa kecewa dengan Aditya karena Aditya menolak makanan yang sengaja dia pesan agar Aditya bisa langsung makan dan tidak kelaparan menunggu makanannya. Dia juga malu karena ramen itu dia pesan berdasarkan rekomendasi Kania.
Hendra langsung memegang tangan Permata dan mengelus-elus lembut punggung tangan kekasihnya itu. Dia berusaha menenangkan Permata yang sudah emosi dengan Aditya.
"Aku engga mau makan apa-apa, nafsu makanku hilang," ucap Aditya dingin sambil menatap tajam kearah Hendra.
Kelihatan sekali kalau dia tidak suka dengan Ayah.
Kania memperhatikan sikap Aditya kepada Hendra.
Tiba-tiba terdengar "protes" dari perut Aditya.
Wajah Aditya sangat merah, ditambah lagi dia melihat Kania tertawa karena mendengar suara perutnya. Kalau saja ada lubang di tempat itu, Aditya pasti sudah masuk ke lubang itu saking malunya.
AH SIAL! MALU BANGET GUE! MAU TARUH DIMANA NIH MUKA?! Lagian pake bunyi sekarang! Entar juga gue isi!
Aditya ngedumel sendiri di dalam hati. Dia menyalahkan perutnya karena sudah membuatnya kehilangan muka bukan cuma di depan Hendra tapi juga Kania.
"Kakak sudah, berhenti ketawanya," pinta Hendra yang merasa tidak enak dengan Aditya.
Meskipun sebenarnya Hendra dan Permata juga ingin tertawa tapi mereka menahannya karena mereka tahu Aditya mudah tersinggung.
"Untuk apa pake gengsi segala, kalau lapar makan saja," ucap Kania disela tawanya.
Aditya tampak cemberut mendengar ucapan Kania.
"Aku engga gengsi! Tadi aku emang engga laper!" balas Aditya engga mau kalah. Dia harus mengembalikan harga dirinya.
"Terus kenapa perut kamu protes minta diisi?" tanya Kania sambil tersenyum jahil.
"Bu-Bukan karena minta diisi! Tapi karena perut aku sakit!" Aditya masih keras kepala tidak mau mengakui kalau perutnya memang lapar.
"Perut kamu sakit?" tanya Permata khawatir.
Aku dapat ide!
Tiba-tiba Aditya terpikirkan cara untuk mengacaukan acara Permata dan Hendra hari ini.
"Iya Mi... perut aku sakit... dari pagi aku bolak-balik kamar mandi...."
__ADS_1
Aditya memegangi perutnya sambil memasang wajah memelas.
"Kenapa? Koq bisa sakit? Kemarin kamu baik-baik aja."
"Engga tahu Mi... aduuh... Mi, ayo pulang, aku udah engga tahan, perut aku sakit...," rengek Aditya.
"I-Iya ayo pulang Nak."
Permata tampak khawatir melihat kondisi Aditya.
"Tante, lebih baik kita periksa perut Aditya di rumah sakit, bisa saja sakitnya bukan sakit perut biasa," usul Kania.
"Kamu benar Kania, ayo Aditya kita pergi ke rumah sakit."
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Hendra segera beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Aditya untuk membantu Aditya berdiri tapi Aditya menepis tangan Hendra.
"Engga usah, aku bisa sendiri," ucap Aditya ketus.
Dia paling cuma pura-pura sakit perut, aku engga tahu alasannya melakukan hal ini tapi aktingnya benar-benar jelek.
Kania tersenyum melihat tingkah Aditya.
"Ayo Nak, kita ke rumah sakit." Permata merangkul pundak Aditya.
"I-Iya Mi...." Aditya pun tampak susah payah beranjak bangun dari kursinya.
"Sayang, kita pergi pakai mobilku saja ya, aku akan mengantarmu dan Aditya ke rumah sakit."
Sayang! Sayang! Ueeeekkk, pengen muntah dengernya! Dia pikir dia siapa manggil Mami kaya gitu!
"Engga Mi! Aku engga mau naik mobil Om Hendra... aku mau naik mobil Mami aja...," ucap Aditya dengan wajah memelas.
Aditya tahu benar meskipun Permata adalah ibu yang tegas tapi Permata tidak akan tega melihatnya kesakitan.
"Baiklah Nak."
"Hendra, maaf ya, aku harus membawa Aditya ke rumah sakit." Permata merasa tidak enak kepada Hendra dan Kania.
"Iya, hati-hati, kabari aku ya kalau sudah sampai rumah sakit."
Permata hanya tersenyum lalu membawa Aditya pergi dari restaurant itu.
Yess! Berhasil! Untung aku datang kesini, ternyata Om Hendra sudah berencana untuk mendekatkan Mami dengan anaknya. Aku harus waspada, selama ada aku, engga ada yang bisa merebut posisi Papi.
Aditya tersenyum menyeringai karena dia berpikir sudah berhasil menggagalkan rencana Hendra. Tapi kemudian Aditya teringat kembali dengan Kania, wanita yang sudah membuatnya terpesona.
Kania... Sepertinya dia seumuran denganku, udah punya pacar belum ya?
...****************...
Author: Hai semuaaa~
Aditya bikin ulah lagi hahaha
Dasar bocah kelakuannya ada-ada aja 😅
Semoga kalian suka dengan ceritanya 🤗
Makasi ya buat like dan komennya ❤️❤️❤️
Jangan lupa difavoritkan dan vote 😉
__ADS_1
Sampai bertemu lagi di bab selanjutnyaa~