MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
KEJUJURAN


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Dito kepanikan mencari keberadaan Bella di luar rumah. Bahkan ia juga mengunjungi swalayan tempat Bella bekerja akan tetapi wanita itu tidak kunjung di temukan.


Handphone Bella juga mati dan membuat Dito tidak bisa melacak keberadaannya.


'Bel, Lo kemana sih?' gumam Dito dengan frustasi. Ia mengusap gusar wajahnya.


***


Di lain sisi. Vino yang di beritahu oleh Dito bahwasanya Bella kabur langsung bergegas menuju kediaman Genandra. Tempat dimana saat ini Rael tengah bersiap-siap menjemput sang istri.


Kedatangan Vino untung saja tidak terlambat. Ia berhasil menghentikan mobil Rael yang sudah berjalan keluar pekarangan.


"Berhenti Rael!" titahnya menghadang mobil dengan nafas tergesa-gesa.


"Ada apa Vin? Lo kenapa mengehentikan mobil gue? Lo mau ikut?" tanya Rael penasaran. Senyum lebar diwajahnya masih sama da tidak luntur sedari tadi.


"Gue ikut sama Lo!" ujar Vino yang sudah memasuki mobil Rael.


"Lah, bukannya Lo tadi nggak mau ikut?" tanya Rael mengerutkan dahinya.


"Lo nggak tau tempat bu Bella selama ini, karena gue yang tau! Sorry Rael, gue emang terlibat." ungkap Vino santai sambil memasang sabuk pengaman.


Namun lain halnya dengan Rael yang kaget bukan main, tebakannya beberapa hari lalu soal keterlibatan Vino ternyata benar adanya.


Rael meraih kerah baju Vino dan bersiap-siap untuk memberinya sebuah bogeman. Untung saja Vino dengan sigap menangkis tangan Rael, sehingga wajah tampannya tidak jadi penyok.


"Lo tenang dulu Rael, kita harus segera ke sana untuk mencari keberadaan Bu Bella! Dia kabur dari rumah Dito kerena salah paham. Sekarang kami juga nggak bisa melacak kepergian nya kemana! Lo nggak mau bukan kalau sampai terjadi apa-apa dengan Bu Bella." ujar Vino membuat Rael berupaya meredam emosinya.

__ADS_1


"Kenapa Lo nggak bilang dari tadi ha! Anying!!!" sarkas Rael yang kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan Vino sontak terkejut dengan tindakan spontan Rael.


"Gue minta maaf karena merahasiakan ini selama beberapa minggu kepada Lo. Tapi tujuan Gue baik kok, untuk kebahagiaan Bu Bella. Bu Bella begitu hancur saat memergoki Lo berselingkuh dengan Adelia. Dia minta tolong Dito untuk membawanya pergi dari sini. Lo juga nggak bisa marah pada kami berdua, karena ini adalah permintaan Bu Bella." jelas Vino sepanjang jalan.


Rael tidak menjawab ucapan Vino dan hanya mendengar kan semua penjelasannya.


"Oleh karena itu Gue bantu Dito buat ngilangin jejak kepergian Bu Bella. Selain kami berdua, Vini juga tau kalau Bella bersama Dito.  Bahkan ia ikut menyembunyikan rahasia ini atas permintaan Bu Bella. Dia benar-benar membenci Lo, Rael." lanjut Vino membuat Rael menghela nafas.


Rael kembali merutuki dirinya sendiri karena tidak becus menjadi seorang suami. Bahkan Bella sampai benar-benar membencinya saat ini.


"Terus kenapa Bella kabur dari rumah Dito?" tanya Rael yang akhirnya buka suara.


"Gue juga kurang tau, tapi Dito bilang ada kesalahpahaman di antara mereka. Sebaiknya kita lebih cepat ke sana, gue memiliki firasat yang tidak enak!" titah Vino membuat Rael melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan tinggi.


***


Di perusahaan Indarko yang tidak jauh dari rumah Dito. Kini Bella tengah menunggu kedatangan Riko. Kata resepsionis lelaki itu tengah memiliki pertemuan diluar dengan para kolega-kolega bisnisnya.


Ia sangat lapar karena sedari tadi belum makan apapun. Ia terlalu takut untuk membeli sesuatu atau keluar dari kantor ini. Takut jika nanti ia akan bertemu Dito yang ia sudah tau maksud jahatnya.


