
Cerita ini dibuat hanya untuk memuaskan kehaluan aku pribadi jadi jalan ceritanya gak berhubungan dengan cerita sebelumnya.
Semoga kalian juga bisa ikut halu~ 😁
...-...
...-...
...-...
...****************...
"Aaaah~ selesai juga bikin ceritanya!"
Tampak seorang gadis merenggangkan kedua tangannya ke atas. Tangannya terasa kaku setelah lima jam mengetik lebih dari seribu kata melanjutkan cerita novelnya di aplikasi Noveltoon.
Jam pada layar ponselnya menunjukkan angka 22:37.
"Hoaaaammmm~" Gadis itu menguap saat rasa kantuk mulai datang. Matanya pun terasa berat dan ingin terpejam.
Sebelum terlelap gadis itu bergumam, "Seandainya gue bisa jadi Kania....."
Kania adalah tokoh utama wanita di dalam cerita yang dibuat oleh gadis itu.
...****************...
Matahari baru mulai mengintip dari ufuk timur dan langit pun juga masih gelap tapi mata seorang gadis yang tengah terbaring di tempat tidur perlahan mulai terbuka.
Gadis itu memang sudah terbiasa bangun jam lima pagi untuk menjalankan ibadah sholat subuh tapi kali ini dia merasa aneh.
Sesaat dia menatap langit-langit kamarnya yang tampak berbeda.
"Koq beda ya? Langit-langit kamar gue kan gak kaya gini."
Matanya pun terbuka lebar. Ternyata bukan cuma langit-langit kamarnya tapi seluruh isi dari kamar itu berbeda dari kamarnya.
"Gue dimana?! Kenapa kamar gue jadi kaya gini?! Ini kamar siapa?!"
Gadis itu pun semakin terkejut saat melihat pantulan dirinya sendiri di cermin meja rias.
"D-Dia! Kania!"
"Gak mungkin! Kenapa gue bisa jadi Kania?!"
Tiba-tiba gadis itu membeku di tempatnya. Dia shock. Sangat shock.
Perlu beberapa menit untuk gadis itu bisa kembali dari keterkejutannya.
"Kalau gue Kania berarti... Gue masuk ke novel gue sendiri!" Matanya kembali terbuka lebar.
"Gila! Gimana caranya?! Semalam gue tidur terus udah ada disini! Jangan-jangan gue lagi mimpi."
"Aww!" pekik gadis itu kesakitan setelah mencubit tangannya.
"Sakit! Berarti ini bukan mimpi! Gue beneran masuk ke novel gue sendiri!"
Gadis itu yang sekarang menjadi Kania di cerita novelnya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi kepadanya.
"Gue bisa gak ya balik ke dunia gue? Atau jangan-jangan... Gue udah kejebak dicerita gue sendiri...."
Beberapa saat gadis itu termenung. Apa benar dia ingin kembali ke dunianya?
"Engga, gue gak bisa balik sekarang, gue gak mau menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan."
"Makasi ya Allah, emang gak ada yang mustahil jika Engkau sudah berkehendak."
Lalu gadis itu pun beranjak dari pinggir tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.
Mulai sekarang dia harus membiasakan diri dengan penampilan dan nama barunya. Tapi dia juga tidak bisa begitu saja membuang nama yang diberikan kedua orang tuanya.
Setelah berwudhu, Kania keluar dari kamar mandi. Dia ingin menjalankan kewajibannya sebagai muslim tapi... Dia tidak melihat mukena di dalam kamar itu.
"Mungkin mukenanya ada di lemari."
Tapi saat dia membuka lemari yang dia yakini lemari bajunya, dia juga tidak menemukan mukena disana.
"Loh? Kania gak punya mukena?! Astagfirullah, gue lupa! Kan diceritanya Kania emang bukan cewek yang taat beribadah tapi kenapa sampai gak punya mukena!"
"Gue emang sengaja bikin cerita yang gak mengkhususkan agama tertentu biar pembaca gue nyaman tapi... Kalau begini... Gue jadi gak bisa ibadah... Huuh..."
Tiba-tiba dia teringat sesuatu lalu kembali mengobrak abrik isi lemari bajunya.
"Waaah beneran gak ada! Kania juga gak punya jilbab!" pekiknya saat tidak menemukan satu pun jilbab atau kerudung di lemari itu.
"Huuh... Gak apa-apa deh gue gak pake kerudung dulu."
"Berarti hari ini selain beli mukena, gue juga harus beli kerudung."
Lalu saat dia tengah merapikan isi lemarinya, dia teringat dengan tokoh utama pria diceritanya, Putra Aditya Nugraha.
"Aditya! Benar! Kalau gitu gue bisa ketemu sama Aditya!"
Memikirkan adegan-adegan romantis antara dia dan Aditya membuatnya senyum-senyum.
