MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
MENCARI KEBERADAAN RIKO


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Bella langsung paham apa yang diperagakan oleh Vini. Membuatnya malah menjadi salah tingkah.


"Aish apa-apaan sih Vin. Lagian kami belum ada pikir ke arah sana." Ujar Bella dengan pipi yang sudah bersemu merah. Meski pertanyaan Vini wajar tetap saja hal itu adalah hal yang sensitif bagi Bella.


'Benar juga ucapan Vini. Sudah satu bulan Gue belum datang bulan. Apa jangan-jangan...' pikir Bella yang langsung membuatnya geleng-geleng kepala. Vini dapat menangkap jelas tingkah Bella yang tidak bisa menutupi ekspresinya bila dihadapan Vini.


"Nah kan Lo juga mikirnya ke sana. Jangan malu gitu sama Gue, lagian itu akan jadi kabar baik bagi semua orang termasuk Rael. Lo emang nggak mau coba periksa dulu gitu?" Tanya Vini sekali lagi menggoda Bella. Bella langsung salah tingkah dan sangat malu bila semakin membahas hal itu.


"Ah sudahlah, ayo ganti topik saja. Atau nggak Gue pergi aja." Ancam Bella membuat Vini tertawa terbahak-bahak.


"Iya-iya deh nggak bahas itu lagi. Tapi kalau udah ada hasilnya kabari Gue ya. Nggak sabar punya ponakan dari Lo." Ujar Vini yang masih belum berhenti menggoda Bella.


"Aish... Lo mah gitu." Rajuk Bella kesal. Ia sebenarnya juga menahan tawa saat digoda seperti itu oleh Vini, tetapi Bella coba alihkan dengan makanan dihadapannya. Mereka berdua pun akhirnya makan malam bersama setelah Vini ikut memesan menu yang lezat di sana. Tidak lagi membahas Jingga ataupun hal sensitif yang membuat Bella tersipu malu. Kali ini dinner persahabatan itu mereka habiskan dengan cerita-cerita yang mengundang gelak tawa.


***


Di sisi lain. Setelah perjalanan beberapa jam menuju tempat Riko, akhirnya ketiga lelaki tampan itu sampai juga. Awalnya mereka sangat kaget mendapati Riko berada di lokasi sebuah perumahan mewah. Apalagi rumah yang tengah mereka datangi ini adalah rumah paling besar yang ada di kompleks perumahan mewah itu.


"Lo yakin nggak salah lacak lokasi keberadaan Riko?" Tanya Rael pada Dito tanpa menatap lawan bicaranya. Ia masih terpana melihat rumah yang begitu besar itu meski mereka masih berdiri di depan pagar. Bahkan rumah kediaman Ken Wijaya belum ada tandingannya dengan rumah besar ini.

__ADS_1


"Gue yakin banget Rael. Tapi ngapain lelaki itu ada di sini? Nggak mungkin ini rumahnya kan?" Tanya Dito yang tentu saja tidak mendapat jawaban dari kedua orang yang ada disampingnya.


"Bukannya Mas Riko itu udah nggak punya apa-apa dan siapa-siapa. Mbak Bella bilang kedua orang tua nya sudah meninggal usai kecelakaan." Ujar Yoga yang ikut kagum dan bingung setelah melihat rumah itu. Tetapi beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti tepat dibelakang mereka dengan lampunya yang mampu menyilaukan mata. Mobil itu adalah punya dari pemilik rumah besar yang ada dihadapan mereka. Mobil itu berhenti karena mobil Rael menghambat jalannya untuk masuk ke dalam rumah besar itu.


Setelah mematikan lampu mobilnya, sang supir keluar dari mobil dan menghampiri Rael serta kedua lelaki tampan lainnya.


"Mohon maaf tuan, mobil kalian menghalangi jalan tuan rumah untuk masuk ke dalam." Ujar supir itu dengan sangat ramah.


"Oh maaf ya pak, tetapi kami kesini lagi cari orang. Apa bapak kenal dengan yang namanya Riko?" Tanya Rael sambil memberi kode pada Yoga untuk segera memindahkan mobil mereka.


