
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Perkataan Bella mampu membuat Rael langsung berbalik, menatap tidak percaya.
"Kamu bilang apa?" tanya Rael memastikan.
"Aku siap untuk memiliki anak dengan mu, Rael." ujar Bella dengan wajah menunduk dan suara lembut. Rael sangat bahagia sehingga ia langsung memeluk erat Bella. Kemudian ia melonggarkan pelukannya dan menatap Bella dengan serius.
"Apa boleh?" tanya Rael yang sudah di mengerti maksudnya oleh Bella. Bella pun hanya mengangguk dengan malu.
'Aku nggak tau ini benar atau tidak. Yang penting aku sudah yakin dan tidak akan menyesali perbuatanku ini. Rael memang suami yang telah tuhan takdir kan untukku.' gumam Bella dalam hatinya penuh keyakinan.
Rael yang mendapatkan lampu hijau dari Bella langsung bergerak cepat. Ia mendekatkan wajahnya pada Bella yang sudah memejamkan matanya. Seperkian detik kemudian Bella mampu merasakan hangatnya bibir Rael menyentuh bibirnya. Tidak mendapatkan penolakan, Rael pun menekan sedikit dalam bibirnya pada bibir manis milik Bella. Mereka berciuman cukup lama, Rael sangat tau ini adalah ciuman pertama Bella. Terlihat dari caranya berciuman.
Usai berciuman, Rael lansung menggendong Bella ala bridal style ke arah ranjang. Ia menidurkan Bella lembut dan kemudian berbisik.
"Kamu sudah siap sayang?" tanya Rael yang suaranya mampu membuat Bella merinding. Tanpa menjawab dengan suara, Bella hanya bisa mengangguk. Detak jantung nya sudah berdetak tidak normal sedari tadi. Nafasnya memburu mendapati perlakuan Rael padanya, sentuhan intim yang belum pernah ia rasakan dari lawan jenis. Ini adalah hal yang sangat pertama kali untuk Bella.
Setelah meminta izin barulah Rael melakukan aksi panas mereka malam itu. Bella sudah tidak gadis lagi ulah perbuatan Rael. Meski ini adalah keinginan Bella dan Rael, tetap saja desakan sang kakek dan Ayah nya berhasil membuat mereka berdua yakin.
Beberapa jam kemudian, pertempuran panas mereka di atas ranjang akhirnya selesai. Bella sudah tertidur pulas di atas lengan Rael tanpa busana dan hanya selimut yang menghangatkan nya dari dingin malam di camp. Senyuman di wajah Rael tidak pernah hentinya sedari tadi, ia tidak percaya akan melakukan hal ini dengan Bella. Telah beberapa menit ia memandangi wajah cantik Bella.
"Makasih ya sayang, love you." ujar Rael mengecup manis kening Bella dan membawa Bella kedalam pelukannya. Malam ini adalah malam yang sangat berharga bagi Rael dan Bella, karena malam ini akan mengubah kehidupan mereka kedepannya.
***
__ADS_1
Pagi itu Bella terbangun karena silaunya cahaya matahari mengenai matanya yang memasuki kamar dari sela-sela gorden. Dalam pelukan Rael, Bella masih mendengar deru nafas teratur milik sang suami.
Bella kembali teringat akan kejadian semalam, membuat nya malu dan mencoba menutupi wajahnya dengan selimut. Pergerakan Bella membuat Rael terusik dari tidurnya yang nyenyak. Membuka mata, Rael melihat bahwa istrinya tengah malu-malu.
"Selamat pagi sayang." ujar Rael dengan suara khas bangun tidur nya.
"Selamat pagi." balas Bella dari dalam selimut. Ia malu-malu karena teringat akan kejadian semalam. Tanpa menatap Rael, Bella masih stay di dalam selimut nya.
"Kamu kok nutupin wajah gitu?" tanya Rael sok tidak tau.
"Malu." ujar Bella jujur. Membuat Rael tidak bisa mentahan senyuman di wajahnya.
"Buat apa malu sayang, kan kita juga udah sah. Aku suami kamu. Buka dong selimutnya, aku pengen lihat wajah cantik istriku ini." ucapan Rael mampu membuat Bella tersenyum manis meski dari dalam selimut. Rael mencoba untuk menarik lembut selimut yang menutupi wajah Bella.
"Pokoknya malu." tegas Bella menahan selimut yang coba Rael buka.
"Kamu jangan bahas begituan, aku malu." ujar Bella menatap tajam Rael. Rael pun langsung tersenyum manis. Bella menarik tangan nya dari mulut Rael dan seketika akan menutupi kembali wajah nya dengan selimut, tetapi Rael menahannya. Ia menarik Bella ke dalam pelukannya, merasa begitu bahagia memiliki istri seperti Bella. Bella yang di tarik ke dalam pelukan Rael pun hanya bisa pasrah, ia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Rael yang polos tanpa di tutupi sehelai benang pun.
