MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
SEDIKIT PEDULI


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Kediaman Indarko.


Sedari pagi Jingga tidak mau keluar kamar ataupun hanya sekedar untuk sarapan. Bahkan Kartika, sang mertua sudah membujuk sedari tadi. Akan tetapi ia masih keras kepala.


Namun perbuatan Jingga ini tidak ada maksud lainnya, ia merajuk kepada Riko karena tidak memperbolehkannya pergi ke kediaman Wijaya, menghadiri perayaan pesta pernikahan Bella dengan Rael.


Siang itu Riko pulang dari kantor, semenjak menikah dengan Jingga ia memang telah bekerja di perusahaan Indarko. Meski dihatinya tidak mau tetap saja Riko dipaksa oleh sang Ayah sebagai bentuk rasa tanggungjawab nya kepada Jingga.


"Jingga mana Bu? Tumben dia tidak duduk di teras siang-siang begini. Biasanya udah selonjoran di sana." Tanya Riko yang tampaknya telah sedikit peduli pada Jingga. Meski Riko masih belum menerima kesalahan yang ia perbuat, bahkan ia masih sering memarahi Jingga. Tanpa berfikir akan menyakiti perasaannya.


"Sedari pagi ngga mau keluar kamar. Katanya nggak lapar, kamu samperin gih. Ibu takut nanti kesehatan bayi kalian terganggu." Ungkap Kartika sambil menyerahkan sebuah nampan berisi segelas susu hamil dan juga makanan berat lainnya.


Riko mengangguk dan menerima pemberian sang ibu.


"Kenapa sih dia keras kepala sekali? Hanya tinggal jaga kesehatan saja begitu susah!" Gerutu Riko yang telah melangkah menuju kamar mereka. Kamar Riko terpaksa pindah ke lantai bawah karena mengingat Jingga yang tengah hamil. Mereka tidak ingin mengambil resiko jika Jingga harus naik turun tangga.


Sayup-sayup Kartika mendengar gumaman Riko, ia tersenyum tipis. Mengingat bahwa anaknya tampak telah sedikit berubah dan juga sedikit peduli kepada Jingga. Tidak seperti awal-awal mereka menikah beberapa minggu lalu, selalu emosian dan marah-marah tidak jelas.


***

__ADS_1


Riko membuka pintu kamar. Melihat ke setiap sudut kamar akan tetapi ia tidak bisa menemukan Jingga.


"Woii... Lo dimana?" Serunya yang tidak ramah sedikitpun.


Hueek... Huekkk... terdengar suara orang muntah dari dalam kamar. Membuat Riko seketika panik, ntah kenapa rasa dalam dirinya mulai menganggap berbeda setiap yang berhubungan dengan Jingga.


Riko meletakkan napan tadi di atas meja dan melangkah cepat ke dalam kamar mandi. Di sana ia melihat bahwa Jingga telah terduduk lemah sambil menangis. Sedangkan Jingga ikut membalas tatapannya dengan sendu. Hari ini perutnya betul-betul membuat tenaganya terkuras habis, rasanya semua isi perut sudah ia keluar.


Tanpa berucap, Riko mengendong Jingga ala bridal style menuju ranjang. Jingga juga sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Riko, karena akhir-akhir ini dirinya sering muntah tiba-tiba dan itu membuatnya sangat lelah.


Setelah mendudukkan Bella di atas tempat tidur. Riko mengambil kembali nampan yang ada di atas meja untuk ia serahkan kepada Jingga.


"Ini makan!" Titahnya dengan ketus. Jingga langsung mengeleng setelah ia menyapu bekas air mata di pipinya.


"Tapi Lo harus makan!" Titah Riko kembali. Akan tetapi Jingga semakin menggeleng-geleng.


"Nggak mau!" Teriaknya membuat Riko emosi seketika. Ia muak dengan sikap Jingga yang tidak mau menuruti permintaan nya. Riko melemparkan nampan berisi isinya itu ke dinding kamar, sehingga membuat bunyi pecahan kaca yang begitu keras.


"Terus Lo maunya apa ha? Sudah di kasih hati malah minta jantung! Kalau Lo nggak bisa jaga kesehatan Lo, mending Lo gugurin aja anak itu! Gue muak lihat Lo kayak gini terus." Sarkas Riko membuat Jingga dua kali lipat kaget. Ia tidak tau harus berucap apa karena begitu syok mendapatkan tindakan keras Riko. Bahkan saat ini lantai sudah dipenuhi oleh beling.


