
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Arya menatap ketiga manusia di depannya untuk menunggu Jawa dari mereka. Sepertinya Indarko berfikir keras, ia tau sekali sifat Arya yang tidak mau rugi sedikit pun bila membantu orang lain.
"Memang nya apa syarat anda?" tanya Indarko dengan datar. Mendengar hal itu membuat Arya tersenyum tipis.
"Sebagai jaminan nya, semua saham yang berhasil saya dapatkan kembali kita bagi dua. Dan satu lagi, anak Riko dan Jingga kami yang mengurus selama kalian di luar negri. Jika perlu ia akan saya masukkan ke dalam kartu keluarga Rael dan Bella. Itu pun kalau kalian setuju?" jelas Arya membuat Riko refleks menggeleng-geleng.
"Maksud anda apa? Bayi itu manusia, tidak seperti barang yang bisa diperjualbelikan!" berang Riko sedikit memberanikan diri menatap Arya.
Walaupun emosinya tinggi mendengar ucapan Arya tetap saja Riko berusaha sopan dan hormat.
"Saya tidak bilang kalau kita memperjualbelikan anak mu Riko! Tapi saya hanya ingin kalian tidak perlu kerepotan mengurus bayi itu. Apalagi ia membutuhkan perawatan yang intensif di sini, itu akan membuat kebutuhan kalian semakin bertambah. Kamu sekarang memilih untuk menyelamatkan dia yang jelas-jelas sudah selamat atau istri mu yang nyawanya tengah terombang-ambing?" terang Arya yang sebenarnya berniat baik.
Ia tidak ada maksud lain untuk mengambil bayi itu dari keluarga Indarko. Pemikiran nya hanya ingin menolong keluarga Indarko sehingga lebih fokus pada pengobatan Jingga dan perusahaan mereka yang sebentar lagi akan bangkrut.
Riko terdiam mencerna ucapan Arya. Ia mengerti dengan niat baik Arya yang ingin membantu keluarga nya. Akan tetapi, Riko tidak bisa kehilangan bayi nya begitu saja. Apalagi bayi itu akan di jadikan anak keluarga Wijaya.
Namun pemikiran Riko kembali berputar-putar setelah teringat kondisi Jingga. Gadis itu makin kritis dan benar-benar membutuhkan perawatan di luar negri.
Riko bingung dalam memutuskan masalah ini.
Sedangkan Indarko merasa tidak masalah ketika saham perusahaan nya harus dibagi dua dengan perusahaan Wijaya. Hanya saja niat baik Arya untuk merawat cucunya membuat Indarko ikut ragu.
"Tidak masalah, kami setuju!" ujar Kartika tanpa memutuskan dulu dengan Riko dan Indarko.
Kartika lebih mementingkan Jingga yang kini tengah sekarat. Kalau di pikir-pikir lebih baik juga bila bayi itu di rawat oleh Arya. Kebutuhan perawatan nya akan banyak menguras uang. Lagian Arya juga tidak akan mungkin menutupi orang tua kandung dari cucu nya itu.
Kartika ingin saat ini Jingga dulu yang selamat, gadis malang itu benar-benar telah tersiksa selama hidupnya. Untuk urusan cucunya Kartika rasa ia tidak perlu mengkhawatirkan nya terlalu jauh. Toh, bila Jingga sudah sembuh ia akan mengambil cucunya kembali. Lagian hidup di kediaman Wijaya adalah impian banyak orang.
__ADS_1
Riko dan Indarko serentak melongo menatap ke Kartika.
"Kalau kalian setuju, saya akan urus administrasi dan sekretaris saya akan mengurus semua kebutuhan kalian." ujar Arya menanggapi ucapan Kartika.
Indarko dan Riko terpaksa mengalah ketika tatapan tajam di layangkan oleh Kartika pada mereka. Seolah-olah ia mengisyaratkan untuk menuruti saja tanpa membangkang.
"Kalau begitu saya juga ada syarat!" sahut Riko menentang tatapan Arya.
Arya menautkan kedua alis nya, lelaki paruh baya itu terlihat penasaran dengan ucapan Riko barusan.
"Apa syarat mu?" tanya Arya singkat.
"Aku ingin setelah Jingga sembuh, tolong kembalikan anak kami!" pinta Riko yang langsung diangguki oleh Arya.