"Apa yang membuat mu yakin Bel? Sedangkan kita baru menikah beberapa hari ini. Apa itu karena desakan kakek dan Ayah kemarin? apakah kamu terpaksa melakukan ini?" tanya Rael dengan nada serius. Ia memainkan beberapa helai rambut Bella dengan lembut.
"Tidak kok. Pilihan ini sudah ku pikirkan dari pagi kemarin. Hatiku mengatakan aku sudah yakin dan siap." ujar Bella jujur dari dalam hatinya.
"Tetapi aku belum wisuda Bel. Aku juga belum bekerja dan belum mapan untuk bisa memberi mu nafkah. Aku takut rumah tangga kita kelak akan kesusahan." ujar Rael dari dalam hatinya. Bella malah terkekeh mendengar perkataan Rael. Rael pun mengerutkan dahinya pertanda bingung.
"Kamu lucu ih, kayak anak orang susah saja. Kamu lupa Ayah mu adalah Genandra? Aku ingatkan lagi kalau kamu itu putra tunggal dari keluarga Genandra. Kamu lupa juga kalau kamu sekarang udah punya restoran. Bahkan aku sangat kaget mendapati ucapan mu itu Rael, kamu bersikap seperti tidak memiliki apapun sekarang. Hahaha..." kekehan Bella yang masih membenamkan kepalanya di dada bidang Rael. Rael pun kembali dibuat sadar oleh pernyataan Bella.
__ADS_1
'Kenapa aku bodoh sekali? Mungkin karena kau terlalu serius dan tidak memikirkan hal itu sebelumnya.' pikir Rael dengan mengutuki kebodohan nya.
"Aku lupa, maaf ya." jawab Rael kemudian. Bella pun mendongakkan kepalanya menatap wajah sang suami.
"Aku tidak mempermasalahkan untuk urusan nafkah Rael. Meski kita berdua tidak bekerja ataupun tidak mendapatkan warisan dari kedua keluarga kita, kita masih bisa mendapatkan uang dari restoran Genandra punya mu dan cafe Latera milikku. Aku tidak terlalu memikirkan itu." ujar Bella menatap Rael yakin. Rael membenarkan ucapan dari Bella.
"Aku udah transfer uang kemarin ke rekening kamu. Apa kamu sudah menggunakan nya?" tanya Rael yang teringat akan nafkah yang ia berikan pada Bella. Bella juga tidak pernah membahas soal uang itu padanya.
"Oh uang itu, aku belum menggunakannya Rael. Mengingat sedari kemarin aku belum pergi keluar untuk belanja. Tapi kenapa kamu mengirimkan nya begitu banyak, aku tidak akan menghabiskan uang itu selama 3 bulan ke depan. Apa restoran mu tidak bangkrut karena labanya kamu berikan semua padaku?" tanya Bella sambil tersenyum manis.
"Hemat sekali kamu Bel, aku malah tidak yakin kalau itu akan cukup dalam seminggu untuk mu. Tenang saja, penghasilan restoran cukup kok asal kamu bahagia." ujar Rael dengan tatapan hangat.
"Hemat? Kamu pikir aku seboros itu ngabisin uang 10 juta dalam seminggu. Aku malah berniat untuk menabung kan nya ke rekening baru. Tabungan itu aku namai untuk anak kita kelak." ujar Bella membuat Rael kagum.
"Makasih ya Bel, aku bahkan tidak kepikiran ke sana. Kamu memang istri terbaik yang tuhan berikan buat aku." ujar Rael sambil memeluk erat sang istri.
"Sama-sama Rael. Aku juga berniat untuk membeli rumah dan tidak lagi tinggal di rumah Ayah. Kamu kan juga sudah memiliki penghasilan, Kakek pasti mengizinkan kita pindah." ungkap Bella membuat Rael berfikir serius.
"Tetapi Bel, apa kamu sudah siap jika kita tinggal berdua saja?" tanya Rael serius.
"Masalah nya dimana Rael, lagian dulu aku dan ibu juga tinggal berdua. Aku yang nyuci, aku juga yang masak dan bersih-bersih rumah. Kamu tidak perlu takut rumah kita akan berantakan." tutur Bella menyakinkan Rael.
"Bukan itu maksud ku Bel, aku hanya takut kamu merasa kesepian dengan kita berdua saja. Kalau soal rumah kita bisa pakai pembantu nantinya, aku sanggup mempekerjakan orang kok." jelas Rael membuat Bella langsung tersenyum miring.
"Kamu pikir aku sekarang nggak kesepian di rumah itu? Makanya aku berniat pindah agar tidak ada lagi yang menganggu kehidupan kita." jawab Bella kesal. Merasakan tinggal di kediaman Ken beberapa hari ini sudah membuat Rael paham yang dirasakan oleh sang istri.
__ADS_1
"Baiklah Bel, kamu coba bujuk kakek dulu. Urusan untuk rumah baru, kamu serahkan saja pada ku." ujar Rael dengan tersenyum hangat.
BERSAMBUNG.....