MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
KEMBALI MENYESALI


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Vino mengehentikan perkelahian mereka. Rael yang terhenyak akan ucapan Dito hanya bisa terdiam pasrah. Ia kembali mendudukkan dirinya di kursi depan rumah Dito.


"Jadi benar tebakan gue selama ini, Lo suka sama istrinya gue!" ujar Rael tanpa menatap lawan bicaranya.


Dito mengangguk samar.


"Betul! Tapi bagi gue, gue nggak perlu untuk memiliki Bella. Gue cuma ingin lihat dia bahagia dan tidak Lo hancur seperti kemarin-kemarin nya!" berang Dito yang juga ikut emosi.


"Itu bukan urusan Lo!" erang Rael kesal.


"Sudah-sudah lah! Kalian ini malah berdebat terus, sekarang yang terpenting kita cari keberadaan Bu Bella dulu! Habis itu mau kalian mati pun gue nggak perduli!" ucapan Vino membuat kedua orang dihadapannya menatap sangat tajam.


Membuat Vino merinding dibuatnya.


"Bukan pintu rumah Lo Dit, dingin tau diluar gini!" titah Vino mencoba untuk acuh.


Tanpa banyak bicara, Dito membuka pintu rumahnya. Rumah yang selalu rapi karena Bella tidak membiarkan satupun sampah tergeletak di lantai.


Ketika pintu rumah terbuka, Dito memasuki nya dengan tatapan datar. Sedangkan Vino dan Rael hanya mengekori. Tidak mungkin mereka berlama-lama di luar, mengingat cuaca malam yang dingin dan mereka tidak memakai jaket sama sekali.


"Berapa lama Lo sama Bella tinggal di sini? Apa aja yang sudah kalian perbuat?" seru Rael mengintimidasi Dito yang telah duduk di sofa keluarga.


Dito menatap Rael dengan tatapan malas, ia menghela nafas panjang.


"Lo pikir gue cowok macam apa yang mau berbuat mesum dengan istri orang?! Kalau gue mau pun, si Bella pasti nggak mau. Walaupun hati nya hancur kerena Lo, tetap aja dia nggak pernah melupakan Lo setiap harinya." ungkap Dito yang paham sekali maksud pertanyaan Rael.


Rael terdiam seperti mencerna sesuatu dalam pikirannya. Ia terlalu berfikir negatif terhadap Bella sampai ia melupakan sifat asli istrinya yang sangat setia itu.


"Lo nggak percaya sama Bu Bella, Rael?" tanya Vino setelah meletakkan beberapa camilan dan minuman di atas meja.


"Bukannya nggak percaya, gue aja yang terlalu negatif thinking." ujar Rael yang masih berdiri di hadapan mereka.

__ADS_1


Vino yang tadinya lapar menikmati beberapa camilan berat itu dengan santai. Sedangkan Dito terkekeh sendiri mendengar ucapan Rael.


"Akhirnya Lo sadar juga!" sindirnya membuat Rael menatap datar.


"Kenapa Bella pergi dari sini?" tanya Rael setelah juga duduk di sofa.


"Karena salah paham. Dia kira gue mau jahatin dia, padahal saat itu gue cuma kelepasan bicara di telepon sama Vino." ungkap Dito membuat Rael mengernyit heran.


"Terus dimana dia sekarang? Kan Lo bisa lacak dia." Dito langsung mengeleng-geleng lemah. Ia benar-benar tidak bisa melacak keberadaan Bella karena handphone Bella yang mati dan ATM barunya juga tidak digunakan oleh Bella.


"Gue nggak bisa lacak dia. Gue udah cari ke seluruh kota, tapi nggak juga ketemu sama Bella." jelas Dito yang kemudian ikut mencomot beberapa camilan yang dimakan oleh Vino.


"Sekarang gini aja. Karena malam udah larut, kita juga nggak bakalan bisa menemukan Bu Bella. Jadi, besok pagi saja kita mulai pencarian." usul Vino mendapati anggukan kepala daei Rael dan Dito.


Mereka sama-sama tau bahwa Bella pasti baik-baik saja. Wanita itu pasti memiliki tempat untuk ia berteduh malam ini, karena Bella bukan tipikal cewek yang kabur tanpa tujuan.


