
Biasanya setiap pagi Kania pasti membantu Permata menyiapkan sarapan tapi kali ini sepertinya dia harus absen karena saat dia datang, dia melihat makanan sudah tersaji di meja makan.
"Mi, maaf ya Kania gak bantuin Mami nyiapin sarapan."
"Gak apa-apa, ada Bibi yang bantuin Mami, kamu pasti begadang lagi ngerjain skripsi."
"Ah, itu... Aku...." Lidah Kania mendadak kelu, dia merasa lebih baik Permata tidak mengetahui perihal dia yang tidur di kamar Aditya.
Tidak Kania, jangan beritahu Mami, apa kamu tidak ingat yang dikatakan Aditya semalam? Kalau sampai Ayah dan Mami tahu kamu tidur sekamar sama Aditya, mereka pasti akan segera menikahkan aku dengan Aditya meskipun... Kami benar-benar hanya tidur... Eh? Tunggu! Kenapa aku merasa kecewa seperti ini?! Dan kenapa sekarang pikiranku selalu mesum?!
Akhirnya Kania cuma bisa nyengir menunjukkan deretan giginya kepada Permata.
"Kamu tuh ya, kalau waktunya istirahat ya dipakai untuk istirahat, jangan memaksakan diri soalnya kalau kamu sakit nanti bakal ada yang heboh sendiri, kamu tahu kan siapa yang Mami maksud?" ucap Permata sambil melirik kearah Aditya yang sedang berjalan menghampiri mereka.
Tentu saja Kania tahu siapa yang dimaksud Permata apalagi saat melihat arah lirikan mata maminya itu.
"Pasti lagi ngomongin aku," tebak Aditya.
"Pede banget sih!" celetuk Kania.
Aditya pun mencubit kedua pipi Kania. Dia masih "dendam" dengan wanitanya itu karena tadi sudah menamparnya.
"Lepasiiin~ Sakiit~ Mamiii~ Aditya niih~" rengek Kania meminta pertolongan Permata.
"Aditya udah, kamu tuh masih pacaran aja udah sering nyiksa Kania apalagi kalau udah jadi suami? Kalau Mami jadi Kania, Mami pasti bakal mikir lagi buat nikah sama kamu," cibir Permata.
"Mami gak tahu kan kalau anak Mami juga sering disiksa sama calon menantu Mami iniii," ucap Aditya sambil menarik-narik pipi Kania seperti sedang bermain boneka squishy.
"Pasti karena kamu duluan yang bikin Kania kesel makanya dia nyiksa kamu, udah udah lepasin pipi Kania, emangnya kamu gak kasian sama Kania?"
"Dia aja tadi gak kasian udah nampar aku, bukannya minta maaf malah teriak terus kabur gitu aja," cibir Aditya.
"Kamu ditampar? Kenapa?" tanya Permata heran.
"Tanya aja sama calon menantu kesayangan Mami."
Aditya pun melepaskan tangannya dari pipi Kania.
"Kamu isengnya keterlaluan sih makanya Kania nampar kamu, ayo ngaku tadi kamu ngapain Kania?" selidik Permata.
"Aku tadi masih tidur Mi terus tiba-tiba ditampar."
"Oooh~ Mami tahu, Kania pasti geregetan karena kamu susah dibangunin makanya dia nampar kamu, benar begitu kan Sayang?"
"Iya Mi, tadi Aditya susah banget dibangunin jadi Kania terpaksa pakai cara kekerasan," timpal Kania.
"Tuh kan, makanya kalau dibangunin ya bangun jangan bikin orang geregetan," cibir Permata.
"Denger tuh, jangan bikin geregetan," celetuk Kania yang langsung mendapat tatapan tajam dari Aditya.
"Kamu tuh yang bikin geregetaaaan." Aditya kembali berulah, kali ini dia mengacak-acak rambut Kania.
"Iiih nanti rambut aku kusut!"
Kania yang kesal rambutnya dibuat berantakan mencubit lengan Aditya.
"Aaaah! Sakit Baby~" ringis Aditya kesakitan sambil mengusap-usap lengannya yang terasa perih.
__ADS_1
Baru kali ini Aditya merasakan betapa pedasnya cubitan Kania.
"Kakak gak boleh gitu sama Aditya! Ayo minta maaf," tegur Hendra yang baru datang. Kebetulan tadi dia melihat saat Kania mencubit lengan Aditya.
"Tapi Yah--"
Kania menelan kata-katanya lagi saat melihat ekspresi ayahnya yang tidak mau dibantah.
"Maaf...," ucap Kania lirih.
"Hah? Apa? Aku gak denger, kamu ngomong apa tadi?" Aditya pura-pura tidak mendengar ucapan Kania karena ingin menggoda wanitanya itu.
Kania melirik tajam lalu menarik kasar kerah seragam Aditya.
"Maaaaafff!" teriak Kania tepat di telinga Aditya.
