MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
TAK BISA DI UTARAKAN


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Suster tersebut menyerahkan bayi yang baru lahir itu pada Riko. Ia sedikit mengajarkan cara untuk menggendong anak pada Riko.


Ketika kulit Riko dan bayi itu bersentuhan ada rasa baru yang di rasakan oleh Riko dari dalam diri maupun hatinya.


Rasa yang tidak bisa ia utarakan akan tetapi mampu membuat senyum di wajahnya terukir.


Bahkan yang tadinya Riko tidak bisa menangisi rasa sesak di dadanya, kini air matanya malah mengalir sendiri. Tangis haru yang ia rasakan.


Riko dapat merasakan detak jantung dari bayi kecil itu.


"Sebenarnya ini masih belum masa kelahiran bayi anda tuan. Seharusnya bayi ini lahir 2 atau 3 bulan lagi. Sehingga membuat bayi anda termasuk dalam kelahiran bayi prematur. Tubuhnya yang mungil membutuhkan perawatan yang intensif, beratnya saja hanya 2,2 kg. Hal itu membuat anak anda harus selalu dalam pengawasan medis." ungkap suster yang tadinya menyerahkan bayi itu pada Riko.


Riko sedikit terkesiap. Kalau saja ia yang menemani Jingga pagi ini, sudah pasti anak mereka masih berkembang dengan sewajarnya.


Riko kembali menyesali dan itu semakin membuat dadanya sesak.


Riko mengelus lembut punggung bayinya yang masih kemerahan itu.


"Maafkan Papa ya nak, seharusnya kamu tidak lahir hari ini!" gumam Riko tanpa sadar.


Suster ikut terharu menyaksikan pemandangan di hadapannya.


5 menit berlalu akhirnya suster mengambil alih bayi nya kembali. Bayi kecil itu di letakkan dalam tabung agar selalu hangat dan kebersihan nya terjamin.


Riko sebenarnya tidak rela melepaskan gendongan nya pada bayinya itu, akan tetapi ini demi kesehatan sang bayi. Riko harus merelakan nya sejenak.


Setelah memakaikan kancing kemejanya kembali. Riko mengalihkan perhatian pada Jingga yang masih terbujur kaku di atas bed pasien operasi.


Seolah-olah tau pemikiran dan arti tatapan Riko, suster yang tadinya ditugaskan untuk menjaga sang bayi langsung menyadarkan lamunan Riko.


"Dia wanita yang tangguh dan kuat! Selama saya menjadi Suster, baru kali ini kasus yang sangat berat dan berhasil di selamatkan. Walaupun istri anda saat ini di ambang kematian karena darah nya masih belum bisa dihentikan." terang si suster membuat Riko meringis takut.


Tanpa menjawab ucapan suster, Riko berlalu pergi keluar ruangan. Membiarkan dokter fokus untuk menangani Jingga.


Ia duduk di kursi tunggu. Warna lampu operasi kembali berubah merah ketika Suster keluar membawa box bayi. Riko rasa box bayi itu akan di bawa ke ruangan bayi.

__ADS_1


***


Beberapa saat kemudian.


Kartika dan Indarko kembali mendatangi Riko. Mereka sudah mendapat kabar jika cucu mereka telah lahir.


Walaupun bahagia tetap saja kedua pasangan itu tidak suka bila nyawa menantunya menjadi taruhan saat ini juga.


Mereka berdua sedikit menyalahkan bayi itu dan keputusan yang Riko ambil. Kartika dan Indarko begitu telah menyayangi Jingga, bahkan lebih dari anak kandungnya sendiri.


Setelah melihat sekilas bayi itu di ruangan bayi, Kartika dan Indarko mendatangi Riko.


"Bagaimana kondisi Jingga?" tanya Kartika dengan dingin. Bahkan ia tidak menatap sama sekali lawan bicaranya.


"Dia semakin drob, sudah habis beberapa kantong darah dan pendarahan di kepalanya masih belum bisa dihentikan!" ungkap Riko dengan tatapan kosong.


Indarko diam dan hanya bisa melafalkan doa dalam hatinya.


"Kalau terjadi apapun pada Jingga, Mama nggak segan-segan ngusir kamu dari rumah! Mama nggak butuh anak yang kejam kayak kamu! Jingga diujung maut gara-gara kamu!" sarkas Kartika yang masih frustasi dan semakin khawatir pada kondisi Jingga.


