
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Beberapa saat mereka sama-sama terdiam. Vini masih menatap Vino dengan tatapan kaget. Namun, seperti kian detik kemudian klakson dari mobil belakang membuyarkan tatapan mereka.
Vini merasa ditangkap basah karena sudah menatap Vino, sehingga ia langsung salah tingkah dibuatnya. Sedangkan Vino langsung menjalankan mobil kembali.
"Apaan sih Lo, kalau becanda jangan kelewatan. Anak bau pesing aja sok-sokan mau nikahin orang." Celetuk Vini menatap jalanan tanpa mau menatap lawan bicaranya, Vino yang tengah menyetir.
"Aku tau kalau kamu menganggapnya becanda, tapi aku bakalan buktikan beberapa tahun yang akan datang bahwa kamu akan jadi istri aku." Ujar Vino dengan yakin. Akan tetapi Vini malah terkekeh dan menatap cemooh ke arah Vino.
"Hehehehe... Sorry ya, Gue nggak mau nikah sama brondong kayak Lo. Udah umur kita beda, status kita juga beda kali. Gue itu dosen Lo dan Lo itu mantan mahasiswa Gue." Perjelas Vini dengan tersenyum miring.
"Tapi kan kamu sendiri yang minta pertanggungjawabannya dari aku." ujar Vino membuat Vini sesaat terdiam.
"Tapi bukan itu juga maksud Gue." jawab Vini kemudian.
"Tapi itu maksud aku." balas Vino yang masih fokus pada mengemudi.
"Serah Lo deh, Gue malas berdebat dengan brondong kayak Lo. Sekarang yang penting Lo mau bawa Gue kemana? Apa jangan-jangan Lo mau culik Gue?" ucap Vini yang terdengar agak sedikit dramatis. Vino malah mengehela nafas berat.
"Itu pikiran buruk kamu mending di cuci dulu deh, biar bersih dan nggak berprasangka buruk lagi sama orang!" titah Vino menatap malas pada Vini.
"Ya mana tau kan? Apalagi Lo kan tergila-gila sama Gue." Sahut Vini dengan percaya dirinya.
"Senyaman kamu aja deh." Jawab Vino yang akhirnya menyerah untuk berdebat dengan Vini. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah toko sepatu yang ternama. Vini yang sadar saat mobil diberhentikan saat di depan tokoh, langsung menatap takjub ke arah Vino.
"Lo mau beliin Gue sepatu ya?" tanya Vini tanpa basa basi.
"Ya beli sepatu lah, masa iya ke sini beli ikan asin." jawab Vino ngasal, mendapat kekehan dari Vini.
__ADS_1
"Hehehe... Ya udah ayuk! Gue belum pernah masuk ke tokoh ini, ayuk!" Ajak Vini yang terlihat sangat antusias. Ia menarik Vino ke dalam tokoh tanpa sadar bahwa dirinya tidak memakai alas kaki. Vino malah terpesona dengan kecantikan Vini yang terlihat sangat bahagia.
"Cantik." gumam Vino tanpa sadar akan tetapi sayup-sayup di dengar oleh Vini.
"Ha, apa? Tadi Lo bilang apa?" tanya Vini saat mereka telah sampai dalam tokoh itu.
"Nggak ada, Lo pilih aja sepatunya biar nanti Gue yang bayar." ujar Vino yang sudah salah tingkah. Gugup karena hampir saja ditangkap basah oleh Vini setelah memujinya. Tanpa menjawab Vini lansung melihat-lihat sepatu yang berada di dalam tokoh.
'Ternyata Gue benar-benar suka sama Lo Bu Dosen.' batin Vino kemudian. Ia memandangi Vini dari kejauhan tanpa mau merusak mood gadis itu.
"Siang tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pelayan yang ntah dari mana datangnya. Padahal saat mereka masuk tadi tidak ada pelayan, hanya kasir yang duduk di tempatnya.
"Saya tidak butuh apapun, tolong layani kekasih saya saja. Ini kartu ATM saya." Titah Vino sambil memberikan sebuah black card miliknya.
"Baiklah tuan." jawab pelayan itu yang kemudian melangkah meninggalkan Vino yang duduk di sebuah kursi tunggu.
Beberapa menit kemudian. Vini menghampiri Vino dan memperlihatkan sepatu yang ia pilih. Akan tetapi pilihan Vini malah membuat Vino mengerutkan keningnya.
