
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Bella menatap benda yang ada ditangan kirinya itu dengan lekat. Seketika sebuah pemikiran terlintas.
'Apa aku harus coba untuk memeriksa kondisi ku dengan testpack ini? Bagaimana kalau memang benar ada bayi di perut ku? Aku yakin, pasti Rael tidak akan marah lagi. Ia pasti tidak akan kasar lagi dan kembali menyayangi ku seperti kemarin-kemarin.' gumam Bella sambil menatap testpack pemberian Vini siang kemarin.
Setelah merasa kenyang, akhirnya Bella memutuskan untuk mencoba testpack itu. Bella hanya menggunakan 3 testpack, Vini terlalu berlebih-lebihan karena telah membelinya testpack sekantong kresek. Untung saja tas Bella muat untuk diisi dengan itu, sehingga kemarin ia tidak perlu malu menjenjeng keresek yang berisi testpack itu.
15 menit Bella menunggu hasil di kamar mandi. Ia begitu gugup, takut jika harapannya kali ini tidak sesuai ekspektasi. Bella juga takut bila nanti tidak menemukan cara Rael tidak marah kepadanya, karena hanya ini satu-satunya yang akan membuat amarah serta dendam Rael pudar kepada Bella.
Bella membuka mata perlahan-lahan. Ia mencoba untuk menatap hasil testpack itu dengan seksama, sebelum senyum lebar terpancar dari wajahnya.
Ketiga testpack itu menghasilkan garis dua yang artinya Bella tengah berbadan dua. Rasa syukur dan senang terus Bella panjatkan didalam hatinya. Bahkan tanpa terasa air mata haru mengalir di pipinya. Bella meletakkan hasil testpack itu ke atas meja wastafel. Ia berdiri menatap cermin dan dengan sedikit merasa malu, ia menyentuh perlahan perutnya yang masih rata dari balik pakaian yang ia pakai.
"Maafin Mama ya Dek, karena nggak percaya kalau kamu selama ini udah di dalam sana. Makasih banyak udah hadir, kamu bakalan ngebantu Mama buat bujuk dan rayu papa lagi." Gumam Bella tersenyum lebar, seolah-olah janin diperutnya itu mampu mendengarkan ucapan nya.
Suara pintu kamar terbuka membuat Bella langsung bergegas keluar kamar. Namun sebelum itu ia mengambil hasil testpack tadi dengan tergesa-gesa tanpa sadar menjatuhkan salah satu dari ketiga testpack itu ke lantai. Bella terlalu bahagia dan mengira bahwa itu Rael, ia berniat untuk memberitahu kabar bahagia itu kepada suaminya.
"Sayang, lihat ini deh!" Ujar Bella tersenyum lebar keluar dari kamar mandi. Ia menunjukkan testpack ditangannya itu dengan sangat bersemangat.
Namun beberapa detik kemudian ia sadar bahwa orang yang membuka pintu kamar itu bukanlah Rael melainkan Haris. Haris tidak kalah terkejutnya melihat hasil testpack di tangan Bella yang menunjukkan bahwa Bella tengah hamil.
"Ayah kok di sini? Rael mana?" Tanya Bella mengerutkan dahinya sambil celingukan. Ekspresinya yang tadi bersemangat lansung cemberut karena tidak mendapati keberadaan suaminya.
__ADS_1
"Ayah mendapat informasi bahwa kamu tidak kunjung keluar dari kamar. Padahal para pelayan sudah menyiapkan sarapan. Ternyata benar, Rael mengunci kamu di dalam." Ungkap Haris membuat Bella langsung mengeleng.
"Tidak kok Ayah, Rael bukan mengunciku. Aku yang memintanya untuk mengunci pintu kamar dari luar." Ujar Bella dengan berbohong agar Haris tidak tau masalah yang tengah mereka hadapi.
"Kamu tidak usah berbohong pada Ayah, Bella. Rael turun pagi-pagi sekali dengan ekspresi marah dan sempat berpapasan dengan Ayah. Oleh karena itu Ayah mengkhawatirkan kamu yang tidak turun sedari tadi." Jelas Haris membuat Bella tidak tau lagi harus beralasan apa agar Haris tidak marah kepada Rael atas perbuatannya.
"Bagaimanapun jangan marah kepada Rael, Ayah." Tutur Bella tulus dan melangkah mendekati Haris. Dengan tatapan kaget, Haris melihat wajah Bella yang memar.
"Kamu kenapa Bella? Apa yang sudah diperbuat oleh Rael? Kenapa dagu dan pipimu memar?" Tanya Haris bertubi-tubi. Bella langsung menunduk dan kembali berfikir untuk mengalihkan topik agar Haris tidak membahas itu lagi.
