MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
KEMBALINYA JESICA


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Beberapa jam diperjalanan. Rael dan Vino akhirnya sampai di kota tempat Dito dan Bella tinggal.


"Ternyata kota ini juga sama dengan kota tempat tinggal Riko?" tanya Rael celingukan melihat keluar mobil.


Setelah diberikan alamat oleh Arya tadi, Rael sepertinya tidak begitu peduli, yang di pikiran Rael hanyalah Bella agar ia cepat bisa bertemu dengan nya.


Namun, sepanjang perjalanan Rael sadar jika jalanan menuju kota tempat tinggal Dito sama dengan jalanan menuju kediaman Indarko.


Vino hanya ber-oh ria saja, ia tidak tau soal jalanan menuju kediaman Indarko. Bahkan untuk ke rumah baru Dito pun adalah hal pertama baginya.


Rael memasuki rumah Dito dengan tergesa-gesa. Ia mencari pelaku yang telah membawa kabur istrinya. Wajah Rael memerah menahan amarah.


"KELUAR LO DITO!!" teriak Rael memukul-mukul pintu masuk. Kalau bukan karena pintu rumah Dito terkunci sudah Vino yakini bahwa Rael akan mengamuk bahkan bisa menghancurkan rumah baru milik Dito itu.


"Telepon banjingan itu segera! Gue bakal habisi dia hidup-hidup!" ucap Rael memerintah Vino. Amarahnya memuncak bahkan matanya ikut memerah.


Vino yang di tatap tajam pun langsung merinding dan takut. Tangan nya bergetar memegang handphone. Vino langsung menelpon Dito, sepupunya itu.


Beberapa kali panggilan tidak kunjung di jawab. Akhirnya Rael tampak semakin frustasi sedangkan Vino semakin takut. Orang-orang yang lewat di depan rumah Dito pun menatap ngeri ke arah mereka.


Sedari tadi tidak hentinya Rael berusaha untuk masuk ke dalam rumah. Sampai bahunya terasa perih karena ingin mendobrak pintu.


Panggilan ke 5 Vino akhirnya di angkat oleh Dito.


"Halo Dit, Lo dimana? Gue di depan rumah Lo ini." seru Vino dengan nada ketakutan.

__ADS_1


Rael yang mendengar suara Vino langsung mendekatinya dan mengurungkan niatnya untuk kembali mendobrak pintu masuk.


"Gue lagi cari Bella ke seluruh kota. Sudah sampai malam begini Gue masih nggak bisa temukan keberadaan nya." ungkap Dito penuh rasa kekhawatiran.


Vino yang melihat Rael di sebelahnya, semakin merinding menanggapi tatapannya.


"Lo mending pulang dulu deh, kita perlu menjelaskan ini semua pada Rael. Gue nggak mau mati muda di tangan Rael!" titah Vino membuat Dito di seberang sangat kaget.


"Lo bawa Rael ke rumah Gue?" tanya Dito kaget.


"Iya, makanya buruan pulang! Atau rumah baru Lo bakalan hancur oleh Rael!" jawab Vino yang membuat Dito mengernyit ngeri.


Rael yang mendengar basa basi Vino terlalu panjang, akhirnya dengan paksa ia merebut handphone sang sahabat.


"Lo pulang sekarang atau gue yang ke sana?! Sebelum itu Gue hancurkan rumah baru Lo! PULANG SEKARANG!" teriak Rael dengan suara lantang dan tegas. Bahkan Dito yang berada di seberang pun merasa telinganya memanas. Ia kaget mendengar suara tinggi Rael.


"Iya-iya gue pulang, ini udah di jalan kok." jawab Dito yang terdengar juga takut.


"Lo sana belikan Gue minum! Gue haus!" titah Rael yang masih dengan tatapan tajam. Vino celingukan mencari kedai ataupun swalayan terdekat, untung saja swalayan tempat Bella biasanya bekerja masih buka walau hari sudah lumayan larut.


"Uang nya mana?" tanya Vino mengadakan tangannya. Rael menghela nafas dan menatapnya malas.


"Pakai uang Lo aja! Ini sebagai hukuman karena Lo udah berani membohongi Gue!" jawab Rael yang hanya bisa membuat Vino pasrah.


