MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
BATU ES YANG MENCAIR


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Rael keluar dari kamar mandi dengan kikuk. Ia juga ikut malu atas perbuatan ceroboh yang ia lakukan. Meski sering bersikap mesum pada Bella tetap saja kali ini ia merasa tidak nyaman.


Bella melewati Rael yang baru saja melangkah ke arahnya. Dengan wajah yang ia tutupi dengan pakaian yang ia bawa, Bella berusaha untuk berjalan cepat.


"Kamu mau kemana?" Tanya Rael kikuk.


"Mau ganti baju tidur, soalnya pakaian ini udah apek karena aku habis memasak." Jelas Bella tanpa menatap Rael si lawan bicaranya dan langsung menutup pintu kamar mandi. Rael pun hanya menjawab Bella dengan ber-oh saja. Ia memutuskan untuk duduk di sofa, menatap langit malam dari jendela kamar.


Selang beberapa menit akhirnya Bella keluar dari kamar mandi. Ternyata bukan hanya mengganti pakaian tetapi Bella juga mandi. Terlihat dari rambutnya yang sudah basah.


"Kamu melamun?" Tanya Bella menyadarkan Rael. Ia ikut duduk di sofa, berhadap-hadapan dengan Rael.


"Ah, tidak kok. Aku hanya tengah melihat langit malam saja. Aku tidak bisa melihat bintang, mungkin karena cuaca malam ini tengah mendung. Semua bintang ditutupi awan." Elak Rael. Sebenarnya ia memang melamun karena memikirkan sebuah masalah yang tengah ia hadapi. Bella tau suaminya itu tengah berbohong. Itu sebabnya kini Bella menarik tangan Rael untuk ia genggam, menyalurkan rasa percaya dari dalam dirinya.


"Kamu ada masalah apa? Ayuk cerita sama aku, apa kamu tidak mau membaginya dengan ku?" Tanya Bella dengan lembut. Rael langsung menarik Bella kedalam pelukannya, meski sedikit kaget tetap saja Bella hanya diam tanpa ingin merusak momen.


"Maaf ya sudah bikin kamu tidak nyaman atas sikap tidak bersemangat ku. Aku tengah memikirkan bagaimana cara menghapus video itu. Hacker yang kita sewa tidak berhasil melakukan pekerjaannya. Gadis itu sudah mengirimkan video tersebut pada lawan kedua perusahaan kita, kamu tau sendiri bahwa mereka pasti akan merusak reputasi kita di depan cilien penting." Ungkap Rael membuat Bella melototkan matanya, kaget.


"Aduh kita harus bagaimana? Apa tidak ada cara lainnya?" Tanya Bella yang ikut panik.

__ADS_1


"Aku yakin sekali bahwa mereka akan membongkar video itu pada publik saat pertemuan penting di acara ulang tahun perusahaan Genandra. Tepatnya 2 minggu dari sekarang. Untuk itu kita masih memiliki waktu mencari jalan keluarnya." Jelas Rael membuat Bella juga ikut berfikir.


"Lalu bagaimana dengan sidang mu?" Tanya Bella kemudian.


"Syukur sidangnya berjalan lancar. Aku tinggal melakukan beberapa hal dan menunggu waktu wisuda ku. Kalau tidak salah di awal bulan depan aku tidak wisuda. Itupun kalau tidak ditunda." Ujar Rael sedikit senang. Kabar gembira itu turut membuat perasaan Bella sedikit tenang. Meski kekhwatiran di hatinya masih menyelimuti. Takut jika kedua perusahaan akan bermasalah oleh video tersebut.


"Aku turut bahagia dengan keberhasilan mu Rael. Semoga berjalan lancar." Ucap Bella dengan tulus. Rael pun mengusap lembut rambut Bella dengan senyum di wajahnya.


"Bel, apa kamu salah paham dengan kejadian tadi siang?" tanya Rael berhati-hati. Membuat Bella langsung melepaskan pelukan Rael dan menatap sang suami dengan tatapan serius.


"Tidak, karena aku percaya padamu. Tetapi jujur saja sedari tadi siang aku sangat cemburu." Ucap Bella berpura-pura kesal. Meski begitu ia mencoba untuk menahan tawanya saat membayangkan ekspresi wajahnya sendiri.


"Aku syukur sekali kamu percaya padaku Bel. Kamu tau kan kalau gadis itu sungguh berniat untuk menghancurkan rumah tangga kita? Aku sangat jijik melihat tingkahnya." Ujar Rael menarik Bella kembali kedalam dekapannya.


