
Tampan, check.
Romantis, check.
Jenius, check.
Kaya? Check!
Apalagi yang kurang dari seorang Aditya? Dia adalah sosok pria sempurna di masa depan tapi seperti kata pepatah "Tidak ada manusia yang sempurna".
Aditya juga hanya manusia yang punya kekurangan diantara kelebihannya.
Selain posesif, tempramental, egois dan keras kepala, salah satu kekurangannya adalah tidak sabaran.
Seperti saat ini, Aditya terus mondar mandir di dalam kamar dan setiap tiga detik dia melihat jam tangannya.
"Ck, lama banget sih! Daritadi masih jam 10 lewat 5! Apa jamnya rusak?!" gerutu Aditya.
Bukan jam tangannya yang rusak tapi otaknya yang sudah error terinfeksi virus cinta.
"Bego! Kenapa gue gak bilang aja mulai hari ini dan besok dia harus terus bareng gue dan ikutin semua yang gue minta?! Gak usah pake 1x24 jam!"
Aditya merutuki permintaannya sendiri. Untuk pertama kalinya dia gegabah, dia terlalu antusias sampai tidak memikirkan kerugiannya saat meminta hadiah itu dari Kania.
Sekarang otak jeniusnya harus bekerja lagi mencari jalan keluar agar dia bisa segera merealisasikan permintaannya.
Aditya tidak bisa menunggu dua jam lagi, dia mau SEKARANG!
Dan tak perlu waktu lama, otak jeniusnya memang selalu bisa diandalkan. Seringai pun tampak jelas terukir dari bibir pemuda itu.
"I'm coming Baby."
...****************...
Sementara itu di dalam kamar yang lain. Terdengar suara dengkuran halus dari seorang gadis yang tengah tertidur pulas di tempat tidurnya.
Kania. Gadis itu langsung terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal. Beberapa hari dia memang kurang tidur dan sering begadang mengerjakan skripsinya.
...Cklek...
Saking pulasnya, Kania bahkan tidak bergeming saat pintu kamarnya dibuka.
Aditya masuk dan mengendap-ngendap mendekati kekasihnya yang terbaring di tempat tidur.
Lalu dengan ekstra hati-hati dia naik ke tempat tidur dan merebahkan badannya di samping kekasihnya itu.
"Pulas banget tidurnya...," gumam Aditya pelan.
Sudah hampir setengah jam tapi mata Aditya masih saja betah memandangi wajah gadis pemilik hatinya yang tetap cantik tanpa polesan make up. Mengabaikan beberapa jerawat diwajah gadis itu.
Tiba-tiba Kania merubah posisi tidurnya membelakangi Aditya. Aditya pun menggeser badannya dan merengkuh Kania ke dalam dekapannya.
Dengan posisi seperti itu, Aditya bisa mencium wangi floral yang begitu lembut dari tubuh kekasihnya.
"Aku tidak bisa hidup tanpamu... Jangan tinggalkan aku...."
Aditya semakin memeluk erat kekasihnya. Dia tidak ingin berpisah dengan orang yang dicintainya... Lagi. Sudah cukup berat untuk Aditya ditinggal papinya, kalau sampai dia ditinggalkan Kania maka dia tidak akan bisa bertahan.
"Aku mencintaimu...," bisik Aditya di telinga Kania.
Lalu Aditya pun memejamkan mata dan menyusul Kania ke dunia mimpi. Entah apakah mereka bertemu atau tidak tapi sebuah senyuman terukir dibibir Kania.
...****************...
Matahari mulai terbit, menggantikan bulan menyinari alam.
Biasanya Kania selalu bangun jam enam tapi sampai jam setengah tujuh mata gadis itu masih terpejam hingga suara ketukan membangunkannya.
...Tok Tok...
"Kania! Sayang! Apa kamu sudah bangun?!" Suara Permata terdengar dari luar kamar Kania.
"Iya Mi...," jawab Kania dengan suara khas orang bangun tidur.
Saat Kania ingin beranjak bangun, dia baru sadar ada yang memeluknya dari belakang dan tanpa berpaling Kania tahu siapa orang yang memeluknya saat ini.
Aditya? Kenapa dia bisa tidur disini?
Kania tahu itu Aditya karena dia hapal dengan wanginya. Wangi menyegarkan yang membuatnya betah dan nyaman saat dipeluk oleh pria kecilnya itu.
"Sayang! Mami masuk ya!"
Mata Kania langsung terbuka lebar, sontak dia pun melepas tangan Aditya dan segera beranjak dari tempat tidurnya.
"Tu-Tunggu Mi! Kania keluar!" teriak Kania panik.
Kania membuka pintu kamarnya dan dengan cepat menutup kembali pintu itu. Dia tidak ingin Permata sampai melihat Aditya tidur di ranjangnya. Bisa terjadi salah paham yang akan membuat mereka berakhir di KUA.
