
"Aw sakit! Udah berhenti, sakit Baby, aw! Baby sakiitt!" rengek Aditya kesakitan karena Kania memukul-mukul lengannya.
Kania geregetan dengan ulah Aditya yang hampir membuatnya mati muda terkena serangan jantung.
"Baby sa--" Kania langsung membungkam mulut Aditya dengan tangannya.
"Kamu pasti sengaja kan?! Supaya Tante Permata dan Ayah tahu hubungan kita!" ucap Kania sewot dengan suara pelan.
Aditya cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena mulutnya masih dibekap oleh Kania.
Kania menatap tajam Aditya sebelum melepas mulut pria itu.
"Engga Baby aku--mm!" Kania kembali menutup mulut Aditya dengan tangannya.
"Jangan panggil aku kaya gitu! Gimana kalau Tante Permata dan Ayah dengar nanti?! Tinggal seminggu lagi, percuma saja usaha kita selama ini kalau sekarang mereka tahu hubungan kita."
"Awas ya kalau kamu panggil aku dengan sebutan itu lagi," ancam Kania.
Aditya pun mengangguk-anggukan kepalanya.
Lalu Kania melepaskan tangannya dari mulut Aditya tapi dengan cepat Aditya memegang pergelangan tangan Kania.
"Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan tanganku!" Kania berusaha menarik tangannya.
"Kalau aku engga mau lepasin gimana?" tanya Aditya sambil tersenyum jahil.
"Lepasin tangan aku sekarang atau kamu akan menyesal nanti," ancam Kania.
"Ooo~ Masa? Aku engga takut," goda Aditya.
"Aku udah peringatin kamu jadi jangan salahin aku."
"Aku engga ta--"
...BUK!...
"Aww!!" jerit Aditya kesakitan saat Kania menendang tulang kering kaki kanannya.
"Sakiit Babyyy~ tega banget sih~" ucap Aditya lirih.
Aditya memanyunkan bibirnya sambil mengusap-usap kakinya agar rasa sakit di kakinya hilang.
"Kan tadi udah aku peringatin, kamu aja yang gak mau dengar jadi jangan salahkan aku." Kania melipat kedua tangannya di dada lalu memalingkan wajahnya, bersikap seolah tidak peduli dengan Aditya yang kesakitan.
"Aww.. Sakit banget..," rintih Aditya.
Mendengar rintihan Aditya membuat Kania tidak tega juga dengan pacarnya itu.
"Maaf, sakit banget ya?"
"Iya, sakit banget~" ucap Aditya manja.
"Coba sini aku lihat." Kania lalu berlutut dan sedikit menggulung celana Aditya.
"Ya ampun merah banget!" pekik Kania.
"Maaf ya, aku engga bermaksud buat kaki kamu kaya gini...," ucap Kania penuh penyesalan.
"Iya engga apa-apa."
Kania pun kembali berdiri dan memukul pelan lengan Aditya.
"Kan yang salah kamu kenapa aku yang dipukul?" protes Aditya.
"Coba kalau kamu tadi lepasin tangan ku pasti aku engga akan nendang kamu."
"Kenapa kamu jadi nyalahin aku?"
"Emang kamu yang salah, kenapa kamu tadi pegang-pegang tangan ku?"
"Aku kan pegang tangan pacar ku sendiri, apa itu salah?"
"Sebelum bicara pikir dulu atau semua usaha kita bakal sia-sia," ucap Kania sambil mencubit kedua pipi Aditya.
"Sakit~ kenapa kamu suka banget nyiksa aku sih?"
"Kamu juga suka cubit pipi aku kaya gini, gimana? Sakit kan? Makanya jangan suka cubit pipi aku lagi."
__ADS_1
Aditya juga gak mau kalah, dia pun mencubit kedua pipi Kania.
"Iiih kenapa kamu juga cubit pipi aku?! Lepas gak?!" ucap Kania sewot.
"Lepasin dulu pipi aku."
"Engga, kamu dulu yang lepasin baru nanti aku lepasin pipi kamu."
"Kamu dulu."
"Kamu!"
Setelah selesai bicara dengan manager butik, Permata mengalihkan pandangannya dan melihat Aditya dan Kania yang saling mencubit pipi masing-masing.
"Mas, coba lihat, aku tidak menyangka kalau Aditya dan Kania bisa cepat akrab seperti ini, padahal mereka baru kenal beberapa hari tapi udah kelihatan deket banget."
"Orang-orang pasti mengira mereka saudara kandung," ucap Permata sambil tersenyum.
Tapi aku merasa ada yang aneh dengan kedekatan mereka... Mereka malah lebih terlihat seperti sepasang kekasih daripada saudara kandung...
Pikir Hendra yang juga melihat kearah Aditya dan Kania.
Setelah selesai dengan urusan baju pernikahan mereka, Permata dan Hendra pun keluar dari butik itu diikuti Aditya dan Kania.
Saat sampai diarea parkir, Permata berjalan menuju mobilnya yang ternyata bersebelahan dengan mobil Hendra.
"Mas, aku pulang dulu ya," pamit Permata.
"Hati-hati ya."
"Iya, kamu juga hati-hati."
