Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Honeymoon (2)


__ADS_3

Sehabis bergulat beberapa ronde, pasangan pengantin baru itu pun mulai merasa lapar. Mereka harus mengisi lambung mereka yang sudah meringis.


Tanpa membuang waktu lagi, Aditya dan Kania bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan peluh keringat sehabis bergulat dan juga untuk mensucikan diri.


Setelah setengah jam, mereka pun keluar dari kamar mandi. Kania memakai bathrobe sedangkan Aditya hanya melilitkan handuk dibagian pinggang.


Kalau bukan karena perut mereka yang sudah protes, pasangan pengantin baru itu pasti akan lebih menghabiskan banyak waktu di kamar mandi.


Saat hendak berpakaian, keduanya baru ingat dengan koper mereka.


"O iya koper!" pekik Kania.


"Tenang Baby, koper kita pasti udah dibawa masuk sama Angga, biar aku ambil."


Melihat suaminya yang hampir naked akan keluar kamar, Kania langsung panik dan buru-buru mencegah suaminya itu.


"Tunggu!" pekik Kania.


"Biar aku aja yang ambil," lanjutnya.


"Engga, aku aja yang ambil, kamu tunggu disini ya."


"Tidak! Kamu aja yang disini, biar aku yang ambil," sahut Kania cepat.


"Kopernya berat Baby, biar aku aja ya."


"Engga, aku bisa koq, kamu yang disini, biar aku yang ambil kopernya."


Satu alis Aditya terangkat, kenapa istrinya tetap kekeh ingin mengambil koper mereka?


"Emangnya kenapa kalau aku yang ambil?" tanya Aditya.


"Huuh~ Bagaimana bisa kamu keluar dengan penampilan seperti itu?"


Aditya tahu kalau dirinya hanya memakai handuk dibagian pinggang.


"Terus kenapa?"


"Oh, aku tahu!" Aditya menyeringai.


"Kamu gak mau ada yang melihat badan sexy suamimu ini, kan? Ciee~ mulai posesif nih~," goda Aditya.


Sudut bibir Kania berkedut mendengar kenarsisan suaminya. "Se-Sexy?"


Aditya lalu merangkul pundak istrinya lalu berbisik. "Tenang Baby, disini cuma ada aku dan... kamu jadi meskipun kita berdua naked sekalipun tidak akan ada yang melihat."


Pipi istrinya yang memerah bak apel washington membuat Aditya gemas bahkan saking gemasnya dia pun menciumi dan menggigit pipi istrinya itu.


Kania hanya tertawa kecil menikmati bibir sang suami yang bertubi-tubi menyerang pipinya.


"Udah udah, jadi gak ambil kopernya."


Sebenarnya Aditya masih gemas tapi dia harus menghentikan serangan kecupan dipipi istrinya karena istrinya bisa saja sakit karena terlalu lama memakai bathrobe.


"Jadi dong Baby, kamu tunggu sini ya, aku ambil koper kita dulu."


Saat Aditya membuka pintu kamar, dia melihat kopernya dan Kania sudah berjejer di depan kamar mereka.


"Itu koper kita?" tanya Kania.


"Iya, itu koper kita Baby."


Dengan cueknya Aditya memindahkan koper-koper itu ke dalam kamar.


"Se-Sejak kapan?" tanya Kania lirih. Wajahnya sudah memerah dan terasa panas.


Aditya cuma mengedikkan bahu tak acuh dan kembali sibuk dengan kopernya.


"Astagaaa! Bagaimana kalau... Bagaimana kalau Angga...."


"Mendengar suara seksi kita?" celetuk Aditya dan terkekeh.


Kania langsung menangkup wajahnya yang makin memerah dan panas.


Astagaaa!! Memalukan sekali!

__ADS_1


"Gak usah dipikirin Baby, lebih baik cepat bersiap, kamu gak kasihan sama perut kamu yang terus minta diisi," ucap Aditya sambil membuka kopernya.