Indarko yang melihat ekspresi kekecewaan Riko memilih untuk menenangkan istrinya yang hampir mengamuk kembali.


"Sudahlah Kartika, kita lihat saja kelanjutan nya. Bagaimana pun ini semua sudah terjadi!" ujar Indarko menenangkan Kartika.


***


Di sisi lain.


Sudah beberapa jam Bella masih tidak kunjung bangun dari koma nya. Retakan yang terjadi di tulang pinggul nya membuat Bella tidak sadarkan diri karena retakan itu mengenai sedikit saraf di otaknya.


Kini hanya Rael yang menemani Bella di kamar inap. Sedangkan Dito dan Vino tengah menjalankan tugas yang diberikan Rael serta Riko. Yaitu untuk segera mencari siapa dalang dari penambrakkan lari itu.


Sedari tadi tidak hentinya Rael bergumam dan mencoba untuk berbicara di hadapan Bella padahal ia sendiri tau kalau Bella saat ini tengah tidak sadarkan diri.


Rael menyesal, bahkan ia merutuki kebodohannya selama ini.


Rael juga mencoba untuk meraba perut Bella yang baru beberapa bulan itu. Rasanya Rael tidak percaya bahwa ada junior nya di dalam sana.

__ADS_1


Saat tengah menikmati rasanya mengelus perut Bella. Tiba-tiba saja Rael terkesiap ketika pintu ruangan tiba-tiba dibuka.


Terlihat seorang dokter dan juga Arya  yang berjalan menghampiri nya.


"Kakek." sapa Rael yang kemudian menyalami Arya.


Beberapa jam lalu Rael memberitahu Arya soal kecelakaan Bella, membuat pemilik perusahaan Wijaya itu langsung datang dengan mengunakan Helikopter pribadinya yang langsung mendarat di atas atap rumah sakit tempat Bella ditangani.


Arya tersenyum tipis dan mengangguk. Tatapan sendu muncul ketika ia melihat cucu satu-satunya itu terbaring kaku di atas bad pasien.


Dokter yang ditugaskan Arya untuk memeriksa Bella langsung melakukan pekerjaan nya.


"Kondisi cucu anda baik-baik saja tuan. Hanya saja sarafnya terganggu, membuat pasien masih belum bisa untuk sadarkan diri." terang dokter itu dengan serius.


"Apa ini bisa menganggu kehamilan nya?" tanya Rael penasaran.


Dokter seketika mengangguk. Membuat tubuh Rael lemah seketika.


"Bisa tuan, istri anda mengalami gangguan saraf di otaknya karena kecelakaan itu. Dan, tidak menutup kemungkinan bayi yang ia kandung ikut merasakan nya. Apalagi tulang pinggul istri anda retak karena benturan yang keras." terang dokter itu yang membuat Arya dan Rael meringis takut.


"Kalau begitu tolong periksa saja mereka berdua dokter, saya ingin yang terbaik untuk mereka!" titah Arya yang langsung diangguki oleh dokter.


"Baiklah tuan. Kalau begitu saya akan mempersiapkan ruangan khusus untuk memeriksa kondisi pasien dan anak yang ia kandung. Kalau begitu saya pamit dulu!" pamit dokter itu yang kemudian pergi dari ruangan.


Arya dan Rael hanya mengangguk untuk menanggapi pamitan dokter itu.


Tatapan Arya yang tadinya fokus pada Bella kini beralih pada Rael yang berdiri di sebelah nya.


"Kamu jaga Bella baik-baik! Kalau ada apa-apa tolong hubungi kakek segera!" titah Arya yang langsung diangguki oleh Rael.


Arya memiliki urusan lain yang hendak ia lakukan. Sehingga membuat nya terpaksa harus meninggalkan Bella yang masih belum sadarkan diri.


"Kakek tenang saja, Rael kali ini tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menjaga Bella dan calon anak Rael! Oh ya kek, tolong beritahu Ayah ku soal ini. Nomor telepon nya tidak aktif dan ku rasa kakek bisa memberitahu nya dari beberapa staf Perusahaan." ujar Rael yang kemudian membuat Arya terdiam sejenak dan mengangguk datar.


"Baiklah, kalau begitu kakek pergi dulu." pamit Arya yang kemudian meninggalkan ruangan itu.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2