Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Pacaran Lagi


__ADS_3

Aditya pun terbangun setelah dua jam tertidur karena efek samping dari obat yang diminumnya.


"Aditya."


Pandangan Aditya beralih ke sumber suara yang memanggil namanya dan saat matanya benar-benar sudah terbuka, Aditya melihat wanita yang dia cintai sedang duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Kak.. Kania...," gumam Aditya lirih.


Kania mengambil handuk di kening Aditya lalu menempelkan punggung tangannya untuk mengecek suhu tubuh Aditya.


"Syukurlah, udah gak begitu panas kaya tadi." Kania merasa sedikit lega.


Aditya tampak heran karena seingatnya terakhir dia beranjak dari sofa dan akan berjalan menuju tempat tidur tapi tiba-tiba badannya terasa sangat lemas lalu setelah itu dia tidak ingat lagi apa yang terjadi dengannya.


"Kak Kania," panggil Aditya.


"Kamu haus? Mau minum?"


Aditya menggelengkan kepalanya.


"Apa yang terjadi Kak?"


"Kamu demam, badan kamu panas banget tadi tapi sekarang kayanya udah mulai turun."


"Aku demam?" Aditya mengecek sendiri suhu tubuhnya.


Hm... Emang agak panas sih.


"Aditya, kenapa kamu engga bilang kalau kamu sakit? Kamu tahu gak, aku kaget banget tadi lihat kamu udah terbaring di lantai."


"Terbaring di lantai? Terus kenapa sekarang aku bisa ada di tempat tidur?"


"Tentu saja aku yang membawamu ke tempat tidur, kamu pikir siapa?"


"Hah? Kak Kania yang bawa aku ke tempat tidur?" Aditya menaikan satu alisnya, dia tidak menduga kalau Kania yang mempunyai postur tubuh lebih kecil dibanding Aditya bisa membawanya ke tempat tidur.


"Padahal badan ku hampir remuk karena membawamu ke tempat tidur tapi kamu malah engga percaya, jahat banget!" Kania melipat kedua tangannya di dada dan memanyunkan bibirnya.


"Kenapa Kak Kania yang bawa aku ke tempat tidur? Kak Kania kan bisa minta tolong Om Hendra."


Kania pun mencubit pipi Aditya saking geregetannya.


"Aaah! Sakit Kak!" rengek Aditya kesakitan.


"Kamu pikir gara-gara siapa, hah?"


"U-Udah Kak, sakit~ lepasin pipi aku~"


Aditya pun mengusap-usap pipinya yang memerah karena di cubit Kania.


"Kalau aja engga ada yang terus bilang 'Jangan pergi, jangan pergi' aku engga harus susah payah membawamu ke tempat tidur," sindir Kania.


"Emangnya siapa yang bilang seperti itu?" tanya Aditya dengan polosnya.


"Aditya! Kamu benar-benar--" Kania sudah mengangkat tangannya untuk memukul Aditya lalu terdengar suara ketukan pintu.


...Tok Tok Tok...


"Kamu beruntung bisa selamat sekarang karena ada yang datang."


Kania menatap tajam Aditya lalu beranjak dari pinggir tempat tidur untuk membuka pintu.


Kak Kania galak banget sih, masa pacarnya lagi sakit malah disiksa?


Aditya lalu teringat dengan ucapan Kania saat mereka bertengkar.


..."Selama ini aku yang selalu mengalah dan ikutin semua keegoisan kamu tapi cukup! Aku udah gak tahan lagi sama kamu!"...


..."Lebih baik kita putus, dengan begitu kamu engga perlu lihat aku lagi." ...

__ADS_1


Seketika dada Aditya terasa sesak.


Pantas aja dia galak, gue kan udah bukan pacarnya lagi...


Aditya pun tersenyum pilu menyadari statusnya saat ini.


Kania membuka pintu dan melihat pelayan sudah berdiri sambil membawa nampan bundar yang di atasnya ada semangkuk bubur.


"Ini bubur untuk Aditya ya Bi?"


"Iya Non."


"Sini Bi, biar aku aja yang bawa buburnya, makasi ya Bi."


Kania pun menutup pintu lalu berjalan kembali ke tempat tidur sambil membawa nampan bundar yang dia ambil dari pelayan itu.


Kania duduk di pinggir tempat tidur lalu meletakkan nampan bundar itu di atas pangkuannya.


"Bibi udah buatin kamu bubur, makan dulu nanti baru istirahat lagi."


"Aku engga mau makan...," ucap Aditya lirih sambil memalingkan wajahnya.


"Kamu harus makan biar cepat sembuh, ayo cepat dimakan buburnya nanti keburu dingin."


"Engga mau."


Aditya menutupi wajahnya dengan selimut.


"Harus mau! Biar kamu cepat sembuh, ayo cepat dimakan buburnya, jangan kaya anak kecil!"


Aditya tersinggung mendengar ucapan Kania lalu dia pun membuka selimutnya. Dari wajahnya dia terlihat sangat kesal.