"Duh, gue gak boleh khilaf nih kalau nanti ketemu dia, gue harus bisa nahan diri tapi... Kira-kira gimana ya tanggapannya kalau liat Kania tiba-tiba pakai kerudungan?"
Seketika dia jadi bimbang, antara merubah atau membiarkan penampilan Kania seperti saat ini, tidak menggunakan kerudung.
"Hmm... Kalau Kania pakai kerudung, Aditya masih cinta gak ya?"
...****************...
Aditya yang masih terlelap merasa terusik saat badannya ditepuk-tepuk.
"Euugghh!"
Dengan kasar Aditya menepis tangan itu dan melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
"Kebangetan nih anak!" ucap Permata sewot.
Permata pun menarik napas dalam-dalam.
"Putra Aditya Nugrahaaaaaa! Banguuun!"
Seketika Aditya membuka matanya, telinganya berdengung mendengar teriakan maminya yang menggelegar.
"Mami, ganggu aja! Ini kan hari minggu Mi!" protes Aditya.
"Justru karena sekarang hari minggu, ayo bangun temani Mami ke Mall," titah Permata.
"Males aah~ mending aku tidur lagi, Mami sendiri aja ke Mallnya."
Permata segera menarik-narik tangan Aditya saat anaknya itu akan kembali memejamkan mata.
"Ayo bangun! Kalau kamu gak mau temani Mami, Mami potong uang jajan kamu dan gak ada internet selama sebulan," ancam Permata.
Karena sudah mendapat ancaman, mau gak mau, sudi gak sudi, ikhlas gak ikhlas, Aditya harus menuruti keinginan maminya.
Dengan malas Aditya pun bangun dan duduk dipinggir tempat tidur.
"Iya iya aku mau!"
"Nah gitu dong, sekarang kamu mandi dan siap-siap, Mami tunggu di bawah ya."
Tanpa mendengar jawaban Aditya, Permata pun pergi begitu saja dari kamar anaknya itu.
"Jadi kuli deh... Huuh...."
Aditya mengira maminya minta ditemani ke Mall untuk berbelanja dan dia yang harus membawa semua belanjaan maminya tapi ternyata dia salah.
Permata sengaja mengajak Aditya ke Mall karena ingin mendekatkan anaknya dengan calon anak tirinya.
...****************...
Sejak pagi Kania belum keluar kamar sehingga membuat sang ayah, Hendra khawatir.
Karena selama ini putrinya itu tidak pernah bangun siang meskipun dihari minggu.
"Jangan-jangan Kania sakit."
Hendra pun mengetuk-ngetuk pintu kamar Kania. Dia takut terjadi sesuatu dengan putrinya.
...Tok Tok...
"Kak! Ini Ayah!"
Kania yang baru selesai memakai baju mendengar ketukan dan suara pria yang mengaku ayahnya.
"Ayahnya Kania!"
Lalu dia pun bergegas membuka pintu kamarnya.
Terlihat raut kekhawatiran dari wajah Hendra dan Kania menyadari hal itu.
"Kakak sakit?"
"Engga Yah, Kakak gak sakit." Kania tersenyum kaku.
Duh, canggung banget!
"Syukurlah... Ayah pikir Kakak sakit soalnya dari pagi gak keluar kamar."
"Tadi Kakak bangun kesiangan Yah."
"Tumben kamu bangun siang, kamu begadang ngerjain tugas kuliah?"
Tugas... Kuliah?? O iya! Kania kan masih kuliah! Koq gue bisa lupa cerita sendiri sih!
"I-Iya Yah."
Udah lah jawab aja iya.
"Jangan terlalu memaksakan diri, Ayah gak mau kamu sakit karena sering begadang."
Gadis itu sedikit risih saat Hendra mengelus kepalanya. Dia tidak biasa diperlakukan seperti itu tapi mau bagaimana lagi kan dia sendiri yang membuat karakter Hendra sebagai sosok penyayang.
"Iya Yah."
"Kakak ada acara gak hari ini?"
"Engga ada, emangnya kenapa Yah?"
"Rencananya hari ini Ayah mau kenalin kamu sama seseorang," ucap Hendra malu-malu.
Jangan-jangan maksudnya ketemu sama maminya Aditya! Be-Berarti gue juga bakal ketemu sama Aditya!
"Jam berapa Yah jalannya?" Kania berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Dan meskipun dia tahu siapa yang akan dikenalkan Hendra tapi dia harus pura-pura tidak mengetahuinya dan mengikuti alur cerita.
"Sekarang Kak, Ayah siap-siap dulu ya."
"Iya Yah, Kakak juga mau siap-siap."
...****************...
Sudah sepuluh menit Aditya berdiri di samping maminya.
