MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
BERTEKAD


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Riko hendak memegang dagu Jingga, memberikan pelajaran kepada gadis yang keras kepala dan sudah pandai melawan itu. Akan tetapi Jingga berhasil menangkis tangan Riko dan mengarahkannya untuk menyentuh perut ratanya. Seketika Riko terdiam merasakan sebuah pergerakan dalam perut Jingga yang ia tidak tau apa itu.


Wajah seram Riko berubah menjadi kebingungan dan ia terpaku menatap ke tangannya yang berada di atas perut Jingga.


"Rasakan lah, dia itu ada di sini. Karena itu gue nggak bisa mengugurkan dia." Ujar Jingga yang masih menahan tangan Riko agar tidak beranjak dari perutnya. Beberapa kali tendangan dari bayi begitu keras, sempat membuat Jingga mengigit bibirnya sendiri, menahan rasa ngilu diperutnya. Usia bayi dalam kandungan Jingga memang telah masuk minggu ke 17, sehingga beberapa hari terakhir ia telah merasakan pergerakan serta tendangan dari si janin.


'Apa itu? Kenapa ada yang bergerak-gerak dalam perut Jingga? Kenapa rasanya ia menyambut tangan ku dengan begitu ceria.' batin Riko bertanya-tanya. Ia bahkan tidak berniat untuk menarik tangannya kembali. Bahkan rasa untuk memberikan pelajaran terhadap Jingga sudah hilang dengan sekejap.


"Kamu merasakannya?" Tanya Jingga setelah beberapa saat Riko terpaku. Bahkan rasa kesal Jingga tiba-tiba hilang dan malah sedikit senang. Sebenarnya itu adalah ngidamnya sejak beberapa hari lalu, anak dalam kandungan nya ingin sekali Riko menyentuh perutnya. Jingga merasa sangat lega setelah Riko meletakkan lama tangannya di perut.


Pertanyaan Jingga membuat Riko tersadar dan menarik tangannya. Ia tampak kebingungan.


"Apaan sih, nggak terasa apa-apa!" Serunya salah tingkah dan melangkah keluar kamar.


'Ini gara-gara kamu Dek, Ibu dengan terpaksa memberanikan diri kepada Ayah mu. Untung saja dia tidak marah besar setelah Ibu melakukan ini.' gumam Jingga dalam hatinya. Beberapa minggu terakhir Jingga memang telah sering mengajak bicara anak dalam kandungan nya.

__ADS_1


***


Di lain tempat. Bella memilih untuk ikut bersama Dito menuju ke luar kota. Sepanjang jalan ia tidak hentinya menangis dan juga melamun. Bahkan Dito juga sempat emosi setelah mendengarkan cerita Bella, sehingga ia tidak merasa bersalah membawa kabur Bella dari kediaman Ken Wijaya.


Setelah perjalanan beberapa jam. Dari malam hingga kini telah subuh akhirnya Bella sampai di kota baru. Tempat dimana Dito akan bekerja, salah satu cabang perusahaan milik Arya Wijaya.


Dito memberhentikan mobil nya di sebuah rumah ditepian kota yang tidak jauh dari perusahaan. Saat akan mengatakan bahwa mereka telah sampai, Dito melihat Bella tertidur pulas. Ia mungkin merasa lelah setelah menangis sepanjang perjalanan. Dito tidak enak hati membangunkan Bella, akan tetapi ia juga tidak mungkin membiarkan Bella tidur di dalam mobil. Apalagi ia masih menggunakan gaun pesta pernikahan nya yang berat dan pasti sangat panas.


"Bel, ayo bangun. Kita sudah sampai." Ujar Dito menepuk-nepuk pipi Bella. Wanita itu menyipitkan matanya, perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya yang sembab dan memerah.


"Kita dimana kak?" Tanya Bella celingukan memerhatikan bagian diluar mobil. Sebuah rumah tengah kota yang melekat dengan berbagai gedung dan ruko di sampingnya.