"Gue pilih ini ya." ujar Vini memperlihatkan sepatu yang ia pilih itu.
"Aduh selera kamu kenapa jelek amat sih?" Tanya Vino saat melihat sepatu yang Vini pilih. Sepatu yang terlihat biasa itu tampak tidak memukau di kaki Vini.
"Ini yang murah, selebihnya mahal-mahal. Ntar uang jajan Lo abis, Gue juga tau kalau Lo pengangguran." bisik Vini membuat Vino terkekeh.
'Ini yang Gue suka sama Lo Vini. Meski mulut Lo itu nggak bisa di kasih pagar tapi hati Lo itu baik banget. Lo selalu mikirin orang lain dari pada diri Lo sendiri.' gumam Vino memuji Vini dalam hatinya.
"Hahaha... gini-gini Gue banyak uang kok. Lo tenang aja. Mbak kesini sebentar!" Ujar Vino yang berdiri dari duduknya dan memanggil pelayan tadi yang sempat menanyainya.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu setelah sampai di hadapan mereka.
__ADS_1
"Tolong ambilkan sepatu yang paling berkelas, mewah dan mahal di tokoh ini. Kalau bisa yang limited edition karena saya tidak suka sesuatu yang juga dimiliki orang lain." titah Vino membuat Vini melongo kaget.
"Baiklah tuan, tunggu sebentar saya bawakan ke sini." ujar Pelayan itu yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Vini dan Vino.
Melihat kepergian pelayan itu, Vino mencubit lengan Vino dengan sedikit keras.
"Awww... sakit tau." erang Vino meringis saat merasakan sakit di lengannya.
"Lo ngomong apaan sih? Mikir dulu nggak sebelum bicara? Emangnya Lo bisa bayar sepatu seperti itu? Gue nggak mau malu ya nanti!" ujar Vini mencemooh Vino dengan ekspresi wajah yang masih terkejut.
"Tenang aja, kamu nggak bakal malu kok. Sekarang gini aja, kamu duduk di sini dan coba sepatu itu. Kalau kamu suka, aku akan belikan." ujar Vino tersenyum manis menatap Vini. Gadis itu hanya menuruti ucapan Vino dan duduk di sebelahnya. Vini masih terpaku dan menatap kosong ke arah pelayan yang sudah melangkah ke arah mereka.
"Ini sepatu limited edition yang tokoh kami punya tuan. Baru keluar beberapa hari lalu dan cuma 2 pasang di produksi di sini." jelas pelayan itu yang sudah mengarahkan Vini untuk mencobanya. Vini dengan bantuan Pelayan itu pun langsung memakai sepatu hitam yang bermutiran mutiara itu dengan sangat pas.
"Sangat indah sekali." puji Vino saat melihat Vini berdiri di hadapannya sambil menunjuk sepatu itu.
"Harganya berapa Mbak?" tanya Vini kemudian. Ia pura-pura tidak memperdulikan pendapat Vino, padahal dalam hatinya ia begitu merona.
"850 dolar nyonya." ujar Pelayan itu yang membuat Vini semakin melongo kaget. Ia dengan segera melepaskan sepatu itu dari kakinya dan meletakkan kembali ke dalam kotak.
"Vin, Gue cari yang lain aja ya." Ujar Vini tersenyum kikuk. Ia membayangkan harga fantastis yang disebutkan oleh pelayan itu. Jika dirupiahkan sudah hampir mendekati 13 juta rupiah.
"Tolong bayar ini ya mbak, saya beli ini saja." ujar Vino dan mengambil kembali sepatu itu dari kotak. Si pelayan lansung pergi ke kasir untuk membayarkan sepatu yang dibeli oleh Vino.
Vino menarik Vini kembali duduk, ia masih terdiam dan bingung harus berkata apa. Vino berlutut di depan Vini dan memakai kan sepatu itu dengan sangat pas.
'Apa Gue lagi mimpi? Kenapa Vino bersikap seperti ini? Sebelumnya Gue memang pernah berkeinginan untuk memiliki pangeran berkuda putih seperti ini. Tapi itu hanya mimpi, kenapa menjadi nyata seperti ini?' Gumam Vini dalam hatinya, yang masih tidak percaya akan perbuatan Vino yang mengejutkan sekali.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1