
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Bella menatap Rael dengan tatapan malas, lelaki tampan yang ia anggap bocah ini begitu keras kepala. Rael bersikukuh bahwa mereka masih pacaran dan itu membuat Bella tidak habis pikir saat mengingat kejadian pagi tadi.
"Apa kamu tidak mengingat kejadian tadi pagi? Kita sudah putus Rael, lagian hubungan ini hanya bohongan!" tegas Bella dengan wajah kesal.
"Aku mengingatnya, tetapi aku tau bahwa kita berdua hanya termakan cemburu. Kata nenek ku, jika ada masalah jangan ditinggalkan melainkan selesaikan dengan baik-baik. Oleh karena itu aku mengalah untuk hubungan kita, aku akan tetap jadi pacar yang baik dan perhatian." ujarnya dengan bangga. Hal itu sontak membuat Bella serasa mau muntah.
"Saya nggak pernah cemburu sama kamu, karena dari awal saya nggak pernah anggap kamu pacar saya Rael! kamu saja yang masih ke anak-anakan!" tegas nya kembali, bukannya marah mendengar ledekan dari Bella, Rael malah tersenyum manis.
"Sudahlah, aku tau kamu masih marah padaku. Mari ku bantu berjalan atau mau ku gendong sayang?" ujar Rael dengan menekan kata sayang. Sontak hal itu membuat Bella tidak habis pikir, bagaimana bisa ia terjebak dalam kondisi memiliki hubungan palsu dengan orang seperti Rael. Egoisme dan kekanak-kanakan sekali.
"Saya cuma syok Rael, bukan lumpuh!" Tatap nya tajam membuat Rael tersenyum manis. "Vini..." teriak Bella, membuat Vini dan Vino yang masih stay di depan ruangan lansung masuk.
"Kenapa Bel? kok teriak-teriak gitu?" tanya Vini dengan khawatir.
"Gue udah nggak mau di ruangan ini, kita kembali ke hotel XX saja ya!" pinta Bella membuat Vini, Vino serta Rael mengerutkan dahinya.
"Tidak bisa, kamu harus istirahat Bel. Jadi, aku bakal antar kamu pulang ke rumah!" tegas Rael diikuti anggukan oleh Vini.
"Benar itu Bel, lagian kondisi kamu masih lemas. nggak mungkin bisa ikutan acara nya." jelas Vini dengan lembut.
"Kan Gue bisa tidur di kamar hotel nya. Lagian mau gue di rumah atau nggak sama aja. apa lagi di rumah juga sepi, keluarga Ayah gue lagi liburan, gue bosan di rumah." penjelasan Bella membuat Rael paham rasanya. bagaimana pun ia sama dengan Bella, di rumah serasa tinggal di hutan. Sepi.
"Baiklah, nanti aku akan memboking 1 kamar untuk kamu. Sekarang mari kita ke sana." ujar Rael sambil menggendong Bella ala bridal style.
__ADS_1
"Astaga, kamu buat saya kaget Rael! saya bisa jalan kok, turunin saya! kamu nggak malu dilihatin orang?" ujar Bella yang meronta minta diturunkan dari gendongan Rael.
"Bodoh amat Bel, ini tanda kasih sayang seorang pacar, untuk apa aku malu." jelas Rael dengan tersenyum manis. meski kesal, sebenarnya Bella mencoba menyembunyikan rona merah pipinya di dada bidang Rael. sedangkan Vini dan Vino hanya diam mengikuti langkah Rael. Berusaha tidak terlihat kaget atas perlakuan Rael pada Bella yang terlalu tiba-tiba.
'Sayang? Apa benar gue udah sayang sama Bella? masa sih gue kemakan omongan sendiri? Bodoh amat deh, yang penting sekarang gue cuma mau Bella selalu ada di samping gue. ini buat gue nyaman!' gumam Rael dalam hatinya.
🏢Hotel XX🏢
Kini Bella tengah tidur di sebuah kamar hotel tepatnya di tempat perayaan kemenangan futsal tadi sore. Meski sendiri, tetapi Bella masih bisa merasa di dekat keramaian karena aula pesta tidak jauh dari kamarnya.
Seorang lelaki bertubuh kekar dan tampang yang sangar memasuki hotel dengan mencari keberadaan Bella, sebagai mana tugas yang telah diberikan Adelia kepada nya. Ia adalah Thomas, anak buah Adelia.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya resepsionis tersebut, membuat Thomas sedikit gugup dan linglung.
"Saya ingin mencari kamar hotel atas nama Bella Wijaya, apa anda bisa memberitahu saya?" ujar nya kemudian. Hal itu membuat resepsionis mengerutkan keningnya dan menggeleng.
"Ia ada di ruang 22 pak." ucap resepsionis tersebut dengan berbisik.
