
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Rael memutuskan untuk pulang setelah beberapa jam duduk di sebelah nisan Ibunya. Meluapkan semua perasaan yang ia rasakan saat ini.
Setelah memarkirkan motornya diparkiran, langkah Rael dihentikan oleh Haris yang tengah duduk di kursi teras rumah.
"Berhenti kamu Rael!" Titah Haris yang sudah berdiri dan menghampiri Rael. Rael tanpa berbicara langsung berhenti, meski tidak menatap Haris sama sekali.
"Pergi kemana saja kamu? Pergi dari pagi baru pulang sore. Bahkan ini sudah hampir malam." Tanya Haris dengan nada yang terdengar marah.
"Bukan urusan anda!" Tegas Rael membuat Haris gusar. Ia tampak tidak acuh dan kembali melanjutkan jalannya.
"Jika kalian punya masalah, tolong jangan sakiti Bella atau tidak kamu akan menyesal." Ujar Haris membuat Rael menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap sang Ayah yang berada di belakangnya.
"Kenapa tidak boleh? Apa karena dia anak dari wanita simpanan anda?" Ujar Rael tersenyum miring. Haris langsung mengerutkan dahinya, tidak percaya bahwa sang anak masih menyimpan dendam yang sudah lama itu.
"Kamu salah paham Rael! Dengarkan penjelasan ayah dulu!" Tegas Haris tetapi tidak digubris oleh Rael, ia kembali melangkah meninggalkan sang Ayah yang terus memanggil-manggilnya.
'Dasar kepala batu, Rael sangat persis dengan ibunya! Selalu berasumsi sendiri hanya dari yang ia lihat. Apalagi tidak mau mendengarkan penjelasan orang!' gusar Haris dalam hatinya.
***
Rael memasuki kamar bersamaan dengan itu ia melihat seorang pelayan memasuki kamar dengan membawa nampan.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?" Tanya Rael terdengar dingin dan membuat sang pelayan kaget bahkan hampir menjatuhkan nampan yang ada ditangannya.
__ADS_1
"Maaf tuan muda, tuan besar meminta saya untuk mengantarkan makan malam pada nyonya muda." Jelas sang pelayan yang meletakkan nampan itu ke atas meja yang ada di kamar itu.
"Kenapa makan malam pakai susu segelas? Apa kalian para pelayan di sini sudah lupa akan sajian untuk makan malam?" Tanya Rael heran saat melihat isi nampan dengan pendamping minumannya susu segelas.
"Maaf tuan muda, tetapi itu adalah susu..." Belum sempat pelayan melanjutkan ucapannya. Bella langsung menyela dan memotong ucapan tersebut.
"Aku yang memintanya. Terimakasih Mbak. Mbak boleh pergi." Sela Bella yang langsung diangguki oleh pelayan itu. Rael mengalihkan pandangannya pada Bella yang masih di atas ranjang.
Setelah pelayan itu menutup pintu, Bella pun turun dari ranjang menuju nampan itu.
"Kenapa kamu meminta susu?" Tanya Rael dengan suara dingin.
"Aku kedinginan. Makanya aku meminta segelas susu hangat." Ucap Bella bohong. Padahal ia sendiri baru saja bangun karena mendengar suara Rael yang bertanya kepada sang pelayan. Bella yakin itu adalah susu hamil yang disiapkan Haris untuknya.
'Maaf Rael, aku terpaksa harus berbohong. Semenjak kejadian tadi aku takut memberitahu bahwa aku tengah hamil kepadamu. Aku juga takut kamu akan melukai anak kita nantinya, karena saat ini kamu tengah termakan rasa dendam dan benci yang kamu pendam selama ini.' gumam Bella dalan hatinya.
"Tidak bisakah kamu tetap di sini? Aku ingin tidur di pelukmu malam ini. Kamu baru pulang setelah pergi dari pagi, kenapa harus pergi lagi?" Tanya Bella membuat Rael tersenyum miring.
"Peluk? Tidur? Kamu pikir setelah aku tau kalau kamu anak pelacur itu, aku tetap akan menyayangimu seperti biasa? Jangan mimpi Bella!" Bentak Rael menatap Bella sambil tersenyum miring.
