
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Beberapa menit kemudian ambulans datang dan langsung membawa Jingga, Bella serta Kartika menuju rumah sakit terdekat.
Riko sudah kehilangan akal mendengar sirine ambulan, ia langsung bergegas menuju ke taman kompleks untuk melihat apa yang terjadi. Akan tetapi ketika ia sampai di taman polisi sudah mengamankan tempat kejadian.
Riko yang bertanya pada petugas soal kejadian barusan membuat tubuhnya luruh ke jalanan seketika. Ketika orang itu menyebutkan nama Jingga berpuluh-puluh pertanyaan muncul di benak Riko.
Ia terdiam dan terpaku melihat bekas darah segar yang tersisa di tepian jalanan.
Tanpa menunggu lama, Riko bangkit dan bergegas menuju rumah sakit terdekat.
Beberapa kali Riko mencoba untuk menghubungi nomor telepon Bella maupun Kartika. Akan tetapi tidak satupun dari mereka yang bisa mengangkat telpon nya.
Riko frustasi dan kebingungan. Bahkan beberapa rumah sakit telah ia datangi tapi tidak ada pasien kecelakaan atas nama Jingga.
'Kalian dimana sih?!' gerutu Riko sepanjang jalan. Ia meringis membayangkan beberapa pikiran buruk yang terus mempengaruhi pikiran nya.
Riko menyesal, ia merutuki setiap kata yang ia lontarkan pada Jingga.
Setengah jam perjalanan, Riko memasuki sebuah rumah sakit yang terbilang sedikit elit. Ia menanyai resepsionis dan ternyata Jingga ada di rumah sakit ini.
Riko langsung bergegas menuju UGD, tempat Jingga saat ini tengah diperiksa.
"Mbak, Jingga kenapa?" tanya Riko ketika sampai dihadapan Kartika dan Bella yang menunggu didepan ruangan.
Bella yang sudah tersedu-sedu menatap Riko sedih. Ia memeluk lelaki yang sudah ia anggap saudara itu.
"Ini salah aku Rik, Jingga nggak bakalan begini jika tidak menolong ku! Maafkan aku. Hiksss... Hikss..." ujar Bella dalam tangisan nya.
Riko mengeleng, ia tidak mengerti dan yang ia butuhkan saat ini adalah penjelasan kenapa Jingga sampai kecelakaan seperti itu.
"Memang kenapa Mbak? Mengapa ini bisa terjadi?" tanya Riko kembali. Ia mengusap-usap punggung Bella yang sudah bergetar hebat sedari tadi.
"T-tadi Mbak menyebrang, t-tnpa tau kalau ada mobil yang melaju kencang dari arah samping. J- jingga membantu Mbak dan dia yang tertabrak. Maafkan Mbak, Riko. Hiks..." ungkap Bella dengan terbata-bata.
Riko menghela nafas panjang, ia tidak bisa juga menyalahkan Bella karena ini adalah musibah. Apalagi itu sudah keputusan Jingga untuk menolong Bella, mau tidak mau ia harus berbesar hati dan tidak menghakimi Bella.
__ADS_1
Bella meringis saat mereka masih berpelukan. Perutnya terasa kram dan pinggangnya begitu sakit. Rasa sakit yang ia rasakan bahkan berkali-kali lipat dari tadi. Tubuh Bella terasa mau remuk seketika.
"Awwhh..." rintisan nya melepaskan pelukan dan memegang perutnya yang sakit.
Riko dan Kartika mengernyit heran, mereka bingung kenapa Bella tiba-tiba seperti sangat kesakitan seperti itu.
"Mbak kenapa?" tanya Riko panik saat Bella sudah hampir luruh ke lantai. Untung saja Riko sigap dan memegang Bella erat agar bisa berdiri dengan tepat.
"Sakit Ko, tolong Mbak! Tolong beritahu Rael! Awwhh..." pekik nya tidak tertahankan. Mata Bella yang tadinya memerah karena menangis kini semakin memerah karena menahan sakit.
"SUSTER-SUSTER!! TOLONG!" teriak Kartika yang membuat beberapa suster berlarian ke arah mereka.
"Mbak, tetap sadar mbak!" titah Riko ketika mata Bella sayup-sayup terbuka.
Riko tidak tinggal diam, ia menepuk-nepuk pipi Bella agar wanita itu tetap sadarkan diri.
