
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Setelah penandatanganan perjanjian bersama sekretaris Arya, keluarga Indarko bersiap-siap untuk keluar negri. Pengobatan di Singapura memang terbilang berkualitas bahkan dokter-dokter di sana sangat berpengalaman.
Kartika dan Indarko memutuskan untuk pulang. Mereka mengemasi semua barang yang hendak mereka bawa keluar negri. Bukan hanya barang mereka, barang milik Jingga dan Riko pun mereka kemasi bersama dengan bantuan beberapa pelayan.
Indarko juga memulangkan beberapa pelayan yang tidak ia butuhkan selama tinggal di Singapura. Apalagi kediaman Indarko setelah ini akan lama tidak keluarganya tempati. Walaupun Jingga siuman dan keluar dari rumah sakit, Indarko dan keluarga akan tetap di Singapura sampai kondisi Jingga benar-benar dinyatakan sembuh.
Sedangkan Riko memilih untuk tinggal di rumah sakit. Ia mengurus semua administrasi dan beberapa syarat rujukan untuk Jingga ke luar negeri. Ia tidak sendirian, Riko dibantu oleh sekretaris Arya yang akan membayar semua nya.
Kondisi Jingga benar-benar bertambah kritis. Hal itu membuat Riko bertambah panik dan khawatir. Bahkan semenjak pagi kecelakaan itu belum ada asupan makanan ataupun minuman yang masuk ke dalam tubuhnya.
Riko terduduk di sofa ruangan inap Jingga. Walau tubuhnya terasa lemah, Riko mengusahakan agar ia tetap kuat. Keberangkatan mereka tengah malam, dan itu berarti tinggal beberapa jam lagi.
"Ngga, kita akan liburan bukan? Gue ingat waktu Lo bilang ingin sekali liburan keluar negeri. Tapi Lo kalau di sana harus bangun ya. Kasihan anak kita kalau lama-lama Lo tinggalkan di sini!" lirihnya sambil menghampiri Jingga yang terbujur kaku di atas bad pasien. Riko merapikan rambut Jingga yang sedikit berantakan.
Ia teringat sebelum kejadian kesalahan malam itu, Jingga selalu berbicara bahwa mimpinya ingin liburan keluar negeri.
Riko sebenarnya menahan sakit, ia membenci dirinya sendiri yang begitu kejam pada Jingga. Ia tidak kuasa bila Jingga akan pergi dari selama-lamanya.
Untung saja kekhawatiran dokter disaat operasi tidak menjadi nyata. Jingga dinyatakan selamat dari maut, walau dokter mengatakan itu mustahil. Bagi Riko itu adalah kesempatan baginya untuk memperbaiki diri dan baik pada Jingga.
Riko menyeka air mata yang tidak sadar mengalir di pipinya. Dengan sangat sayang ia mencium kening Jingga sekilas dan kemudian memutuskan untuk keluar ruangan itu. Ntah kekuatan dari mana, tiba-tiba saja air mata Jingga mengalir walaupun ia belum siuman.
***
Di sisi lain. Bella akhirnya mengerjapkan matanya. Cahaya ruang inap yang tidak terlalu terang, membuat ia langsung dapat menangkap sosok Rael yang tengah tersenyum melihat kesadaran nya.
"Bel, kamu sudah bangun?" heboh Rael seketika.
Bella menyatukan alisnya dan menatap Rael dengan bingung. Kesadaran nya belum penuh, sehingga membuat Bella berusaha untuk bangkit.
"Eh, jangan! Kamu berbaring saja." titah Rael yang mencegat Bella.
"Aku dimana?" tanya Bella lirih.
__ADS_1
Rael tersenyum senang, ia bersyukur akhirnya Bella siuman setelah beberapa jam lamanya.
"Kamu di rumah sakit sayang." sahut Rael sambil mengusap lembut rambut Bella dengan kasih sayang.
Ia berjanji dalam hatinya tidak akan pernah lagi mengasari Bella ataupun sampai membuat Bella kabur-kaburan seperti kemarin.
Mendengar jawaban Rael membuat kesadaran Bella kembali. Ia menatap Rael dengan takut. Tapi sebelum itu ia meraba perut nya yang mulai sedikit menonjol.
Rael yang melihat tangan Bella seketika tersenyum haru dan paham arti kekhawatiran sang istri.
"Tenang saja sayang, anak kita masih di sana!" ujar Rael yang ikut meraba perut Bella dengan lembut.
