
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Bella dan Vini dikagetkan dengan kehadiran Vino yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang mereka.
"Vino. Kamu kok ada di sini?" Tanya Bella bingung.
"Aku disuruh buat manggil Bu Bella. Bu Bella di panggil Rael, katanya mau makan siang berdua." Ujar Vino dengan tersenyum manis. Sedangkan Vini sudah terpaku saat melihat kedatangan Vino.
"Oh gitu ya, makasih ya Vino. Kalau begitu Gue duluan ya Vini. Sampai ketemu nanti, pokoknya Lo harus bantu Gue pas di pesta pernikahan." Ujar Bella yang sudah berdiri. Saat namanya di sebut Vini pun akhirnya tersadar dan langsung mengalihkan perhatiannya pada Bella, mencoba untuk menetralkan rasa gugupnya.
"Iya-iya, sudah sana gih! Kasihan Rael udah nunggu." Usir Vini yang langsung diangguki oleh Bella.
"Baiklah Vini, dadah." Pamit Bella yang akhirnya melangkah pergi. Sedangkan Vino masih senyum-senyum memperhatikan Vini. Sampai akhirnya netra mereka bersatu, membuat keduanya langsung salah tingkah.
"Jadi gimana?" Tanya Vino yang kemudian duduk di samping Vini.
"Gimana apanya?" Tanya Vini ketus tanpa menatap lawan bicaranya.
"Pangeran kuda putihnya diganti mobil putih mau nggak?" Tanya Vino kembali dengan suara menggoda Vini.
"Apaan sih, kamu menguping saja! Perasaan baru wisuda udah nggak benar aja kerajaannya." Ujar Vini yang akhirnya menatap Vino kesal.
"Emangnya kerjaan kamu benar nonton film dewasa gitu?" Bisik Vino membuat Vini lansung terdiam dan terbelalak.
"Kamu tau dari mana ha? Kamu memata-matai saya?" Sarkas Vini kesal. Membuat Vino malah terkekeh seketika.
"Aduh Bu Vini eh nggak Vini. Aku pernah lihat kasetnya di mobil kamu waktu itu. Jadi aku tau kalau bukan kamu siapa lagi yang menonton itu." Bisik Vino kembali dengan suara yang terdengar menyindir Vini.
"Itu privasi saya, kamu tidak perlu ikut campur!" Tegas Vini yang sebenarnya panik saat kedapatan telah menonton film-film semacam itu.
"Aku sih bisa jaga rahasia itu, dengan syarat kamu mau jalan sama aku." Pinta Vino dengan mengedipkan matanya sebelah. Vini lansung merinding dibuatnya, ntah mengapa akhir-akhir ini ia sering terpikirkan Vino sehingga saat dekat seperti ini jantungnya bekerja lebih cepat.
__ADS_1
"Ih nggak mau. Mending saya jalan sama monyet dari pada sama kamu yang tiba-tiba mesum seperti ini." Tolak Vini yang tiba-tiba berdiri. Namun tangannya langsung dicekal dan ditarik Vino untuk kembali duduk.
"Aku juga bisa jadi monyet loh, masa kamu tidak mau jalan dengan monyet yang ganteng ini?" Rayu Vino sekali lagi. Ia bahkan tidak sadar bahwa dirinya berubah saat berada di hadapan Vini. Sikap yang biasanya dingin dan pendiam tiba-tiba saja menjadi berani dan bahkan sedikit menggoda Vini.
"Aish... Lo Kesambet apaan sih Vino? Pokoknya Gue nggak mau jalan sama Lo!" Tegas Vini menghempaskan tangan Vino dan kemudian berlari meninggalkan Vino di kursi taman.
'Kenapa Gue jadi gugup begini? Kok Vino bisa lihat kaset itu sih? Kan bisa berabe kalau orang-orang pada tau! Gimana nih menghadapi Vino, biar dia mau jaga rahasia itu. Apa gue benar-benar harus jalan sama dia?' gumam Vini sepanjang jalan sambil menunduk tanpa sadar ia menabrak tubuh jangkung seorang lelaki yang ada dihadapannya.
"Aduh maaf Mas, nggak sengaja. Kak Dito?" Ucap Vini seketika panik. Ternyata lelaki dihadapannya adalah cinta pertamanya di bangku kuliah. Meski cintanya tidak terbalaskan tetap saja cinta Vini masih sama untuk Dito.
"Gak apa-apa Vini, kamu lihat Bella nggak?" Tanya Dito yang tadi ingat bahwa Vini membawa Bella dari tempat mereka berkumpul.
'Nggak dulu nggak sekarang sama aja ya. Kak Dito masih aja nanyain keberadaan Bella padaku. Apa dia nggak pernah menilai perhatian ku?' Gumam Vini pilu dalam hatinya.
"Bella udah pergi dari kampus kak, katanya sih mau makan berdua bareng Rael." Ujar Vini dengan tersenyum manis. Meski sikap Dito lebih perhatian pada Bella tetap saja Vini tidak pernah iri ataupun menaruh dendam pada sahabatnya sendiri. Vini bukan tipe yang menyalahkan orang lain demi keinginannya.
