MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
KEGELISAHAN INDARKO


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Arya yang hendak keluar dari rumah sakit, menghentikan langkahnya ketika melihat Indarko, tengah berdebat dengan seorang pegawai rumah sakit yang Arya rasa adalah seorang administrasi.


Dengan mengernyitkan dahinya, Arya melangkah ke arah Indarko.


"Tidak bisakah biaya nya dikurangi Mbak? Saya tidak akan punya uang sebanyak itu." tawar Indarko pada Arya.


Arya semakin mengernyit heran ketika ucapan Indarko seolah-olah menggambarkan dirinya sebagai orang susah.


Arya dan Indarko sudah pernah menjadi rekan kerja antar kota, oleh karena itu mereka berdua saling kenal.


Padahal Arya tau sendiri, Indarko adalah orang terkaya yang ada di kota ini. Perusahaan dan cabang nya begitu banyak, bahkan keluarga Indarko memiliki kediaman di kompleks yang terbilang begitu elit.


"Tidak bisa pak, ini saja baru biaya untuk anaknya, belum lagi sang ibu." terang suster itu membuat Indarko menghela nafas.


Ia yang sadar akan kehadiran Arya terkesiap kaget.


"A-arya?" gugup nya.


Arya tersenyum tipis dan menatap ke Indarko.


"Bisa kita bicara dulu?" tanya Arya dengan sopan. Indarko lansung mengangguki permintaan Arya tersebut.


"Tunggu sebentar ya Mbak, saya bicara dulu dengan tuan ini. Mari." ujar Indarko yang kemudian membawa Arya ke ruangan tunggu ya berada di rumah sakit itu.


Karena ini rumah sakit elit, jadi para tamu difasilitasi tempat untuk menunggu bahkan berbincang yang begitu sangat luas dan juga bersih.


Arya dan Indarko duduk berhadap-hadapan dengan sikap tegas terpampang di wajah mereka. Bila ada yang melihat mungkin mengira bahwa mereka berdua tengah berdiskusi bisnis bukan masalah pribadi.


"Apa yang terjadi? Kenapa anda terlihat begitu panik dan khawatir?" tanya Arya membuka suara.


Indarko tampak ragu untuk berbicara, seperti ada tekanan berat yang mengintimidasi nya.


"Ti-dak ada apa-apa." jawabnya yang terlihat begitu sekali berbohong.

__ADS_1


Arya memutar bola matanya.


"Ceritakan saja lah, mana tau saya bisa menolong. Lagian keluarga kalian juga sudah menolong Bella dari kesusahan." ujar Arya yang memang sudah tau soal kepergian Bella di malam itu dan berakhir di rumah Indarko.


Indarko menunduk khawatir, ia gelisah sampai mencubit tangannya sendiri memerah dan tanpa sadar.


"Sebenarnya kami di ambang kemiskinan. Saya di tipu oleh rekan kerja saya beberapa hari lalu, semua saham saya akan mereka rampas dalam beberapa waktu dekat. Semua keluarga saya tidak tau hal ini, termasuk Rayen. Saya tidak tau harus berbuat apa, kami sudah jatuh miskin sekarang." ungkap Indarko tanpa menatap Arya.


Ia merasa harga dirinya sudah hilang, semua kekayaan nya kini akan hilang dalam sekejap mata hanya karena kelalaian yang ia lakukan.


Arya tidak percaya, orang seperti Indarko saja bisa kehilangan kekayaan nya dalam sekejap mata. Padahal ia tau sekali bahwa Indarko adalah salah satu rekan kerja yang dulunya sangat memperhatikan rekan tim serta tindakan yang akan ia ambil untuk perusahaan nya.


Arya berfikir sejenak.


"Lalu apa yang membuat kamu tampak panik sekali?" tanya Arya kembali.


Indarko mendongak kan kepalanya menatap Arya.


"Ini soal Jingga dan cucu saya. Kami bahkan tidak bisa membayar biaya untuk anak Jingga. Apalagi membayar pengobatan Jingga." lanjut Indarko dengan jujur.


"Memangnya biaya untuk anak Jingga berapa?" tanya Arya kembali.


Indarko tampak berfikir sejenak.


