MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
KEPERGIAN RIKO


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Jingga celingukan mencari keberadaan Riko saat ia telah sampai di teras camp. Namun lelaki itu tidak kunjung tampak pucuk hidungnya. Jingga sangat ngos-ngosan saat berlari dari lantai atas.


"Lo ngapain?" Tanya Nara yang baru datang dari dalam.


"Gue harus cerita ke Mas Riko sebelum dia pergi. Lo tau dia dimana?" Tanya Jingga panik menatap Nara.


"Dia udah pergi dari tadi Jingga. Katanya cuma pulang kampung sebentar kok." Ujar Nara membuat Jingga harus menahan dirinya bersabar. Tetapi sebuah ketakutan kembali terpikir dipikiran Jingga. Ia langsung berlari menuju lantai atas, tepatnya ke kamar Riko. Nara yang melihat reaksi Jingga seperti itu langsung ikut berlari mengejar nya.


Sesampainya di kamar Riko, Jingga menggeledah semuanya dan langsung terduduk saat mendapati sehelai kertas di nakas.


...Dear Jingga....


...Aku nggak tau ini disebut gila atau apa. Tetapi rasa takut menyelimuti ku saat mendapati kenyataan bahwa kamu adalah wanita dimalam itu. Aku tidak bisa dicap sebagai banjingan oleh semua orang. Aku juga takut menatap orang lain jika nanti semua orang tau perbuatan ku. Aku pergi, maafkan aku yang tidak bisa bertanggung jawab. Aku memang pengecut....


Seperti itulah surat singkat yang dibuat Riko tanpa berfikir jernih. Jingga langsung histeris membuat beberapa orang anggota camp serta Nara sangat khawatir padanya.


"Tinggalkan Gue dan Jingga. Tutup pintu kamar ini!" Titah Nara pada beberapa anggota yang hendak masuk ke dalam kamar milik Riko. Meski penasaran dan khawatir tetap saja beberapa anggota itu menuruti permintaan Nara. Mereka langsung pergi dan tidak lupa menutup pintu kamar.


Nara langsung menghampiri Jingga dan memeluknya hangat. Ia mengambil alih kertas ditangan Jingga yang sudah diremas nya penuh emosi. Membacanya membuat Nara sangat ingin mencari keberadaan Riko sekarang, memukulinya adalah hal setimpal yang harus didapatkan nya usai menulis surat itu tanpa berpikir akan perasaan Jingga.


"Dia pergi Nara! Dia banjingan yang tidak bertanggung jawab!" Sarkas Jingga di sela-sela tangisnya. Nara tidak bisa berkata-kata, ia hanya mendekap Jingga agar bisa membuatnya tenang. Jingga terus menangis sejadi-jadinya sampai ia lelah.

__ADS_1


"Kita ke kamar Lo aja ya Jingga. Ayuk!" Ajak Nara yang langsung diangguki oleh Jingga. Ia juga tidak ingin berlama-lama di kamar milik lelaki pengecut seperti Riko itu. Nara membantu Jingga yang berjalan terpapah-papah menuju ke kamarnya. Membaringkan tubuhnya di ranjang membuat Jingga sedikit tenang, karena merasa lelah setelah menangis membuat Jingga memutuskan untuk tidur.


Nara terus menatap Jingga, si gadis malang yang harus merasakan pahitnya dunia. Setelah beberapa saat ia duduk di tepian ranjang dan melihat deru nafas teratur dari Jingga. Nara kemudian memutuskan untuk menelpon Bella, ia merasa tidak bisa membantu Jingga jika hanya seorang diri.


"Halo Mbak." Sapa Nara dengan sopan. Ia berdiri ditepi jendela kamar yang sedikit berjarak dari ranjang Jingga.


"Halo Nara, ada apa?" Tanya Bella to the point. Saat ini ia tengah menyantap sarapan bersama sang suami di restoran Genandra.


"Apa Mbak saat ini tengah sibuk? Aku ingin bicara langsung dengan Mbak. Ini soal Jingga dan juga Riko." Sontak ucapan Nara langsung membuat Bella menghentikan sarapannya.


"Memangnya ada apa dengan mereka?" Tanya Bella penasaran. Karena beberapa hari ini ia tidak mendengar kabar apapun tentang Jingga ataupun Riko.


