Menikahi Adik Tiriku

Menikahi Adik Tiriku
Menjadi Raja dan Ratu Sehari


__ADS_3

Kehebohan terjadi saat para tamu yang hadir mendengar mas kawin yang disebutkan oleh Hendra.


"Gila! Gak salah tuh?! Mas kawinnya sebuah mansion!"


"Iya Saya juga dengar, mas kawinnya sebuah mansion bukannya rumah!"


"Udah gitu ditambah uang sepuluh ribu dollar! Kalau di rupiah sekitar 140 jutaan!"


Mas kawin dari Aditya bukan hanya mengejutkan tamu yang hadir tapi juga Permata dan Kania.


Permata yang baru mengetahui mas kawin yang disiapkan putranya pun menganga tak percaya.


Jangan kan mas kawin bahkan seserahan saja Permata baru melihatnya tadi dan itu pun berhasil membuatnya terbengong karena isi dari seserahan itu semuanya adalah barang-barang branded ASLI yang harganya ratusan juta ditambah satu set perhiasan emas 24K.


Aditya memang memberitahu darimana dia mendapatkan uang tapi Permata tak menyangka kalau hasil yang Aditya dapatkan dari bermain saham akan SEBANYAK ITU bahkan sampai bisa membeli sebuah mansion yang harganya ratusan miliyar plus barang-barang seserahan dan semua biaya pernikahan.


Permata bahkan tidak berani mengira berapa banyak uang yang dikeluarkan putranya untuk pernikahan ini. Jantungnya belum siap.


Yang terkejut tentu bukan hanya Permata dan tamu undangan tapi sang mempelai wanita juga tak kalah terkejut.


Mulut Kania sampai menganga dengan mas kawin yang diucapkan ayahnya. Matanya berkedip-kedip tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Hah?! Gak salah nih?! Ma-MANSION?!!


Seheboh apapun para tamu yang hadir tetap saja prosesi ijab qabul harus terus berjalan.


Dan setelah Hendra mengucapkan kalimat ijab, sekarang giliran Aditya yang akan mengucapkan kalimat qabul.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Kania Pertiwi binti Hendrawan dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"


Para tamu undangan yang masih ricuh pun langsung terdiam saat Aditya dengan lantang dan tegas mengucapkan kalimat qabul.


"Sah?" tanya seorang saksi kepada penghulu dan saksi lain.


Seketika mereka semua mengatakan satu kata yang sama.


"SAH!"


"Alhamdulillah."


Ketegangan pun berubah menjadi kelegaan untuk semua orang tak terkecuali untuk Aditya, ada kebanggaan tersendiri saat dia berhasil mengucapkan ijab qabul hanya dengan satu kali tarikan napas.


Setelah prosesi ijab qabul, Aditya dan Kania diminta menandatangani beberapa dokumen pernikahan dan buku nikah mereka.


Selesai menandatangani buku nikah, pasangan pengantin baru itu pun diminta memasangkan cincin ke jari manis masing-masing. Cincin yang dipilih Aditya bukan cincin emas tapi cincin titanium berkualitas tinggi karena menurut agama pria tidak diperbolehkan memakai perhiasan yang terbuat dari emas.


Permata yang bertugas membawa cincin pernikahan pun berjalan mendekati pasangan pengantin baru itu.


Di atas nampan yang terbuat dari silver beralaskan kain beludru merah tampak satu kotak yang berisi dua cincin dengan warna berbeda. Satu cincin berwarna silver yang ditengahnya terdapat berlian kecil sedangkan cincin satunya berwarna hitam pekat.


Aditya yang pertama memasang cincin di jari manis Kania lalu Kania pun melakukan hal yang sama dan mencium punggung tangan Aditya sebagai tanda baktinya sebagai seorang istri. Aditya pun membalasnya dengan mencium kening sang istri.


Sebelum pasangan pengantin baru itu mengganti pakaian mereka untuk acara resepsi, Aditya meminta fotografer untuk mengambil beberapa foto.


Foto pertama tentu saja diperuntukkan untuk Aditya dan Kania, raja dan ratu hari ini.


"Ok, siap ya!" ucap fotografer sambil membidik kameranya kearah mereka.


Satu


Dua


Tiga

__ADS_1


Ckrek!



Kebahagian tampak jelas dari pasangan pengantin baru itu. Sang fotografer pun sampai tersenyum karena ikut merasakan kebahagian mereka.


Setelah sesi foto berdua, sekarang giliran berfoto dengan orang tua dari masing-masing mempelai dan keluarga mereka.