"Baiklah Riko, kalau begitu saya permisi dulu. Setelah ini sekretaris saya akan kesini untuk mengurus semuanya. Di sini sudah saya rekam semua pembicaraan kita barusan. Kita sudah bersepakat dan tidak ada yang akan main curang. Surat perjanjian akan saya bawakan dengan sekretaris saya nantinya, tolong tanda tangani!" ujar Arya panjang lebar sambil menunjuk kan sebuah voice recorder di tangannya.
Sebenarnya alat itu selalu dibawa Arya kemana pun. Ia gunakan untuk menjaga-jaga situasi seperti barusan. Sebelum berdiskusi dengan Indarko, Arya sudah mengaktifkan barang kecil di tangan nya itu terlebih dahulu. Agar perbincangan mereka ada buktinya.
"Terimakasih karena anda sudah menolong keluarga saya." ujar Indarko yang ikut berdiri ketika Arya berdiri darai duduknya.
Arya menerima jabatan tangan indarko dengan sopan dan ramah. Setelah itu ia pergi meninggalkan kawasan rumah sakit.
Sedangkan Kartika dan Riko masih membatu di kursi mereka masing-masing. Tatapan Riko kosong.
Riko merutuki kebodohan serta kesalahannya yang telah membuat Jingga sampai seperti ini.
"Kenapa Mama malah menyetujui persyaratan tuan Arya?" tanya Riko menatap tajam ibunya.
Kartika yang tadinya masih terisak ikut membalas tatapan tajam dari Riko.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Apa keputusan Mama salah?!" tanya Kartika pada putranya itu.
Riko mengeleng dan setelah itu langsung mengangguk.
"Iya, seharusnya bayi itu tidak Mama biarkan akan menjadi bagian dari keluarga Wijaya!" berang nya membuat Kartika terkekeh.
Indarko yang tadinya berdiri telah duduk di antara dua orang keluarga nya yang kini tengah berdebat panas.
"Bayi itu? Semenjak kapan kamu menganggap nya bayi? Bukan kah selama ini kamu tidak menginginkan bayi itu? Lantas kenapa sekarang rasanya kamu yang kehilangan begitu berat?" sindir Kartika dengan sinis.
Bagai tersambar petir, hati Riko rasanya tertampar beberapa kali. Ucapan ibunya memang benar dan tidak ada salahnya. Semenjak bayi itu ada di dalam perut Jingga, Riko selalu mengumpat pada nya. Bahkan sangat kejam sekali mendoakan agar bayi itu tiada dengan segera.
Namun, semua itu semakin terasa sakit ketika perasaan Riko saat ini sudah muncul sedikit demi sedikit pada anaknya itu. Di tambah lagi kehangatan yang pertama yang ia lakukan tadi di saat anaknya itu lahir membuat Riko merasakan betul-betul menjadi seorang Ayah.
"Kenapa terdiam?" tanya Indarko pada putranya. Sepertinya Indarko paham yang ada dipikiran Riko ketika mimik wajah tiba-tiba berubah sendu.
"Aku salah Pa." sahutnya singkat dan lemah.
Riko menunduk dan membuat Kartika ikut sedih melihat anaknya yang kini sudah sadar diri.
"Sudahlah, yang terpenting sekarang kita fokus pada kesehatan Jingga. Papa juga minta maaf pada kalian berdua karena telah membuat perusahaan bangkrut." ujar Indarko menepuk-nepuk pundak anaknya serta menatap Riko dan Kartika bergantian.
Kartika mengangguk.
"Tidak masalah Pa, lagian tuan Arya akan membantu kita. Lebih baik sekarang kita fokus saja pada kesehatan Jingga dan mengembalikan perusahaan seperti semula." jawab Kartika dengan senyum yang sedikit ia paksa.
"Makasih ya Ma. Oh ya Rayen, kamu bisa kan menghandle perusahaan dari luar negeri? Sepertinya Papa akan pensiun setelah perusahaan kita kembali membaik. Papa memutuskan untuk menikmati masa muda bersama Mama kamu!" pinta Indarko membuat Riko yang tadinya menunduk menatap sang Papa.
"Apa pun keputusan Papa dan Mama aku akan turuti. Aku berjanji tidak akan membangkang lagi setelah ini. Maafkan aku ya Pa, Ma." tutur Riko sepenuh hati.
__ADS_1
Kartika tersenyum senang melihat perubahan anaknya itu, begitu pun dengan Indarko.
BERSAMBUNG.....