"Baiklah, senang berbisnis dengan anda." ujar Thomas dengan tersenyum hangat sambil menyipitkan sebelah matanya.
Tidak jauh dari tempat resepsionis, Rael berdiri sambil mendengar percakapan mereka semenjak tadi. Karena penasaran, akhirnya Rael membuntuti Thomas dengan gelagatnya yang begitu sangat aneh. Tidak lupa juga Rael mengaktifkan kamera belakang handphonenya yang ia letakkan di dalam saku kemeja.
🍃Dilain sisi🍃
Adelia, Biangka, serta Ken akhirnya kembali pulang dan tidak jadi berlibur. Baru saja turun dari pesawat, sebuah notifikasi masuk ke handphone Ken. Bahwa semua uang di ATM nya nol limit. Hal itu sontak membuat mereka kaget dan langsung mengecek keuangan mereka masing-masing. namun nihil, tidak hanya Ken. Atm Biangka serta Adelia pun nol limit, membuat mereka panik sehingga Ken pun memutuskan untuk menelpon Arya.
__ADS_1
"Halo Ayah." sapanya.
"Iya kenapa?" ketus arya, meski ia tau tujuan Ken menelpon, namun tetap saja Arya acuh tak acuh.
"Apa Ayah yang sudah menguras habis semua isi ATM kami?" tanya Ken dengan berhati-hati.
"Iya, memangnya kenapa? Kau bukan anakku lagi, mengapa kau tidak manusiawi sekali, meninggalkan Bella seorang diri tanpa kau ajak ikut berlibur. Pulang lah, sudah ku pesankan tiket untuk mu malam ini juga. Jemput semua barang-barang kau sekeluarga, karena rumah itu tidak menerima kalian lagi!" putus Arya dengan tegas dan jelas.
"Tetapi ayah,..." belum sempat Ken menjawab ucapan Arya. Telpon pun sudah dimatikan secara sepihak, membuat mereka bertiga kocar Kacir dan kembali pulang dengan tiket yang sudah dipesankan Arya tadi. Adelia dan Biangka sungguh emosi, mereka terus meracau sepanjang jalan pulang, tidak terima atas perbuatan Arya yang begitu semena-mena. bahkan di pesawat pun mereka sampai terkena teguran oleh pramugari dan pramugara, karena terlalu berisik.
Jam 9 malam mereka semua sudah sampai kembali ke kota A, dengan semua rasa kesal dan amarah. Adelia meminta supir taksi untuk lansung ke kediaman Arya. Adelia ingin rencananya untuk mencemarkan nama baik Bella di mata Arya malam ini terlaksana. Mengingat bahwa ini adalah satu-satunya cara agar ia tidak di usir Arya dari kediaman Ken Wijaya.
"Apa yang kalian lakukan di kediaman ku?" sarkas Arya menatap tiga orang tersebut yang berada di hadapannya.
"Mengapa kakek begitu jahat kepada kami? apa itu karena Bella si anak har*m itu!" sarkas Adelia tidak mau kalah.
"Jaga ucapan mu, kaulah yang anak har*am! Cucu ku adalah anak yang suci!" tutur Arya dengan emosi karena tidak terima Adelia mencaci cucunya.
"Oh ya, mari kita buktikan sekarang juga! Aku ingin lihat seberapa sucinya cucumu itu! Ayo ikuti aku, kau akan dipermalukan!" ujar Adelia dengan sangat tidak sopannya. Sedang Biangka hanya diam, mengingat ia tidak tau menahu soal rencana yang dibuat putrinya. Sedangkan Ken juga terdiam, tidak mau ikut campur. Bahkan di usir pun ia sudah tidak peduli meski harus jadi gelandangan. karena Ken merasa tujuan hidupnya sudah tiada, meski semangat hidupnya kini hanya Bella satu-satunya.
"Baiklah, awas saja kau membuat waktuku terbuang sia-sia!" ujar Arya sambil meneriaki supirnya, agar membawa mereka semua ke tempat yang dimaksudkan oleh Adelia.
🏢Hotel XX🏢
Ting... Bel hotel berbunyi, mengusik tidur Bella yang baru beberapa jam itu. Dengan pikiran yang tidak jernih karena rasa kantuknya ulah obat. Bella pun berjalan tertatih-tatih menuju pintu untuk membukanya. Bella berfikir itu adalah Vini, tanpa teringat bahwa Vini lah orang yang memesankan hotel ini untuk nya. sehingga tentu saja Vini tau pin pintu kamar ini dibandingkan dirinya.
__ADS_1
"Kenapa Vin..." Belum sempat Bella berucap, pintu pun di dorong paksa ke dalam. Membuat Bella yang sedikit tidak sadar, akhirnya tersungkur ke lantai.
BERSAMBUNG.....