Untung saja Bella ingat nama asli Riko sehingga ia bisa dengan cepat menemukan perusahaan Indarko.


Beberapa pegawai menunduk saat seorang lelaki berjas coklat memasuki perusahaan. Bella sempat terdiam ketika melihat Riko tampak berbeda dari yang biasa ia lihat di camp. Lelaki itu lebih tampan dengan pakaian formal yang ia pakai.


"Riko!" teriak Bella yang berdiri dari duduknya. Lelaki itu kaget bukan main, saat melihat kedatangan Bella di hadapannya.


Beberapa orang pegawai mengernyit heran saat Bella memangil tuan nya dengan nama lain.


"Mbak, Lo ngapain di sini?" tanya Riko menghampiri Bella. Ada rasa senang dalam hatinya karena setelah beberapa hari kejadian di swalayan itu, selalu membuat Riko merindukan sosok Bella yang telah ia anggap keluarga sendiri.

__ADS_1


"Gue butuh bantuan Lo. Ceritanya panjang, tapi boleh nggak gue minta makan dulu. Gue lapar!" ujarnya dengan menampilkan pupil eyes pada Riko.


Tentu Riko tidak akan menolak keinginan Bella. Gadis ini telah membantunya di saat susah dan kini Riko bertekad untuk membalas budi kepadanya.


"Lo mau apa? Biar pegawai gue yang siapkan." tanya Riko menatap Bella dengan tersenyum manis.


"Gue mau nasi goreng aja, soalnya belum makan dari pagi. Terus kalau boleh pesan burger sama kebab juga. Minumnya jus jeruk aja." ujar Bella yang begitu sangat lapar. Bahkan ia tidak malu mengungkapkan porsi makannya itu kepada Riko.


"Itu aja cukup?" tanya Riko sedikit terkekeh mendengar banyaknya pesanan Bella. Padahal ia tau sendiri kalau biasanya Bella tidak makan sebanyak itu.


"Iya, itu aja." angguk Bella dengan mantap. Ia tersenyum sumbringan ketika Riko memerintahkan salah satu pegawainya untuk membelikan apa yang diinginkan oleh Bella.


"Mari kita ke ruangan gue. Lo berutang penjelasan pada gue, Mbak!" ajak Riko yang kemudian menuntun Bella memasuki ruangannya yang berada di lantai 3 perusahaan itu.


Sepanjang jalan menuju ruangan. Semua tatapan mata pegawai menatap Bella dan Riko dengan kagum. Mereka tampak serasi dari luar, Bella yang cantik dan Riko yang tampan. Sudah seperti pangeran dan putri, bahkan mereka menjadi sedikit iri.


"Apa yang kalian lihat?" tanya Indarko ketika melihat beberapa pegawainya berkerumun.


Semua pegawai terdiam ketika sadar yang bertanya adalah big bos mereka. Semuanya hendak bubar akan tetapi langkah mereka terhenti ketika tatapan tajam Indarko sangat mengintimidasi.


"Apa yang kalian lihat?" tanya Indarko tegas. Ia sempat melihat Riko memasuki lift bersama seorang wanita. Akan tetapi wajah wanita itu tidak terlalu jelas karena jarak mereka yang jauh dan Indarko juga tidak memakai kacamata.


"I-itu bos t-tuan muda m-membawa seorang w-wanita ke ruangannya!"  ucap salah satu pegawai dengan suara terbata-bata.


Indarko lansung mengernyit heran. Ia tidak mau ikut campur urusan Riko akan tetapi ia juga tidak mau anaknya itu kembali menyakiti hati sang menantu. Oleh karena itu Indarko meraih handphone di sakunya dan mulai menelpon seseorang.


"Halo Ma, tolong bawa Jingga ke kantor dengan segera. Aku membutuhkan kalian berdua untuk menyelesaikan sebuah masalah yang ada di perusahaan!" titah Indarko dengan jelas. Ia termasuk lelaki yang tegas, to the point dan tidak suka berbasa-basi.


Kartika, istrinya itu sudah sangat paham akan sifat sang suami. Sehingga ia langsung mengiyakan permintaan Indarko tanpa menanyakan sebab mereka diminta untuk ke sana.

__ADS_1


Kartika seketika menutup sambungan telepon dan mengajak Jingga langsung ke kantor. Tidak lupa ia memperhatikan pakaian yang dipakai oleh menantunya agar tidak menggangu kesehatannya. Mengingat hari sudah malam dan akan terasa sedikit dingin.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2