
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Fokus menyetir Rael teralihkan saat ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Bella. Ketika ia menunggu nya di depan cafe tadi, Bella hanya sekedar menyapa dan lansung masuk ke mobil.
'Gue ada salah apa ya? Perasaan siang tadi Bella masih terlihat senang.' Gumam Rael dalam hati, ia bertanya-tanya apa kesalahannya.
"Kamu sudah makan malam?" tanya Rael memecahkan suasana dingin.
"Ah, aku sudah makan. Kamu sudah makan malam?" tanya Bella yang terlihat kaget usai melamun.
"Sudah kok, apa aku ada salah? Kenapa kamu terlihat tidak senang dan banyak melamun begitu?" tanya Rael yang sudah penasaran.
"Aduh maaf ya, aku bikin kamu tidak nyaman. Kamu nggak ada salah apapun kok. Seharusnya aku bersikap biasa saja padamu. Aku melamun karena kepikiran soal hubungan Jingga dan Gibran." ujar Bella dengan rasa bersalah.
"Memangnya ada apa dengan hubungan Jingga dan Gibran?" tanya Rael setelah mendengar pertanyaan itu.
"Kamu jangan bilang ke Gibran ya! Sebenarnya Jingga sangat tidak percaya diri menjalin hubungan dengan Gibran. Ia merasa takut tidak dihargai oleh keluarga Gibran, karena ia hanya tamatan SMA. Aku merasa kasihan padanya, apa perlu aku bantu dia untuk kuliah?" ungkap Bella dengan suara sedih. Rael malah tertawa mendengar penjelasan Bella.
"Kamu kan kenal sama om Rahman, mereka keluarga yang baik. Tidak memandang status apapun jika menjalin hubungan dengan orang lain. Tambah lagi Mama nya Gibran juga tamatan SMA. Jingga pasti di terima baik oleh keluarga Gibran, aku yakin itu." jelas Rael yang sangat tau akan keluarga Gibran.
"Waah, aku baru tau kalau Mama nya Gibran itu cuma tamatan SMA. Kalau begitu apa Jingga masih perlu kuliah?" tanya Bella bingung.
"Kalau kamu berniat untuk membantunya, maka lalukan saja. Aku akan selalu mendukungmu. Tetapi itu kembali pada Jingga, apa dia ingin kuliah atau tidak. Karena semua kan berawal dari niat." Ujar Rael begitu bijak. Membuat Bella terpesona akan kata-katanya.
'Kok Rael bisa sebijak ini ya? Perasaan Rael yang ku kenal dulu pemikirannya seperti anak-anak. Aku juga nggak nyangka kalau setelah menikah kami jadi sedekat ini. Sekarang Rael terlihat hebat dimataku.' kagum Bella menatap sang suami yang berada di sampingnya.
"Kamu terlihat sangat tampan." gumam Bella tanpa sadar. Mendengar itu membuat Rael langsung mengerem mobilnya mendadak. Untung saja jalanan sepi karena sudah sedikit larut malam. Jadi, berhenti pun tidak membahayakan orang lain. Bella juga langsung kaget, tidak mengerti yang dilakukan Rael.
__ADS_1
"Apa kamu bilang tadi? Coba ulang lagi." titah Rael menatap istrinya di sebelah dengan senyum senang.
"Aku tidak bilang apa-apa." elak Bella kembali mengingat ucapan nya. Jujur saja ia sungguh tidak sadar akan ucapan nya tadi.
"Kamu bilang aku tampan Bel. Coba ulangi lagi deh! Aku pengen dengar. Ini hal yang langkah dan pertama kalinya aku mendengar dari mulut mu." ujar Rael membuat Bella membulatkan matanya. Ia merutuki kebodohannya, betapa ia tidak sadar akan ucapan nya sendiri.
"Ah nggak mungkin, kamu salah dengar nih. Ayuk jalankan mobilnya, ini sudah larut. Aku pengen istirahat." elak Bella salah tingkah. Pipinya sudah merona kemerahan menahan malu, membuat Rael hanya bisa menahan tawa.
Dengan sangat jahilnya, Rael mendekat pada Bella dan dengan cepat ia mengecup lembut bibir manis Bella dengan sekilas. Tanpa rasa bersalah ia menjalankan mobil sambil tersenyum-senyum menatap jalanan. Sedangkan Bella kaget, tidak percaya apa yang barusan di perbuat Rael. Seperkian detik kemudian ia berteriak kesal.
"Rael, kamu mesum!" sarkas nya memukul pelan bahu Rael dengan lembut. Rael hanya bisa menahan tawa, Bella semakin dibuat merona ulah perbuatannya.
***
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di kediaman Ken Wijaya. Setelah meletakkan mobil di garasi, Rael dan Bella pun memasuki rumah. Bella sedari tadi hanya diam karena manahan malu dan sikap salah tingkahnya. Sedangkan Rael hanya menahan tawa melihat salah tingkah sang istri.