"Aku cuma milikmu Bel, nggak bakalan tertariknya sama yang lain!" Tutur Rael tulus membuat Bella tersenyum senang.


"Masa sih, bukannya kamu buayanya kampus? Yakin mau setia? Itu ujian yang berat loh!" Sindir Bella membuat Rael menatap jengah.


"Ih nggak percayaan banget sih. Aku udah berubah Bel, ini semua demi kamu dan kita." Ujar Rael dramatis membuat Bella tidak tahan untuk tertawa.


"Kamu tau nggak, aku merasa menikahi orang lain! Rasanya Rael yang dulu itu nggak selebay ini, bahkan yang dulu sangat cool." Ucap Bella berbisik tepat di sebelah Rael.

__ADS_1


"Kan sekarang udah dihangatkan oleh pelukan kamu, makanya udah nggak cool lagi. Batu Esnya sudah mencair! Kayak sekarang nih, di peluk." Rael langsung memeluk erat sangat istri dan menggelitiki pinggang Bella. Tawa Bella tidak terelakkan, setiap sudut kamar menjadi saksi betapa saling mencintai dan bahagianya mereka berdua.


***


Disisi lain. Kini jingga tengah mengunci pintu cafe setelah memastikan semuanya aman. Ia berniat pulang ke camp karena hari yang sudah hampir larut. Aktivis di cafe tadi membuatnya sedikit lelah karena pengunjung tidak ada henti-hentinya. Tetapi Jingga sangat bersyukur karena hal tersebut bisa membuatnya mendapatkan banyak tips. Sebenarnya Jingga meminta Gibran untuk menjemput dan mengantarkannya pulang, tetapi lelaki itu tengah ada acara keluarga sehingga Jingga terpaksa pulang sendiri.


Dringg... Dering handphonenya mengalihkan perhatian Jingga yang tengah menunggu grab pesanannya di depan cafe.


"Halo Mas Riko, ada apa?" Tanya Jingga saat tau bahwa si penelpon adalah Riko. Namun, seperkian detik kemudian bunyi musik yang sangat keras dan hiruk pikuknya orang terdengar dari penelpon seberang.


"Apa ini dengan saudaranya Mas yang punya handphone ini?" Tanya seseorang yang tepatnya bukan Riko. Jingga langsung mengerutkan dahinya bingung.


"Iya, anda siapa ya? Mengapa handphone Mas Riko ada dengan anda?" Tanya Jingga penasaran.


"Saya pelayan di club ini Mbak. Tolong segera jemput Mas ini di club xxv. Karena ia sangat mabuk parah dan sempat membuat kekacauan di club kami." Jelas si pelayan membuat Jingga kaget. Ia langsung bertindak tanpa berpikir panjang.


"Baiklah Mas, tolong jaga dia sampai saya datang. Saya akan segera ke sana!" Titah Jingga yang langsung mematikan sambungan telepon tanpa dijawab lawan bicaranya. Untung saja grab yang di pesan olehnya sampai juga. Jingga mengurungkan niatnya pulang dan langsung menuju ke club xxv.


Seperkian menit kemudian. Mobil grab sampai di depan club. Jingga dapat melihat betapa ramainya orang di sana. Untung Jingga tidak memakai pakaian yang dapat mengundang hasrat bagi yang melihat, sehingga ia sedikit tenang saat akan menjemput Riko.


"Bapak tunggu di sini sebentar ya. Saya jemput dulu teman saya dari dalam." Titah Jingga yang langsung diangguki oleh supir grab itu. Jingga pun turun dari mobil dan melangkah ke dalam club. Bunyi musik yang sangat keras mengusik pendengarannya, bagaimana pun ini adalah pertama kalinya ia memasuki club sendiri. Jingga sempat takut karena beberapa lelaki yang ia lewati mencoba untuk menggodanya, tetapi Jingga berusaha sabar dan memfokuskan dirinya pada Riko. Ia begitu khawatir.

__ADS_1


Jingga menuju bartender dengan segera dan menanyakan keberadaan Riko. Karena tidak mungkin ia akan mencari dari puluhan orang yang tengah mabuk berat itu. Bisa-bisa jingga menjadi santapan malam mereka. Pelayan yang menelpon Jingga tadi langsung mengarahkannya kepada Riko yang tengah terduduk di sudut ruangan club.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2