"Mi, lagi nungguin siapa sih? Koq kita cuma diri disini aja, bukannya Mami mau belanja?"
"Mami emang lagi nungguin seseorang."
Aditya mengangkat satu alisnya. "Siapa? Temen Mami?"
Tak lama Permata melihat seseorang yang dia tunggu.
__ADS_1
"Nah, itu dia sudah datang!"
Aditya sedikit terkejut saat melihat pria yang dia tahu adalah sekretaris maminya berjalan menghampiri mereka.
Jadi pria itu yang ditunggu Mami. Cih! Menyebalkan!
Jelas sekali terlihat kalau Aditya tampak tidak suka dengan pria itu.
Beda dengan Aditya yang tampak kesal, mata Kania malah berbinar-binar saat melihat pemuda itu.
Subhanallah! Cakep banget! Iiih gemeeeess!
Tapi seketika Kania ingat kalau seharusnya Aditya baru akan muncul dan berkenalan dengannya di restoran.
Koq dia ikut Maminya?? Harusnya kan engga! Duh, kenapa ceritanya jadi berubah?
"Maaf ya aku telat." Hendra merasa tidak enak sudah membuat Permata dan Aditya menunggu.
"Tidak apa-apa Mas."
Kania mengerutkan keningnya melihat interaksi ayahnya dengan wanita yang dia tahu adalah maminya Aditya itu.
Dialognya emang bener tapi ekspresi mereka harusnya gugup, gak biasa aja kaya gini! Aduuuh, ini ceritanya kenapa jadi berubah sih?!
Kania yang tengah memikirkan alur cerita yang ternyata tidak sama dengan cerita aslinya tidak menyadari tatapan Aditya yang sedang memperhatikannya.
"Kak, kenalkan ini Tante Permata."
Hendra mengenalkan Permata kepada Kania tapi putrinya itu malah sedang bengong.
"Kak!"
Kania pun tersentak dan langsung tersadar dari pikirannya.
"Eh?! Iya Yah!"
"Halo, kamu cantik sekali, Saya Tante Permata," sapa Permata tersenyum ramah.
"Ha-Halo Tante, Saya Kania Pertiwi," ucap Kania canggung.
"Kenalkan Kania, ini anak Tante namanya--"
"Aditya."
Mata Kania terbuka lebar, dia tidak sadar menyebut nama Aditya padahal harusnya saat itu mereka belum saling mengenal bahkan tahu nama masing-masing.
Iiih bego! Bego! Kenapa gue malah keceplosan?!
Kania yang sibuk merutuki kebodohannya tidak menyadari Aditya yang tersenyum melihatnya salah tingkah.
Cewek ini lucu juga, sayang banget kalau jadi saudara tiri.
Sesaat kemudian senyuman itu berubah menjadi seringai.
"Salam kenal, nama gue Putra Aditya Nugraha."
Aditya mengulurkan tangannya dan tersenyum manis.
Jantung Kania pun dibuat berdetak gak karuan melihat senyuman itu.
"Sa-Salam kenal."
Dengan tangan gemetar, Kania menjabat tangan Aditya.
Meskipun malu tapi Kania berusaha menatap manik hazelnut milik Aditya yang ternyata juga tengah menatapnya.
"Ehem!"
Suara deheman Permata membuat Kania kembali salah tingkah sedangkan Aditya tampak biasa saja.
"Mi, ayo makan, aku lapar," pinta Aditya.
"Mas, ayo kita makan dulu," ajak Permata.
"Iya."
Mereka berempat pun beranjak dari tempat itu dan saat sedang berjalan menuju restoran, Aditya sadar kalau Kania diam-diam melirik kearahnya.
"Lu tahu kalau orang tua kita punya hubungan spesial?" tanya Aditya.
"Iya gue tahu."
"Kalau mereka menikah berarti kita akan jadi saudara tiri tapi...."
Aditya menggantung ucapannya dan malah mendekatkan bibirnya ke telinga Kania.
"Gue gak mau punya saudara tiri," bisik Aditya.
Astaga nih bocah, belum apa-apa udah bikin deg-degan. Balas gak? Balas gak? Balas lah!
Aditya tersentak saat wajah Kania tiba-tiba berpaling kearahnya.
"****!" umpat Aditya yang langsung menjauhkan wajahnya.
Hampir aja!
Kania pun tertawa kecil melihat kepanikan Aditya.
"Gak lucu!" ucap Aditya ketus.
Duh galak banget sih dedek, tambah gemes deh~ tapi koq dia beda ya responnya sama Kania? Harusnya kan dia manis bukannya jutek.
"Iya maaf." Kania pun tersenyum menunjukkan lesung pipinya.
Dan tanpa disadari, Aditya pun mulai tertarik kepada Kania.
Senyumnya manis juga nih cewek.
__ADS_1
...****************...