MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
TIDAK SINKRON


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Haris melihat wajah Bella yang tiba-tiba pucat dan ia paham bahwa Bella belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya pada Rael.


"Tolong jaga ucapan mu itu Rael! Kenapa kamu meninggalkan Bella sampai larut malam begini? Mana tanggung jawab mu sebagai suami? Apa seperti itu ayah mengajarkan mu?" Sarkas Haris membuat Rael berdecak sebal dan tersenyum miring.


"Apa? Coba ulangi sekali lagi! Ajaran anda? Justru saya melakukan sesuai apa yang dulu anda lakukan pada ibu saya. Tidak mempedulikannya demi wanita lain!" Seru Rael dengan nada emosi.


"Kamu boleh marah kepada Ayah, tetapi jangan sampai kamu lampiaskan kepada Bella. Dia itu istrimu!" Tegas Haris memberi pengertian kepada anaknya.


"Mengapa tidak boleh? Justru aku berbuat seperti itu karena dia adalah anak dari wanita pelacur yang sudah merebut ayah dari aku dan Ibu. Aku akan membuat dia tersiksa dengan pernikahan ini! Kan ku buat dia merasakan kepedihan yang di rasakan oleh ibu selama ini!" Tekan Rael semakin menajamkan tatapannya kepada Bella. Bella tidak menyangka bahwa Rael akan terang-terangan membencinya dihadapan orang lain. Bahkan itu dihadapan mertuanya sendiri. Ntah karena hormon hamil atau apa, Bella merasa begitu sakit hati akan ucapan Rael yang mampu menusuk-nusuk hatinya.


"Jangan mengemukakan dendam mu itu Rael! Ayah tidak suka kamu menjadi lelaki yang jahat dan kejam! Seharusnya Ayah memberitahu yang sebenarnya kepada mu dari dulu, tapi tidak apa, kamu harus mendengarkan Ayah sekarang!" Tegas Haris ingin menjelaskan semua kesalahpahaman itu kepada Rael. Akan tetapi anaknya itu malah mengeleng-geleng dan kembali tersenyum miring.


"Tidak usah anda menceritakan hal dusta lainnya. Saya tau kalau kalian pasti telah bersekongkol untuk membuat kehidupan ku hancur. Itu tidak akan ku biarkan!" Sarkas Rael yang kemudian melangkah ke dalam kamar tanpa mau mendengarkan perkataan Haris yang terus memanggil-manggil namanya.


'Sebenarnya yang membuat hidup seorang hancur siapa? Dia atau aku?' gumam Bella dalam hatinya. Ia langsung menyeka air mata yang tidak sengaja jatuh membasahi pipinya.


"Maafkan Rael ya Bella, seharusnya ayah lebih keras kepadanya sejak dulu. Pasti dia tidak akan membangkang seperti itu." Ujar Haris dengan sendu menatap menantu satu-satunya itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Ayah, aku paham apa yang dirasakan oleh Rael. Mungkin karena ia belum begitu berpengalaman, sehingga membuatnya agak sedikit egois dan tidak ingin mau mendengarkan penjelasan orang lain." Jawab Bella dengan senyum paksa yang ia buat agar Haris sedikit mengurangi rasa bersalahnya.


'Tidak berpengalaman bagaimana? Dia pikir aku lelaki seperti apa? Dasar...' ntah kenapa saat Rael bergumam dalam hatinya dan ingin menghardik Bella, tetap saja hatinya merasa tersentil sendiri. Ia tidak kuasa melanjutkan hardikannya itu.


Bella meletakkan nampan tepat di atas meja. Segelas susu ia teguk habis agar ia merasa tidak lapar lagi sebelum menemui Rael di kamar.


"Ayah, aku pamit ke kamar dulu ya." Pamit Bella yang mulai melangkah menaiki tangga. Sedangkan Rael yang tadi diam-diam berdiri di dinding sebelah tangga atas, lansung gerak cepat memasuki kamar agar Bella tidak menangkap basah dirinya.


"Lalu bagaimana dengan salad buah mu?" Tanya Haris saat melihat salad di atas meja yang tidak tersentuh sama sekali.