"Tapi, aku ingin sekali kamu peluk. Ini semua karena..." Ucapnya menggantung. Bella ragu untuk berbicara jujur bahwa ini adalah keinginan anak diperutnya.
"Karena apa? Karena pernikahan bodoh ini? Aku mau melanjutkan pernikahan ini karena untuk menyiksamu!" Sambung Rael membuat Bella memilih untuk bungkam.
"Terserah kamu Rael, aku tidak akan memperdulikan ucapan mu itu. Aku tidak ingin berdosa jikalau melawan perkataan suami." Ucap Bella yang memilih untuk mengalihkan perhatiannya ke atas meja, tempat berisi beberapa piring makanan untuk makan malam. Bella memang merasa begitu lapar sedari tadi, bahkan makan siang pun ia lewatkan demi mematuhi ucapan Rael untuk tidak keluar dari kamar.
__ADS_1
"Dasar sok suci!" Decak Rael melangkahkan kakinya keluar kamar. Bella hanya melihat kepergian sang suami dengan tatapan sendu.
'Seharusnya hari ini adalah hari yang paling bahagia bagiku. Bahkan untuk Rael pun pasti begitu. Kehadiran buah hati kami ini pasti akan membawa kesenangan bagi rumah tangga kami. Namun, aku tidak percaya bahwa Rael begitu egois dan mengutamakan dendamnya tanpa memikirkan pernikahan serta perasaannya kepadaku.' gumam Bella yang kemudian memilih untuk menyantap makan malam dengan begitu lahap. Tidak lupa juga meminum segelas susu yang sudah disiapkan oleh pelayan tadi.
Bella tidak lagi mengambil hati setiap ucapan Rael yang bisa menyakiti hatinya, karena Bella yakin kalau suatu saat nanti Rael akan berubah dan kembali menyayanginya. Untuk sekarang ia lebih mementingkan kesehatan sang bayi yang ada di dalam perut, karena itu adalah satu-satunya hasil dari buah cinta Bella dan Rael.
***
Di lain sisi.
Rael memutuskan untuk tidur di camp Swaq partner malam ini. Baru saja memasuki camp, ia sudah menemukan Vino dan Dito di ruangan depan. Mereka tengah mengobrol asik.
"Ngapain Lo bawa dia ke sini?" Tanya Rael menatap dingin ke arah Dito.
"Slow bro, Gue yang nyamperin Vino ke sini. Karena besok malam, selesai dari acara pernikahan kalian Gue mau keluar kota. Karena ada urusan penting yang harus Gue bicarakan sama Vino, makanya Gue ke sini." Jelas Dito sambil tersenyum ramah.
"Nggak usah sok akrab Lo. Gue nanya Vino bukan sama Lo!" Ketus Rael yang lebih memilih memasuki kamar pribadi miliknya.
Vino langsung mengerutkan dahinya bingung, baisanya Rael bersemangat dan sangat ceria. Namun saat ini kenapa Rael tampak berubah.
"Dia biasa kayak gitu?" Tanya Dito kepada Vino.
"Nggak kok, bahkan setelah menikah dengan Bu Bella, ia sangat bersemangat dan bahkan murah senyum. Tapi tatapan nya tadi membuat ku teringat akan saat kematian ibunya beberapa tahun lalu. Rael tampak seperti ketika saat itu." Vino berucap dengan sedikit rasa khawatir pada Rael.
"Apa dia dan Bella baik-baik saja?" Gumam Dito saat kekhawatiran Vino mengingatkan nya kepada Bella.
__ADS_1
"Entahlah, semoga saja tidak terjadi apapun di antara mereka. Vini sempat bicara padaku bahwa ia mengira Bella tengah hamil." Ungkap Vino membuat Dito hanya mengangguk-angguk dan sambil berfikir bahwa memang tidak ada peluang lagi untuknya memiliki Bella. Serta keputusannya untuk kerja pindah kota pun adalah keputusan yang benar.
BERSAMBUNG.....