Benar, ini bukan saatnya Kania memikirkan hal memalukan itu, dia harus segera mengisi perutnya yang terus protes.


"Baby, kamu pakai baju warna apa?" tanya Aditya.


"Biru, kenapa?"


Aditya lalu melihat isi kopernya yang didominasi warna hitam.


"Jangan! Pakai warna hitam aja!"


"Kenapa?"


"Hmm... Soalnya... Aku gak punya baju warna biru...," cicit Aditya.


Kania yang mengerti maksud suaminya hanya tersenyum dan menahan gemasnya dalam hati.


Ooo biar couple-an ya, so sweet~


"Oh kalau begitu aku juga harus pakai baju warna hitam biar sama dengan suamiku."


Kania mengerlingkan mata ke suaminya yang langsung tersenyum lebar.


Setelah hampir setengah, akhirnya pasangan pasutri muda itu pun sudah tidak lagi memakai handuk.


Aditya memakai kaos putih dan celana jeans hitam dengan outer jas semi formal yang juga berwarna hitam sedangkan Kania memakai gaun v-neck hitam berbahan chiffon.


Tenang saja, semua pakaian yang Kania bawa sudah lulus sensor Bapak Putra Aditya Nugraha jadi apapun yang Kania kenakan, dia tidak akan mendapatkan protes dari suaminya.


Pasutri itu pun pergi meninggalkan vila dan berjalan sambil bergandengan tangan menuju restoran yang tak jauh dari vila mereka.


...****************...


"Silahkan Ratuku." Aditya mempersilahkan Kania duduk setelah menarik kursi yang akan diduduki istrinya.


Kania tersipu malu, hatinya bahagia mendapatkan perlakuan istimewa dari suaminya.


"Terima kasih Rajaku."


Tak lama setelah Aditya duduk, seorang pelayan datang lalu memberikan buku menu kepada mereka.


Karena restoran itu dekat pantai jadi semua menu makanannya berbahan seafood dan untungnya baik Aditya maupun Kania tidak ada yang alergi seafood.


Setelah mencatat dan mengkonfirmasi ulang pesanan Aditya dan Kania, pelayan itu pun mengambil kembali buku menu lalu pergi dari meja mereka.


Saat pasutri muda itu sedang menunggu pesanan mereka, seseorang yang tak diharapkan mendatangi meja mereka.


"Kak Kania."


"Kevin?"


Kania tiba-tiba merasa hawa di sekitarnya terasa lebih dingin.


Aura hitam mulai menyeruak dari badan Aditya saat melihat senyum malaikat diwajah Kevin, adik iparnya.


"Wah kebetulan banget ternyata Kak Kania juga makan disini!"


Kevin dengan tidak tahu malunya mengambil salah satu kursi lalu meletakkannya di samping Kania bahkan dia tidak peduli dengan tatapan membunuh dari seseorang yang duduk berseberangan dengannya.


Tangan Aditya sudah mengepal kencang di atas meja, rahangnya juga mengeras melihat kelakuan seenak jidat adik iparnya itu.


"Ehem!" dehem Aditya.


"Adik ipar, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Aditya dengan penuh penekanan disetiap katanya.


Kevin tampak tak acuh, dia tidak menanggapi pertanyaan Aditya karena dia menganggap kakak iparnya itu invisible, tak terlihat.


Kania yang melihat gurat kemurkaan diwajah suaminya langsung bertindak sebelum suaminya ngamuk dan menghancurkan tempat itu.


"Honey."


Dengan lembut Kania mengusap-usap tangan Aditya yang mengepal di atas meja sama seperti yang biasa dilakukan sang ayah saat menenangkan ibu mertuanya.


Karena tempramen ibu mertua dan suaminya sama jadi apa yang dilakukan Kania juga pasti mempengaruhi suaminya.

__ADS_1


Darah Aditya yang tadinya sudah bergejolak perlahan kembali tenang.