"Kenapa sih Lo selalu minta buat gugurin anak ini? Lebih dari Lo, dari dalam lubuk hati Gue, ingin sekali mengugurkan anak ini. Tapi Lo nggak akan pernah tau rasanya mengandung, ada rasa yang buat Gue nggak bisa lakukan itu. Gue juga nggak minta Lo peduli sama Gue, Gue bisa hidup sendiri!" Sarkas Jingga dengan mata merah menahan tangis menatap ke arah Riko yang berdiri di sebelah ranjang.

__ADS_1


"Terserah yang Lo ucapan kan. Tetapi kalau Lo masih mau mempertahankan anak itu, gue cuma minta jaga kesehatan Lo! Tapi kalau sikap Lo kayak gini, mending kita gugurkan saja! Kalau perlu Lo juga sekaligus mati, biar Gue hidup tenang." Sahut Riko sambil menunjuk ke arah perut Jingga.


"Suatu saat Lo akan menyesali ucapan Lo itu Riko." Singkat Jingga yang tidak bisa melanjutkan lagi kalimatnya. Hatinya begitu teriris akan ucapan Riko. Setiap hari ia selalu berucap agar meminta Jingga untuk mengugurkan anaknya. Bahkan Jingga berfikir apakah Riko itu seorang psikopat, yang bahkan tidak menyayangi darah dagingnya sendiri.


Sedangkan Riko yang mendengar ucapan Jingga sangat merasa tersentil hatinya. Sebenarnya ucapannya itu hanya ancaman agar Jingga mau makan. Apalagi akhir-akhir ini Riko mulai merasa sedikit simpatik pada bayi dalam kandungan Jingga.


"Astagfirullah, ada apa ini?" Tanya Kartika yang tiba-tiba datang membuka pintu. Ia yang tadinya tengah menyiapkan makan siang dimeja makan malah kaget mendengar pecahan kaca dari dalam kamar Jingga dan Riko.


"Ibu nggak usah ikut campur, ini urusan aku dengan Jingga!" Seru Riko mendorong ibunya keluar kamar dan langsung mengunci pintu kamar dari dalam.


Setelah mengunci pintu ia membalik kan badan, menatap Jingga dengan tajam. Jingga yang di tatap pun juga tidak mau kalah menatap tajam, setelah beberapa terapi psikologis yang ia ikuti. Sekarang trauma Jingga sudah jarang kambuh, bahkan berhadapan dengan Riko yang biang traumanya.


"Gue tau Lo orang kaya, Lo punya segalanya. Tapi Lo nggak bisa merenggut anak ini, karena bagi Gue hanya anak inilah keluarga Gue satu-satunya. Gue nggak bisa menghancurkan kehidupan nya bahkan sebelum melihat dunia ini." Ungkap Jingga meraba perutnya yang mulai sedikit berbentuk.


"Jangan munafik Lo, kalau Lo mikir kayak gitu sedari dulu. Kenapa hari itu Lo mau bunuh diri?" Seru Riko melangkah ke arah Jingga. Ucapan Riko memang benar adanya, akan tetapi itu Jingga anggap hanyalah sebagai kesalahannya di masa lalu.


"Karena dulu itu Gue berfikiran pendek. Tapi sekarang gue udah sadar, nggak kayak Lo yang nggak sadar-sadar!" Cibir Jingga dengan kesal tanpa menatap lawan bicaranya.


"Gue sadar! Kalau Gue nggak sadar, nggak mungkin Gue tanggung jawab dan peduli sama Lo kayak sekarang." Sahut Riko yang masih tidak mau di salahkan.


"Apa itu yang namanya tanggung jawab! Lo lelaki biadab yang pernah gue kenal. Bahkan seorang yang merasa sebagai suami dan calon Ayah tidak akan berbuat se-kasar itu! Tetapi gue paham, perkataan Lo saja sudah melukai hati, apalagi perbuatan Lo itu!" Tunjuk Jingga pada beling yang berserakan di lantai. Mendengar hal itu membuat Riko melangkah ke arah Jingga dengan tatapan tajam dan dingin. Bahkan Jingga seketika merinding di buatnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2