
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Siang itu Bella tidak mau keluar kamar meski Rael terus membujuknya. Keputusan sang kakek dan mertuanya membuat Bella tidak habis pikir. Memang Bella yang sudah berbohong atas pernikahan ini tetapi apakah pantas mereka mengancam Bella seperti itu.
'Aku harus bagaimana? Meski Rael suami ku dan kami melakukan nya. Apakah tuhan akan secepat itu memberikan anak pada kami? Aku tidak percaya di beri waktu hanya setahun.' Gumam Bella tidak yakin.
Bella terus menggerutu dalam hatinya, sedari tadi ia hanya duduk di sofa menghadap ke jendela luar. Rael memasuki kamar dengan menenteng nampan berisi makan siang mereka.
"Bel, makan dulu yuk. Udah siang nih." ajak Rael duduk di sebelah Bella setelah meletakkan nampan itu di atas meja.
"Aku nggak selera makan Rael, kamu saja." titah Bella lesu. Rael mencoba berfikir cara agar Bella bisa kembali mood.
"Kamu masih memikirkan yang tadi? Kalau begitu kita nunggu kamu siap saja dulu, nggak usah mikirin ucapan Ayah dan Kakek. Aku nggak apa-apa kok kalau tahun ini kita belum dapat keturunan. Urusan warisan juga nggak apa-apa nggak dapat, yang penting kamu bahagia. Jangan di jadikan beban Bel, lagian umur kita juga masih muda, belum terlambat jika belum memiliki anak." ujar Rael separuh hati, ia hanya ingin menenangkan perasaan Bella.
"Terimakasih Rael, tetapi aku hanya tidak percaya bagaimana Kakek dan Ayah bisa mengancam kita seperti itu. Bagaimana kalau Tuhan belum ngasih kita, meski sudah mencoba? Aku tidak habis pikir mereka memberi kita waktu hanya setahun." ujar Bella mengutarakan isi hatinya pada Rael.
"Kamu tenang saja, kita hanya perlu usaha. Untuk itu aku juga ingin kamu siap dulu, kamu jangan terlalu memikirkan nya. Mari makan, bukannya kamu ada ngajar sore?" tanya Rael pada Bella sambil tersenyum manis.
'Ternyata Rael bisa se dewasa ini. Aku langsung bisa tenang dibuatnya, tetapi kok dilihat-lihat Rael makin tampan ya?' gumam Bella dalam hatinya.
"Iya aku ada ngajar sore. Hari ini kamu free kan? Kamu bisa ngajak anak swaq partner ke camp Violet Latera malam ini? Soalnya aku mau beri tahu status kita sebelum mereka salah paham." titah Bella sambil menyicipi makan siangnya.
"Bisa Bel. Tetapi apa kamu nggak capek habis ngajar langsung ke camp?" tanya Rael yang juga sambil menikmati makan siangnya.
__ADS_1
"Nggak kok. Oh ya, aku juga mau booking semua hidangan di restoran Genandra untuk hari ini, bisa nggak ya di antar ke camp? Aku juga mau berbagi buat semua anggota sambil ngerayain pernikahan kita." ucap Bella. Membuat Rael sangat beruntung memiliki Bella, ia tidak menyangka wanita di hadapannya ini tidak pelit apalagi perhitungan saat berbagi dengan orang lain.
"Bisa kok, biar aku yang urus. Tetapi kamu punya uang dari mana Bel, apa dari gaji mu sebagai dosen?" tanya Rael penasaran.
"Bukan Rael, gajiku sebagai dosen langsung aku tabungkan saja dalam rekening. Aku dapat uang dari hasil cafe, kamu ingat kan cafe bunga Latera itu? Itu punya aku dan biasanya anak-anak Latera banyak ngumpul di sana." jelas Bella tersenyum hangat.
"Syukur kamu tidak boros seperti wanita lainnya, aku beruntung punya kamu Bel. Soal boking hidangan itu aku yang bayar semua, ini sudah kewajiban aku sebagai suami kamu. Tidak terima penolakan!" ujar Rael dengan tegas.
"Iya deh kalau kamu maksa. Makasih ya Rael." jawab Bella sambil membalas senyum suaminya itu.
