
...🌺🌺🌺🌺🌺...
2 Minggu pun berlalu. Kini tiba saatnya hari yang dinantikan oleh Rael yaitu wisuda.
"Selamat ya Rael. Nggak nyangka kita bisa wisuda bareng." Ujar Vino yang berada di samping Rael.
"Selamat juga buat Lo Vin. Benar sih kata Lo. Namun sayangnya Gibran tidak bisa datang di hari wisuda kita ini." Ucap Rael sendu.
"Tidak apa-apa, lagian kepergian Gibran untuk kebahagiaannya juga. Kalian berdua jangan bersedih dong di hari yang istimewa ini." Ujar Bella yang tiba-tiba saja datang menghampiri dua lelaki tampan itu.
"Betul kata Bu Bella. Dari pada Gibran disini dan terus bersedih, mending dia pergi saja. Itu pilihan yang lebih baik." Tambah Vino yang menyetujui ucapan Bella. Di saat yang sama Arya, Haris dan juga Dito datang menghampiri mereka.
"Selamat ya Rael, kakek salut melihat nilai mu yang bagus." Puji Arya memberikan selamat untuk Rael.
"Iya, Ayah juga bangga padamu Rael." Tambah Haris yang tiba-tiba memeluk erat anaknya. Namun Bella dapat melihat betapa tidak enaknya ekspresi Rael saat di peluk oleh Haris.
'Sampai saat ini aku belum tau mengapa Rael bertingkah seolah-olah sangat membenci Ayah. Pasti ada alasan yang penting dibalik hal itu.' Gumam Bella dalam hatinya.
"Waah pada ngumpul di sini ya. Selamat ya Vino dan Rael. Saya bangga sama kalian." Ujar Vini yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Terimakasih Bu Vini." Jawab Vino yang tampak salah tingkah. Bella dapat melihat gelagat aneh dari mereka berdua, tetapi Bella tidak mau merusak suasana dan hanya bisa menahan senyumnya.
'Pasti ada sesuatu nih di antara mereka.' pikir Bella kemudian.
"Kakek akan mengadakan pesta pernikahan kalian lusa. Semua teman bisnis dan orang-orang di kampus ini sudah kakek undang. Kalian tidak keberatan bukan bila semuanya kakek yang persiapkan?" Ujar Arya membuat Bella dan Rael kaget. Meski sedikit keberatan tetapi Bella bersyukur masih ada orang yang mau mengurusi urusan.
"Aduh kakek, maaf ya Bella selalu bikin kakek repot." Ucap Bella tidak enak.
__ADS_1
"Justru kakek melakukan ini demi kebahagiaan kamu Bel. Kakek tidak merasa repot sedikitpun." Ujar Arya sambil tersenyum hangat.
'Waah ternyata pak Arya bisa tersenyum juga. Kalau di kantor dia seperti ini pasti semua orang tidak akan takut padanya.' gumam Haris merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Makasih banyak ya Kek." Ujar Bella memeluk Kakek sambil tersenyum. Arya melihat Rael hanya diam dan melamun seperti memikirkan sesuatu.
'Apa ini rencananya Adelia? Bukankah beberapa minggu yang lalu ia mengingatkan kami soal ini. Apa kakek mendapatkan usulan darinya?' Gumam Rael dalam hatinya penuh rasa penasaran.
"Sama-sama Bel, apa kamu keberatan Rael? Mengapa hanya diam sedari tadi?" Tanya Arya mengerutkan keningnya, membuat Rael tersadar dan lansung tersenyum manis.
"Tidak kok Kek. Lagian aku bersyukur kakek bisa membantu kami. Mengingat belakang ini aku dan Bella sangat begitu sibuk sampai melupakan pesta pernikahan kami." jawab Rael sambil tersenyum.
"Bagus lah jika kamu menyukainya." Jawab Arya yang tersenyum senang.
"Tetapi, apa boleh sebelum lusa aku dan Bella tinggal di kediaman Genandra? Aku sudah merindukan rumah lamaku." Tanya Rael penuh harap.
"Tentu boleh Rael, kediaman Genandra selalu terbuka untuk mu dan juga Bella. Jadi jangan sungkan bila ingin menginap di rumah." Bukan Arya yang menjawab tetapi Haris dengan senyum lebar.
"Aku pinjam Bella dulu ya. Soalnya mau bicara penting." Ujar Vini membuat semua orang yang ada di sana terkekeh.