"Dimana kamar Bella? Gue mau istirahat!" Dito langsung menunjuk pintu kamar tepat dibelakang Rael duduk.


Rael langsung melangkah ke arah pintu itu. Ia ingin tau apakah beberapa minggu ini istrinya tidur dikamar yang layak.


Baru saja memasuki kamar itu, Rael dapat menghirup aroma khas Bella. Kamar itu bersih, luas dan sangat rapi. Bahkan Rael semakin merindukan sosok Bella saat ini.


"Bel, kamu dimana? Aku udah sampai di sini kamu malah lari lagi. Maafkan kesalahan ku Bel." gumam Rael membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia membolak-balikkan tubuhnya seraya melihat seisi kamar.


Tidak ada yang menarik perhatian Rael. Sehingga perlahan matanya mulai menyipit dan ia pun tertidur.


***


Pagi itu Rael terbangun mendengar notifikasi telepon masuk dari Arya.


"Pagi Kek." sapa Rael dengan suara khas bangun tidurnya.


"Pagi Rael, apa kamu berhasil menemukan Bella? Salah satu anak buah kakek melihat Bella malam tadi perusahaan Indarko. Apa kalian ke sana?" ungkap Arya tanpa basa-basi. Rael pun langsung terduduk dibuatnya.

__ADS_1


'Perusahaan Indarko? Itu bukannya milik keluarga Riko?' batin Rael bertanya-tanya.


"Tidak Kek, Bella kabur saat aku sampai di sini. Biarlah hari ini aku akan mencarinya sampai ke sudut kota." ucap Rael kemudian.


"Baiklah, kalau butuh bantuan hubungi Kakek lansung!" titah Arya yang kemudian mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Rael meregangkan otot-ototnya dan menatap ke cermin tempat Bella berhias. Di sana terdapat 2 foto yang di selipkan di tepian cermin.


Rael mengucek matanya dan melangkah ke arah cermin itu. Tangan nya spontan meraih foto itu. Foto hasil USG Bella dan foto mereka berdua.


Saat melihat hasil USG itu, ntah kenapa hati Rael jadi menghangat. Air mata mengalir haru di pipinya.


'Dia sudah sebesar ini Bel? Dan aku belum pernah menyapa nya.' gumam Rael sendu.


Ia kembali menyesali setiap hal yang ia perbuat pada Bella. Mengasari nya, menghardiknya dan bahkan telah membuat Bella salah paham atas kejadian dimalam itu.


Rael merutuki kebodohannya itu, banyak seandainya-seandainya dalam pemikiran Rael.


Ia berharap bisa kembali ke waktu itu dan memperbaiki semuanya, akan tetapi itu mustahil. Rael kini hanya bisa memperbaiki apa yang telah ia perbuat.


"Rael, Lo udah bangun? Dito tadi malam dapat informasi soal Bu Bella." ujar Vino mengetuk pintu kamar. Rael langsung menyapu kasar air matanya.


"Gue keluar sebentar lagi, mau cuci muka dulu!" jawab Rael yang kemudian melangkah memasuki kamar mandi. Tidak lupa sebelum itu ia menyelipkan foto hasil USG itu ke dalam dompetnya. Hal itu akan memberikan semangat pada Rael untuk secepat mungkin menemukan keberadaan Bella.


***


Bella dan Jingga berjalan pagi di taman kompleks perumahan Indarko. Kata Kartika hal itu dapat menyehatkan Ibu dan bayi nya. Sehingga pagi-pagi sekali ia sudah membangunkan kedua Ibu hamil dirumahnya.


"Banyak sekali orang di sini." ujar Bella memerhatikan sekeliling taman.


"Iya, di sini baisa nya ramai Mbak. Soalnya kan hari ini juga hari libur. Penjual sarapan juga banyak." sahut Jingga membuat Bella mengangguki ucapannya.


Bella dan Jingga terus berjalan santai dengan di ekori oleh Kartika yang terkadang tertinggal jauh di belakang. Kartika sibuk bertemu dengan para tetangga yang notabene nya adalah ibu-ibu arisan.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2