"Nggak kenal tuan, soalnya di rumah ini nggak ada yang namanya Riko." Ujar Supir itu dengan sangat sopan. Rael sangat menyenangi orang-orang seperti itu. Karena bagaimanapun semua manusia layak di hormati bila dia juga menghormati orang lain.


"Kamu samperin deh Pak Selamat. Ngapain sih lama banget ngobrolnya." Titah seorang lelaki paruh baya yang meminta anaknya untuk turun dari mobil. Tanpa menolak anak lelakinya itu langsung turun dari mobil dan menghampiri Rael, Dito serta pak supir yang bernama Pak Selamat itu. Dengan kurangnya pencahayaan malam membuat anak lelaki pemilik rumah besar itu samar-samar melihat wajah Rael dan Dito.


"Rael..." Meski selangkah lagi ia tepat dihadapan Rael dan Dito. Anak lelaki itu kaget dan langsung meringsut mundur. Tetapi Rael dan Dito sudah melihat keberadaan nya di sana. Meski Samar-samar Rael dapat melihat siapa lelaki itu.


"Woi jangan kabur Lo!" Teriak Rael membuat semua orang kaget begitu pun dengan kedua pasangan paruh baya yang berada di dalam mobil. Anak lelaki itu berlari sekuat tenaga untuk menghindari Rael. Tetapi Rael dan Dito dengan sigap menghentikan langkahnya, mereka mampu membuatnya tersungkur di jalanan.


"Lo nggak bakalan bisa kabur lagi Riko!"Rael langsung mengunci pergerakan Riko yang masih mencoba untuk kabur. Ya, anak lelaki dari pemilik rumah besar itu adalah Riko.


"Apa-apaan ini? Mengapa kalian melakukan hal ini pada anak saya?" Tanya seorang perempuan paruh baya yang sudah marah melihat perbuatan Rael dan Dito pada anaknya.

__ADS_1


"Lepaskan anak saya! Kalian akan saya laporkan pada polisi!" Tambah lelaki paruh baya itu dengan tegas. Tetapi Rael malah tersenyum devil menatap dua pasangan itu.


"Sebelum anda melaporkan saya, anak anda akan masuk duluan ke penjara! Dit, Lo telpon Bella deh. Bilang kalau Riko sudah ketemu." Ujar Rael dengan tajam. Dito langsung menelpon Bella dan sedikit meringsut mundur dari mereka.


"Pak, mending masalah ini diselesaikan di dalam rumah saja. Nggak enak dilihat oleh tetangga, nanti nama baik bapak rusak." Ujar Pak Selamat pada tuannya itu.


"Lepaskan anak saya!" Pinta sang ibu yang sudah memukul-mukul bahu Rael. Meski sedikit sakit tetapi Rael mencoba menahannya agar Riko tidak kembali kabur.


"Saya tidak bisa melepaskannya Bu. Anak anda sudah berbuat salah dan kami akan membawanya." Ujar Rael dengan rasa hormat yang masih ada.


"Anaknya? Bukannya kedua orang tua Riko sudah meninggal?" Tanya Yoga yang tiba-tiba datang setelah memarkir kan mobil.


Riko kaget mendengar suara sang sahabat yang juga ada di sana. Ia tidak menyangka bahwa Yoga juga ikut dalam pencariannya ini.


"Sudah ayo masuk! Kita selesaikan masalah ini di dalam!" Pinta lelaki paruh baya itu dengan tegas. Rael setuju, ia membantu Riko untuk berdiri kembali. Yoga menatap sang sahabat penuh rasa kecewa dan sangat marah.


"Baiklah, mari kita perjelas situasi saat ini agar bapak dan ibu tidak salah paham pada perbuatan kami." Ujar Rael menarik Riko kasar ke dalam rumah besar itu. Ia tidak mau melepaskan Riko sedikitpun, karena Rael tau lelaki itu akan kabur kapan saja.


Yoga hanya mengikuti mereka dari belakang begitupun dengan Dito yang baru selesai menelpon dengan Bella.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2