
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Selang beberapa jam. Rael datang bersama Dito dan juga Vino ke camp. Real masih dengan raut wajah yang kesal. Dito tampak celingukan melihat isi camp yang sangat rapi dan mewah menurutnya. Sedangkan Vino hanya terlihat biasa karena sudah beberapa kali datang ke camp ini.
"Ini seriusan milik Bella?" Tanya Dito yang tidak percaya.
"Iya, ini punya bu Bella. Dia ketua geng motor di camp ini." Jelas Vino yang sama-sama melangkah ke dalam camp.
"Waah nggak nyangka banget kalau wanita selembut Bella bisa jadi ketua geng motor. Apalagi dia punya camp semewah ini." Puji Dito ya dapat terdengar jelas oleh Bella saat menyambut kedatangan mereka.
"Ah kak Dito bisa saja. Camp ini tidak seberapa mewahnya dengan kediaman kakak." Ujar Bella yang menghampiri mereka.
"Lah itu kan buatan orang tua ku Bel, bukan hasil usahaku sendiri." Elak Dito sambil tersenyum.
'Nah kan gue nyesel bawa nih cowok ketemu Bella. Pasti gue di anggurin gini! Ah nggak enak!" Kesal Rael yang dengan kesal menendang tepian pintu. Tanpa sadar menghasilkan suara yang besar, bahkan beberapa orang yang ada di camp langsung kaget dibuatnya.
'Astaga Rael pasti marah, mungkin karena masih cemburu lihat gue sama kak Dito. Benar-benar menggemaskan.' gumam Bella dalam hatinya sambil menahan tawa.
"Lo ngapain sih bos?" Tanya Vino bingung.
"Nggak ada, gue kesal aja, soalnya nih pintu menghalangi jalan gue." Ujar Rael dengan kesal. Padahal pintu tersebut tidak menghalanginya sama sekali.
"Kalau begitu kita ke ruangan yang sudah aku siapkan. Silahkan ikuti aku!" Pinta Bella mengalihkan topik agar kecemburuan suaminya tidak terlihat jelas oleh orang lain. Bella membawa 3 lelaki tampan di hadapan nya menuju salah satu ruangan pribadi yang ada di lantai bawa. Mereka pun tanpa bertanya terus mengikuti Bella.
__ADS_1
Sesampainya di dalam ruangan itu, Bella menutup rapat pintu agar anggota yang lain tidak bisa mendengar pembicaraan mereka nantinya. Bella juga mempersilahkan ketiga lelaki itu untuk duduk di sofa.
"Maaf ya sudah menganggu waktu kerja kak Dito." Ujar Bella tidak enak.
"Ah tidak apa-apa Bel. Lagian kamu kan cucunya yang punya perusahaan, ini juga kewajiban ku membantu mu." Jawab Dito dengan tersenyum manis. Bella dapat melihat jelas tatapan tidak suka Rael saat melihat Dito tersenyum manis kepadanya. Oleh karena itu Bella tidak ingin berlama-lama dalam situasi itu.
"Kalau begitu lansung ke intinya saja. Aku cuma mau kak Dito bantu lacak nomor telepon ini. Aku membutuhkan informasi keberadaannya secepat mungkin." Pinta Bella dengan memaparkan nomor handphone Riko di teleponnya pada Dito. Dito pun langsung mengangguk dan mencoba untuk langsung bekerja saat laptop sudah ada ditangannya.
"Baiklah Bel, akan ku coba. Kalau nomor ini masih aktif, aku akan dengan cepat melacaknya." Ujar Dito yang sudah mulai serius menatap laptopnya. Sedangkan Rael dan Vino malah mengerutkan dahi penasaran saat nama Riko tertera di handphone Bella.
"Masalahnya apa sih? Kok itu cari keberadaan Riko?" Tanya Vino penasaran.
"Iya nih, kamu juga bilang tadi bakal ceritain masalah nya kalau aku sudah sampai disini kan. Sekarang ayuk cerita!" Pinta Rael yang ikut penasaran.
"Apa Gibran sudah tau?" Tanya Vino yang akhirnya teringat akan sang sahabat. Bella langsung menggeleng-geleng karena ia belum yakin untuk memberitahu pada Gibran.
