
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Setelah mengeluarkan semua isi perutnya. Rael membantu Bella untuk berbaring di ranjang.
"Kamu salah makan lagi ya? Kan udah aku bilangin jangan makan mie instan terus!" Omel Rael yang sudah terdengar seperti Ibu. Tetapi Bella paham bahwa Rael pasti khawatir melihat kondisinya yang tiba-tiba seperti itu.
"Iya-iya nggak lagi deh." Jawab Bella lesu sambil menutup matanya dan mencoba untuk menetralkan rasa mual yang terus menerjang perutnya.
"Kamu coba tenangkan dulu. Aku kebawa sebentar untuk membuatkan kamu teh hangat. Jangan beranjak sedikitpun dari ranjang ini!" Titah Rael yang hanya bisa diangguki oleh Bella. Setelah kepergian Rael, Bella teringat akan ucapan Vini tadi siang. Ia bukan anak kecil lagi yang tidak tau ciri-ciri orang hamil, mengingat kondisinya yang seperti ini membuat Bella berfirasat akan hal itu.
'Apa aku hamil? Tidak mungkin kan hanya karena memakan satu mie pedas level satu aku menjadi seperti ini. Padahal biasanya aku memakan mie dengan level tinggi, tetapi tidak pernah seperti ini. Apa yang salah dengan ku?' gumam Bella dalam hatinya. Ia kembali untuk berfikir positif dan tenang agar rasa mual yang ia derita lebih sedikit berkurang. Keringat dingin sudah membanjiri dahi Bella karena menahan rasa mual tersebut. Dengan usahanya yang terus mengatur nafasnya menjadi tenang, Bella akhirnya tertidur.
Rael memasuki kamar setelah membuatkan teh hangat untuk Bella. Tetapi saat mendekati istrinya, Rael dapat mendengarkan deru nafas teratur milik istrinya itu. Rael mengurungkan niatnya untuk memberikan teh itu pada Bella dan lebih memilih menaruhnya ke atas nakas. Karena juga merasa lelah, Rael pun ikut berbaring di samping Bella dengan perlahan agar istrinya tidak terbangun.
Tidur menghadap ke arah Bella, Rael malah tersenyum manis melihat istrinya tengah tenang seperti itu.
'Aku nggak nyangka akan jatuh cinta seperti ini dengan mu Bu Dosen yang nyebelin. Tau gini, aku nggak bakalan mau berpura-pura bodoh dan tinggal kelas dulunya. Pasti sekarang aku udah bekerja juga.' Gumam Rael dalam hatinya. Meski ia sendiri tau bahwa Bella memiliki IQ yang tinggi sehingga ia hanya beberapa tahun menginyami bangku sekolah, tidak seperti orang lain pada umumnya.
Karena kelopak matanya kian berat, Rael memutuskan untuk ikut tidur dengan memejamkan matanya perlahan.
***
Dilain sisi. Jingga telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit satu minggu yang lalu. Sebagai menantu yang baik ia terpaksa mengikuti permintaan Kartika untuk tinggal di kediaman Indarko.
__ADS_1
Satu minggu tinggal di rumah Indarko, Jingga dirawat begitu baik oleh seluruh keluarga. Kenyataan yang membuat Jingga kaget saat pertama kali datang ke sana adalah bahwa Riko memiliki 2 saudari. Ternyata Riko adalah anak tengah yang menjadi salah satu anak lelaki dari keluarga Indarko. Kakak perempuan Riko telah menikah dan kini tinggal jauh di luar kota bersama suaminya. Sedangkan adiknya Riko masih menginjak bangku sekolah dasar, sedang imut-imutnya menurut Jingga.
Jingga juga membiasakan dirinya saat mendengar Riko dengan sebutan Rayen oleh seluruh keluarga bahkan pelayan yang ada di sana.
"Lo ngapain ngelamun? Nih susunya!" Ujar Rayen mengagetkan Jingga yang tengah termenung menatap langit diluar jendela. Setelah menyerahkan segelas susu ibu hamil itu kepada Jingga, Riko langsung duduk di sofa kamar.
"Terima kasih." Singkat Jingga. Memang selama seminggu ini ia masih belum bisa terbiasa dengan Riko. Rasa traumanya masih sama dan itu membuat Jingga meminta agar Riko sementara tidak sekamar dengan nya. Seluruh keluarga Riko memaklumi permintaan Jingga tersebut karena mereka semua tau bahwa gadis itu masih merasakan luka yang dalam ulah perbuatan putra mereka.
"Lo kalau ketus-ketus gini ntar gue usir juga baru tau rasa!" Sarkas Riko membuat Jingga yang tengah meminum susu langsung berhenti dan menatap tajam ke arah lelaki itu. Beberapa hari ini Riko memang selalu berucap kasar kepada Jingga. Ia selalu sakit hati akan ucapan Riko yang menurutnya tidak pernah memikirkan perasaan Jingga. Apalagi kini ia tengah sensitif karena mengandung anak Riko.