Kania berusaha menyembunyikan kegugupannya di depan Permata yang menatapnya heran.
"Kamu kenapa?" tanya Permata.
"Eh? Engga apa-apa Mi hehe." Kania cengengesan.
"Kamu baru bangun?"
__ADS_1
"Iya, maaf ya Mi Kania jadi gak bantuin Mami nyiapin sarapan."
"Gak apa-apa Sayang, Mami ngerti, beberapa hari ini kamu selalu begadang jadi wajar kalau kamu bangun kesiangan."
Kania bersyukur ayahnya menikah lagi dengan wanita sebaik Permata. Meskipun ibu tirinya itu selalu bersitegang dengan putranya sendiri tapi dia tidak pernah diperlakukan berbeda dengan Aditya.
"Makasi Mi." Kania memeluk Permata.
"Iya Sayang." Permata membalas pelukan Kania dan mengelus rambut panjang gadis itu.
Kania melepas pelukannya dan memberikan senyuman termanis untuk wanita kesayangannya itu.
"Sayang, apa kamu hari ini ada acara?"
"Gak ada Mi."
"Kalau begitu kamu temani Mami ya, ambil rapotnya Aditya."
"Iya Mi, Kania siap-siap dulu."
"Pasti anak itu belum bangun."
"Tunggu Mi!"
Kania dengan cepat menghadang Permata yang akan membuka pintu kamar Aditya.
Permata kembali menatap heran anak tiri kesayangannya itu.
"Ada apa Sayang?"
"Bi-Biar Kania aja yang bangunin Aditya."
Jantung Kania kembali berdetak kencang saking gugupnya.
"O iya Mami lupa, kan sekarang tugas kamu bangunin Aditya."
"Iya Mi, makanya Kania aja yang nanti bangunin Aditya."
"Iya iya, kalau gitu Mami tunggu di bawah ya, kalian jangan lama-lama soalnya acara ambil rapotnya jam delapan."
"Ok, siap Mi!"
Setelah Permata turun ke lantai bawah, Kania kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Huuhh... Pagi-pagi udah dibuat panik."
Kania melihat Aditya yang masih terlelap. Dia pun berjalan menghampiri pria kecilnya itu dan duduk di pinggir tempat tidur.
"Dan semua gara-gara cowok satu ini, sejak aku mengenalnya hari-hari ku gak pernah tenang."
"Tapi aku bersyukur ketemu dia karena kalau gak ada dia, mungkin aku gak akan tahu rasanya jatuh cinta."
"Dan... Aku bakal terus nyakitin perasaan cowok yang minta ku jadi pacar mereka, bukan karena aku punya perasaan yang sama dengan mereka tapi rasa bersalah ku kepada Galih...."
Mendengar nama Galih membuat telinga Aditya sakit. Dia tidak bisa pura-pura tidur lagi. Hatinya mulai panas cuma karena nama Galih disebut kekasihnya.
"Apa aku juga termasuk?"
Mata Kania kembali terbuka lebar, dia tidak menduga Aditya sudah bangun dan mendengar ucapannya.
"Ka-Kamu udah bangun! Cepat kembali ke kamarmu dan bersiap! Mami udah nungguin kita di bawah!"
...Tap!...
Sebelum Kania beranjak dari pinggir tempat tidur Aditya dengan cepat menangkap pergelangan tangan kekasihnya.
"Apa aku juga termasuk? Apa kamu menerimaku dulu karena perasaan bersalahmu kepada pria itu?"
"Aku... Tidak...," jawab Kania lirih.
"Tidak apa?"
"Aku menerimamu bukan karena perasaan itu tapi...."
Aditya melihat pipi Kania yang mulai merona.
"Tapi apa?"
"Tapi... Tapi karena aku juga mencintaimu...."
"Hah? Apa? Lebih keras Baby, aku gak denger."
Bukannya gak denger tapi Aditya sengaja menggoda kekasihnya itu.
"Aku mencintaimu!" teriak Kania tepat di telinga Aditya.
Meskipun telinganya berdenging tapi Aditya senang mendengar kalimat manis itu dari kekasih hatinya.
"Puas? Udah denger, kan? Kalau belum denger juga hari ini aku minta Mami bawa kamu ke dokter THT!" ucap Kania ketus.
Aditya tertawa kecil, entah kenapa dia suka membuat Kania kesal dan merasa ada yang kurang kalau belum melihat wajah garang kekasihnya.
"Seneng ya udah godain aku dan bikin aku panik!"
"Masih pagi Baby, jangan marah-marah, nanti cepet tua, mending kasi morning kiss aja buat calon suami kamu."