"Kak, ayo masuk, kita pulang," ajak Hendra.
"Aditya, kamu cepat masuk, kita juga pulang sekarang," ucap Permata sambil membuka pintu mobil bagian belakang.
Tapi baik Aditya maupun Kania tidak ada yang bergerak dari tempat mereka.
"Kenapa Kak? Ayo masuk."
"Aditya, kenapa kamu diam saja? Cepat masuk ke dalam mobil."
"Oo ya udah, kamu hati-hati ya, jangan pulang terlalu malam."
"Iya Mi."
"Kak, ayo masuk." Hendra kembali meminta Kania untuk masuk ke dalam mobil.
Aditya dan Kania pun saling lirik-lirikan.
"Yah.. Kakak.. juga ada janji sama temen jadi.. Ayah pulang duluan aja."
"Kakak janjian dimana biar Ayah antar sekalian."
"E-Engga usah Yah, Kakak bisa pesan ojek online koq," tolak Kania gelagapan.
"Emangnya Kania janjian dimana?" tanya Permata.
"Di Mall Tante," jawab Kania.
"Di Mall? Aditya juga janjian sama temennya di Mall, koq bisa kebetulan gitu ya?"
Wajah Aditya dan Kania langsung tegang.
"I-Iya Tante, koq bisa kebetulan gitu ya?" ucap Kania sambil tertawa canggung.
"Iya bener, cuma kebetulan." Aditya pun ikut tertawa canggung.
"Kalau gitu kalian bareng aja," usul Permata.
"Mas, kamu gak keberatan kan kalau Aditya bawa mobil kamu?"
"Aku engga keberatan tapi... Aditya masih dibawah umur, bagaimana kalau nanti dia ditilang polisi?"
"O iya kamu benar Mas, kalau gitu Aditya dan Kania diantar supir aja, kamu engga keberatan kan antar aku dulu ke rumah?"
"Tentu saja tidak keberatan."
__ADS_1
"Kalau begitu kalian masuk lah ke dalam mobil, hati-hati ya," ucap Permata kepada Aditya dan Kania.
"Iya Mi."
"Ayo Kak, kita berangkat." Aditya tanpa sadar memegang tangan Kania di depan Permata dan Hendra.
Kania pun sedikit terkejut dan langsung menepis tangan Aditya.
"I-Iya." Kania tergesa-gesa berjalan dan masuk ke dalam mobil.
Tentu saja Aditya merasa sedikit kecewa saat Kania begitu saja menepis tangannya.
Setelah Aditya juga masuk ke dalam mobil, supirnya pun melajukan mobil itu pergi meninggalkan area parkir.
Di dalam mobil, suasana begitu canggung. Hal itu disebabkan karena Aditya yang diam saja dan hanya melihat ke luar jendela.
"Hm.. Apa kaki kamu masih sakit?" tanya Kania basa basi.
"Sedikit," jawab Aditya datar.
"Nanti aku beliin salep ya supaya engga bengkak."
"Engga usah."
"Aditya," panggil Kania.
"Hm."
"Kamu kenapa sih? Aku pikir kamu udah engga marah lagi soal kaki kamu."
Aditya diam dan masih melihat ke luar jendela.
Kania menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Aditya lalu menarik-narik lengan baju Aditya.
"Maaf~ Aku benar-benar engga bermaksud melukai kaki kamu...."
Aditya masih tetap diam.
"Aditya~ Udah dong ngambeknya, iya aku emang keterlaluan tadi, iya aku salah, aku minta maaf...."
Kalau gue gak inget di depan ada sopir mungkin gue udah khilaf, entah apa yang bakal gue lakuin ke dia. Sabar Aditya, lu masih belum cukup umur, sabar... sabar...
Ternyata Aditya diam karena dia berusaha menenangkan hasratnya sebagai laki-laki.
Kania tidak sadar kalau belahan dadanya sedikit terlihat karena dress yang dia pakai terbuka bagian atasnya.
Aditya pun langsung melepas jaket yang dia pakai lalu memberikannya kepada Kania.
"Pakai jaketnya."
"Kenapa kamu minta aku pakai jaket?"
"Sudah, pakai saja jaketnya!" ucap Aditya sewot.
"Iya iya aku pakai." Kania pun memakai jaket milik Aditya.
Aditya lalu memalingkan wajahnya menghadap Kania dan me-resleting jaket itu sampai bagian atas pundak Kania tertutup.
"Aku engga mau nanti ada cowok yang melihat tubuh kamu," ucap Aditya lembut.
Kania pun merasa tersentuh dengan perbuatan Aditya yang menurutnya gentleman.
"Cuma aku aja yang boleh melihatnya."
Image gentelman yang tadi sempat terlintas dibenak Kania pun hancur berkeping-keping.
"Dasar posesif," celetuk Kania.
...****************...
Author: Haloooo~
Apa ada dari kalian yang sudah suntik vaksin?
Aku sendiri baru suntik hari ini 😁
Semoga kita selalu diberikan kesehatan baik jasmani maupun rohani 🤗
__ADS_1
Dan makasi juga like dan dukungan kalian ❤️❤️❤️
Kita ketemu lagi ya di bab selanjutnya 😉