"Aku tidak yakin untuk memberitahu Gibran. Mereka terlihat begitu sangat mencintai. Apa jadinya jika Gibran tau semua ini? Pasti ia akan begitu terpukul." Ujar Bella dengan sendu. Real paham yang dirasakan oleh sang istri. Ia juga tidak akan tinggal diam saat masalah ini bersangkutan dengan sahabat baiknya.
"Gue nggak nyangka hasil hubungan mereka begini. Padahal malam tadi Gibran mau melamar Jingga, apakah tidak jadi?" Tanya Vino membuat Rael dan Bella kaget. Karena mereka merasa tidak tau apapun soal hal itu.
"Melamar? Tetapi setahu ku, malam tadi memang Gibran menjemput Jingga untuk dinner. Namun sebuah kejadian membuat Jingga histeris dan membangkitkan trauma yang selama ini ia pendam. Bahkan ia tidak mau di sentuh oleh lelaki." Jelas Bella saat teringat akan hal yang sudah Nara ceritakan padanya.
"Mengapa gue nggak tau kalau Gibran bakalan ngelamar Jingga?" Tanya Rael kesal dan merasa tidak terima.
__ADS_1
"Ntah lah, dia cuma cerita ke gue sore kemarin." Jawab Vino acuh. Membuat Rael merasa tidak dihargai sebagai sahabat.
"Awas saja, jika ketemu! Bakalan gue pukul habis-habisan tuh bocah!" Gumam Rael kesal mendapat cubitan kecil dari Bella.
"Kamu jangan begitu. Itu hak dia mau cerita atau nggak. Kamu yang harus introspeksi diri, sama kayak aku sekarang. Padahal Jingga sudah ku anggap keluarga ternyata dia menutupi masalah ini dengan sendiri. Aku merasa gagal menjadi keluarga untuk Jingga." Ujar Bella membuat Rael terdiam.
"Kamu jangan merasa bersalah begitu Bel karena ini semua bukan salah kamu! Kita sekarang akan selesaikan masalah ini dengan segera. Habis itu kita obati trauma Jingga." Ujar Rael menggenggam tangan Bella erat. Menyalurkan rasa keyakinan di sana. Dito yang masih fokus pada laptopnya mencuri-curi pandang pada tangan mereka. Ia sangat iri dengan Rael yang bisa berbuat seperti itu pada Bella.
'Beruntung sekali Rael. Aku makin cemburu melihat kedekatan mereka. Aku kesal dengan kenyataan ini. Andai dulu aku tidak meninggalkan Bella, pasti kami sekarang sudah menjadi pasangan paling romantis.' gumam Dito dalam hatinya.
"Makasih ya Rael. Kamu selalu bisa menenangkan aku." Ujar Bella tersenyum hangat. Sedangkan Vino malah merasa mau muntah menyaksikan kebucinan pasutri dihadapannya ini.
Selang beberapa menit. Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan Nara dengan wajah panik dan baju berlumuran darah. Sontak semua orang di dalam ruangan itu langsung kaget dibuatnya.
"Mbak, itu Jingga!" Ucap Nara tidak jelas membuat Bella langsung berdiri dari duduknya. Ia dengan khawatir langsung menghampiri Nara. Baru saja hendak bertanya, Yoga sudah datang dengan mengendong Jingga ala bridal style.
"Tolong yang punya mobil segera bantu saya membawa Jingga ke rumah sakit!" Teriak Yoga panik. Ia tidak lagi bisa berpikir jernih saat kondisi Jingga membuatnya khawatir.
"Pakai mobilku saja. Ayo!" Ujar Rael yang sudah duluan keluar camp untuk menghidupkan mobilnya. Yoga langsung mengikuti langkah Rael. Langkah Bella terhenti saat teringat akan Nara, Vino serta Dito yang masih di ruangan.
"Nara, aku akan membawa Jingga ke rumah sakit! Kamu bersihkan dulu tubuhmu itu. Kak Dito dan Vino aku tinggalkan kalian sebentar ya?" Ucap Bella dengan suara panik.
"Baiklah Bel." Jawab Nara, Dito dan juga Vino bersamaan. Bella langsung melangkah keluar camp untuk mengejar Rael dan Yoga yang sudah memasuki mobil. Beberapa anggota pun ikut melihat kejadian itu dengan rasa penasaran bercampur khawatir akan kondisi Jingga. Darah Jingga sudah berceceran dari lantai atas sampai lantai bawah. Membuat beberapa anggota merinding melihatnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....