"Ayah habiskan saja, aku sudah kenyang setelah minum susu itu. Aku ke atas dulu ya Ayah. Jangan tidur terlalu larut." Ujar Bella yang sudah melangkah kedalam kamar.


Bella mendekati Rael dan mencopoti satu persatu atribut yang tengah dipakai oleh suaminya itu. Tidur Rael tampak tidak terusik sedikitpun, padahal Bella hanya menyisakan kaos dan celana boxer yang ia pakai. Setelah meletakkan sepatu Rael pada tempatnya, Bella pun menyelimuti Rael dengan selimut. Agar sang suami tidak kedinginan dan tidurnya nyenyak.


Bella menatap seksama wajah Rael dengan lekat, tanpa terasa air matanya jatuh mengingat kekejaman Rael tadi pagi. Sampai membuat dirinya merasa takut, bahkan hanya sekedar untuk memberitahu kehadiran buah hati mereka.


"Maaf Rael, aku terlalu takut. Hikss... Hikss..." Lirih Bella sambil sedikit terisak. Ia memutuskan untuk ikut tidur disebelah Rael dan memaksakan matanya untuk terpejam.


Akan tetapi Bella tidak tahu bahwa Rael sebenarnya hanya pura-pura tidur. Ia memilih untuk diam dan menyaksikan perbuatan Bella yang sangat perhatian padanya.

__ADS_1


'Kenapa harus Bella sih, anak dari wanita itu? Aku begitu mencintainya dan sekarang juga membencinya sekaligus.' gumam Rael dalam hatinya. Ia merasa kebingungan dengan perasaannya kini, jujur saja Rael tidak tega sekali menyakiti Bella, istri kesayangannya itu.


Saat Bella berucap lirih, Rael dapat mendengarkannya dengan sangat jelas. Bahkan saat Bella terisak, membuat hatinya seolah-olah tersentil. Setelah merasa bahwa Bella tertidur disebelah, Rael membuka mata dan menatap kesamping. Gadis itu membelakanginya dengan bahu yang masih bergetar. Rael tau bahwa ia tengah menahan tangis, hanya saja Rael tidak ingin menunjukkan perhatiannya lagi kepada Bella, egonya lebih utama.


'Maaf Bel, hanya saja takdir membuat ku harus menyakitimu. Aku terpaksa harus membalaskan kesakitan yang dirasakan oleh ibuku sebelum dia meninggal. Kamu harus membayarnya atas nama ibumu.' batin Rael dengan hati yang berusaha yakin agar dirinya tidak ragu lagi untuk menyakiti Bella.


***


Pagi itu Rael terbangun saat Bella telah siap mengganti pakaiannya karena usai mandi.


"Selamat pagi." Sapa Bella yang berusaha untuk tetap biasa saja dan berharap Rael akan ikut berubah kembali seperti sikapnya pada kemarin-kemarin hari.


"Jangan sok menyapa ku dengan senyum murahan mu itu. Aku tidak akan tergoda!" Sarkas Rael yang turun dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi. Melewati Bella yang hanya terdiam saat perlakuannya kembali membuat hati Bella sakit.


'Andai kamu tau ada dia di sini. Pasti kamu tidak akan marah lagi padaku. Akan tetapi aku takut jika kamu malah ikut melampiaskan kemarahan mu itu pada buah hati kita. Aku berusaha untuk bersikap biasa saja demi dia. Tolong jangan sakiti aku lebih dalam lagi! atau tidak, aku akan pergi bila ucapan dan tindakan mu itu tidak bisa ku toleran lagi.' batin Bella dengan sendu. Ia meraba perutnya yang rata, merasakan sebuah kehidupan yang ada diperutnya itu.


Di dalam kamar mandi. Rael berdecak sebal menatap ke arah cermin. Bak memiliki malaikat dan setan di kedua bahunya.  Mereka seolah-olah tengah berdebat, ada yang mendukung ucapan Rael adapun yang mengutuki setiap sikap yang Rael tunjukkan kepada Bella. Rael sedikit frustasi mengingat hatinya sama sekali tidak sinkron dengan keinginan egois yang ia inginkan saat ini.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2