"Rael." ucap Bella lirih dan kemudian benar-benar menutup matanya. Rasa sakit yang ia rasakan membuat dirinya tidak bisa lagi sadarkan diri.
Riko yang mendapati Bella seperti itu langsung menggendong nya ala bridal style menuju UGD. Tidak tanggung-tanggung Riko meneriaki semua dokter untuk segera memeriksa kondisi Bella.
***
Seharusnya informasi yang diberikan oleh Dito tadi pagi membuat Rael sedikit tenang. Akan tetapi lelaki itu malah linglung tidak menentu.
"Lo kenapa sih?" tanya Dito ketika Rael tampak kebingungan sendiri.
"Gak tau, gue aja bingung." jawabnya enteng yang kemudian ikut duduk di meja makan.
Mereka berencana mendatangi kediaman Indarko setelah makan siang ini. Semalam Dito sudah mendapat kan informasi soal Bella yang menginap di rumah Indarko dan pagi ini ia tidak lupa untuk memberitahu pada Rael.
"Kurang makan kali, nih makan dulu!" ujar Vino yang membawa tiga piring nasi di atas nampan, hasil buatannya sendiri.
Rael menatap datar dan hanya mengangguk samar.
"Lo yakin Bella ada di kediaman Indarko?" tanya Rael di sela-sela suapan nya.
Dito mengangguk mantap dan menatap Rael dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Lo tenang aja, lagian Bella saat ini pasti aman. Pak Indarko sendiri yang bilang sama gue!" ungkap Dito yang sebenarnya semalam ditelpon oleh Indarko.
Indarko merasa kebingungan ketika melihat Bella yang tiba-tiba datang seperti orang yang habis kabur-kaburan. Ternyata firasatnya benar ketika ia menanyai nya pada Dito. Untung saja Indarko memiliki nomor Dito ketika mereka menjemput Riko beberapa bulan lalu.
"Awas aja Lo dapat informasi salah, gue geprek juga Lo nanti!" ancam Rael menatap tajam pada Dito.
Vino hanya tersenyum tipis melihat perdebatan kedua lelaki dihadapan nya itu. Tanpa mau ikut campur, Vino hanya menikmati masakannya sendiri.
Saat Rael dan Dito masih beradu argument. Vino tiba-tiba saja mendapatkan telpon dari seseorang. Tertera nama Riko di layar ponselnya.
Vino mengernyit heran, mengapa lelaki itu tiba-tiba menghubungi dirinya?
Bunyi notifikasi panggilan yang nyaring membuat perhatian Dito dan Rael teralihkan.
"Halo." sapa Vino kemudian.
"APA?!" teriak Vino ketika orang di seberangnya selesai berbicara. Ia memang tidak mengaktifkan speaker nya, sehingga membuat Dito dan Rael kaget melihat reaksi Vino yang tiba-tiba panik.
"Baiklah, gue sama Rael kok. Kami ke sana sekarang!" tanpa ba-bi-bu Vino langsung mematikan sambungan telepon. Wajahnya panik dan terlihat sangat khawatir.
Dito dan Rael mengerutkan dahinya bingung. Ditambah lagi Vino menyebutkan nama Rael di akhir ucapannya.
"Siapa yang nelpon?" tanya Dito penasaran.
"Iya nih, kenapa ngebut-ngebut nama gue segala?" tambah Rael sambil menyeruput jus jeruk pertanda makanan nya telah habis.
Vino panik dan langsung berdiri. Tanpa menjawab perkataan lelaki dihadapan nya itu. Ia meraih jaket dan menarik Rael serta Dito untuk segera ikut dengan nya.
"Ayo ikut gue aja!" titahnya tajam. Membuat kedua lelaki itu mau tidak mau harus menuruti Vino.
Vino tampak gelisah dan khawatir sampai wajahnya memucat sekali.
Vino memasuki mobil dengan tergesa-gesa begitu juga diikuti oleh kedua lelaki tampan di belakangnya.
Dito bahkan tidak sempat minum untuk mengakhiri makan siangnya.
"Kita kemana sih? Lo bikin penasaran aja!" tanya Rael ketika Vino mulai menjalankan mobil.
__ADS_1
"Nanti Lo bakalan tau!" bukannya tidak mau memberitahu, hanya saja Vino takut kedua lelaki ini kehilangan akal mereka, disaat tau bahwa Bella kecelakaan.
BERSAMBUNG.....