"Sekitar 500 jutaan lebih, karena rumah sakit ini elit sekali, semua fasilitas nya begitu premium." terang Indarko mendapati anggukan dari Arya.


"Terus bagaimana dengan Jingga?" tanya Arya kembali. Lelaki tua ini memang suka sekali bertanya, untung saja Indarko bukan tipe orang yang malas menjawab.


"Jingga selamat Pa, tapi kita harus bawa dia ke luar negri. Di rumah sakit ini hanya bisa menghentikan pendarahan kepalanya. Katanya alat-alat di rumah sakit ini belum secanggih di luar negri." sahut Kartika yang tiba-tiba datang ntah dari mana.


Ia menangis terisak dan membawa dirinya ke sebelah Indarko.


"Maksud Mama, kita harus bawa Jingga berobat ke luar negri?" tanya Indarko pada istrinya untuk memastikan.


Kartika mengangguk mantap seraya terisak.

__ADS_1


"Iya Pa, jangka waktunya saja belum tentu. Kita juga tidak bisa meninggalkan Jingga sendiri di sana. Kita juga harus ikut pindah ke sana!" pinta Kartika membuat Indarko menghela nafas.


Ia berfikir keras, harus mencari uang kemana lagi dirinya?


Padahal hartanya saat ini hanya tinggal kediaman Indarko dan seisinya. Tidak mungkin juga Indarko menjual rumah yang sudah ia bangun bersama Kartika selama beberapa tahun itu.


"Biar saya membantu kalian, tapi dengan satu syarat." ujar Arya menggantung.


Kartika yang tadinya histeris terperanjat kaget ketika menyadari bahwa orang yang tengah berbincang dengan suaminya adalah Arya, kakek dari Bella.


"Bantu? Maksud tuan ini apa Pa?" tanya Kartika pada suaminya. Ia belum tau masalah yang terjadi pada perusahaan.


"Sebenarnya Ma..." Indarko memberanikan diri nya menceritakan semua masalah yang kini ia hadapi. Seperti bercerita pada Arya tadi, Indarko mengulanginya lagi pada Kartika.


"APA?! maksud Papa apa ha? Kita bangkrut?" bukan Kartika yang menyahuti cerita Indarko, tapi Riko yang tiba-tiba datang dan berdiri tepat dibelakang Arya.


"Maafkan Papa, Rayen, dan Mama. Semua ini kelalaian Papa." ujar Indarko tidak enak. Ia terus menunduk tanpa mau menatap lawan bicaranya.


Riko emosi, ia berjalan ke arah Papa nya dengan mata tajam dan emosi yang tinggi. Ia betul-betul tidak terima perusahaan mereka bangkrut saat ini.


Apalagi Riko sangat membutuhkan uang saat ini untuk menyelamatkan hidup Jingga yang nyawanya tengah terombang-ambing.


Riko yang hendak melayangkan pukulan pada sang Papa, tiba-tiba tangannya dihentikan oleh Arya dari belakang.


Riko berbalik badan melihat siapa orang yang berani menahan dirinya. Tapi Seperkian detik kemudian ia menunduk takut, Arya adalah satu-satunya orang yang sangat Riko segani.


"Tenang Riko, jangan bertindak gegabah! Mari bicarakan baik-baik. Duduk lah!" titah Arya membuat Riko langsung menuruti ucapan nya.


Kartika menahan tangisnya, tidak menyangka bahwa kehidupan nya akan berakhir seperti ini. Kartika ikut bingung memikirkan cara mendapatkan uang, bagaimanapun Jingga sudah ia anggap anak sendiri. Apalagi sekarang wanita itu sudah menjadi ibu dari cucunya.


"Saya akan membantu semua yang berhubungan dengan uang. Mau biaya pengobatan sampai kebutuhan hidup kalian selama yang kalian perlukan. Saya juga akan membantu untuk mengambil kembali saham yang diambil oleh para rekan kerja perusahaan Indarko. Tapi semua itu tidak gratis." ujar Arya dengan tersenyum miring.


Ketiga manusia yang ada di depan nya saling menatap dan berfikir sejenak. Riko juga tidak mau ambil pusing, jika Arya sudah menawari lalu untuk apa ia akan menolak. Lagian ia saat ini sangat membutuhkan uang untuk pengobatan Jingga.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2