Ada rasa aneh dalam hati Bella ketika Rael berucap seperti itu. Bahkan dirinya sempat melupakan rasa benci dan jijik nya pada Rael walau hanya sejenak.
"Pergi kamu! Jauh-jauh dari ku!" tukas Bella yang menghempas kan tangan Rael di perutnya.
Sontak Rael terguncang ketika Bella tiba-tiba bereaksi seperti itu.
"Kenapa Bel? Ada apa?" tanya Rael mengernyit bingung. Ia tidak ingat jika Bella saat ini masih salah paham dan membenci dirinya.
"Kamu tanya padaku ada apa? Ngapain kamu di sini ha? Kita akan bercerai, pergi saja urus selingkuhan kamu!" teriak Bella dengan emosi. Ia bahkan kembali mencoba untuk bangkit di atas bad pasien nya.
Bella meronta-ronta.
"Pergi kamu banjingan! PERGI!" sarkas Bella dengan emosi yang terujung.
Tiba-tiba pintu inap Bella terbuka. Menampakkan Arya yang baru saja datang. Setelah kepergian nya tadi siang, Arya memutuskan kembali untuk mengecek kesehatan sang cucu.
"Bella kenapa?" tanya Arya panik yang langsung menghampiri mereka.
Rael refleks melepaskan dekapannya.
"Kakek." ujar Bella yang langsung memeluk Arya dengan derai air mata. Ia merindukan Arya setelah kabur selama beberapa bulan.
"Kamu kenapa Bel? Ada apa?" tanya Arya kemudian.
__ADS_1
"Us-ir d-dia!" tunjuk Bella pada Rael yang berdiri di sebelah mereka. Rael bertampang panik dan kahwatir. Ia hanya bisa melongo ketika istrinya berucap seperti itu.
"Kamu salah paham Bel, aku tidak menyelingkuhi kamu sama sekali!" sahut Rael kemudian.
Arya mengangguk samar, ia paham mengapa Bella sampai histeris seperti ini.
"PERGI!" marah Bella lagi. Tubuhnya sudah gemetar hebat.
Arya beralih menatap Rael.
"Lebih baik kamu keluar dulu. Biar kakek yang jelaskan semua pada Bella!" titah Arya yang membuat Rael pasrah.
Rael memutuskan untuk keluar ruangan dengan hati yang berkecamuk. Ia merutuki kesalahan yang telah ia perbuat pada Bella. Rael memilih untuk menunggu di depan ruangan Bella.
***
Beberapa menit berlalu. Arya keluar sambil menghampiri Rael. Semenjak ia keluar tadi tidak ada lagi erangan Bella dan isakkan nya yang terdengar.
"Kakek sudah memberitahu Bella semuanya. Kamu masuk lah, jaga dia dengan baik. Kakek ada perlu dulu!" ujar Arya yang langsung meninggalkan Rael tanpa menunggu lelaki itu menjawab ucapan nya.
Rael yang mendengar itu langsung tersenyum lebar. Ia berharap Bella tidak lagi marah padanya. Apalagi meminta nya untuk pergi jauh-jauh dari Bella. Rael sudah beberapa bulan menahan rindu, kali ini ia tidak akan mau melepaskan Bella lagi.
Rael membuka pintu dengan hati-hati. Di dalam sana sudah terdapat Bella yang duduk sambil mengerang sakit. Ia merasakan nyeri di pinggangnya usai histeris tadi.
"Kamu kenapa?" tanya Rael yang panik dan langsung menghampiri istrinya.
Bella yang ketangkap basah pun kaget dan memilih untuk terlihat biasa saja.
Jujur ia canggung sekali bertemu Rael setelah kejadian yang ia alami, apa lagi acara kabur-kaburan yang ia lakukan.
Bella menahan nyeri di pinggang dan bokong nya. Berusaha untuk terlihat biasa dihadapan Rael.
"Bukan urusan kamu!" ketus nya. Sebenarnya Bella tidak lagi marah pada Rael. Bahkan ia merutuki kesalahannya yang hanya mengandalkan insting nya tanpa mencari tau terlebih dahulu yang sebenarnya.
Bella terlalu gengsi untuk bersikap manja pada Rael terlebih dahulu. Oleh karena itu ia memutuskan untuk terlihat masih membenci lelaki itu.
__ADS_1
Rael mengurut lembut pinggang Bella yang terasa nyeri, lelaki itu tau jika Bella pasti merasa kesakitan usai kecelakaan yang ia alami.
BERSAMBUNG.....