"Mbak bisa datang ke camp? Aku ingin bicara langsung, karena terlalu susah untuk dijelaskan lewat telepon." Tanya Nara yang masih ingin bicara langsung dengan Bella. Bella mengingat-ingat jadwalnya hari ini, ia hanya memiliki kelas untuk diajar sore ini. Mungkin masih ada waktu jika ia langsung ke camp saat ini.


"Baik Mbak, kalau begitu Nara tutup dulu." Pamit Nara yang langsung mematikan sambungan telepon. Jingga tampak mengigau tidak jelas di atas ranjang, membuat Nara terpaksa harus menenangkan dengan cara menepuk pelan tangan Jingga agar ia tenang.


"Lo yang kuat ya Jingga, ternyata masalah Lo lebih parah dari masa lalu Gue. Kalau dulu Gue yang lari bukan cowoknya. Gue takut akan menatap tatapan jijik orang ke Gue. Makanya Gue lari." Gumam Nara yang seolah-olah bisa didengar oleh Jingga. Padahal gadis itu tengah tertidur dibawah tekanan saat ini.


***


Selang beberapa menit. Bella akhirnya sampai di camp. Ia hanya datang sediri karena Rael terpaksa harus ke kampus untuk mengurus beberapa hal demi persiapan wisudanya yang akan terjadi 2 minggu ke depan.


"Nara dimana?" Tanya Bella pada beberapa anggota yang berada di camp.

__ADS_1


"Dia di kamarnya Jingga Mbak. Mungkin Jingga masih histeris." Jawab salah satu di antara mereka. Membuat Bella semakin penasaran apa yang telah terjadi.


"Histeris? Memangnya Jingga kenapa?" Tanya Bella membuat beberapa anggota itu menggelengkan kepalanya.


"Nggak tau Mbak, dari semalam dia kayak gitu. Cuma Nara yang selalu disampingnya, Mbak tanya dia saja." Titah salah satu anggota membuat Bella langsung melangkah menuju lantai atas.


Bella yang hendak memasuki kamar Jingga teralihkan perhatiannya pada kamar Riko yang terbuka lebar. Kamar itu kini amburadul dengan beberapa barang bergeletakan di lantai. Bella memutuskan untuk melihat kamar itu terlebih dahulu.


Baru saja melangkah ke dalam kamar, Bella dibuat kaget saat lemari Riko terbuka dan memaparkan tidak ada satupun pakaian di sana. Bella pun langsung celingukan melihat seisi kamar, benar saja koper dan beberapa tas Riko sudah tidak ada di sana.


"Riko melarikan diri, ia berucap pulang kampung." Ujar Nara yang tiba-tiba masuk ke kamar Riko.


"Maksudnya apa, sungguh Mbak nggak ngerti Nara!" Ujar Bella yang rasa penasarannya sudah sampai di ubun-ubun.


"Jingga diperkosa oleh Riko dibawa kesadarannya satu bulan yang lalu. Kini gadis malang itu tengah trauma, kita harus membawanya ke psikiater. Riko tau kalau dia memperkosa Jingga dan melarikan diri dari tanggung jawabnya. Tetapi ia berucap pulang kampung kepada semua anggota." Jelas Nara yang sudah duduk ditepian ranjang milik Riko. Bella yang mendengar itu syok dan merasa sangat lemah. Ia memutuskan untuk duduk di samping Nara.


Ia tidak percaya bahwa hal ini akan terjadi pada dua orang yang telah ia anggap keluarga sendiri. Bella merasa gagal karena tidak bisa melindungi Jingga yang hidup sebatang kara itu. Bella sangat marah pada Riko yang lari dari tanggungjawab nya. Air mata marah mengalir di pipi Bella.


"Pulang kampung? Jelas Riko tidak memiliki kampung halaman. Lelaki itu aku temukan di rumah sakit, ketika kedua orangtuanya meninggal usai kecelakaan saat mereka hendak pindah ke kota ini. Ruko tidak punya siapa-siapa, apalagi rumah lamanya juga mengalami kebakaran." Ujar Bella yang tersadar saat ia mencerna penjelasan Nara tadi. Nara yang mendengar itu langsung membulatkan matanya, ia tidak percaya bahwa lelaki itu telah berbohong kepada semua orang.


"Lalu kemana pecundang itu pergi?" Tanya Nara dengan kesal. Membuat Bella juga ikut memikirkan hal tersebut dengan emosi.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2