Aditya tersentak dan refleks menutup telinganya yang berdengung.
"Kakak!" tegur Hendra.
"Aditya juga salah Mas, daritadi dia godain Kania terus."
"Kamu jangan belain Kania terus, dia tetap aja salah karena sudah kasar sama Aditya."
"Aku gak belain Kania tapi Aditya yang emang iseng Mas," sangkal Permata gak mau kalah.
Saat kedua orang tua mereka tengah beragumen, Aditya dan Kania saling melirik.
"Kamu sih," tuduh Kania.
"Dasar gak mau kalah!" cibir Kania.
Aditya hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya lalu dengan santai duduk di kursi.
Kalau sudah begini, Kania lah yang harus menengahi kedua orang tua mereka.
"Ayah, Mami, aku sama Aditya tadi udah saling minta maaf jadi kalian jangan ribut lagi ya."
"Bagus lah kalau begitu, lain kali jangan diulangi lagi ya, sekesal apapun kamu gak boleh kasar," ucap Hendra tegas.
"Kalau nanti Aditya kasar sama kamu, bilang aja sama Mami biar nanti Mami yang balas," celetuk Permata.
"Sayang, sebagai orang tua kita gak boleh mendidik anak dengan kekerasan, lebih baik kita ajak mereka berkomunikasi daripada melakukan sesuatu yang bukan hanya melukai fisik tapi juga psikis mereka."
Niatnya Permata mau belain calon menantu kesayangannya, eh malah kena tegur suaminya juga.
Mendengar ucapan Hendra tadi mengingatkan Aditya dengan sosok papinya yang tidak pernah memakai cara kekerasan untuk mendidiknya.
Drama keluarga itu pun berakhir dan mulai menyantap sarapan mereka.
...****************...
Setelah sarapan, Permata dan Kania mengantarkan pria yang mereka cintai sampai di pintu depan.
"Aku berangkat dulu ya," pamit Hendra.
"Hati-hati ya Mas."
__ADS_1
Hendra mencium kening Permata lalu bergegas masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan supirnya.
Sedangkan Aditya masih gelayutan memeluk lengan Kania.
"Kamu gak berangkat juga?" tanya Kania.
"Aku maunya sama kamu aja di rumah, gak mau ke sekolaaah~" rengek Aditya manja.
"Kalau kamu absen nanti bisa berpengaruh ke nilai, kamu gak lupa kesepakatan kita, kan?"
"Padahal aku udah nyiapin hadiah spesial buat kamu." Kania sengaja memprovokasi Aditya agar dia bisa lolos dari tingkah manja calon suami kecilnya itu.
Karena kalau sampai dibiarkan, Kania pasti tidak akan bebas melakukan apapun karena Aditya yang terus menempel dengannya dan selalu minta diperhatikan olehnya.
"Hadiah?!" Mata Aditya langsung berbinar-binar mendengar kata hadiah.
"Iya, hadiah SPESIAL tapi kalau kamu absen terus nilai kamu dikurangi otomatis kamu gagal dan tidak akan mendapatkan hadiah SPESIAL dari aku."
"Sekarang kamu pilih, pergi ke sekolah atau gak dapet hadiah yang udah aku siapkan KHUSUS buat kamu?" pancing Kania.
"Apa hadiahnya?" tanya Aditya penasaran.
"Ra-ha-sia, nanti kamu juga tahu, itu pun kalau kamu berhasil."
"Bukan kalau tapi PASTI berhasil jadi aku mau hadiah yang aku dapatkan nanti benar-benar spesial."
"Iya aku tahu, tenang aja, hadiah dariku benar-benar spe-sial."
"Yaudah aku berangkat dulu ya tapi...."
Aditya sengaja mendekatkan pipinya tapi Kania hanya diam saja.
"Tapi apa?" Kania pura-pura tidak mengerti maksud Aditya melakukan hal itu.
"Baby~ kamu tahu maksudku~ cepatlah~ aku bisa telaaat~" rengek Aditya.
Meskipun awalnya menyebalkan mendengar rengekan pria kecilnya itu tapi sekarang Kania malah menikmatinya bahkan dia merasa gemas tiap kali pria itu merengek kepadanya.
...Cup!...
Wajah Aditya langsung sumringah saat Kania mengecup pipinya.
"I love you Baby!"
Setelah membalas kecupan Kania, Aditya pun bergegas menuju motornya yang terparkir di garasi.
"I love you, hati-hati ya! Jangan ngebut!" teriak Kania.
Aditya yang mendengarnya segera berbalik dan membuat finger love dengan jarinya lalu tersenyum manis.
Melihat hal itu, jantung Kania berdetak kencang dan pipinya pun merona.
"Ih apaan sih?! Norak!"
Meskipun bibir Kania berkata seperti itu tapi sebenarnya dia senang Aditya melakukan hal manis untuknya.
...****************...
__ADS_1