MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
OM HARIS


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


🍽️Restoran Genandra🍽️


Bella melangkah menuju Restoran Genandra.


"Maaf buk, anda tidak boleh kelantai 2!" Ujar seorang pelayan menghentikan langkah Bella menaiki tangga.


"Kenapa emang tidak boleh? Para mahasiswa saya ada di atas, saya mau jemput mereka!" tegas Bella. Tanpa kata lagi Bella menerobos ke lantai 2. Terlihat lah di sana ketiga mahasiswa dengan baju yang sudah tidak rapi tengah bermain game di depan komputer.


"Ternyata kalian disini ya!" Rael dan gengnya begitu kaget mendapati seorang gadis berpakaian guru dihadapan mereka.


'Apaan nih fans gue sampai nerobos-nerobos masuk ke basecamp?' Pikir Rael yang terlalu naif.


"Ayuk kalian ikut saya kembali ke Kampus!" Bella menarik tangan Rael dan diikuti geng nya.


"Eh-eh... lo siapa ha...?" Rael mencoba melepaskan genggaman Bella dengan lembut, karena Bella seorang gadis, makanya Ia tidak mau membalas dengan kasar.


"lo-lo... panggil saya buk Bel, saya ini walas pengganti kalian karena buk Lastri kemaren abis melahirkan!" Rael mencoba tertawa terbahak-bahak. Kedua temannya malah menganggap hal itu luar biasa.


'Rael bisa tertawa juga setelah hari kematian Ibunya? ini keajaiban, gadis ini ajaib sekali bisa membuat Rael tersenyum lagi.' Puji Gibran dan Vino dalam hatinya.


"Kalau fans sama saya nggak usah nyewa-nyewa baju, serta ngaku-ngaku jadi dosen saya mbak!" Tambah Rael yang menatap Bella dengan cengengesan. Ia tidak percaya bahwa Bella adalah seorang dosen, mengingat tingginya yang seperti anak SMA. Bukan hanya itu, wajah Bella yang baby face membuat nya terlihat tidak pantas menjadi seorang guru.


'Ihhh n*jis! meski umur aku sama dengan mereka, tapi mereka itu cuman cowok ingusan. Yang kerjanya cuman ngabisin duit orang tua. aku nggak suka!' geli Bella saat mendengar ucapan Rael. "Jangan banyak bicara, ikut saya!!" Rael masih saja cengengesan, tersenyum mengikuti langkah Bella tanpa menolak lagi.


'Lo mau berurusan sama gue ya kecil! gue ngak bakalan lepasin lo, berani-beraninya!' senyum devil Rael menatap Bella yang terus menarik tangannya menuju ke dalam kampus.


🏬Kampus🏬


Mulai dari pak Satpam, Pembersih sekolah, serta para guru memperhatikan cara Bella menarik paksa tangan Rael. Semua dosen pun malah bergeridik ngeri dan merasa iba pada Bella.


'Kelihatannya dosen baru ini akan mendapatkan masalah besar karena berurusan dengan Rael!' pikir semua orang yang telah tau dengan siapa Rael di kampus.


Memasuki ruang Dekan, Rael malah dikejutkan dengan kehadiran sang Ayah yang tengah duduk di sofa.


"Maaf pak mengganggu sebentar!" Ujar Bella dengan sopan. Dekan pun seketika melotot mendapati cara Bella menarik paksa Rael.

__ADS_1


'Apa yang dilakukan Dosen ini, mau ditaruh dimana muka saya?' pikir Dekan tersebut.


"Lepasin mahasiswa itu buk Bel!" tegas Dekan dengan wajah panik. Perhatian Ayah Rael beralih pada Bella.


'Ini Bella bukan ya? rasanya aku tidak salah lihat, ini Bella anaknya Lesi. Ternyata dia sudah dewasa, begitu mirip Lesi hanya matanya saja yang seperti Ken!' pikir Ayah Rael yang tersenyum haru melihatnya.


"Nggak pak, saya ngak bisa ngelepasin anak bandel ini? kenapa dia bisa cabut dan main game di restoran depan sih pak? sedangkan mereka semua sudah semester 7, harus rajin-rajin belajar!" Tegas Bella membuat situasi menjadi tegang.


"Kamu Bella Wijaya?" Ayah Rael bersuara, membuat Bella tanpa sadar melepaskan genggamannya pada Rael karena kaget.


'Siapa bapak-bapak ini? kenapa dia tau nama ku?' pikir Bella seketika. "Iya pak, kenapa bapak bisa tau nama saya?" Seketika Ayah Rael berdiri dan memeluk Bella. Setiap orang dikelas melotot.


'Lah main nyosor aja nih orang meluk-meluk aku!' panik Bella seketika. "Lepasin pak!" Bella berusaha mendorongnya dengan sopan.


'Nih bokap gue emang kagak ada sopan-sopannya sama cewek ya! Masa iya anaknya masih ada di sini malah nyosor-nyosor aja!' pikir Rael dengan kesal.


"Maaf ya, saya terbawa perasaan, saya teringat Lesi!" ujar Ayah Rael dengan tersenyum haru.


"Kenapa bapak tau Almarhumah Ibu saya?" Bella terbawa suasana dan melupakan tujuannya tadi keruangan Dekan.


"Almarhumah? Lesi sudah meninggal?!" Tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipi tua yang sudah terlihat kerutan itu.


