
Suasana pagi di SMA Bunga Bangsa, hari ini adalah hari keempat ujian dan seperti biasa Mutiara selalu berkunjung ke kelas Aditya.
Tapi kali ini dia datang bukan untuk menyapa Aditya melainkan meminta penjelasan tentang apa yang baru diketahuinya semalam.
"Dit, bisa ikut aku sebentar? Ada yang mau aku tanyain sama kamu," pinta Mutiara.
"Soal apa?" Aditya menaikan satu alisnya.
"Engga disini, aku mau bicara berdua aja sama kamu."
Kenapa Mutiara mau bicara berdua sama gue? Jangan-jangan... dia mau bilang perasaannya ke gue tapi kemarin kan dia udah liat gue sama Kak Kania kaya gimana, harusnya dia tahu kalau gue pasti bakal nolak dia.
Melihat Aditya yang tidak bergeming dari kursinya, Mutiara lalu memegang tangan Aditya dan menariknya agar beranjak dari kursi.
"Ikut aku sebentaaaar aja, please."
"Makanya kasi tahu dulu kamu mau tanya soal apa baru aku mau ikut."
"Soal hubungan kamu sama Kak Kania."
"Kamu kan udah tahu hubunganku sama Kak Kania, kami pacaran terus mau tanya soal apalagi?"
"Ada lagi yang mau aku tanyain tapi gak disini, makanya kamu ikut aku sekarang." Mutiara tetap kekeh juga ingin bicara berdua dengan Aditya.
"Disini aja bicaranya, kamu mau tanya apa?"
"Engga bisa, emangnya kamu mau nanti murid yang lain tahu masalah keluarga kamu?"
Aditya tampak berpikir sejenak.
Tadi dia bilang mau tanya soal hubungan gue sama Kak Kania sekarang masalah keluarga gue. Hmm... Apa dia udah tahu kalau Kak Kania juga kakak tiri gue? Tapi gue kan gak pernah bilang sama dia soal itu.
Tiba-tiba terlintas satu nama yang membuat Aditya berdecak.
"Ck, pasti Daniel," gumam Aditya.
"Ayo Dit nanti keburu bel, sebentar aja." Mutiara kembali menarik tangan Aditya.
Akhirnya Aditya menyerah. Dia beranjak dari kursinya dan pergi dengan Mutiara.
Mutiara mengajak Aditya ke bagian belakang sekolah. Tempat itu memang selalu sepi karena murid-murid hampir tidak ada yang datang ke sana kecuali punya kepentingan seperti Mutiara.
"Kamu mau tanya apa benar Kak Kania adalah kakak tiriku, benar kan?" tanya Aditya to the point.
Mutiara tidak menduga kalau Aditya tahu apa yang mau dia tanyakan.
"Iya, apa benar kalau Kak Kania itu...."
"Benar, dia kakak tiriku," jawab Aditya tegas.
"Bagaimana kalau nanti orang tua kamu tahu kalian pacaran?"
"Mereka sudah tahu kami pacaran, terus kenapa?" Aditya tampak cuek menanggapi pertanyaan Mutiara.
Mata Mutiara membulat, dia syok mendengar jawaban Aditya.
"Apa?! Terus orang tua kamu gak apa-apa sama hubungan kalian?!"
"Gak apa-apa, emangnya kenapa mereka harus keberatan dengan hubungan kami?"
"Aditya, dia itu kakak tiri kamu!"
"Iya, terus?"
__ADS_1
Aditya masih tampak santai di depan Mutiara yang heboh sendiri.
"Sadar Dit, dia itu kakak tiri kamu! Kamu gak boleh pacaran sama dia meskipun dia kakak tiri tapi dia tetep kakak kamu!"
Aditya yang tadinya masih santai menanggapi Mutiara sekarang mulai terusik saat mendengar kalimat yang paling dibencinya.
..."Meskipun dia kakak tiri tapi dia tetep kakak kamu!"...
Kedua tangan Aditya pun mengepal kencang saat kalimat itu terngiang dikepalanya.
"KAMI TIDAK SEDARAH! DIA BUKAN KAKAK KU!"
Wajah Mutiara langsung pucat, dia sangat syok dibentak Aditya karena selama ini tidak ada yang pernah membentaknya seperti itu.
Badan Mutiara gemetar, dadanya sesak dan cairan bening menetes dari sudut matanya.
Melihat Mutiara ketakutan, Aditya sadar lalu berusaha menenangkan emosinya yang sempat lepas kendali.
Aditya berjalan mendekati Mutiara lalu memeluk teman masa kecilnya itu.
"Jangan menangis, maaf tadi aku emosi, aku tahu tidak boleh punya hubungan dengan saudara tiri tapi Kak Kania dan aku tidak memiliki darah yang sama, kami berasal dari orang tua yang berbeda jadi tidak ada masalah kalau kami menjalin hubungan."
"Aku tahu sebagai teman kamu pasti khawatir tapi tenang saja aku tidak akan melakukan sesuatu di luar batas karena meskipun aku bukan orang yang religius tapi aku tahu norma-norma agama," sambung Aditya.
Perlahan Aditya melepas pelukannya.
"Makasi ya kamu teman yang baik."
Aditya tersenyum lalu mengusap air mata dipipi Mutiara.
"Jangan menangis lagi nanti mata kamu bengkak, ayo kita masuk kelas, ujian akan dimulai." ucap Aditya sambil mengusap kepala Mutiara.
Mutiara masih menundukan kepalanya, dia bukan hanya sedih karena dibentak Aditya tapi karena Aditya mengatakan kalau dia adalah teman yang baik.