"Terimakasih ya kak, maaf aku udah ngerepotin kakak sejauh ini. Sampaikan juga kepada Vino atas bantuannya menghilangkan jejak kepergian ku." Ucap Bella tulus. Dito langsung mengangguk mantap sambil tersenyum hangat. Tanpa menjawab ia mulai turun dari mobil dan segera mengeluarkan beberapa barang untuk ia letakkan ke dalam rumah.


Vino adalah orang yang telah membantu Dito untuk menghilangkan jejak kepergian Bella. Oleh karena itu baik Arya ataupun Rael tidak akan pernah menemukan petunjuk sedikitpun. Karena Dito adalah seorang hacker yang luar biasa dan tidak akan sia-sia melakukan pekerjaannya. Vino yang awalnya tidak mau membantu seketika berubah pikiran setelah Bella menceritakan hal buruk yang dilakukan Rael kepada dirinya. Tentu Vino membantu Bella, ia ikut merasa bersalah atas perbuatan sahabatnya itu. Hanya saja Vino berbuat tanpa tau kebenaran yang sebenarnya.


***

__ADS_1


Selang beberapa jam kemudian. Bella yang telah selesai mandi dan ia memakai kaos over size serta celana boxer milik Dito. Ia awalnya begitu kebingungan, karena tidak tau harus mengganti gaun pesta pernikahan nya yang kurang nyaman itu. Untung saja Dito memberikan solusi sementara agar Bella lebih nyaman dan terasa segar.


"Waah ternyata kebesaran ya Bel." Seru Dito saat melihat Bella keluar dari kamarnya. Dito kini tengah menata sarapan di atas meja, ia juga begitu sudah lapar karena perjalanan yang begitu menguras tenaga.


"Nggak apa-apa kok kak. Dari pada pakai gaun itu, udah berat bikin gerah juga." Sahut Bella tersenyum manis sambil melangkah ke arah Dito.


"Nanti siang bakal ada tukang paket datang ke sini. Aku udah mesan beberapa pakaian lewat online shop buat kamu. Kamu juga boleh beli kebutuhan mu yang lainnya dengan handphone aku. Lagian kan handphone kamu terpaksa aku matikan dulu, agar tidak ada hacker yang bisa melacak kita." Ungkap Dito sambil mengisyaratkan Bella untuk duduk di kursi meja makan.


"Terimakasih sekali lagi ya kak, maaf kalau uang kakak habis gara-gara aku.  Aku benar-benar sebal. Seharusnya aku menyimpan beberapa uang cash di dalam tasku, ini malah hanya ada beberapa ATM di dompet. Kalau dipakai pun pasti akan membuat Rael ataupun Kakek Arya tau keberadaan kita." Ujar Bella kesal. Ia merutuki dirinya yang malas sekali menarik uang cash untuk di simpan di dalam dompet. Mungkin karena keseharian nya yang terbiasa menggunakan ATM membuat Bella tidak pernah berniat untuk menarik uang cash. Bahkan di dalam dompetnya hanya terdapat recehan, itupun digunakan Bella untuk membayar parkir.


"Tidak masalah Bel. Aku akan membantu kamu sampai kapanpun dan sebagaimana mampu ku. Aku juga tidak rela menyerahkan kamu ke tangan Rael yang banjingan itu!" Geram Dito dengan wajah yang memerah kesal.


"Sudahlah kak, sekarang kita jangan membahas Rael lagi. Aku jengah hanya dengan mendengar namanya. Mulai hari ini aku bertekad untuk memulai kehidupan baru dan status baru di kota ini." Ujar Bella dengan semangat. Ia teringat akan anak yang ia kandung dan tidak mau terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Bella mencoba untuk melupakan Rael dan kejadian malam tadi.


Yang membuatnya tidak habis pikir, kenapa Rael berhasil tergoda akan rayuan Adelia. Padahal dari dulu Bella tau bahwa Rael sangat membenci Adelia. Batinnya terus bertanya-tanya soal itu, akan tetapi Bella mencoba menepisnya dengan memikirkan lembar baru untuk hidupnya kali ini.


"Bagus itu Bel, aku suka kamu tersenyum seperti ini. Aku mendukung semua keputusan kamu. Tetapi saat ini mari kita sarapan dulu, habis ini baru kita bercerita lagi." Ajak Dito yang langsung diangguki oleh Bella.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2