"Aduh Bu Vini ada-ada saja. Masa Bu Bella mau dipinjam, emangnya barang? Hahaha..." Celoteh Vino sambil terus tertawa. Vini terlihat malu dan langsung menarik Bella menjauh dari mereka semua.
***
Vini menarik Bella ke taman dengan ekspresi yang serius. Sepanjang jalan Bella terus bertanya akan mengapa Vini menariknya dengan tiba-tiba.
"Kenapa sih Vin? Emangnya ada hal penting apa yang harus dibicarakan? Kok nggak di sana aja?" Tanya Bella kembali saat mereka berdua telah duduk di kursi taman.
__ADS_1
"Lo sekarang ngasih Rael kado apa?" Tanya Vini tatapan serius.
"Gue belikan dia headphone gaming karena dia sering sekali bermain game di kamar. Itu buat Gue terganggu saat bekerja, oleh karena itu Gue belikan." Ujar Bella berbisik-bisik dan sedikit tersenyum memikirkan kejahilannya.
"Lo nggak ngasih kado yang lebih spesial gitu?" Tanya Vini kembali.
"Maksud nya gimana? Kan itu juga spesial Vin. Gue belinya mahal loh." Ujar Bella tidak senang.
"Bukan itu maksud Gue Bel. Ah, apa sekarang Lo udah datang bulan?" Pertanyaan Vini lansung mendapatkan gelengan dari Bella.
"Mungkin siklus menstruasi Gue lagi bermasalah. Lo kan tau sendiri kalau dulu aja Gue sering telat datang bulan." Ujar Bella mengatakan opininya sendiri.
"Dulu sama sekarang itu beda Bella. Lo yang dulu itu masih gadis dan mungkin aja itu karena faktor stress atau sebagainya. Namun sekarang itu Lo udah nikah, lagian Lo udah mantap-mantap juga kan sam Rael. Lo yakin itu cuma telat biasa?" Ucap Vini yang tampa rem sedikitpun.
"Aduh Vini, Lo kalau bicara di saring dulu napa! Untung orang di sini ngga terlalu ramai. Kalau nggak Gue bisa malu gara-gara Lo." Ujar Bella kesal tetapi ia membenarkan ucapan Vini. Itu membuat Bella kembali bimbang untuk mencoba memeriksa kondisi nya.
'Apa salahnya aku mencoba untuk periksa? Namun apa ini hal yang benar? Aku hanya takut bila Rael tiba-tiba saja berubah nantinya.' gumam Bella dalam hatinya.
"Gue bicara berdasarkan fakta Bella. Sebagai sahabat Lo, Gue mau yang terbaik buat rumah tangga dan hubungan Lo. Lagian ntah kenapa Gue berfirasat nggak enak, Gue takut aja suami Lo ntar di rebut orang lain. Tetapi kalau Lo udah bisa ngasih keturunan buat dia, pasti dia nggak bakalan mau terpikat dengan wanita lain." Ujar Vini kembali membuat Bella tersadar. Ia merasa bahwa setiap yang diucapkan oleh Vini memang benar adanya.
"Terus Gue harus apa? Tetapi pernikahan Gue kan masih seumuran jagung Vin, apa nggak terlalu cepat. Lagian Rael juga nggak terlalu menuntut." Tanya Bella bingung. Ia masih berusaha untuk mempersiapkan mentalnya padahal dari beberapa minggu yang lalu ia sudah mengatakan siap kepada Rael.
"Ini, pakai ini aja dulu. Lagian kalau hasilnya belum ada, itu artinya Lo harus lebih berusaha sama Rael. Kalau bisa 15 ronde sehari" Vini menyerahkan kantong kresek berisi beberapa testpack kepada Bella dengan sedikit terkekeh.
"Aish... Apaan sih, ucapan Lo mah terlalu brutal. Gue ngeri dengarnya. Mending Lo cepetan nikah deh, takutnya ntar otak Lo masih ke sana kemari." Ujar Bella geleng-geleng mendapati pemikiran sahabatnya itu. Bella tetap menerima pemberian Vini meski ia tidak tau kapan akan mencobanya.
"Hele... Nggak bisa cepat-cepat neng. Pangeran berkuda putih Gue masih belum datang, gimana mau nikah coba?" Gumam Vini menolak nasehat Bella.
__ADS_1
"Kalau pangeran dengan mobil putih mau nggak?" Tanya seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari belakang mereka. Sontak membuat Bella dan Vini lansung mengalihkan perhatiannya pada sumber suara.
BERSAMBUNG.....