__ADS_1
Aditya mendekatkan wajahnya dengan bibir dimonyongkan tapi dia malah mencium telapak tangan Kania.
"Kenapa kamu bisa tidur disini?"
"Cium dulu baru aku jawab."
"Gak! Jawab dulu!"
"Setelah aku jawab kamu harus kasi aku morning kiss!"
Kania melirik tajam Aditya yang tengah menatapnya dengan mata memelas. Istilahnya puppy eyes.
Apa-apaan matanya itu? Menyebalkan.
Meskipun menggerutu dalam hati tapi Kania tidak bisa menolak tatapan Aditya. Hatinya memang lemah.
"Huuh... Iya."
Senyuman Aditya semakin merekah. Sekarang dia tahu kelemahan kekasihnya itu dan dia akan memanfaatkannya dengan baik di masa depan.
"Kamu ingat tiga hadiah yang aku minta kemarin? Pertama, kamu harus selalu bersamaku selama 1x24 jam, kedua, kamu harus lakukan semua yang aku katakan 1x24 jam dan ketiga, kamu harus memanggilku sayang juga selama 1x24jam."
"Harusnya tepat jam 12 malam kamu tidur di kamarku tapi karena aku gak tega bangunin kamu jadi aku yang tidur disini," sambung Aditya.
Kania kembali ingat dengan hadiah yang diminta Aditya dan dia sadar sudah menyetujui semua permintaan itu kemarin malam.
"Nah, karena aku udah jawab sekarang kamu harus kasi aku morning kiss."
Kania meremat jari-jarinya, dia benar-benar gugup saat ini. Jantungnya berdetak kencang. Rona merah dipipinya sudah menjalar ke seluruh wajahnya.
Biasanya Aditya yang berinisiatif menciumnya lebih dulu sekarang dia yang harus mencium pria kecilnya.
Aditya tampak bersemangat menunggu Kania menciumnya. Dia ingin merasakan kembali keagresifan kekasihnya itu.
Ayo Baby! Cium aku! Aku bisa gila kalau menunggu terus seperti ini!
"Baby, morning kiss~" rengek Aditya.
"I-Iya, pe-pejamkan m-matamu," sahut Kania terbata-bata.
Dengan senang hati Aditya memejamkan matanya.
Kania menelan salivanya saat melihat bibir tipis Aditya.
"Baby? Kamu masih disini, kan?"
Aditya yang tidak juga mendapatkan morning kiss nya berpikir kalau Kania kabur meninggalkannya saat dia menutup mata.
"A-Aku disini."
"Mana morning kiss ku~ cepat Baby~ pokoknya aku gak mau pergi kemanapun sebelum dapat morning kiss dan kamu harus melakukan apapun yang aku katakan!"
"Iya iya, dasar gak sabaran."
Karena desakkan Aditya, mau gak mau Kania harus membuang rasa malunya.
...Cup!...
Tidak, tidak, bukan morning kiss seperti itu yang diinginkan Aditya.
"Sudah, sekarang aku mau mandi dan bersi-- Aaaahh!!"
Saat Kania akan beranjak Aditya menarik tangan gadis itu sehingga membuatnya berada di bawah kungkungan Aditya.
"Kesabaranku ada batasnya Baby."
Kania kembali menelan salivanya. Aura mendominasi begitu terasa dari pemuda yang berada di atasnya saat ini.
"Kamu tahu morning kiss yang aku inginkan tapi kenapa kamu melakukan itu?"
Jantung Kania semakin tak karuan saat jari Aditya menyentuh bibirnya.
"A-Aku... Aku...."
"Kiss me Baby."
Seketika punggung Kania menegang. Jantungnya serasa lepas dari tempatnya. Wajahnya semakin merah dan terasa panas.
Tidak, dia tidak bisa membohongi dirinya lagi. Dia juga menginginkan bibir itu, menciumnya dan melum*atnya.
Antara has*rat dan malu, akhirnya Kania memilih has*ratnya.
Kania mengalungkan tangannya dileher Aditya dan langsung mencium bibir pria kecilnya itu.
Aditya tersenyum disela ciuman mereka. Rasanya ingin sekali dia menjadikan Kania miliknya saat ini juga tapi melakukan hal intim sebelum resmi sama saja dengan menodai gadis yang dia cintai.
Tidak, dia tidak akan tega melakukan hal itu. Cintanya lebih besar dari apapun.
Sebelum ciuman mereka semakin panas, Aditya melepas tautan bibir mereka. Dia mengusap bibir Kania yang sedikit bengkak karena ulahnya.
"I love you Baby."
"I love you more Honey."
Dua sejoli itu pun sama-sama tersenyum. Mereka merasa pagi ini adalah pagi yang paling indah yang tidak akan pernah mereka lupakan.
__ADS_1
...****************...