...****************...
Saat Aditya masuk ke dalam kelas, dia melihat Daniel yang sedang menyiapkan alat tulis.
Aditya pun duduk di kursinya lalu menatap tajam Daniel. Alhasil tengkuk Daniel pun seketika merinding.
"Lu kenapa Bro? Serem banget," ucap Daniel canggung.
"Gue tahu lu pasti yang kasi tahu Mutiara kalau Kak Kania itu kakak tiri gue."
Tanpa basa basi, Aditya langsung bicara to the point kepada Daniel.
"I-Iya, kemarin Mutiara nanya sama gue soal Kak Kania, emangnya kenapa Dit?" tanya Daniel lirih.
"Terus kenapa lu juga gak jelasin kalau gue sama Kak Kania gak sedarah."
"Gue gak sempet jelasin soalnya kemarin dia langsung pergi gitu aja pas udah sampai di rumahnya."
"Huuh... Lu tahu gak tadi Ara minta penjelasan sama gue, dia pikir gue sama Kak Kania saudara tiri yang punya hubungan darah."
"Serius Dit?! Tapi lu udah jelasin kan kalau kalian gak sedarah?"
"Iya tapi gara-gara emosi gue tadi sampai bentak dia."
"Lu bentak dia?! Kenapa? Emangnya dia bilang apa?"
"Dia bilang meskipun Kak Kania kakak tiri gue tapi dia tetap kakak gue, gue langsung kesel pas denger kalimat itu, gue benci banget kalau ada yang bilang Kak Kania itu kakak gue karena Kak Kania bukan kakak gue."
Tangan Aditya kembali mengepal kencang sampai membuat urat-urat ditangannya terlihat.
__ADS_1
Hanya melihat ekspresi Aditya, Daniel tahu sahabatnya itu sedang kesal.
"Maaf Bro, gue bener-bener gak sempet jelasin ke Mutiara kemarin."
Perlahan kepalan tangan Aditya melonggar dan raut kekesalan di wajahnya hilang.
"Sebenarnya gue gak bermaksud merahasiakan hubungan keluarga antara gue sama Kak Kania tapi kalau mereka tahu gue yakin mereka pasti bakal bilang hal yang sama seperti Ara."
Dari raut kesal sekarang wajah Aditya berusaha sendu.
"Huuh... Gue pengen cepet-cepet lulus terus nikah sama Kak Kania jadi orang-orang tahunya dia istri gue bukan kakak tiri gue."
"Uhuk uhuk!"
Daniel sampai tersedak salivanya sendiri mendengar ucapan Aditya.
"Nikah?! Lu udah punya pikiran mau nikah sama dia?! Serius lu Dit?!"
"Emangnya kenapa? Ada masalah? Jangan bilang kalau lu suka sama Kak Kania kecuali kalau lu udah bosan hidup."
Aditya tersenyum menyeringai. Dia memegang pulpennya seperti memegang pisau lalu seolah ingin menusuk Daniel.
Daniel menelan salivanya kasar lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Engga engga! Engga ada masalah! Kak Kania kan milik lu, gue mana berani suka sama dia," ucap Daniel panik.
"Gue tahu tapi sebelum gue meresmikan hubungan gue sama Kak Kania pasti ada aja cowok yang cari kesempatan dan juga kemungkinan dia minta putus makanya gue pengen cepet nikah sama Kak Kania jadi dia gak bakal bisa pergi dan jadi milik gue."
Daniel cuma bisa tersenyum canggung mendengar ucapan Aditya.
Aditya yang dulu sering putusin cewek sekarang malah takut diputusin. Kena karmanya dia sekarang.
"Tahu gitu mending gue ikut ujian kelulusan jadi gue bisa langsung lulus terus nikah sama Kak Kania."
"Tapi Dit umur lu kan masih 17 tahun, umur lu belum cukup memenuhi syarat buat nikah."
"Menurut hukum emang gak bisa tapi menurut agama bisa, gue cukup ijab qobul terus Kak Kania sah jadi istri gue, urusan legalnya diurus setelah umur gue cukup, beres," ucap Aditya santai.
Daniel tidak percaya sahabatnya yang dulu suka gonta ganti cewek sekarang malah ingin menikah.
"Lu udah bilang sama Kak Kania soal pernikahan lu sama dia?"
"Belum."
"Lah terus gimana kalau Kak Kania gak mau?"
Kalau bisa Daniel ingin menarik kata-katanya lagi karena Aditya langsung menatapnya sangat tajam bahkan sampai membuat napasnya tercekat.
"Kenapa gue bisa nanya hal bodoh kaya gitu? Gak mungkin Kak Kania gak mau, dia kan cinta banget sama lu pasti dia mau nikah sama lu."
Daniel segera menjawab pertanyaannya sendiri sebelum kena semprot Aditya.
"Ngapain nanya kalau udah tahu jawabannya," ucap Aditya ketus.
Tak lama guru yang bertugas masuk ke dalam kelas.
Aditya dan Daniel yang tadi duduk berhadap-hadapan sekarang membenarkan posisi duduk mereka.
Daniel melirik Aditya, dia melihat sahabatnya itu sedang menggigit pulpen.
Aditya pasti masih kesel, kasihan pulpennya jadi pelampiasan. Tapi gue baru tahu Aditya ternyata sensi banget kalau ada yang bilang Kak Kania kakaknya. Ah bukan cuma soal itu aja, kayanya semua hal yang berhubungan sama Kak Kania itu sensitif, harus hati-hati kalau mau ngomong. Huuh... Dasar bucin akut.
...****************...
__ADS_1