Teman-teman dekat dari kedua mempelai pun tidak mau kalah, mereka juga ingin berfoto dengan kedua mempelai.


Sesi foto pun berakhir, kedua mempelai harus mengganti pakaian mereka untuk acara resepsi.


"Ayo Istriku."


Pipi Kania memerah saat mendengar suara lembut Aditya yang memanggilnya istri.


Kania hanya bisa mengangguk malu membuat Aditya harus menahan keinginannya untuk menggigit istrinya itu.


Aditya pun menggandeng dan membawa Kania masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaian mereka.


Disaat menunggu kedua mempelai mengganti pakaian, para tamu dipersilakan untuk menyantap berbagai hidangan yang sudah disiapkan. Mulai dari snack, dessert sampai makanan berat.


Meskipun sudah menjadi suami istri tapi Aditya dan Kania mengganti pakaian mereka di kamar masing-masing.


Aditya mengganti pakaian pengantinnya yang berwarna putih dengan setelah jas berwarna biru dengan dasi kupu-kupu silver serta sepasang sepatu pantofel hitam.



Sedangkan Kania mengganti kebaya putihnya dengan gaun berwarna biru.



Rambutnya pun ditata lagi oleh team MUA sehingga sesuai dengan konsep gaunnya.



Gaun sudah


Rambut sudah


Wajah sudah


Sekarang sang ratu harus memakai perhiasan yang juga sudah disiapkan untuknya.



Setelah memakai perhiasan, salah seorang team MUA meletakkan sepasang sepatu tepat di depan kaki Kania.



Sepatu cantik itu pun membuat penampilan Kania semakin sempurna.


Mata team MUA yang bertugas berbinar-binar saat melihat penampilan Kania yang seperti ratu sungguhan.


Cantik.


Pujian dari team MUA membuat Kania malu. Pipinya yang dipoles blush on pun semakin merona.


Aditya yang sudah selesai lebih dulu menunggu istrinya di depan kamar.


"Duh, kenapa jantung gue jadi deg-degan kaya gini?" gumam Aditya.


Tak lama terdengar suara pintu yang dibuka membuat Aditya mengalihkan pandangannya kearah pintu.

__ADS_1


Ya Tuhan... Kenapa bidadari bisa nyasar kesini? Cantik sekali...


Aditya dibuat melongo melihat penampilan Kania saat keluar dari dalam kamar.


"Aditya."


Yang dipanggil masih terpana.


"Aditya."


Masih tidak ada respon.


"Aditya!" sentak Kania.


Aditya pun terperanjat. Pipinya memerah menahan malu.


"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Kania sambil menatap Aditya khawatir.


"A-Aku gak sakit."


"Kenapa tadi kamu diam aja?"


Jarak Kania yang sangat dekat dengannya membuat Aditya semakin gugup.


"E-Engga apa-apa, ayo kita turun!"


Kania tersentak saat Aditya yang tiba-tiba menarik tangannya, alhasil Kania pun menginjak bagian depan gaunnya sendiri sehingga membuatnya terjungkal ke depan.


"Aaaaa!"


...Tap!...


Dengan sigap Aditya pun langsung menangkap bidadarinya yang hampir terjatuh.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Aditya khawatir.


"Gak apa-apa, makasi ya."


"Makanya kalau jalan hati-hati! Untung tadi aku masih bisa tangkap kamu, coba kalau engga? Kamu bisa jatuh dan terluka," ucap Aditya sewot.


Wajah Kania berubah datar.


"Kalau tadi gak ada orang yang tiba-tiba menarik tanganku, aku gak mungkin menginjak gaunku sendiri."


Aditya merasa tersindir dan mengakui kecerobohannya.


"Maaf ya istriku...," lirih Aditya.


Mulut Kania sedikit menganga, dia tak percaya kalau Aditya yang egois bisa mengakui kesalahannya.


Lagipula Kania juga tidak tega saat melihat wajah memelas suaminya.


"Iya aku maafin."


Senyum Aditya pun merekah, dia kembali menarik sang istri tapi kali ini dia biarkan istrinya jatuh, jatuh ke dalam pelukannya.


"I love you My wife."


"I love you too My husband."


Meskipun Kania hanya bergumam tapi berhasil membuat hati Aditya berdesir mendengarnya.


Bagaimana ini? Istriku terlalu cantik! Aku tidak rela ada yang melihat istriku! Hanya aku yang boleh melihat kecantikannya.

__ADS_1


Sifat posesif Aditya pun muncul saat otaknya yang tadi sempat nge-blank kembali normal.


...****************...


__ADS_2