"Gue juga nggak mintak dibawa kesini. Kalau keluarga Lo bolehin Gue pergi, sekarang juga Gue pergi dari sini! Gue juga bisa hidup tanpa rasa kasihan dari Lo, anak Gue juga nggak butuh Ayah kayak Lo yang kurang ajar! Hikss..." Tangis Jingga langsung pecah saat rasa sakit yang beberapa hari ini ia tahan sudah tidak tertahankan lagi. Ia meluapkan perasaan itu dengan menangis sekencang-kencangnya. Bahkan sampai terdengar diluar kamar.
Riko yang tadinya biasa saja seketika panik. Ia baru kali ini melihat Jingga langsung histeris setelah ia berucap. Riko yang bingung hanya bisa mendekati Jingga dan memeluk gadis itu sambil mengusap rambutnya perlahan.
Kali ini Jingga tidak teringat akan traumanya sedikitpun. Bahkan ia merasa sedikit tenang atas perlakuan Riko padanya.
Kartika yang tengah asik memasak bersama pembantu di rumah itu langsung berlari ke arah kamar Jingga. Ia melangkah dengan rasa penuh khawatir.
'Pasti si Rayen bikin trauma Jingga kumat lagi.' pikir Kartika ketika berjalan tergesa-gesa.
Membuka pintu kamar Jingga, Kartika seolah-olah melihat pemandangan yang langka. Riko mengelus lembut rambut Jingga sehingga membuat gadis itu tampak tenang diperlukannya.
"Kamu apakan Jingga sampai menangis tersedu-sedu begitu?" Tanya kartika dengan suara marah pada Riko. Karena melihat kedatangan Kartika, Riko langsung melepaskan pelukan nya pada Jingga dan langsung menjaga jarak.
__ADS_1
Jingga yang tersadar pun mencoba untuk tetap terlihat biasa. Ntah mengapa ia merasa salah tingkah membayangkan perlakuan Riko tadi padanya.
'Mengapa aku bisa dibuat tenang oleh nya? Bukankah aku sangat membenci dirinya? Apa ini karena bayi dalam perutku?' gumam Jingga bertanya-tanya dalam hatinya. Ia merutuki kebodohannya yang tanpa sadar mau dipeluk oleh Riko.
Ketika Kartika sudah sampai dihadapan mereka, Riko menunduk malu karena tertangkap basah telah peduli pada Jingga. Padahal beberapa hari lalu ia selalu bersikap kasar dan tidak peduli pada gadis itu dihadapan keluarganya.
"Kamu kenapa Jingga? Cerita saja sama Ibu, biar nanti Rayen Ibu marahin." Titah Kartika sambil menatap anaknya dengan tajam.
"Dia jahat Bu! Aku nggak mau tinggal disini lagi." Ujar Jingga yang masih sesenggukan usai menangis keras.
"Idih, apa-apaan Lo nuduh Gue? Lo aja tuh yang sensitif banget, dikit-dikit nangis, dikit-dikit nangis." Ejek Riko yang melangkah ke arah pintu kamar.
"Berhenti kamu Rayen! Ibu tidak pernah mendidik kamu berkata kasar pada wanita. Apa kamu tidak membayangkan apa yang kamu lakukan sekarang akan berbalik pada dirimu sendiri? Apa kamu tidak kasihan dengan Jingga yang tengah mengandung anakmu? Dia sensitif juga karena tengah hamil." Ujar Kartika memberikan pengertian pada anaknya. Tetapi Riko masih dengan egonya yang tinggi.
"Kalau begitu gugurkan saja anak itu, aku tidak pernah menginginkan anak itu! Aku benar-benar muak melihatnya seperti itu." Ucap Riko tanpa beban membuat Jingga merasakan sesak sekali di dadanya. Bukan pertama kali namun sudah berulang kali lelaki itu berucap tidak menginginkan anaknya ini. Jingga merasa kesabarannya begitu di uji oleh Riko.
"Tidak apa-apa Bu, lagian memang benar adanya bahwa anak ini tidak pernah kami inginkan kehadirannya. Tetapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Aku yang mengandungnya dan aku bisa merasakan bahwa ia ingin hidup. Aku tidak akan melakukan apa yang diminta oleh Rayen." Ujar Jingga pada Kartika dengan ucapan sedih. Kartika yang hendak memarahi anaknya di tahan oleh Jingga. Meski Riko mendengar ucapan Jingga, ia tampak terlihat tidak acuh dan melangkah keluar kamar.
"Maafkan anak Ibu ya Jingga, karena dia hidupmu jadi hancur begini." Ujar Kartika yang sangat sedih melihat menantunya itu.
"Tidak apa-apa Bu, selagi ada ibu di sini yang menjaga ku, aku akan baik-baik saja." Jawab Jingga dengan sepenuh hati. Ia sedikit bahagia karena menemukan sosok orang tua dari kedua orang tua Riko.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1