Masih untung nyawanya berada di dalam raganya, kali ini Rael sudah terbilang baik menurut Vino. Kalau tidak baik, sudah ia pastikan bahwa saat ini ia sudah terkubur didalam tanah.


Setelah kepergian Vino, Rael menerima sebuah telepon masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ia kira itu adalah beberapa kolega bisnis dari perusahaan Ayah nya. Mengingat beberapa hari yang lalu Rael sudah bergabung dengan perusahaan Genandra.

__ADS_1


"Halo." sapa Rael berusaha menetralkan amarahnya. Ia tidak mau orang lain tau bahwa saat ini ia tengah dalam masalah dan emosi yang tinggi.


"Halo sayang ku Rael. Aku merindukan mu, apa kamu merindukan ku?" tanya orang dari seberang itu dengan nada bicara yang menggoda dan manja.


"Jesica?" ujar Rael saat ia mendengar suara gadis itu. Meski telah lewat beberapa bulan pun, Rael tidak akan pernah melupakan gadis yang ingin menghancurkan rumah tangga nya dengan Bella.


"Astaga... Aku tidak percaya bahwa kamu masih mengingat ku. Kamu tau sayang, beberapa hari lagi aku akan membuat kamu kembali jatuh dalam pelukan ku. Aku akan menghancurkan Bella, sehingga ia tidak bisa lagi menganggu hubungan di antara kita." ungkapnya tanpa takut.


Kejadian beberapa bulan yang lalu masih saja tidak membuat Jesica jerah. Bahkan kali ini ia tidak takut lagi akan berbuat jahat dan dimasukkan ke dalam penjara oleh Rael. Rasa dendam yang ia pendam beberapa bulan membuat nya mengumpul kan beberapa ide licik untuk menghancurkan kehidupan Bella.


Ia selalu memantau Bella dan Rael dari kejauhan, Jesica juga tau kalau Bella dan Rael berantem sebelum perayaan pesta pernikahan mereka. Malam itu sebenarnya Jesica berniat untuk mencelakai Bella, hanya saja di saat yang sama Adelia menghancurkan semua rencananya.


Kini Jesica tau dimana keberadaan Bella bahkan ia berniat untuk membunuh Bella kali ini. Rasa malu serta sakit yang ia dapatkan dari hubungan Bella dan Rael membuat dendam nya semakin menjadi-jadi. Ia betul-betul sudah terobsesi untuk memiliki Rael seutuhnya.


"Jangan macam-macam dengan gue Jesica! Lo tau akibatnya berurusan dengan Gue!" terang Rael dengan rahangnya yang sudah mengeras menahan amarah.


Di seberang terdengar Jesica tertawa terbahak-bahak.


"Aku tidak peduli dengan ancaman mu itu Rael. Aku hanya ingin memiliki mu, itu saja. Kalau kamu tidak suka aku juga tidak peduli. Kamu haru menjadi milikku!" ujarnya dengan selingan tawa di setiap kalimat yang ia tuturkan.


Rael mengehela nafas, belum lagi masalah Bella yang kabur selesai, masalah ini malah membuat kepalanya semakin sakit.


"Ck, Lo emang gadis ****** yang tidak tau diri ya! Masih untung kemarin gue nggak bawa Lo dalam penjara. Bukannya jerah Lo malah semakin menjadi. Jangan berharap Gue mau sama Lo?" tegas Rael menghardik Jesica.


Akan tetapi wanita itu malah semakin tertawa terbahak-bahak. Ia sudah gila, benar-benar sudah gila. Bahkan di hardik pun ia tanggapi dengan tawa.


"Mau kamu bilang apa-apun Rael, aku akan tetapi menjalankan misi ku. Aku akan membuat Bella hancur. Aku akan menghilangkan dia dari hidup mu. Kita akan bersama sebentar lagi, aku yakin!" sahutnya membuat Rael kesal dan geram. Tanpa menjawab, Rael langsung mematikan sambungan telepon itu.

__ADS_1


Ia merasa tengah membuang-buang waktu nya untuk meladeni telepon dari wanita gila itu. Rael juga tidak mau semakin pusing memikirkan ancaman dan ujaran dari Jesica. Ia hanya menganggap semua ucapannya itu hanya ke haluan saja.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2