"Padahal aku mau menyampaikan sesuatu. Tetapi biarlah saat bertemu nanti akan ku sampaikan. Oh ya, aku dengar kamu juga sudah menjadi dosen ya di sini?" Tanya Dito membuat Vini merasa senang.
"Baik, kamu sendiri gimana? Udah lama ya kita nggak ketemu. Kamu punya waktu untuk ngobrol dulu nggak?" Tentu pertanyaan Dito membuat Vini kesenangan bukan main. Ia langsung mengangguk dengan senyum lebar yang tidak lepas dari wajahnya.
"Ada kok kak, mari ke restoran depan saja. Mumpung sudah siang, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Ajak Vini dengan antusias.
"Baiklah, tetapi kali ini aku yang akan traktir. Teringat akan terakhir kali di waktu itu kamu yang traktir ku makan. Aku ingin membalasnya." Ujar Dito yang sudah melangkah beriringan dengan Vini menuju restoran tersebut.
'Ternyata kak Dito masih mengingat kenangan bersama ku. Apa ini adalah peluang jika aku masih bisa berharap pada kak Dito? Apa mungkin kami bisa bersama?' gumam Vini dalam hatinya dengan rasa begitu bahagia.
Mereka terus mengobrol ringan menunju restoran dengan canda dan tawa menyelimuti mereka. Tanpa sadar Vini dan Dito berjalan melewati Vino yang sedari tadi masih duduk di kursi taman.
Vino mengerutkan dahinya saat melihat sepupunya itu berjalan bersama Vini dengan tampak akrab.
'Apa-apaan ini? Mengapa mereka terlihat begitu dekat? Kenapa Vini begitu tersenyum lebar saat ngobrol dengan Dito? Hubungan macam apa yang tengah mereka jalani? Apa karena itu Vini selalu ketus kepada ku?' gumam Vino tidak terima dalam hatinya. Dengan rasa kesal Vino pun bangkit dan berjalan membuntuti mereka.
__ADS_1
Vini dan Dito memasuki restoran Genandra yang berada di depan kampus. Mereka langsung duduk dan memesan pesanan untuk makan siang.
"Ternyata kamu masih suka taro dingin ya." Ujar Dito setelah merger memesan makanan pada pelayan.
"Hehehe.. Iya kak, kak Dito masih ingat ya. Padahal udah lama kita nggak ketemu apalagi makan seperti ini." Ujar Vini masih tersenyum lebar.
"Masih diingat dong Vini, kamu kan salah satu sahabat ku. Lagian di masa kuliah kita berdua dan juga Bella selalu kemanapun bersama. Aku tidak akan melupakan kebersamaan bersama Bella." Ujar Dito yang tanpa sadar malah mematahkan hati Vini. Vini yang tadinya tersenyum lebar kini menahan dirinya untuk tidak menangis.
'Ternyata kak Dito masih memiliki perasaan terhadap Bella. Aku tidak menyangka setelah sekian lama ia pergi, perasaan nya untuk Bella masih sama.' gumam Vini sedih. Saat yang bersamaan, Vino tiba-tiba saja datang menghampiri mereka yang tengah duduk. Dengan tidak sopan nya ia datang sambil merangkul Vini yang duduk-duduk disebelahnya.
"Waah kalian makan siang nggak ngajak-ngajak." Ujar Vino dengan suara yang ia buat-buat kesal.
"Bukannya tidak mengajak, kamu saja yang ntah kemana." Ujar Dito dengan datar. Ia tidak cemburu sedikitpun melihat Vini dirangkul oleh Vino, karena bagaimanapun ia memang tidak memikirkan perasaan apa-apa dan hanya menganggap Vini sebagai sahabat.
"Aduh, Vino kamu ngapain sih?" Ujar Vini tidak suka atas rangkulan Vino.
"Aku rangkul kamu sayang, masa nggak boleh sih. Kan kita pacaran." Ujar Vino dengan tersenyum lebar. Membuat Vini terbelalak dan seketika marah.
"Maksud kamu apa? Siapa yang..." Ucap Vini menggantung saat Vino tiba-tiba saja berbisik padanya.
"Kamu mau aku ceritakan rahasia itu pada Dito?" Bisik nya yang hanya bisa didengarkan oleh Vini. Tentu Vini lansung bungkam, ia tidak ingin harga dirinya dimata Dito jatuh begitu saja, setelah semua nama baik yang ia buat dihadapan Dito.
"Kalian berpacaran?" Tanya Dito kemudian saat memperhatikan gelagat pasangan dihadapannya.
Vini bingung harus menjawab apa, karena ia takut untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Iya Dito, Lo masih nanya aja. Vini ini calon istri yang gue ceritain ke Papa waktu itu. Lo ingatkan?" Sontak Vini lansung menatap Vino yang ada di sebelahnya dengan tatapan tidak suka.
'Ngadi-ngadi nih bocah. Semakin banyak kebohongan yang ia lontarkan pada Dito, tentu ini semua sudah membuatku tidak memiliki harapan lagi untuk menjadi kekasih hati Dito.' Gumam Vini kesal dan langsung mencubit paha Vino dengan keras.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1