"Sama-sama Bel. Oh ya, aku ingat cafe itu tempat kita berantem terus kamu putusin aku kan?" ujar Rael mengejek.
"Ih apaan sih, kok ingat nya yang begituan." ujar Bella tidak terima.
"Aduh percaya diri sekali. Tapi aku nggak bakalan cemburu sama kamu!" tegas Bella.
"Yakin nggak cemburu? Besok kalau aku di deketin cewek lain emang kamu nggak marah?" tanya Rael usai menghabiskan makan siangnya.
"Yakin, buat apa cemburu sama kamu?" ucap Bella dengan nada kesal.
"Kok kesal gitu, kamu marah ya? Ciee... istriku cemburu nih." jahil Rael menggoda Bella.
"Nggak tuh, kamu aja yang percaya diri benget." ketus Bella setelah selesai menghabiskan makan siangnya.
__ADS_1
"Nggak cemburu tapi suaranya marah gitu, bilang aja kamu udah sayang sama aku Bel." ujar Rael kembali menggoda.
"Ih apaan sih? Kamu makin menjadi ya. Aku siap-siap ke kampus dulu, capek dengerin kamu ngawur gitu." elak Bella kesal. Sebenarnya ia tau jika kini ia telah sayang pada Rael oleh karena itu ia pasti cemburu bila Rael dekat dengan wanita lain. Hanya saja gengsi nya lebih besar.
Rael hanya tersenyum melihat wajah kesal sang istri memasuki kamar mandi. Ia dapat melihat bahwa Bella juga memiliki rasa padanya.
***
Beberapa jam kemudian. Siang berganti sore, sore pun berganti malam. Tidak terasa kini semua anggota swaq partner dan Violet Latera telah berkumpul di camp Violet Latera. Hal itu membuat suasana di dalam camp serasa tegang dan sesak. Mereka menatap tajam karena saling bermusuhan. Sudah beberapa tahun mereka semua bermusuhan, rasa itu masih melekat pekat dalam hatinya. Itu lah yang membuat Bella sangat takut, jika beberapa di antara mereka nantinya tidak akan menerima pernikahan Bella dengan Rael.
Bella begitu gugup sampai tangannya sudah keringat dingin. Meski ia seorang ketua tetap saja ia adalah seorang wanita yang memiliki rasa ke khawatiran lebih besar dari lelaki. Rael yang melihat wajah khawatir sang istri lansung menghampirinya dan mencoba untuk menenangkan Bella.
"Kamu tenang aja ya. Mereka semua pasti mengerti, kalau kamu nggak kuat bicara di hadapan mereka biar aku saja." ujar Rael menggenggam tangan Bella.
"Makasih ya Rael, serius aku takut banget mereka bakal keluar menjadi anggota. Tanpa mereka kita juga bukan ketua." jelas Bella menggenggam erat tangan Rael.
"Percaya saja, yang terbaik menjadi anggota kita pasti mengerti kok. Mereka pasti akan dukung kita, bukan malah bubar." ujar Rael tersenyum hangat.
"Iya aku percaya. Sudah waktunya, yuk ke sana." ajak Bella setelah melihat jam tangannya.
"Baik, kamu yang tenang ya. Aku akan bicara, kamu temani aku saja." pinta Rael. Mereka pun berjalan ke arah tangga dan menatap semua anggota.
"Hai semua, mungkin kalian sudah mendapatkan informasi diluar di sana bahwa kami sudah menikah. Untuk itu hari ini kami berdua mengumpulkan kalian di sini untuk memberi tahu yang sebenarnya bahwa kami benar-benar telah menikah. Kami hanya berharap kalian bisa menerima pernikahan ini. Mulai hari ini juga Swaq partner menjadi saudara dengan Violet Latera. Lupakan semua dendam yang ada di hati kalian, kami butuh dukungan kalian." ujar Rael penuh harap. Mendengar penjelasan Rael, semua anggota pun berbisik-bisik. Nama nya juga hidup ada yang pro dan juga kontra. Bella semakin gugup menahan rasa takut di hatinya, takut jika semua anggota nya mengundurkan diri dari geng. Tetapi Rael semakin menggenggam erat tangan Bella, menyalurkan rasa tenang untuk istri nya ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....