Kania menghela napas lega saat tidak lagi melihat kemurkaan diwajah suaminya.


"Kevin, Aditya tadi tanya ngapain kamu disini?" tanya Kania.


Mendengar nama kakak iparnya membuat Kevin berdecak.


"Untuk apa aku menjawab pertanyaan gak bermutu seperti itu?" jawab Kevin sambil melirik sinis Aditya.


Mata Aditya membulat sempurna mendengarnya. Untuk pertama kali ada yang mengatakan dirinya tidak bermutu.


TIDAK BERMUTU KATANYA!!!


Kania kembali mendapat peringatan siaga satu akibat lahar panas di gunung berapi suaminya yang mulai bergejolak lagi.


"Kevin, Aditya itu suami Kakak berarti dia juga Kakak kamu jadi kamu harus menghormatinya sama seperti kamu menghormati Kakak."


Aditya yang dibela oleh istrinya menyunggingkan senyum, tepatnya senyum mengejek kearah Kevin.


Kevin kembali berdecak, dia ingin sekali menggaruk wajah menyebalkan Aditya dengan garpu.


Tak lama pesanan Aditya dan Kania datang dan disajikan pelayan di atas meja.


"Hmm~ harum banget~," ucap Kevin sambil menatap makanan itu dengan mata berbinar-binar.


Lagi-lagi, dengan tidak tahu malunya Kevin begitu saja mengambil makanan yang ada di depan Aditya.


"Kalau mau pesen aja, kenapa mengambil makananku?!"


Aditya bukannya melayangkan protes ke Kevin tapi ke Kania yang melongo melihat kelakuan adik tirinya itu.


"Benar Kevin, kalau kamu mau pesan aja, jangan langsung ambil makanan orang kaya gitu, gak sopan!"


Kevin kembali mendapat petuah dari kakak tercintanya karena seseorang yang dia anggap invisible.


"Maaf Kak... Aku terpaksa soalnya perutku sudah mulai sakit," lirih Kevin.


Kania yang tahu kalau Kevin punya penyakit maag akhirnya membiarkan Kevin menyantap makanan yang seharusnya untuk Aditya.


"Apa?! Gak! Itu makananku! Kembalikan!"


Saat Aditya akan merebut makanannya Kevin dengan cepat menahan makanan itu sehingga terjadi lah pertarungan tarik menarik piring.


Kania memijit pangkal hidungnya, dia pusing dan malu dengan tingkah kekanak-kanakan dua pria yang lebih muda darinya itu.


Apalagi saat itu restoran tengah ramai sehingga otomatis kegaduhan di meja mereka menarik perhatian pengunjung yang lain.


"Kalau kalian seperti itu terus lebih baik aku pergi!"


Kedua bocah yang saling berebut piring pun membeku seketika.


Aditya segera melepas piring itu saat melihat sang istri akan beranjak dari kursi.


"Baby...."


Padahal ekspektasi Aditya bisa dinner romantis dengan sang istri tapi malah jadi berantakan seperti ini.


"Baiklah, aku tidak akan merebut makanan itu lagi tapi jangan pergi~"


Kania menghela napas, dia bangkit dari kursi lalu memindahkan kursinya dan duduk di samping Aditya.


"Aku tahu kamu juga lapar, jadi daripada kamu harus pesan dan menunggu makanan datang, gimana kalau kita makan sepiring berdua aja suamiku?"


Wajah mendung Aditya seketika kembali cerah.


"Istriku pinter banget sih~ jadi makin lope lope deh sama kamu~"


Melihat Aditya bergelanyut manja di lengan kakaknya ditambah aura bucin yang begitu kental membuat Kevin merinding dan makin ilfil dengan kakak iparnya itu.


Apalagi saat melihat pasutri itu suap-suapan, asam lambung Kevin langsung surut.


Feelingku benar, cowok itu emang berbahaya, dia sudah mengkontaminasi Kakakku yang kalem dengan virus bucinnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2