
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Setelah makan malam. Bella pun di tuntun oleh seorang pelayan di kediaman Genandra menuju kamar Rael yang berada di lantai atas.
"Terimakasih ya Mbak." Ujar Bella dengan full senyum pada pelayan yang telah menunjukkan kamar Rael.
"Sama-sama Nona. Ini adalah kamar tuan muda, silahkan masuk saja. Tuan muda susah memberitahu saya untuk menyuruh anda masuk tampa harus mengetuk." Kata pelayan itu dengan tersenyum ramah.
"Baiklah Mbak, terima kasih kembali. Mbak boleh pergi sekarang, saya akan masuk." Titah Bella tidak kalah sopan walau hanya pada pelayan di rumah tersebut. Pelayan itu pun hanya mengangguk dan kemudian melangkah pergi meninggalkan Bella tepat di depan pintu kamar Rael.
'Semua pintu di rumah ini bercorak kayu kenapa hanya pintu kamar Rael yang terbuat dari besi?' batin Bella bertanya-tanya setelah merasakan perbedaan tersebut.
Setelah cukup berfikir di depan kamar, Bella pun memutuskan untuk membuka pintu kamar berwarna hitam itu. Ketika masuk ia tidak lupa menutup kembali pintu tersebut agar mewanti-wanti orang lain tidak bisa memasuki kamar itu dengan leluasa. Saat langkah demi langkah Bella memasuki kamar Rael, ia langsung terpesona melihat pemandangan kamar Rael yang langit-langit kamarnya seperti langit di malam asli. Bertaburan bintang yang membuat Bella terpaku seketika. Meski kamar itu hanya terdapat samar-samar cahaya, tetap saja Bella merasa kamar ini begitu indah.
Bella sedikit kaget saat seorang memeluknya dari belakang dengan manja dan hampir saja menonjok orang yang membuatnya kaget. Tetapi sebelum itu ia sadar akan aroma parfum Rael yang sudah hafal oleh hidungnya.
"Kamu suka nggak dengan kamar ku?" Tanya Rael yang kepalanya sudah ia sandarkan di curug leher Bella. Membuat Bella sedikit merinding dibuatnya.
"Suka, langit-langit kamarmu terlihat begitu nyata. Bahkan ini pertama kalinya aku bisa melihat bintang yang begitu banyak." Jawab Bella yang masih terpaku melihat keindahan kamar Rael.
"Baguslah jika kamu menyukainya, karena aku juga menyukai kamu." Gombal Rael yang terdengar receh ditelinga Bella. Ia langsung terkekeh mendapati ucapan Rael itu.
"Hahaha... Apaan sih? Gombalannya receh." Kekeh Bella yang membuat Rael juga ikut terkekeh, meski ia sedikit malu karena Bella tidak termakan sedikitpun oleh gombalannya itu.
"Gak apa-apa receh, yang penting kamu bisa ketawa. Hehehe." Sahutnya semakin memeluk Bella dengan erat.
__ADS_1
"Kamar mu bagus, hanya terlalu gelap saja menurutku." Tambah Bella menyebutkan pendapatnya kepada Rael. Tetapi lelaki itu sudah tidak lagi memperdulikan ucapan Bella, hasratnya yang tadi telah tertahankan semenjak dari kediaman Ken Wijaya membuatnya semakin gigih ingin menyalurkan hasrat tersebut kepada Bella hari ini.
"Boleh ya sayang?" Tanya Rael dengan suara manja dan berat karena hasratnya yang kian menggebu. Tanpa mengeluarkan suara, Bella pun hanya menjawabnya dengan anggukan. Rael yang sudah tidak sabar sedari tadi langsung membalikkan tubuh Bella dengan penuh hasrat, tetapi masih lembut.
Setelah ia menatap Bella penuh kasih dan cinta. Rael langsung mengecup manis kening, pipi serta bibir Bella yang menjadi tempat favoritnya selama ini.
"Love you my lecture." Ucap Rael dengan sangat lembut. Sayup-sayup di dengar oleh Bella.
"Love you too my student." Lirih Bella membalas ucapan Rael.