'Yah? Maksud nih bocah, bapak ini Ayah nya? Tapi kalau dilihat-lihat iya juga sih kayak duplikat gitu.' gumam Bella yang baru sadar.


"Duduk dulu Bel! Tolong tutup pintu nya." titah lelaki itu pada Bella serta kedua sahabat Rael.


"Saya ini Haris Bel!" Bella sontak langsung sadar bahwa orang didepannya adalah salah satu orang yang ada dimasa lalu Ibunya.


"Om Haris Genandra? Mantan Asisten ayah?" Bella lansung menangis, ia tidak menyangka bisa bertemu dengan lelaki yang telah menolong ibunya itu.


'Gue kira nih gadis anak seludupan Ayah, syukur deh kalau nggak!' gumam Rael dengan santai dalam hatinya.


"Iya, ini Om Bel. Maaf Om tidak lagi menjenguk kamu dan ibu kamu beberapa tahun belakangan. Semenjak kematian Ibu Rael, Om sering sakit-sakitan, kata tetanggamu, kalian juga sudah pindah!" Haris menahan pahit rasa kehilangan Ibu Rael.


"Gak apa-apa kok Om, Bella ngerti. Ibu selalu cerita tentang Om, Om selalu bantu kami. Meski Ayah jahat." Bella menunduk dan Rael dengan santai menonton drama di depannya.


"Kalau gitu sekarang Bella kenapa bisa ada disini?!" Haris kembali pada suasana awal.

__ADS_1


"Karena dia!" Tunjuk Bella pada Rael.


"Rael kamu ngapain, sampai Bella bawa kamu kesini?!" tanya sang Ayah sambil menatap sang anak jengah.


"Ntah yah, mungkin fans!" Santai nya Rael berucap sambil melempar kesalahan.


"Ngak kok Om, Bella disini sebagai Dosen mereka. Pas tadi Bella nge-absen ternyata mereka cabut ke restoran depan. makanya Bella nyusulin. Kan udah semester 7 harus rajin-rajin belajar jangan game terus. Bella harus tanggung jawab Om!" penjelasan Bella di sambut senyum oleh Haris.


"Bella sudah jadi Dosen? Bukannya Bella seumuran dengan Rael?" seledik Haris.


"Bella terus dapat siswi berprestasi dari SD Om, Pas teman Bella naik kelas 5 Bella udah naik kelas 6, pas mau SMP dari kelas 1 langsung naik kelas 3 aja, tapi SMA sama Kuliah normal kok Om" ujar Bella menjelaskan.


'Udah cantik, pintar juga sih Bella. Semoga bisa jadi calon menantu! hahaha...' pikir Haris dengan bangga.


"Bella mau Rael, gibran sama Vino buat surat perjanjian Om. Biar ngak bandel lagi!" titah Bella dengan menyerahkan kertas HVS yang ia ambil di atas meja dekan.


"Baiklah, ambil kertas itu Rael. tulis di sana kalau saya dan teman saya masih cabut di jam pelajaran, maka semua fasilitas kalian Ayah hilangkan!" Mereka bertiga melongo ketika Haris berucap dengan tegas.


"Tapi, Yah?" elak Rael. Kedua sahabatnya malah terus melanjut kan menulis surat perjanjian tanpa mengelak, takut akan ancaman tersebut.


"Tidak ada tapi-tapian Rael, mulai besok kabari Om ya Bel, kalau Rael masih bandel. Oh ya kamu sekarang tinggal dimana?" Bella pun menjelaskan serinci-rincinya pada Haris tentang dimana ia tinggal sekarang. Bella merasa Haris adalah Ayah nya sedari kecil meski Bella hanya mengenal Haris dari cerita sang ibu, namun tetap saja Bella menganggap Haris bukan orang asing.


"Gitu ya, kalau ada apa-apa kasih tau Om ya. ini kartu nama Om!" ujar Haris memberikan kartu nama pada Bella.


"Baik lah surat ini bakalan Ayah simpan. Ayah ke kantor dulu!" Bella menghentikan Haris dan menyalami tangan Haris.


"Makasih ya Om buat semuanya." Haris terharu. Meski bukan anak kandungnya, namun Bella begitu sangat sopan padanya.


"Sama-sama Bel, Om pergi dulu. Kalau ada apa-apa hubungi saja Om." Haris berlalu pergi meninggalkan semua orang yang ada di kantor Dekan.


"Jadi buk Bella nih kenalan pak Haris? Senang bertemu buk Bella." Dekan bicara begitu sopan. Bella hanya tersenyum padanya.


"Iya pak, saya izin keluar dulu pak, kalian bertiga ikut saya ke kelas ya! terimakasih pak." Bella melangkah menuju kelas.


"Gue bakalan balas dendam dengan bakalan ambil hati tuh cewek, terus pas dia udah jatuh hati ke Gue, Gue bakalan sakitin dia. lagian dia seumuran kita, pasti mudah dapatin hatinya! Gombal dikit pasti lumer, abis tuh gue bakalan buang dia kayak cewek-cewek yang udah pernah berurusan sama gue! gue bakalan bikin dia malu dan sakit hati, lihat aja nanti!" Rael melangkah diikuti gengnya menuju kelas. Tanpa mereka sadari di selah dinding. Seorang gadis tengah merekam ucapan Rael dan para sahabat.


"Ini bakalan jadi harta berharga bagi gue, pokoknya harus disimpan baik-baik!" senyum devil nya menatap kepergian Rael dan geng nya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2