"Iya aku emang kaya anak kecil! Aku egois dan keras kepala! Hubungan kita juga sudah berakhir! Aku bukan pacar Kak Kania lagi! Terus kenapa Kak Kania masih peduli sama aku?! Kenapa?!"


Mata Aditya sudah berkaca-kaca. Dia pun kembali menutup wajahnya dengan selimut agar Kania tidak melihatnya menangis.


"Jadi kamu mau hubungan kita berakhir? Kamu engga mau jadi pacar ku?"


"Kamu nangis?"


"Engga! Aku engga nangis!" sangkal Aditya.


"Kalau emang gak nangis coba tunjukin wajah kamu."


"Engga mau!"


"Gimana nih bayi besarku nangis? Sudah ya jangan nangis lagi~ cup cup," ledek Kania.


Aditya yang ngambek dibilang bayi besar oleh Kania kembali menutup seluruh wajahnya dengan selimut.


"Keluar!"


"Dasar tukang ngambek, mending aku pergi aja deh."


Dari balik selimut Aditya merasa Kania beranjak dari pinggir tempat tidur, dia juga mendengar langkah kaki dan suara pintu yang ditutup.


Suasana di dalam kamar pun jadi hening, Aditya perlahan membuka selimutnya lalu mengangkat badannya dan duduk sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur.


"Dia benar-benar pergi...," ucap Aditya lirih.


"Taraaaaa! Aku disini!"


Tiba-tiba Kania muncul dari samping tempat tidurnya sehingga membuat Aditya tersentak kaget.


Kania memang berjalan menuju pintu tapi hanya membuka lalu menutup pintu kamar itu dan diam-diam kembali lalu bersembunyi di samping tempat tidur.


"Hahaha pacar ku kaget ya? Kasihaaan~" Kania mencubit kedua pipi Aditya gemas.


"Pacar ku? Tu-Tunggu, aku engga salah denger kan? Bukannya tadi Kak Kania bilang mau pu--"

__ADS_1


"Iya aku tahu, tadi karena emosi aku langsung mengambil keputusan tanpa memikirkan perasaanmu, maaf...."


"Artinya kita masih pacaran, Gak jadi putus, kan?" Aditya menatap Kania dengan mata berbinar-binar.


"Tapi dengan satu syarat."


"Syarat?"


"Kamu harus ngerubah sikap kamu, gimana?"


"Sikap ku? Emangnya kenapa sama sikap ku? Apa aku kurang romantis?" tanya Aditya dengan polosnya.


Kania lagi-lagi mencubit pipi Aditya.


"Aaah~ sakit! Lepasiin Kak~"


"Sikap kamu yang egois, keras kepala, gak sabaran dan suka seenaknya."


"Tapi cinta, kan?" Aditya menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum jahil.


"Dih pede banget," ucap Kania ketus.


Aditya pun terkekeh lalu memeluk Kania.


"Makasi ya Baby, aku janji akan jadi pacar yang lebih baik untuk Baby ku."


Perlahan Aditya melepas pelukannya lalu memegang kedua pipi Kania yang sudah merona.


Pipinya merah kaya tomat, jadi gemes mau gigit.


Jantung Kania berdegup kencang saat Aditya semakin mengikis jarak wajah mereka.


Ya Tuhan! Apa dia akan mencium ku?!


Lalu Kania pun memejamkan matanya saat wajah Aditya sudah begitu dekat.


...Cup...


Kania membuka matanya lagi saat dia merasa bibir Aditya malah mendarat di pipinya, Aditya pun menggigit gemas pipi Kania.


Kania merasa malu karena Aditya tidak melakukan seperti yang dia pikirkan.


"Ih ngapain sih gigit-gigit?! Emangnya aku makanan?! Lepasin!"


"Abisnya pipi kamu merah banget kaya tomat," ucap Aditya terkekeh.


"O iya terus kenapa kamu tadi tutup mata? Kamu pikir aku akan melakukan apa?" goda Aditya.


"Ta-Tadi mataku ke-kemasukan debu! Iya debu!"


jawab Kania gelagapan.


"Debu? Sini aku tiupin biar debunya hilang."


"E-Engga usah, debunya udah hi--"


"Ssst!"


Aditya memegang erat kedua pipi Kania dan menatapnya dalam.


Apa yang akan dia lakukan sekarang?! Kalau begini terus aku bisa kena serangan jantung!


Setelah beberapa saat saling bertatapan, kepala Aditya pun mulai bergerak.


Kania pikir Aditya memang akan meniup matanya tapi ternyata pria itu malah mencium keningnya terus mencium kedua matanya lalu hidungnya dan hanya tinggal beberapa senti lagi mereka berdua akan mengetahui rasanya first kiss.


Mata Kania dan Aditya pun sama-sama terpejam. Jantung keduanya pun berdegup kencang.


Apa ini akan jadi first kiss untuknya juga? Atau ada cowok yang sudah merebut first kiss nya...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2