Setelah bercumbu beberapa lama. Rael membuka kancing demi kancing baju kemeja yang dipakai oleh Bella. Perlahan tapi pasti, satu per satu pakaian Bella akhirnya jatuh ke lantai. Bella pun hanya mengikuti permainan sang suami yang membuatnya candu dan semakin ingin di sentuh.
Rael mengendong Bella ala bridal style dan menurunkannya ke atas ranjang dengan sangat lembut. Setelah mencumbui Bella kembali, Rael memulai aksinya dengan nafas yang sudah tidak beraturan. Malam itu mereka habiskan dalam beberapa ronde dan membuat kedua pasangan itu terkulai lemas di atas ranjang.
***
Dengan bergegas ia melangkah dan ternyata pintu itu memang pintu kamar mandi. Bella segera berlari ke wastafel, memuntahkan lendir bening yang membuatnya terus menerus merasa mual.
Setelah beberapa menit. Bella pun merasa lega setelah mengeluarkan semua isi perutnya. Ia putuskan untuk keluar dari kamar mandi dan berniat untuk keluar kamar. Tetapi sebelum itu Bella mendekati ranjang, terlihat Rael yang masih pulas tertidur tanpa terusik sedikitpun oleh aktivitas Bella barusan.
Bella pun mengalihkan pandangannya pada lemari di sebelah ranjang. Bella pikir mungkin semua pakaiannya berada di sana dan ia berniat untuk berganti pakaian sebelum turun ke bawa.
Namun saat Bella membuka lemari itu, bukan pakaian yang ia dapatkan tetapi sebuah pintu lagi. Karena pencahayaan yang kurang bagus, Bella hanya dapat melihat samar-samar corak pintu kayu itu.
'Apa ini? Mengapa ada pintu lagi? Apa mungkin ini adalah ruangan untuk berganti pakaian? Namun mengapa di desain seperti ini?' Batin Bella bertanya-tanya. Karena telah penasaran, Bella pun memutuskan untuk langsung membuka pintu itu.
__ADS_1
Saat pintu itu terbuka, betapa kagetnya Bella melihat terdapatnya sebuah ruangan penuh dengan foto-foto dan lukisan.
"Waah bagus sekali lukisan nya." Puji Bella saat melihat sebuah lukisan yang memaparkan seorang anak lelaki berwajah sedih tengah menatap lautan di sore hari.
Saat Bella hendak menyentuh lukisan itu, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh suara Rael.
"Jangan sentuh itu!" Tegas Rael yang langsung membuat Bella berbalik.
"Kenapa?" Tanya Bella dengan mimik wajah yang sangat bingung.
"Lukisan itu sudah berdebu. kamu nantinya bisa batuk bila terkena debu itu." Ujar Rael dengan suara khas bangun tidurnya. Bella hanya tersenyum manis saat mendengar perhatian Rael padanya.
"Ini semua foto-foto siapa?" Tanya Bella yang akhirnya beralih untuk melihat beberapa foto yang berjejer di dinding.
"Ini semua fotoku dimasa kecil. Foto disaat aku bersama ayah dan ibu. Lihatlah ini! Ini adalah Ibuku, mertuamu." Ungkap Rael menunjukkan sebuah foto yang sengaja ia ambil. Bella pun langsung mendekati Rael dan melihat foto yang ia tunjukkan. Betapa kagumnya Bella melihat wanita di foto itu, rambut panjang yang hitam mengkilat, mata coklat serta kulit putih yang menambah kecantikan parasnya.
"Ibumu cantik sekali, pantas saja suamiku ini begitu ganteng." Puji Bella membuat Rael tersenyum malu.
"Akhirnya kamu sadar juga kalau aku ini ganteng." Sombongnya membuat Bella sadar akan pujiannya sendiri yang membuat Rael menjadi semakin angkuh.
"Apaan sih, yang aku puji itu ibumu. Bukan kamu Rael! Wleeek..." Cibir Bella membuat Rael semakin gemas menatapnya.
"Kamu tau nggak, kalau senyum mu dan ibuku itu sedikit mirip. Bahkan saat melihat kamu tersenyum aku sering teringat akan Ibu." Ungkap Rael menatap kearah Bella.
"Apakah semirip itu?" Tanya Bella mengalihkan pandangannya kearah sang suami dengan tatapan tidak percaya dan Rael hanya menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....