"Ada apa Mbok?" tanya Bella masuk ke kamar Mbok Iyem. Melihat keluar kamar sambil celingukan, Mbok Iyem kemudian mengunci dan menutup pintu kamar dengan rapat.
"Mbok mau laporan soal perbuatan Nyonya Biangka waktu itu Non. Non kan nyuruh Mbok buat mengawasinya. Pagi tadi Mbok berhasil merekam perbuatan Nyonya Biangka yang lagi menukar obat itu." ujar Mbok Iyem menyerahkan handphonenya pada Bella. Di handphone tersebut terlihat sangat jelas bahwa Biangka tengah menukar obat itu.
"Apa mbok juga mengambil barang buktinya?" tanya Bella kemudian.
"Ada Non, Mbok ngambil bukti botol obat yang ada di tong sampah. Tenang saja Mbok makai kaos tangan kok. Jadi sidik jari Mbok tidak akan tertinggal di botol itu." jawab Mbok Iyem dengan tersenyum senang.
"Waah makasih ya Mbok, ini bakalan berguna banget buat mengungkap perbuatan jahat ibu tiri ku." ucap Bella sambil memeluk Mbok Iyem hangat.
"Sama-sama Non, Mbok melakukan ini demi tuan Ken juga. Mbok kasihan melihat dia yang sakit-sakitan sampai sekarang." ujar Mbok Iyem sambil membalas pelukan Bella. Setelah berpelukan. Mbok Iyem mengirim bukti video itu pada handphone Bella dan memberikan bukti botol obat itu yang sudah ia masukan kedalam kotak. Dengan mengendap-endap Bella menunju ke kamarnya agar tidak ada yang tau. Sesampainya di kamar Bella menutup pintu dan bersandar di belakangnya dengan deru nafas yang tidak teratur.
__ADS_1
"Kok nafas kamu nggak teratur begitu? Habis ngapain?" tanya Rael yang dengan santai duduk di sofa.
"Aku habis jalan mengendap-endap. Kamu lihat ini!" ujar Bella sambil menyerahkan handphone nya pada Rael. Ia kemudian meletakkan kotak bukti itu dengan hati-hati ke dalam lemari, agar lebih aman.
"Waah kamu akhirnya berhasil mendapatkan bukti video ini. Lalu apa itu yang kamu simpan ke dalam lemari?" tanya Rael penasaran saat Bella sudah duduk di sampingnya.
"Itu adalah bukti botol dari rekaman tersebut." ujar Bella yang masih mencoba menetralkan kegugupan nya.
"Bagus, lalu apa selanjutnya rencana mu?" tanya Rael penasaran.
"Aku pikir akan menyerahkan hal ini pada kakek. Kakek pasti tau apa yang akan ia perbuat." ujar Bella membuat Rael mengangguk-angguk.
Beberapa menit kemudian, suasana kamar berubah menjadi tenang. Rael terus menatap Bella yang masih menetralkan nafasnya. Ntah mengapa kejadian semalam terlintas di benaknya. Rael tiba-tiba ingin melakukan hal itu lagi dengan Bella. Tanpa izin, kali ini ia langsung membawa Bella kedalam pangkuannya. Bella yang kaget langsung menatap Rael dengan melotot.
"Kamu mau ngapain?" tanya Bella yang malah bertambah gugup.
"Boleh ya Bel, kepengen." bisik Rael di tengkuk leher Bella, membuat si empunya langsung merinding.
"Kamu nggak capek? Kan baru pulang main." elak Bella. Sebenarnya ia juga menginginkannya hanya saja Bella terlalu gengsi untuk memulai duluan.
"Nggak kok, boleh ya?" pinta Rael yang sudah meraba beberapa bagian tubuh Bella. Deru nafas Rael sudah berat, ia menahan hasrat yang kian memburu saat aroma tubuh sang istri mampu membuatnya melayang.
Tanpa bersuara, Bella hanya menjawab dengan mengangguk. Setelah mendapat lampu hijau, Rael langsung melancarkan aksinya. Malam panjang mereka habiskan di atas sofa dengan penuh semangat, membuat kamar mulai menjadi panas.
Setelah beberapa jam melakukan olahraga malam. Mereka akhirnya terkulai lemas dan tertidur di atas sofa. Untung saja sofa kamar Bella ini besar, sehingga nyaman untuk mereka tidur berdua. Dengan sedikit menggeser tubuhnya, Rael meraih selimut di atas ranjang yang tidak jauh dari sofa. Ia pun menyelimuti tubuh mereka yang tengah tidak berpakaian sehelai benang pun. Rael kemudian menyusul Bella kedalam mimpinya usai memeluk erat sang istri. Tidak lupa ia juga mengecup manis kening Bella sebelum tidur.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1