Sejenak ia tersadar akan testpack yang berada di tangannya. Bella langsung tersenyum lebar dan menatap Haris.
"Ayah lihat ini deh. Gara-gara Ayah yang masuk ke sini sebelum Rael, ayah adalah orang pertama yang aku kasih tau. Nih lihat!" Tunjuk Bella pada testpack bergaris 2 itu. Betapa berbinarnya mata Haris saat tau bahwa Bella tengah mengandung pewarisnya.
'Apakah reaksi Rael akan sama dengan reaksi Ayah ketika ku perlihatkan hasil testpack ini?' batin Bella bertanya-tanya. Ia ikut terharu saat melihat reaksi Haris. Tanpa menjawab dengan suara, Bella langsung mengangguki pertanyaan Haris.
"Waah Ayah sangat bersyukur, terimakasih Bella." Ujar Haris yang langsung memeluk menantu semata wayangnya itu. Tetapi Bella merasa pelukan hangat itu seolah-olah pelukan dari sang Ayah, meskipun sedari kecil Bella memang mengaggap Haris adalah ayahnya.
"Ayah, apa boleh Bella meminta sarapan?" Tanya Bella setelah mereka meregangkan pelukan.
"Tentu nak, bagaimana tidak boleh? Kamu adalah istrinya Rael, apalagi sekarang kamu tengah mengandung pewaris keluarga Genandra. Mari kita ke ruang makan." Ajak Haris dengan senyum lebar yang tidak luntur dari wajahnya semenjak melihat hasil testpack itu. Haris langsung merangkul dan menuntun menantunya itu untuk keluar dari kamar.
"Ayah, tolong jangan kasih tau Rael dulu soal ini ya. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengatakan hal ini kepadanya." Pinta Bella saat mereka tengah melangkah menuruni tangga.
__ADS_1
"Baiklah Bella, Ayah akan tutup rapat mulut Ayah kepada semua orang, termasuk Rael. Hari ini sungguh membahagiakan, Ayah akan membagikan hadiah untuk anak panti asuhan yang berada di kompleks ini, hal itu sebagai bentuk rasa syukur Ayah karena sebentar lagi akan menimbang cucu." Ungkap Haris penuh rasa semangat dan bahagia.
"Terimakasih Ayah, Bella bersyukur juga telah bertemu dengan Ayah. Tanpa Ayah mungkin Bella dan Ibu dulunya akan hidup luntang-lantung." Ujar Bella setelah duduk di meja makan.
"Kamu tidak usah berterima kasih Bella, karena kekayaan Genandra saat ini adalah hasil bantuan modal dari ibumu. Makanya di saat kamu kecil ayah selalu membantu kamu dan ibumu." Ungkap Haris yang membuat Bella paham mengapa Haris dulu sangat tulus perhatian kepada ia dan ibunya. Akan tetapi Bella teringat Rael dan almarhumah ibunya yang sudah sangat salah mengartikan bantuan yang diberikan Haris kepada ia dan Ibunya.
"Kalau begitu kamu nikmati saja sarapan mu dahulu. Ayah akan mendatangi panti asuhan dulu, seperti yang Ayah ceritakan kepada mu tadi. Banyak-banyak makanannya, biar cucu ayah tambah sehat." Ucap Haris yang sudah berdiri dari duduknya untuk berpamitan dengan Bella.
"Baiklah Ayah, hati-hati di jalan ya." Jawab Bella yang sudah mulai menyantap sarapan nya. Haris pun melangkah meninggalkan Bella yang masih stay di meja makan.
***
Beberapa menit kemudian. Bella telah selesai menyantap sarapannya.
"Waah akhirnya kenyang juga." Gumam Bella dengan senang. Ia mengelus lembut perutnya yang rata sambil tersenyum manis.
'Kamu banyak makan ya Dek, lihat nih berat badan mama kayaknya bertambah.' batin Bella berbicara dengan bayi dalam kandungannya.
"Berani sekali kamu keluar dari kamar!" Sarkas Rael dan dengan kasar menjambak rambut Bella keras. Bella yang tadinya tersenyum senang lansung mengerang kesakitan.
"Sakit Rael, lepaskan!" Pinta Bella dengan menahan sakit di kepalanya.
"Sudah ku bilang jangan pernah keluar kamar tanpa seizin ku. Karena kamu melanggarnya, aku akan menghukum mu!" Bentak Rael memegang lengan Bella dengan keras. Bella di tarik Rael untuk ikut kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....